Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PENDAMPINGAN MELALUI PELATIHAN ASERTIVITAS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN RELASI INTERPERSONAL PADA KOMUNITAS PEMUDA GEREJA Amanda Meuthia Ramadhanty; Raden Sungging Prabangkoro Aji; Tannia Christyna Rumagit; Marselius Sampe Tondok
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 28, No 1 (2022): JANUARI-MARET
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jpkm.v28i1.23618

Abstract

Abstrak Relasi antarpribadi merupakan aspek yang penting dalam kehidupan sosial termasuk dalam kelompok dan komunitas. Kunci sukses bagi kelompok untuk dapat membina hubungan interpersonal di antara anggotanya dengan baik adalah komunikasi asertif. Berdasarkan analisis permasalahan, salah satu permasalahan dalam relasi antar anggota pada kelompok mitra pengabdian adalah masih rendahnya komunikasi asertif pada beberapa anggota. Tujuan dari pendampingan komunitas melalui pelatihan komunikasi asertif adalah untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan komunitas dampingan akan komunikasi asertif antar pribadi. Kelompok mitra kegiatan pengabdian ini adalah komunitas Pemuda Gereja GKIN Sedati-Pabean. Dengan menggunakan metode psikoedukasi, program pelatihan komunikasi asertif terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang dilaksanaan secara online melalui zoom meeting. Program pendampingan tersebut dinilai efektif dapat meningkatkan pemahaman dan keterampilan komunikasi interpersonal antar anggota sehingga dapat mengaplikasikannya untuk mengatasi kendala dalam komunikasi sehari-hariantaranggota dalam komunitas.Kata kunci: Komunikasi; Komunitas; Pelatihan Asertivitas; Relasi Interpersonal.AbstractInterpersonal relationships are an important aspect of social life, including in groups and communities. The key to success for groups in building good interpersonal relationships among their members is assertive communication. Based on the problem analysis, one of the problems in the interpersonal relationship in the community service partner group was the low level of assertive communication among some members. The purpose of community facilitation through assertive communication training was to increase the understanding and skills of the assisted community in assertive interpersonal communication. The community for this service activity partner was the GKIN Sedati-Pabean Church Youth. By using the psychoeducation method, the assertive communication training program consisted of planning, implementation, and evaluation stages which were carried out online through zoom meetings due to the Covid-19 pandemic outbreak. The mentoring program was considered effective in increasing the interpersonal communication understanding and skills among the community members so that they can apply to overcome any obstacles in daily communication among members in the community. Keywords: Communication; Community; Assertiveness Training; Interpersonal Relationship
Small Effect Size Pada Hubungan Adiksi Internet dengan Prestasi Akademik: Meta analisis Amanda Meuthia Ramadhanty
Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS) Vol 4, No 3 (2022): Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS), February
Publisher : Mahesa Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.411 KB) | DOI: 10.34007/jehss.v4i3.897

Abstract

Internet addiction has a significant impact on people's lives, including academic achievement among students. This meta-analysis research aims to determine how much of an effect size correlation has on the relationship between internet addiction and academic achievement. This meta-analysis study used 21 literature studies  with quantitative methods that ranged from 2011 to 2021, with a total of 9,981 sample. This meta-analysis uses jamovi as statistical tool. Based on the results of the meta-analysis study, it was known that internet addiction had a negative small effect size correlation on academic achievement (r =-0.19, 95% CI =-0.39 to 0.02). The 21 literature analyzed had a high level of inconsistency of 99%, and no publication bias was found in the study. Based on this, it can be known that internet addiction is not the most influential factor in individual academic achievement.
Pelatihan Work Engagement untuk Meningkatkan Affective Commitment Komunitas Shien-Shin dikala Pandemi COVID-19 Hanna Halim; Erica Aprillia; Eunike Fabrianne Gunawan; Jonathan Suriyadi; Michelle Caroline Gunawan; Jennifer Felita; Amanda Meuthia Ramadhanty; Frikson Christian Sinambela
J-Dinamika : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 7 No 2 (2022): Agustus
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/j-dinamika.v7i2.2868

Abstract

Pandemi COVID-19 secara drastis membentuk perubahan dalam cara berinteraksi dan berkomunikasi masyarakat dari tatap muka menjadi daring. Perubahan ini berdampak pada penurunan komitmen anggota dalam berbagai komunitas, salah satunya merupakan komunitas kerohanian Shien-Shin. Penelitian terdahulu menemukan bahwa work engagement memiliki korelasi positif dengan affective commitment. Namun, penelitian terkait pengaruh work engagement terhadap affective commitment pada konteks komunitas agama belum pernah dilakukan, sehingga pengabdian ini ingin melihat pengaruh work engagement dalam meningkatkan affective commitment anggota Shien-Shin. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan alat ukur Measure of Employee Commitment buatan Allen dan Meyer. Hasil pengabdian ini menunjukkan bahwa pelatihan engagement tidak berpengaruh signifikan terhadap affective commitment (p = .380). Hal ini diduga disebabkan oleh engagement yang bersifat motivasional, sehingga terdapat variabel lain yang turut berpengaruh, seperti  external locus of control, task self-efficacy, dan role conflict. Hasil pengabdian ini mendukung perlunya melakukan pengabdian lanjutan dengan memperbaiki mekanisme teknis seperti menambah jumlah partisipan, memperpanjang durasi, dan memperbanyak frekuensi pelatihan yang dilakukan.