Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KONFIGURASI KEBUDAYAAN POLITIK DAN PARTISIPASIBERDEMOKRASI DI INDONESIA Yusna Melianti
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 19, No 72 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jpkm.v19i72.4724

Abstract

Budaya politik adalah merupakan polaperilaku seseorang atau sekelompok orang yang orientasinyaberkisar tentang kehidupan politik, yang berjalan, dipikir, dikerjakan, dan dihayati oleh para anggotamasyarakat setiap harinya. Di dalam kebudayaan politik partispasi sangat di perlukan, karena hal iniberkaitan dengan fenomena masyarakat, di mana sistem politik dapat ditinjau dari sebagai bagian darisistem kemasyarakatan. Dalam demokrasi, partisipasi dan budaya politikĀ  dapat mendukung demokrasidengan baik. Sehingga dapat memajukan kestabilan politik, dengan meletakkan landasan bagi partisipasipolitik yang lebih luas dan sistem pemerintahan yang lebih demokratis. Sedangkan komunikasi politikyang merupakan penyampaian pesan yang berkenaan dengan fungsi suatu sistem politik, dapatseumpama berupa kata-kata tertulis, lisan, lambang, gambar, sinyal, dan lain-lain yang dapatmeneruskan arti pesan tersebut dari suatu pihak (pengirim) kepada pihak lain (penerima). Contoh yangdemikian merupakan suatu himbauan pemerintah kepada masyarakat agar mengabdikan diri , atausebaliknya pengartikuliasian kepentingan masyarakat lewat parlemen. Selain itu juga media massamempunyai arti penting dalam komunikasi politik, dan ini sangat diperlukan kemampuan dalam senimemerintah terhadap pengadaan komunikasi politik.
PERNIKAHAN DINI DALAM PERSPEKTIFAGAMA DAN NEGARA Yusna Melianti
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 19, No 71 (2013)
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jpkm.v19i71.4718

Abstract

Seiring perkembangan zaman tentang pernikahan, image masyarakat justru sebaliknya. Arusglobalisasi yang melaju dengan kencang mengubah cara pandang masyarakat. Perempuan yangmenikah di usia belia dianggap sebagai hal yang tabu. Bahkan lebih jauh lagi, hal itu dianggapmenghancurkan masa depan wanita, merangus kreativitasnya serta mencegah wanita untukmendapatkan pengetahuan dan wawasan yang lebih luas.Pernikahan usia dini masih dijumpai diNegara berkembang termasuk Indonesia.Berbagai faktor yang berhubungan dengan pernikahan usiadini antara lain: pendidikan, ekonomi dan budaya. Dampak yang diakibatkan oleh pernikahan diniantara lain rendahnya kualitas keluarga, terputusnya pendidikan dan kehamilan di usia remaja yangberdampak pada penolakan pada kehamilan.Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) padatahun 2002 di Indonesia terdapat 34,2% perempuan menikah dibawah usia 15 tahun dan laki-laki11,9%. Diwilayah Pantura, dari 42,8% kasus semua menikah di bawah usia 15 tahun. Totalperkawinan di seluruh Indonesia sekitar 34% melanggar UU perkawinan No.1/1974. Ini membuktikanpermasalahan pernikahan dini kemungkinan banyak terjadi didaerah-daerah.