Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

INVENTARISASI ARSITEKTUR BANGUNAN CAGAR BUDAYA KANTOR POS SEMARANG (Memikirkan Kembali Peluang Fungsi Kantor Pos di Era Digital) Rukayah, R. Siti; Juwono, Sudarmawan
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 5 No 3 (2021): Jurnal Arsitektur ARCADE November 2021
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: During the Dutch colonial period, Daendeles (1808) built a 1000km postal highway from Anyer - Panarukan. Now the road is known as the pantura (north coast route). The main function is to facilitate communication between regions controlled by Daendeles. One of the buildings that influenced the construction of the postal highway was the first post office in Batavia (1746) and the second post office in Semarang (1750). In the city of Semarang, along with the development of the city to the south and the existence of road infrastructure towards the kingdom of Mataram (Surakarta and Jogjakarta), several branch post offices were built in the Bangkong area and the Post Office Jalan Dr. Wahidin. The building is the center of postal services and operations in the city of Semarang and its surroundings. However, along with the development of the postal industry process, it has pushed service rooms to be more efficient, resulting in a reduction in the need for workspaces which results in a lot of space that can be used for other functions. This opportunity to revitalize the old post office building can be integrated with the potential of the Old Town area which has been developed as a mainstay tourism destination for the city of Semarang. Taking into account this potential, the purpose of this paper is to map and inventory the architectural potential of the Semarang post office which is very urgent to do. The method used is to conduct observations and interviews in a structured manner. The focus of the study is on the potential of architecture, including architectural space and character, as well as the potential of the existing environment or area. The result of the building inventory to preserve that not only focuses on the physical building but also how the activities in it are still attached to the function of the building.Abstrak: Pada masa colonial Belanda, Daendeles (1808) membangun jalan raya pos sepanjang 1000km dari Anyer - Panarukan dan kini dikenal dengan jalur pantura. Fungsi utama adalah memperlancar komunikasi antar daerah yang di kuasai Daendeles. Salah satu bangunan yang berpengaruh terhadap dibangunnya jalan raya pos adalah Kantor pos pertama di Batavia (1746) dan Kantor pos kedua di Semarang (1750). Di Kota Semarang seiring dengan perkembangan kota ke arah Selatan dan telah adanya infrastruktur jalur jalan kearah kerajaan Mataram (Surakarta dan Jogjakarta) maka dibangunlah kantor pos cabang di kawasan Bangkong dan Kantor pos jalan Dr. Wahidin. Bangunan tersebut menjadi salah satu tulang punggung pelayanan dan operasional pos di wilayah Kota Semarang dan sekitarnya. Namun seiring dengan perkembangan proses industri pos telah mendorong ruang pelayanan semakin efisien sehingga terjadi pengurangan kebutuhan ruang kerja yang mengakibatkan banyak ruang yang bisa dimanfaatkan untuk fungsi lain. Peluang ini dapat diintegrasikan dengan potensi kawasan Kota Tua telah dikembangkan sebagai ruang publik dan destinasi pariwisata andalan Kota Semarang. Dengan memperhatikan adanya potensi tersebut tujuan paper ini adalah melakukan mapping dan inventarisasi potensi arsitektur kantor pos Semarang yang sangat mendesak untuk dilakukan. Metode yang dilakukan adalah melakukan survey lapangan dan wawancara secara terstruktur. Adapun fokus kajian adalah pada potensi arsitektur mencakup ruang dan karakter arsitektur, serta potensi lingkungan atau kawasan yang ada. Hasil dari inventarisir bangunan adalah upaya untuk melestarikan yang tidak hanya berfokus pada fisik bangunan saja tetapi juga bagaimana aktivitas di dalamnya masih tetap melekat dengan fungsi bangunannya. 
Penyusunan Buku Narasi Nilai Budaya Arsitektur Kelenteng Tay Kek Sie Sebagai Petunjuk Bagi Wisatawan Juwono, Sudarmawan; Ali, Abdullah; Solo, Adrianus; Aryanti, Dwi; Lidia Malaseme, Fera; Julia Lestari, Helma; Gobai, Oktowimelek
Abdi Laksana : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7 No 1 (2026): Abdi Laksana : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Pamulang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/abdilaksana.v7i1.54565

Abstract

Keberadaan masyarakat dan budaya Tionghoa telah menjadi bagian dari keragaman sosial budaya Indonesia.  Semarang merupakan kota yang menjadi saksi dari kekayaan budaya Tionghoa dalam bentuk tradisi masyarakat maupun arsitektur seperti tempat tinggal dan rumah ibadah. Salah satu rumah ibadah atau kelenteng yang terkemuka adalah Kelenteng Tay Kek Sie atau Kelenteng Gang Lombok. Kelenteng yang dikenal sebagai rumah ibadah Tri Darma bagi masyarakat Tionghoa ini merupakan aset budaya tidak saja dipandang sakral namun mengajarkan nilai-nilai budaya positif sebagai pelajaran hidup bagi masyarakat. Rekreasi budaya ke kelenteng ini membawa banyak manfaat mengenai arsitektur, nilai-nilai budaya Tionghoa maupun sejarah kota Semarang. Saat ini para wisatawan memperoleh berbagai informasi dari petugas kelenteng namun karena keterbatasan waktu maka target pemahaman tidak tercapai. Bertitik tolak dari kondisi tersebut maka program pengabdian kepada masyarakat ditujukan untuk menyusun buku yang berisi narasi singkat terutama bidang arsitektur tentang kelenteng ini yang dapat dimanfaatkan pengunjung.
KARAKTER ARSITEKTUR KOLONIAL KANTOR POS GARUT DALAM PERSPEKTIF PERKEMBANGAN ARSITEKTUR KOTA Sudarmawan Juwono; Siti Rukayah; Heru Wibowo; Abdullah Ali
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 1 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Maret 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v8i1.3834

