Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Biologi Reproduksi dan Polinasi Buatan Tumbuhan Senduduk (Melastoma malabathricum L.) Lilis Suryani
BIO-SITE |Biologi dan Sains Terapan Vol. 3 No. 2 (2017): Bio-Site
Publisher : Biology Department, Faculty of Science and Technology, Univeristas Jambi, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (611.687 KB) | DOI: 10.22437/bs.v3i2.4775

Abstract

Abstract Melastoma malabthricum is the type with the widest area of spread compared with other species in the genus Melastoma. This research uses floral phenology observation method and pollination experiment by using bagging technique, emasculation and artificial pollination. Stigma receptivity was tested according to the Matson method. The results showed that M. malabathricum’s flowers take 14 until 21 days from bud to flower bloom. Stigma M. malabathricum is already present and receptive before anthesis flower. Fruit can be formed through self pollination (autogamy) and cross pollination (xenogamy). M. malabathricum pollination approaches the xenogamy facultative.
DETEKSI DINI SARKOPENIA DAN KONSULTASI GIZI PADA LANSIA DALAM RANGKA HARI LANSIA NASIONAL DI KOTA BUKITTINGGI Beti Musparlina; Lilis Suryani; Sucita Lestari Natalina; Fitri Yenni; Shinta Shinta; Fathia Maulida; Faiz Nur Hanum; Syukra Alhamda
J-ABDI: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 5 No. 9 (2026): Februari 2026
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sarkopenia merupakan masalah kesehatan lansia yang sering tidak terdeteksi dan berdampak pada penurunan kemandirian. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan melakukan deteksi dini sarkopenia dan memberikan konsultasi gizi pada lansia di Kota Bukittinggi. Metode kegiatan meliputi pengukuran antropometri, kekuatan genggam tangan menggunakan handgrip dynamometer, analisis komposisi tubuh, serta konsultasi gizi dan edukasi kelompok. Sebanyak 59 lansia mengikuti kegiatan ini, dengan hasil menunjukkan 44,1% lansia berisiko sarkopenia, 54,2% memiliki IMT ≥25, dan 71,2% memiliki kekuatan genggam rendah. Kegiatan ini meningkatkan kesadaran lansia terhadap kondisi kesehatannya serta pentingnya asupan gizi dan aktivitas fisik. Deteksi dini sarkopenia disertai konsultasi gizi berpotensi menjadi strategi preventif yang efektif di tingkat komunitas.