Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Metahumaniora

Dimensi Sintaksis dan Semantik Partikel Euy dalam Novel Budak Teuneung Karya Samseodi Wahya Wahya
Metahumaniora Vol 9, No 1 (2019): METAHUMANIORA, APRIL 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v9i1.22875

Abstract

Partikel euy merupakan salah satu partikel fatis dalam bahasa Sunda. Partikel ini, sebagaimana partikel fatis lain, tidak memiliki fungsi sintaksis dalam kalimat, yakni sebagai unsur ekstraposisi dalam kalimat. Tulisan ini yang berjudul  “Dimensi Sintaksis dan Semantik Partikel Euy dalam Novel Budak Teuneung”membahas perilaku sintaksis partikel euy, yaitu keberadaannnya dalam jenis kalimat berdasarkan bentuk sintaksisnya, dan makna gramatikal partikel euy dalam lingkungan kalimat deklaratif, interogatif, imperatif, dan eksklamatif. Metode penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dengan menggunakan metode simak dengan teknk catat. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan metode agih atau distribusional. Sumber data yang digunakan adalah novel anak-anak yang berjudul Budak Teuneung (2018) karya Samsoedi. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan 46 data kalimat yang memuat partikel euy. Berdasarkan analisis terhadap 46 data tersebut dengan pendekatan sintaksis dan semantik, dapat disimpulkan bahwa partikel euy  dapat berposisi di awal, di tengah, atau di akhir kalimat deklaratif, tetapi dominan berposisi di tengah kailimat. Partikel euy hanya berposisi di tengah dan di akhir kalimat interogatif, tidak ada yang berposisi di awal kalimat. Partikel euy dapat berposisi di awal, di tengah, dan di akhir kalimat imperatif, tetapi dominan berposisi di akhir kalimat. Partikel euy hanya berposisi di awal dan di akhir kalimat eksklamatif, tidak ada yang berposisi di tengah kalimat. Secara semantik, partikel euy bersama jenis kalimat yang memuatnya memiliki keragaman makna gramatikal. Secara umum dapat dikatakan partikel euy beserta unsur lingusitik yang mendampinginya dalam kalimat deklaratif memiliki makna ‘meberitahukan atau menyatakan sesuatu’; dalam kalimat interogatif, memiliki makna ‘meminta sesuatu’; dalam kalimat imperatif, memiliki makna ‘meminta sesuatu’ atau ‘memerintahkan sesuatu’; dalam kalimat  eksklamataif. memiliki makna ‘mengungkapkan atau menyampaikan sesuatu’.Particle euy is just one-structured particles in the Sundanese language. This  particle, as another particles phatic, does  not have the syntactic function in the sentence, namely as an element in extraposition sentence. This article entitled "Dimensions of Syntax and Semantics of the Euy Particle in Novel of Budak Teuneung" discuses the behavior of particles in syntax dimension, namely it’s distribution in the type of sentence based on syntactic and grammatical meaning of particles in the environment, namely in declarative sentences, interrogative, imperative, and exclamative ones. This research method is descriptive qualitative. Data collected by using observation techniques to record. Furthermore, the data were analyzed using distributional method. Source data used is a children's novel titled Budak Teuneung (2018) written by Samsoedi. Based on the results of the study, found that 46 data sentence contains particles here. Based on an analysis of 46 data with the approach of syntax and semantics, it can be concluded that the particle euy can be positioned at the beginning, in the middle, or at the end of a declarative sentence, but a dominant position in the middle; particle euy simply positioned in the middle and at the end of interrogative sentences, no position early in the sentence; particle euy can be positioned at the beginning, in the middle, and at the end of the imperative sentence, but a dominant position in the end of the sentence; particle euy only just plays in the beginning and at the end of the exclamative  sentence, no position in the middle of a sentence. Semantically, particle euy with the kind of sentences  contain a variety of grammatical meaning. Generally speaking, the particle with linguistic elements that accompany the declarative sentences have meaning 'report missing or declared something'; interrogative sentences have  meaning 'ask anything';  imperative sentences have meaning 'ask anything' or 'ordered something';  exclamative sentences have  meaning 'reveal or convey something'. 
Model Penjelasan Lema Kosakata Dialek dalam Kamus Basa Sunda R.A. Danadibrata Wahya Wahya
Metahumaniora Vol 8, No 2 (2018): METAHUMANIORA, SEPTEMBER 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v8i2.20693

