Katra Pramadeka
Department of Islamic Economic Faculty of Economic and Business, Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PENGUKURAN KINERJA BPRS BERDASARKAN PERSPEKTIF TAUHIDY STRING RELATION (TSR) (Studi Kasus Pada PT BPRS Muamalat Harkat Bengkulu) Dharma Setiawan; Katra Pramadeka
EKOMBIS REVIEW: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Bisnis Vol 8 No 2 (2020)
Publisher : UNIVED Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2152.24 KB) | DOI: 10.37676/ekombis.v8i2.1079

Abstract

Studi mengenai manajemen atau pengelolaan kinerja suatu institusi/organisasi bisnis, telah banyak dikaji dalam berbagai riset/penelitian Terutama pengukuran kinerja pada sektor industri keuangan mikro dengan berbagai macam derivasi/turunannya yang sesuai dengan prinsip prinsip ajaran agama Islam, masih belum banyak dikaji dan dikembangkan oleh kaum Muslim. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) merupakan lembaga keuangan yang bergerak dalam pelayanan keuangan masyarakat, berbasis prinsip syariah. Berdasarkan perspektif TSR, dimana setiap variabel telah mengalami proses knowledge induced-(q), dan Wellbeing selalu sebagai dependent variable. Pada prinsipnya penerapan Pengukuran Kinerja BPRS Muamalat Harkat Bengkulu dengan menggunakan perspektif atau pendekatan metodologi Tawhidy String Relation (TSR), dimana ukuran “Moralitas”, “Etika” dan “Nilai nilai Sosial” (MEN).Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder melalui studi kepustakaan, interviewed para pelaku, observasi, kuesioner dan data sekunder indikator BPRS, Bengkulu. Secara umum hasil pengukuran nilai (θ) sangat baik, mendekati nilai 4 dengan skala Likert(5). Nilai terbesar pada variabel aspek komunitas 3,91 dan terendah pada aspek keberlanjutan bisnis 3,83. Penjelasan yang umum BPRS memang harus dekat dengan komunitas atau warga setempat. Dan kondisi terlemah adalah tentang keberlanjutan bisnis, sebagaimana bisnis ukuran kecil pada umumnya.Nilai (θ) terkecil juga ditunjukan pada nilai pencapaian rasional yang paling kecil yaitu hanya mencapai 50. Pertumbuhan keuntungan sangat tinggi, mencapai 39%, sedangkan NPF juga sangat tinggi, hal ini mengindikasikan suatu kebijakan yang kurang cocok. Seolah shareholders menginginkan laba yang tinggi, dengan tidak mencadangkan kerugian atas NPF yang juga tinggi. Akibatnya secara logis keberlanjutan usaha menjadi dipertaruhkan.