Ismail Ismail
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KONSTRUKSI AGAMA DAN KESAKRALAN MASYARAKAT SEBAGAI MANISFESTASI TOTEM: STUDI TERHADAP PEMIKIRAN EMILE DURKHEIM Ismail Ismail
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 7 No 2 (2019): Jurnal Kontemplasi
Publisher : IAIN Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2019.7.2.212-227

Abstract

This article tries to explain how the important role of the dotem or totem in building a sense of unity both in the social sphere and the religious side. Based on the results of research conducted by Durkheim, we can conclude that totems have been deeply involved in the pulse of Aboriginal life in Australia. Totems are not just names used by various clans, totems have also been transformed into something sacred. With this sacredness, the totem has become the initial foothold for the formation of social solidarity and is able to encourage the community to construct life ethics and even become the strongest factor in which religion arises. Keywords: Totems, religion, society. Artikel ini berusaha menjelaskan bagaimana peran penting dotem atau totem dalam membangun rasa persatuan baik di ranah sosial maupun sisi agama. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Durkheim, kita bisa menyimpulkan bahwa totem telah terlibat jauh ke dalam nadi kehidupan suku Aborigin di Australia. Totem bukan hanya sekedar nama yang digunakan oleh berbagai macam klan, totem juga telah menjelma menjadi sesuatu yang sakral. Dengan kesakralan tersebut, totem telah menjadi pijakan awal terbentuknya solidaritas sosial serta mampu mendorong masyarakat untuk mengkonstruksi etika hidup bahkan menjadi satu faktor terkuat dimana agama itu muncul. Kata Kunci: Totem, agama, masyarakat.
KONSTRUKSI AGAMA DAN KESAKRALAN MASYARAKAT SEBAGAI MANISFESTASI TOTEM: STUDI TERHADAP PEMIKIRAN EMILE DURKHEIM Ismail Ismail
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 7 No 2 (2019): Jurnal Kontemplasi
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2019.7.2.212-227

Abstract

This article tries to explain how the important role of the dotem or totem in building a sense of unity both in the social sphere and the religious side. Based on the results of research conducted by Durkheim, we can conclude that totems have been deeply involved in the pulse of Aboriginal life in Australia. Totems are not just names used by various clans, totems have also been transformed into something sacred. With this sacredness, the totem has become the initial foothold for the formation of social solidarity and is able to encourage the community to construct life ethics and even become the strongest factor in which religion arises. Keywords: Totems, religion, society. Artikel ini berusaha menjelaskan bagaimana peran penting dotem atau totem dalam membangun rasa persatuan baik di ranah sosial maupun sisi agama. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Durkheim, kita bisa menyimpulkan bahwa totem telah terlibat jauh ke dalam nadi kehidupan suku Aborigin di Australia. Totem bukan hanya sekedar nama yang digunakan oleh berbagai macam klan, totem juga telah menjelma menjadi sesuatu yang sakral. Dengan kesakralan tersebut, totem telah menjadi pijakan awal terbentuknya solidaritas sosial serta mampu mendorong masyarakat untuk mengkonstruksi etika hidup bahkan menjadi satu faktor terkuat dimana agama itu muncul. Kata Kunci: Totem, agama, masyarakat.
Transformasi Pendidikan melalui Kebijakan Merdeka Belajar: Analisis Politik Pendidikan Era Jokowi Ismail Ismail; Sabarudi; Muhammad Hilma Alrosyid
RUMI: Rumah Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 3 (2026): RUMI (Rumah Ilmiah Jurnal Multidisiplin) (Juni)
Publisher : RUMI: Rumah Jurnal Ilmiah Multidisiplin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebijakan Merdeka Belajar yang diluncurkan pada era pemerintahan Joko Widodo merupakan salah satu transformasi pendidikan paling signifikan dalam sejarah sistem pendidikan nasional Indonesia. Namun, perubahan paradigma ini memunculkan pertanyaan mendasar mengenai sejauh mana kebijakan tersebut membawa perubahan nyata dibandingkan kebijakan pendidikan sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi pendidikan melalui kebijakan Merdeka Belajar dari perspektif politik pendidikan, dengan fokus pada perbandingan kebijakan pendidikan sebelum dan sesudah implementasinya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi dokumentasi dan kajian literatur terhadap regulasi, kebijakan, serta berbagai sumber ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan Merdeka Belajar membawa pergeseran signifikan dalam paradigma pendidikan nasional, meliputi desentralisasi kurikulum, penguatan otonomi sekolah, serta perubahan sistem asesmen yang lebih berorientasi pada kompetensi peserta didik. Dibandingkan kebijakan sebelumnya, pendekatan ini dinilai lebih adaptif terhadap kebutuhan lokal dan konteks sosial budaya masyarakat. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya keberlanjutan reformasi kebijakan pendidikan yang berpihak pada peserta didik, serta perlunya penguatan kapasitas guru dan tata kelola pendidikan sebagai prasyarat keberhasilan transformasi jangka panjang.