Akmal Akmal
Balai Budidaya Air Payau Takalar

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Frekuensi Perendaman Tirisan Rumput Laut Sebagai Pupuk Cair Terhadap Laju Pertumbuhan dan Produksi Rumput Laut (Kappaphycus Alvarezii) Abdul Malik; Akmal Akmal; Agus Satriyono
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 3, No 2 (2014): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (366.99 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v3i2.551

Abstract

Pertumbuhan relatif harian rumput laut K .alvarezii dengan uji frekuensi perendaman tirisan rumput laut terdapat perbedaan. laju pertumbuhan relatif harian tertinggi pada perlakuan C (0,0357%/hari) dan terendah perlakuan A perendaman 1 kali (0,0182%/hari), sedangkan produksi tertinggi pada perlakuan C perendaman 3 kali (1,5000 gr/m2) dan terendah pada perlakuan B perendaman 2 kali (0,533 gr/m2).Kata Kunci : pertumbuhan relatif, K.alvarezii, perendaman, produksiDaily relative growth of seaweed K .alvarezii with frequency test seepage seaweed soaking there is a difference. relative growth rate of the highest daily in treatment C (0.0357% / day) and the lowest treatment A first immersion times (0.0182% / day), while the highest production in treatment C immersion 3 times (1.5000 gr / m2) and lowest in treatment B soaking 2 times (0.533 gr / m2).Keywords: relative growth, K.alvarezii, soaking, production
Implementasi Berbagai Jenis Substrat Dasar Sebagai Media Produksi Lawi-Lawi Caulerpa Sp. Dasep Hasbullah; Akmal Akmal; Syamsul Bahri; IGP Agung; Muh. Suaib; Ilham Ilham
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 3, No 1 (2014): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.631 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v3i1.543

Abstract

Perekayasaan ini bertujuan untuk mengetahui substrat dasar yang sesuai dan layak terhadap pertumbuhan dan produksi lawi-lawi Caulerpa racemosa.  Rancangan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Terdapat 5 (lima) perlakuan substrat, yaitu; A. Pasir Campur Lumpur (PCL); B. Pecahan Karang Campur pasir (PKCP); C. Pecahan Karang Campur Lumpur (PKCL); D. Pecahan Karang Tanpa Campuran (PKTC) ; dan E kontrol. Pasir Tanpa Campuran (PTC) dengan  4 (empat) kali ulangan, sehingga terdapat 20 unit percobaan. Hasil menunjukkan bahwa pertumbuhan biomassa C. racemosa pada semua perlakuan substrat meningkat pada hari ke 7 sampai ke 28. Pada hari ke 8 perlakuan D sebagai kontrol diperoleh pertumbuhan biomassa rata-rata tertinggi 1.912,5 g dan perlakuan E dengan pertumbuhan biomassa rata-rata terendah 1.015 g, lebih rendah jika di bandingkan dengan perlakuan A pertumbuhan biomassa rata-ratanya 1.515,3 g, perlakuan C sekitar  1.105,0 g, dan B rata-rata hanya 1.030,0 g.  Namun, pada hari ke 35 sampai akhir percobaan semua perlakuan mengalami penurunan pertumbuhan biomassa rata-rata sampai akhir perekayasaan.  Sedangkan kandungan karatenoid C. racemosa pada setiap perlakuan substrat diperoleh nilai tertinggi pada perlakuan A  yaitu 0,0013 ppm dan terendah pada perlakuan C. Kandungan karotenoid pada perlakuan A lebih tinggi dibanding dengan perlakuan B dan E sebagai kontrol dan masing-masing 0,011 ppm dan 0,008 ppm. Tingginya kandungan karotenoid yang terdapat dalam tubuh C. racemosa, yakni sebesar 0,0013 ppm, hal tersebut dapat menggangu pertumbuhan C. racemosa. Kata Kunci: Substrat, Pertumbuhan, Biomassa, Caulerpa racemosaEngineering aims to determine the base substrate with suitable and the growth and production lawi-lawi Caulerpa racemosa. The design used in this experiment was completely randomized design (CRD). There are five (5) treatment of the substrate, namely; A. Sand Mix Lumpur (PCL); B. Fractions Mixed Coral sand (PKCP); C. Smithers Reef Mixed Lumpur (PKCL); D. Smithers Coral Without Mix (PKTC); and E control. Without sand mixture (PTC) with 4 (four) times repetition, so there are 20 experimental units. The results showed that the biomass growth of C. racemosa on all treatments substrate increased on day 7 to 28. On day 8 treatment D as control growth of biomass obtained the highest average 1912.5 g and treatment E with biomass growth lowest average 1,015 g, lower when compared with treatment A biomass growth averaged 1515.3 g, approximately 1105.0 g C treatment, and B average only 1030.0 g. However, on day 35 until the end of the experiment all treatments decreased the average biomass growth until the end of engineering. While Carotene content of C. racemosa on each substrate treatment obtained the highest score in treatment A is 0.0013 ppm and the lowest in the treatment of C. The content of carotenoids in treatment A higher compared with treatment B and E as control and respectively 0,011 ppm and 0,008 ppm. The high content of carotenoids found in the body of C. racemosa, which is equal to 0.0013 ppm, it can interfere with the growth of C. racemosa.Keywords: Substrates, Growth, Biomass, Caulerpa racemosa
Respon Pertumbuhan Berbagai Jenis/Strain Rumput Laut Kappaphycus Spp. di Perairan Pantai Laguruda Sanrobone Takalar Akmal Akmal; Andi Elman; Jumriadi Jumriadi
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 2, No 2 (2013): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (910.823 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v2i2.531

