Viola Vianda Sari
Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KOREOGRAFI TARI SATAMPANG BANIAH OLEH SANGGAR SARI BUNIANNAGARI ANDALEH BARUAH BUKIK SEBAGAI PELESTARIAN BUDAYA LOKAL Viola Vianda Sari; Asril Asril; Edwar Zebua
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol 7, No 2 (2018): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v7i2.10973

Abstract

AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui “Koreografi TariSatampang Baniah yang telah dikembangkan oleh Yeni Eliza di Sanggar Sari Bunian Nagari Andaleh Baruah Bukik Kecamatan Sungayang Kabupaten Tanah Datar sebagai bentuk pelestarian seni budaya lokal. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif analisis yakni mendeskripsikan dan menganalisis unsur-unsur atau elemen-elemen yang mendukung pertunjukan TariSatampang Baniah. Untuk menbahas penelitian tentang koreografi ini digunakan teori koreografi oleh Robby Hidajat, teori bentuk oleh Soedarsono, teori pelestarian oleh Edi Sedyawati dan teori perkembangan oleh Umar Kayam.Penelitian yang dilakukan ini menemukan hasil bahwa, TariSatampang Baniah yang awalnya tari tradisi di Nagari Andaleh Baruah Bukik sekarang telah dikembangkan oleh Yeni Eliza di Sanggar Sari Bunian. Usaha pengembangan ini dilakukan untuk menghidupkan kembali dan melestarikan TariSatampang Baniah yang sudah hampir punah di Nagari Andaleh Baruah Bukik. Upaya Yeni Eliza ini membuahkan hasil, melalui koreografi yang dikembangkannya TariSatampang Baniah sekarang dikenal ditingkat Nasional dan Internasional.                                                                                                                                  Kata Kunci: tari satampang baniah, koreografi, pelestarian. AbstractThe purpose of this study was to find out the “choreography of satampang baniah dance which had been the developed by Yeni Eliza insari bunian bukik in Sungayang subdistrict Tanah Datar district as a from of preservation of local cultural art. This research that is qualitatif research that is describes and analyzes elements or elements that suport the performence of satampang baniah dance. To discuss this choreography theory was used by Robby Hidajat, from theory by Soedarsono , conservation theory by Edy Sedyawati and development theory by Umar Kayam. This research found that satampang baniah dance was originally dancethe tradition in nagari Andaleh Baruah Bukik has now been developed by Yeni Eluza in sari bunian studio. This development efforrt was carried out to revive and preserve the almost extinct satampang baniah dance in nagari andaleh baruah bukik. Yeni Eliza efforts paid off, through the choreograpy she developed satampang baniah dance now know at the national and international level.  Keywords: satampang baniah dance, choreography, preservation.
Salawat Pada Upacara Kematian Di Koto Panjang Kecamatan Lamposi Tigo Nagori Payakumbuah Kajian Semiologi Lidya Triana; Viola Vianda Sari; Syahri Anton
Jurnal Musik Etnik Nusantara Vol 6, No 1 (2026): Jurnal Musik Etnik Nusantara
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jmen.v6i1.30911

Abstract

Penelitian Salawat pada Upacara Kematian di Koto Panjang Kecamatan Lamposi Tigo Nagori Kota Payakumbuh (dalam Kajian Semiologi) merupakan kaiian tentang simbol seni budaya yang terkadung dalam upacara tersebut, yang berkaitan dengan seni Islami. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap makna melalui simbol yang ada pada upacara tersebut. Penelitian ini merupakan jenis kualitatif dengan pendekatan metode deskriptif analisis. Salawat berarti pujian yang diserukan demi mendapat syafaat dari Nabi dan keberkahan dari Allah. Salawat pada masyarakat Koto Panjang dilaksanakan pada saat upacara kematian dan bagi masyarakat Koto Panjang Salawat diyakini dapat memberikan kebaikan dan syafaat bagi arwah yang telah meninggal dan juga untuk keluarga yang ditinggalkan. Data diperoleh dari berbagai sumber, baik dari observasi, wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan yang berkaitan dengan penelitian. Analisis data dalam kajian ini menggunakan teori Semiotika .Hasil penelitian menjelaskan bahwa ada makna yang terkandung melalui simbol dalam salawat tersebut. Simbol yang memiliki makna itu dapat terlihat melalui struktur penyaiian, waktu, pembaca Salawat musik dalam Salawat sajian makanan, busana, penonton. Secara simbol kegiatan Salawat menjadi sebuah penanda bagi masyarakat Koto Paniang dalam hal kematian" selain itu juga simbol kecintaan umat manusia terhadap Allah dan Nabi Muhammad SAW, serta sebagai simbol kecintaan antara sesama manusia Kegiatan Salawat iuga menandakan bahwa masyarakat Koto Panjang merupakan pemeluk agama Islam yang patuh dan taat pada Allah, sekaligus sebagai simbol dalam menjaga adat yang bersandikan Syarak Syarak Basandi Kitabullah
SIMBOL DAN MAKNA TARI PERANG CENTONG DALAM TRADISI NGASA KAMPUNG BUDAYA JALAWASTU SEBAGAI PELESTARIAN BUDAYA Turyati Turyati; Viola Vianda Sari; Septiana Yustika Widyaningrum
PANGGUNG Vol 36 No 1 (2026): Echoes of Archipelago Mythos: Interweaving Tradition, Symbolism, and Narrative i
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v36i1.4308

Abstract

This study examines Tari Perang Centong in the Kampung Adat Jalawastu community, Brebes, specifically its role during the Tradisi Ngasa ceremony. Beyond performance, the dance acts as a cultural representation of community ideology. This study aims to analyze the symbols in Tari Perang Centong and their role in preserving ancestral culture. Employing a qualitative ethnographic approach, the research utilized participant observation, in-depth interviews, and documentation to collect data. Applying Roland Barthes’ semiotic theory, the findings reveal that the dance’s choreographic symbols manifest the community’s local life, belief systems, and cultural identity. Tari Perang Centong serves as a vital medium for transmitting cultural values across generations, thereby strengthening communal identity and preserving ancestral traditions. Ultimately, this research contributes to the academic study of performing arts and provides a strategic reference for cultural preservation efforts.