Nunuk Widhyastuti
BIDANG MIKROBIOLOGI PUSAT PENELITIAN BIOLOGI LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENINGKATAN KADAR PATI RESISTEN TIPE III TEPUNG SINGKONG TERMODIFIKASI MELALUI FERMENTASI DAN PEMANASAN BERTEKANAN-(Improvement Level of Resistant Starch Type III on Modified Cassava Flour Using Fermentation and Autoclaving-Cooling) Raden Haryo Bimo Setiarto; Nunuk Widhyastuti; Arumsyah Sumariyadi
Biopropal Industri Vol 9, No 1 (2018)
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2706.862 KB) | DOI: 10.36974/jbi.v9i1.3425

Abstract

Modified Cassava flour (Mocaf) is a product derived from cassava flour that uses principles of cassava cell modification through fermentation for 12-72 hours. This study aims to improve the levels of resistant starch in cassava flour using lactic acid bacteria fermentation and autoclaving-cooling. Cassava slices fermented with mixed cultures of lactic acid bacteria (Lactobacillus plantarum B-307:Leuconostoc mesenteroides SU-LS 67=1:1) for 18 hours at 37oC. The fermented cassava then autoclaved (121oC, 15 min) and cooled (4oC, 24 hours) for 1-3 cycles. Cassava slices was dried (70oC, 16 hours), grounded and sieved (80 mesh) to obtain modified cassava flour. Combination of autoclaving-cooling and fermentation could increase resistant starch level of Mocaf. Fermentation with 2 cycles of autoclaving-cooling (FAC-2S) produced the highest resistant starch content (12.51%) compared to other treatments. This value was around 4.5-fold higher than the control (2.81%). Increased levels of resistant starch could contribute to decrease the digestibility of Mocaf.Keywords: autoclaving-cooling, fermentation, lactic acid bacteria, modified cassava flour, resistant starch ABSTRAKTepung singkong termodifikasi (Mocaf) merupakan produk turunan dari tepung singkong yang menggunakan prinsip modifikasi sel singkong secara fermentasi selama 12-72 jam. Penelitian ini bertujuan meningkatkan kadar pati resisten tepung singkong melalui fermentasi bakteri asam laktat dan pemanasan bertekanan-pendinginan. Irisan singkong difermentasi dengan kultur campuran bakteri asam laktat (Lactobacillus plantarum B-307:Leuconostoc mesenteroides SU-LS 67 = 1:1) selama 18 jam pada suhu 37oC. Irisan singkong fermentasi selanjutnya di autoklaf (121oC, 15 menit) dan didinginkan (4oC, 24 jam) untuk 1-3 siklus. Irisan singkong kemudian dikeringkan (70oC, 16 jam), digiling dan diayak (80 mesh) untuk mendapatkan tepung singkong termodifikasi. Kombinasi pemanasan bertekanan-pendinginan dengan fermentasi mampu meningkatkan kadar pati resisten pada tepung singkong termodifikasi. Perlakuan fermentasi dengan 2 siklus pemanasan bertekanan-pendinginan (FAC-2S) menghasilkan kadar pati resisten tertinggi (12,51%) dibanding perlakuan lainnya dan meningkatkan kadar pati resisten sebesar 4,5 kali lipat dibandingkan perlakuan kontrol (2,81%). Peningkatan kadar pati resisten menyebabkan terjadinya penurunan daya cerna pada tepung singkong termodifikasi.Kata kunci: bakteri asam laktat, fermentasi, pati resisten, pemanasan bertekanan-pendinginan, tepung singkong termodifikasi
Pengaruh Fermentasi Bakteri Asam Laktat dan Siklus Pemanasan Bertekanan-Pendinginan Terhadap Kadar Pati Resisten Tepung Ubi Jalar Ungu (Ipomea Batatas Var Ayamurasaki) Termodifikasi Raden Haryo Bimo Setiarto; Nunuk Widhyastuti
Warta Industri Hasil Pertanian Vol 34, No 1 (2017)
Publisher : Balai Besar Industri Agro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (530.645 KB) | DOI: 10.32765/warta ihp.v34i1.4069

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh fermentasi kultur campuran bakteri asam laktat dan siklus pemanasan bertekanan–pendinginan terhadap kadar pati resisten tepung ubi jalar ungu termodifikasi. Irisan ubi jalar ungu difermentasi dengan kultur campuran bakteri asam laktat (Lactobacillus plantarum B-307: Leuconostoc mesenteroides SU-LS 67) (1:1) (vol/vol) selama 24 jam pada suhu 370C. Irisan ubi jalar ungu fermentasi selanjutnya diautoklaf (1210C, 15 menit) dan didinginkan (40C, 24 jam), perlakuan dilakukan untuk satu, dua dan tiga siklus. Irisan ubi jalar ungu kemudian dikeringkan (800C, 18 jam), digiling dan diayak (80 mesh) untuk mendapatkan tepung ubi jalar ungu modifikasi. Kombinasi pemanasan bertekanan-pendinginan dengan fermentasi mampu meningkatkan kadar pati resisten pada tepung ubi jalar ungu modifikasi. Semakin banyak jumlah siklus pemanasan bertekanan-pendinginan yang diaplikasikan dapat meningkatkan kadar pati resisten secara signifikan. Perlakuan fermentasi dengan 1 siklus pemanasan bertekanan-pendinginan (FAC-1S) menghasilkan kadar pati resisten tertinggi (11,26%) dibanding perlakuan lainnya dan meningkatkan kadar pati resisten sebesar 5,34 kali lipat dibandingkan perlakuan kontrol (2,11%). Peningkatan kadar pati resisten menyebabkan terjadinya penurunan daya cerna pada tepung ubi jalar ungu modifikasi.