Abstract

Kegiatan diseminasi teknologi dimaksudkan sebagai upaya menyebarluaskan teknologi hasil-hasil perekayasaan budidaya perikanan kepada masyarakat pengguna, sehingga pada akhirnya diharapkan akan berdampak ke arah peningkatan kemampuan dan peningkatan ekonomi kesejahteraan masyarakat.  Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan dan produksi 3 strain/jenis yang diujikan meliputi Kappaphycus denticulatum (spinosum) dan K. striatum (edule), dan K. alvarezii di perairan Laguruda Desa Laguruda Kecamatan Sanrobone sebagai lokasi diseminasi teknologi budidaya rumput laut.  Hasil menunjukkan bahwa penanaman ketiga jenis/strain rumput laut yang diujicobakan mempunyai pertumbuhan yang rendah. Selama 42 hari periode pemeliharaan terjadi peningkatan bobot 197,29%, 144,22% dan 146,07% secara berturut-turut untuk jenis K. striatum, K. denticulatum dan K. alvarezii (golo-golo).  Terjadi perubahan figmen yang mencolok setelah 45 hari periode penanaman dengan warna figmen yang lebih pucat.Kata kunci : Pertumbuhan, Produksi, Jenis/Strain, Kappaphycus sp.AbstractTechnology dissemination activities intended as an effort to disseminate the results of engineering technologies of aquaculture to the user community, which in turn is expected to have an impact in the direction of increased capacity and improved economic welfare of the community. This activity aims to investigate the response of the growth and production of three strains / species tested include Kappaphycus denticulatum (spinosum) and K. striatum (edule), and K. alvarezii in the waters of the District Sanrobone Laguruda Laguruda village as a location for technology dissemination seaweed cultivation. The results showed that the planting of three species / strains of seaweeds that have been tested have low growth. During the 42-day maintenance period increased weight of 197.29%, 144.22% and 146.07% respectively for type K. striatum, K. and K. denticulatum alvarezii (golo-golo). Figmen striking changes occurred after 45 days of planting period with figmen a paler color.Keywords: Growth, Production, Type / Strain, Kappaphycus sp
Ujicoba Lama Perendaman Tirisan Rumput Laut Pasca Panen terhadap Pertumbuhan dan Produksi Rumput Laut Kappaphycus Alvarezii Akmal Akmal; Lideman Lideman; Andi Elman; IGP Agung; Muh. Suaib; Ilham Ilham
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 3, No 2 (2014): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.993 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v3i2.545