Abstract

AbstrakTidak semua kamus suatu bahasa memuat kosakata dialek, dalam hal ini, dialekgeografis. Hal ini terjadi karena penyusunan kamus memiliki tujuan tertentu. Kamusyang memuat kosakata dialek merupakan kamus yang penyusunannya secara internalbertujuan mendokumenkan kekayaan kosakata dialek bahasa yang bersangkutansehingga pembaca mendapatkan informasi lebih dibandingkan dengan kamus yangtidak memuat kosakata dialek. Kamus yang memuat kosakata dialek secara leksikografistergolong kamus khusus. Kamus ini secara dialektologi merupakan sumber dokumenkekayaan dialek di samping dokumen kekayaan bahasa. Kosakata dialek di dalam kamussecara akademik dapat dijadikan bahan penelitian bagi mereka yang berminat terhadapkajian dialektologi, lebih-lebih bagi mahasiswa dari fakultas budaya, bahasa, atau sastra.Bagaimana pemuatan kosakata dialek dalam kamus bahasa Sunda? Tidak semua kamusbahasa Sunda memuat kosakata dialek. Salah satu kamus yang muat kosakata dialekadalah Kamus Basa Sunda yang disusun R.A. Danadibrata (2009). Kamus ini memuatlebih dari 180 kosakata dialek. Lema dialek ini berasal dari berbagai daerah berbahasaSunda di Jawa Barat dan Banten dan memiliki beragam kategori kata. Penjelasan lemadialek ini dalam kamus tersebut memiliki tiga model, yakni (1) lema + bs (basa) + daerahpakai, (2) lema + bs + wewengkon ‘daerah’ + daerah pakai, dan (3) lema + dialek + daerahpakai. Artikel ini akan menjelaskan lema apa saja yang diberi penjelasan seperti di atas,kemudian penjelasan apa yang ditambahkan. Metode penelitian yang digunakan bersifatdeskriptif dan sinkronis. Pengumpulan data menggunakan metode simak dengan teknikcatat. Dari hasil penelitian, model (2) lebih banyak digunakan daripada model (1) danmodel (3), selanjutnya model (1) lebih banyak digunakan daripada model (3). Setiap lemadialek tidak disertai penjelasan kategori katanya.Kata kunci: kosakata, dialek, kamus dialek, leksikografisAbstractNot all dictionaries contain a vocabulary of dialect words, in this case, geographicaldialects. This occurs because the making of a dictionary has a specific purpose. The dictionarywhich contains the vocabulary of dialect words is the dictionary which functions to document therichness of dialect words in a language so readers get more information from that than the dictionarywhich does not contain the vocabulary of dialect words. The dictionary which contains thevocabulary of dialect words lexicographically is classified as a custom dictionary. This dictionaryis dialectologically a source document that can show the richness of its vocabulary regarding thedialect words as well as the richness of the language itself. The vocabulary of dialect words in the dictionary can be used for academic research material for those who are interested in the study of dialectology, especially for students of the faculty of culture, language, or literature. How are the dialect words loaded in the Sundanese language dictionary? Not all dictionaries of Sundaneselanguage contain the vocabulary of dialect words. One that does is Sundanese Dictionary compiled by R.A. Danadibrata (2009). The dictionary contains more than 180 dialect words. Dialect entry is derived from a variety of local Sundanese of West Java and Banten, and has a variety of word class. The explanation of the dialect entry in this dictionary has three models, namely (1) entry + bs (basa) ‘language’ + local use, (2) entry + bs (basa) ‘language’+ regions + local use, and (3) entry + dialect + local use , This article explains what the entries are given as explanation above, then what explanation added to the entry. The research method used is descriptive and synchronic. Data collection methods refer to the technical note. The results of the research show that the model (2) is more widely used than the model (1) and model (3), the next model (1) is more widely used than the model (3). Each entry is accompanied by an explanation dialect word class.Keywords: vocabulary, dialect, dialect dictionaries, lexicographical