Abstract

Abstract: The Post Office building on Jalan Jenderal Ahmad Yani Garut has been recognized as a cultural heritage object which has become the architectural identity and landmark of the city. Architectural character that forms identity and contributes to regional values is an element that must be maintained in preserving urban areas. This research aims to explore the character of architecture as a basis for conservation and its meaning from a city architecture perspective. This research uses descriptive qualitative methods, especially field observations, previous research studies, history and interpretation of relevant map documents and images. The research results show that the architectural character of the post office is the result of a process of adapting the roof, building body and floor plan. Through studies of city development, it is known that the meaning of these characters provides information regarding the influence of tourism activities on the formation of identity and the physical development of urban architecture that has occurred.Keywords  : architectural character, meaning, development of urban architectureAbstrak: Bangunan Kantor Pos di jalan Jenderal Ahmad Yani Garut selama ini telah diakui sebagai obyek cagar budaya yang menjadi identitas arsitektur dan penanda kota. Karakter arsitektur yang membentuk identitas dan memberikan kontribusi nilai-nilai kawasan adalah unsur yang harus dipertahankan dalam pelestarian kawasan kota. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi karakter arsitektur sebagai dasar konservasi dan maknanya dari perspektif arsitektur kota. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif terutama pengamatan lapangan, studi penelitian terdahulu, sejarah dan interpretasi atas dokumen peta dan gambar yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter arsitektur kantor pos merupakan hasil suatu proses adaptasi atap, badan bangunan dan denah. Melalui studi terhadap perkembangan kota, diketahui bahwa makna karakter tersebut memberikan informasi mengenai pengaruh aktivitas pariwisata pada pembentukan identitas dan perkembangan kota yang telah terjadi.Kata Kunci: karakter arsitektur, makna, perkembangan arsitektur kota
RUMAH ADAT SEBAGAI PUSAT DALAM POLA RUANG LUHUR KAMPUNG ADAT KRANGGAN Di KOTA BEKASI Abdullah Ali; R. Siti Rukayah; Agung Budi Sardjono; Sudarmawan Juwono
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 4 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i4.4354

Abstract

Abstract: Kampung Kranggan is one of the traditional villages in Bekasi City that has the strength to maintain its cultural tradition space amidst the dynamics of urban space development. The factors that make Kranggan Village exist are historical aspects, ancestral knowledge, traditional houses, and heirs, or actors of its space called Kokolot. The Kranggan traditional community adheres to the philosophy of Opat Mandahap Kalima Pancer which is an understanding of spatial order that starts from human existence in their environment. This study aims to determine how spatial patterns, traditional houses as the center of customary order, and village spatial order are in the philosophy of Opat Mandahap Kalima Pancer. This study uses a qualitative method with a phenomenological approach, which emphasizes observation, the essence behind existence, the reality behind appearance, and the noema behind visible phenomena. Based on inductive analysis, the results of this study found local genius, namely the noble space typical of Kampung Kranggan. Where the noble variant is a spatial pattern of Kampung Kranggan which consists of a hierarchy between the center or pancer, namely the area of the traditional house of the Sepuh Agung, and sub-centers, namely the traditional houses of the Kokolot. This spatial pattern intersects with the spatial behavior of the kokolot as pancer in traditional rituals and daily activities. Therefore, local knowledge of the noble space is the soul of the space that contains values-meanings, obedience, agreement and kinship which are the capital of the cultural space of the Kampung Kranggan. Keyword: Traditional House, Center, Luhur, Kampung  Abstrak: Kampung Adat Kranggan merupakan salah satu kampung adat di Kota Bekasi yang memiliki kekuatan dalam mempertahankan ruang tradisi budayanya di tengah dinamika perkembangan ruang kota. Faktor-faktor yang membuat Kampung Kranggan eksis adalah aspek kesejarahan, pengetahuan warisan leluhur, rumah adat, dan pewaris, atau aktor pelaku ruangnya yang disebut Kokolot. Masyarakat adat Kranggan berpegang pada filosofi Opat Mandahap Kalima Pancer yang merupakan pemahaman tatanan ruang yang bertitik tolak dari keberadaan manusia terhadap lingkungan hidupnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pola keruangan, rumah adat sebagai pusat tata adat, dan tata ruang kampung dalam filosofis Opat Mandahap Kalima Pancer. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, yang menekankan pada pengamatan, esensi di balik eksistensi, realitas di balik kenampakan, dan noema di balik fenomena yang nampak. Berdasarkan pada analisis induktif, hasil penelitian ini  menemukan kegeniusan lokal yaitu ruang luhur khas Kampung Kranggan. Dimana varian luhur,  merupakan  pola ruang Kampung Kranggan yang terdiri dari hirarkis antara pusat atau pancer yaitu wilayah rumah adat Sepuh Agung, dan sub-sub pusat yaitu rumah-rumah adat Para Kokolot. Pola Keruangan ini, beririsan dengan perilaku keruangan oleh para kokolot sebagai pancer dalam ritual adat dan aktivitas keseharian. Oleh sebab itu  pengetahuan lokal ruang luhur merupakan jiwa ruang yang terkandung nilai-makna, kepatuhan, kesepakatan dan kekerabatan yang merupakan modal ruang budaya Kampung Adat Kranggan. Kata Kunci: Rumah Adat, Pusat, Luhur, Kampung