Abstract

Bertujuan untuk mengetahui manfaat dan menganalisis kandungan cairan tirisan rumput laut serta mengetahui optimasi lama perendaman dengan menggunakan cairan tirisan rumput laut pasca panen sebagai pupuk cair. Pemberian cairan hasil tirisan rumput laut menitikberatkan pada lama peredaman. Perendaman media cairan tirisan rumput laut dilakukan dengan perlakuan A (4 jam), B (6 jam), dan C (8 jam) serta D (0 jam) sebagai kontrol. Hasil percobaan menunjukkan pertambahan bobot basah rata-rata rumput laut K.alvarezii terjadi peningkatan hari ke-7 sampai ke-21 pada semua. Pada perlakuan A (4 jam) pertambahan bobot rata-rata pada hari ke-21 (12,07±1,28 g) lebih tinggi jika di bandingkan dengan perlakuan B yang menunjukkan pertambahan bobot rata-ratanya hanya 10,72±0,77 g, perlakuan C sekitar 11,18±0,29 g, dan D (pertambahan bobot rata-rata hanya 10,99±0,96 g. Selanjutnya perlakuan A diperoleh pertumbuhan biomass tertinggi 9,543±3,04 g dan terendah pada perlakuan D tanpa perendaman sebagai kontrol hanya 7,150±0,72 g lebih rendah jika dibanding dengan pertumbuhan biomass perlakuan B dan C masing-masing 7,413±0,43 g dan 8,127±1,43 g. Perlakuan A yang dianggap optimal dalam penyerapan unsur hara bagi pertumbuhan biomassa K. alvarezii. Namun demikian, belum dapat dibandingkan dengan jelas lama perendaman tirisan rumput laut yang terbaik untuk laju pertumbuhan harian dan produksi K. alvarezii. Selain itu, perlakuan lama perendaman dikatakan berpengaruh terhadap pertumbuhan walaupun tidak signifikan. Oleh karena itu, cairan hasil tirisan rumput laut dalam kegiatan tersebut memiliki peranan yang cukup dalam proses pemanjangan tallus dan pertambahan bobot.Kata Kunci : Tirisan rumput laut, Pertumbuhan, Biomassa, Kappaphycus alvareziiBertujuan untuk mengetahui manfaat dan menganalisis kandungan cairan tirisan rumput laut serta mengetahui optimasi lama perendaman dengan menggunakan cairan tirisan rumput laut pasca panen sebagai pupuk cair. Pemberian cairan hasil tirisan rumput laut menitikberatkan pada lama peredaman. Perendaman media cairan tirisan rumput laut dilakukan dengan perlakuan A (4 jam), B (6 jam), dan C (8 jam) serta D (0 jam) sebagai kontrol. Hasil percobaan menunjukkan pertambahan bobot basah rata-rata rumput laut K.alvarezii terjadi peningkatan hari ke-7 sampai ke-21 pada semua. Pada perlakuan A (4 jam) pertambahan bobot rata-rata pada hari ke-21 (12,07±1,28 g) lebih tinggi jika di bandingkan dengan perlakuan B yang menunjukkan pertambahan bobot rata-ratanya hanya 10,72±0,77 g, perlakuan C sekitar 11,18±0,29 g, dan D (pertambahan bobot rata-rata hanya 10,99±0,96 g. Selanjutnya perlakuan A diperoleh pertumbuhan biomass tertinggi 9,543±3,04 g dan terendah pada perlakuan D tanpa perendaman sebagai kontrol hanya 7,150±0,72 g lebih rendah jika dibanding dengan pertumbuhan biomass perlakuan B dan C masing-masing 7,413±0,43 g dan 8,127±1,43 g. Perlakuan A yang dianggap optimal dalam penyerapan unsur hara bagi pertumbuhan biomassa K. alvarezii. Namun demikian, belum dapat dibandingkan dengan jelas lama perendaman tirisan rumput laut yang terbaik untuk laju pertumbuhan harian dan produksi K. alvarezii. Selain itu, perlakuan lama perendaman dikatakan berpengaruh terhadap pertumbuhan walaupun tidak signifikan. Oleh karena itu, cairan hasil tirisan rumput laut dalam kegiatan tersebut memiliki peranan yang cukup dalam proses pemanjangan tallus dan pertambahan bobot.Kata Kunci : Tirisan rumput laut, Pertumbuhan, Biomassa, Kappaphycus alvarezii
Kandungan Klorofil a dan Karotenoid Rumput Laut Kappaphycus Alvarezii yang Dibudidayakan pada Kedalaman Berbeda Akmal Akmal; Rajuddin Syam; Dody Dh Trijuno
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 1, No 2 (2012): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.303 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v1i2.473

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguraikan dampak pengobatan kedalaman budidaya yang berbeda terhadap klorofil dan karotenoid isi rumput laut K. alvarezii. Penelitian ini terdiri dari lima perlakuan dan setiap perlakuan terdiri dari tiga ulangan, akibatnya, ada 15 unit eksperimental. Rumput laut digantung dengan metode vertikal acak di kedalaman budidaya yang berbeda, mis 20 cm, 100 cm, 200 cm dan 400 cm. Analisis varians dilakukan pada tingkat 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedalaman budidaya tidak signifikan defferent terhadap klorofil dan konten caratenoid. Klorofil dan karotenoid konten relatif tinggi di kedalaman 100 cm (0,013 mg / g-1 dan 0299 mg / g-1) dan terendah di kedalaman 20 cm (0.006 mg / g-1 dan 0163 mg / g-1 ).Kata kunci: klorofil a, karotenoid. kedalaman budidaya, rumput lautThe objective of the research was to elaborate the treatment impact of the different cultivation depths towards the chlorophyll a and carotenoid content of the seaweeds K. alvarezii. The research consisted of five treatments and each treatment consisted of three replications, consequently, there were 15 experimental units. The seaweeds were hanged by a random vertical method in the different cultivation depths, i.e 20 cm, 100 cm, 200 cm and 400 cm. Variance analysis was carried out on the 95% level. The results of the research indicates that the cultivation depths are not significantly defferent towards chlorophyll a and caratenoid content. The chlorophyll a and carotenoid content is relatively high in depth 100 cm (0,013 mg/g-1 and 0,299 mg/g-1) and the lowest is in depth 20 cm (0,006 mg/g-1 and 0,163 mg/g-1).Keywords: chlorophyll a, carotenoid. cultivation depths, Seaweed