BKPH (Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan) Parung Panjang merupakan bagian dari KPH Perhutani yang memiliki peran strategis dalam menjaga fungsi ekologis, ekonomi, dan sosial. Selain berfungsi sebagai penghasil kayu, kawasan hutan di BKPH Parung Panjang juga memiliki potensi pemanfaatan lahan di bawah tegakan pohon melalui sistem tumpangsari. Namun, hasil yang diperoleh sering tidak maksimal tanpa pengelolaan berbasis optimasi penggunaan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan Perhutani melalui sistem tumpangsari guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan BKPH Parung Panjang. Lokasi penelitian mencakup kawasan hutan seluas 5.365,24 hektar, di mana 2% dari total luas (107,3 ha) dijadikan dasar perhitungan awal. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif melalui estimasi pendapatan per hektare dari berbagai komoditas tumpangsari seperti jagung, kacang tanah, ketela pohon, dan sayuran. Selanjutnya disusun skenario optimal dan maksimal berdasarkan kombinasi komoditas serta simulasi penambahan luas hingga 10% dari total kawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada skenario maksimal (seluruh lahan untuk jagung), total pendapatan mencapai Rp 2,146 miliar per tahun dengan pendapatan per keluarga sebesar Rp 21,46 juta. Sedangkan pada skenario optimal dengan kombinasi komoditas, pendapatan kolektif mencapai Rp 1,387 miliar atau sekitar Rp 13,87 juta per keluarga. Peningkatan luas garapan hingga 10% menunjukkan potensi pendapatan hingga Rp 69 juta per keluarga. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan lahan tumpangsari secara terencana dan beragam dapat memberikan dampak ekonomi signifikan terhadap rumah tangga sekitar hutan.