This Author published in this journals
All Journal MAJALAH BIAM
marni kaimudin
Baristand Industri Ambon

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pemanfaatan Ekstrak Gracilaria sp. Sebagai Penghambat Bakteri Salmonella enteric vs enteritdis Dan Pseudomonas aeroginosa marni kaimudin
Majalah BIAM Vol 14, No 1 (2018): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.422 KB) | DOI: 10.29360/mb.v14i1.3702

Abstract

Perkembangan isu resistensi dan infeksi patogenitas bakteri terhadap manusia merupakan hal baru saat ini. Kepedulian mencari alternatif senyawa obat baru sangat diharapkan. Dengan adanya kandungan senyawa bioaktif dari rumput laut sangat bermanfaat sebagai salah satu sumber antibakteri baru yang diperoleh dari alam. Tujuan penelitian ini adalah memanfaatkan ekstrak rumput laut Gracilaria sp.  terhadap antibakteri pembentukan bakteri Salmonella enterica sv enteritdis dan Pseudomonas aeroginossa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental laboratoris. Ekstraksi dilakukan secara bertingkat dengan menggunakan tiga pelarut yang berbeda kepolarannya yaitu, n-heksan, etil asetat dan etanol. Uji aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode difusi agar (Melki et al., 2011) dengan 2 kali pengulangan. Analisis kebocoran sel bakteri dilakukan secara deskriptif kualitatif berdasarkan hasil rekapan Spektrofotometer. Hasil uji aktivitas ketiga pelarut yang digunakan menunjukkan bahwa ekstrak dengan pelarut etil asetat memiliki aktivitas terbaik dengan zona hambat 4,73 mm (bakteri Salmonella enterica vs enteritdis) dan 7,91 mm (bakteri Pseudomonas aeroginossa) serta memiliki aktivitas bakteriosidal..Nilai minimum inhibitory concentracion pada 0.51%. Absorban yang diperoleh dari hasil kebocoran sel bakteri Salmonella enterica sv  enteritdis pada konsentrasi 0% MIC sebesar 1.500 pada panjang gelombang 280 mm dan sebesar 1.000 pada panjang gelombag 280 mm, konsentrasi 1% MIC sebesar 0.550 pada panjang gelombang 260 mm dan 0.400 pada panjang gelombang 280 mm, konsentrasi 2% MIC sebesar 1.500 pada panjang gelombang 260 mm dan 1.300 pada panjang gelombang 280 mm.  . Hasil kebocoran sel bakteri Pseudomonas aeroginossa dengan konsentrasi 0% MIC sebesar 0.150 pada panjang gelombang 280 mm dan sebesar 0.200 pada panjang gelombag 260 mm, konsentrasi 1% MIC sebesar 1.000 pada panjang gelombang 260 mm dan 0.800 pada panjang gelombang 280 mm, konsentrasi 2% MIC sebesar 2.500 pada panjang gelombang 260 mm dan 2.000 pada panjang gelombang 280 mm.
KARAKTERISASI KITOSAN DARI LIMBAH UDANG DENGAN PROSES BLEACHING DAN DEASETILASI YANG BERBEDA Marni Kaimudin; Maria F Leonupun
Majalah BIAM Vol 12, No 1 (2016): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.892 KB) | DOI: 10.29360/mb.v12i1.2321

Abstract

Penelitian  ini  bertujuan  untuk  mengetahui  karakterisasi  kitosan  dari  limbah  kulit  udang  dengan  perlakuan perendaman  (bleaching)  aseton  dan  proses  deasetilasi.  Lingkup  kegiatan  meliputi  persiapan  peralatan  dan bahan baku kulit udang windu, proses pembuatan kitosan, pengujian, analisa data dan pelaporan. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental dengan 3 perlakuan dan 3 kali ulangan. Hasil karakterisasi raw material kulit udang meliputi kadar air 75,10%, abu 5,02%, lemak 2,47% dan protein 14,85%. Hasil karakterisasi kitosan dengan  perendaman aseton 24  jam dan  deasetilasi  2x  adalah  kadar air  sebesar  9,72%,  abu  sebesar 3,37%, lemak  sebesar  3,50%  dan  protein  sebesar  4,29%.  Rendemen  yang  diperoleh  sebesar  32,20%.  Hasil karakterisasi kitosan dengan perendaman aseton 24 jam dan deasetilasi 3x adalah kadar air sebesar 9,64%, abu sebesar 0,09%, lemak sebesar 0,28% dan  protein sebesar 0.63%. Rendemen yang diperoleh sebesar 32,17 %. Hasil karakterisasi kitosan dengan perendaman aseton 48 jam dan deasetilasi 3x adalah kadar air sebesar 9,61 %, abu  sebesar  0,02%, lemak sebesar 0,15% dan  protein sebesar 0,51%. Rendemen yang diperoleh sebesar 22,18%. Karakterisasi kitosan komersial adalah kadar air sebesar 9,45%, abu sebesar 0,51%, lemak 2,31% dan protein 0,48%. Selain perbandingan dengan kitosan komersial, hasil penelitian ini dibandingkan dengan standar kitosan  yaitu  kadar  air  9,28%,  kadar  abu  1,32%,  lemak  sebesar  0,29%  dan  protein  <0,5%  adalah memenuhi standar.  Proses  perendaman  (bleaching)  dan  deasetilasi  sangat  berpengaruh  terhadap  karakterisasi  kitosan, dilihat dari hasil F hitung (68,6302) > F tabel (2,9011).
ISOLASI KITIN DAN KITOSAN DARI LIMBAH KULIT UDANG Edward J. Dompeipen; Marni Kaimudin; Riardi P Dewa
Majalah BIAM Vol 12, No 1 (2016): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.501 KB) | DOI: 10.29360/mb.v12i1.2326

Abstract

Udang di Indonesia di ekspor dalam bentuk beku yaitu udang yang telah mengalami cold storage setelah melalui pemisahan  kepala dan kulit. Akibat dari proses  tersebut  diperoleh limbah  atau  hasil  samping  berupa  kepala (carapace)  dan  kulit  (peeled) yang menimbulkan masalah pencemaran lingkungan.  Kitin  dan  kitosan  adalah bahan industri yang multifungsi dan multi guna. Isolasi senyawa kitin melalui reaksi demineralisasi dengan larutan HCl 1 N,  perbandingan  15:1  (v/b)  direaksikan  dalam  ekstraktor  pada  suhu  60 0C  selama  30  menit.  Reaksi deproteinisasi  dengan  larutan  NaOH  3,5 %,  perbandingan  10:1  (v/b),  kemudian  direaksikan  dalam  ekstraktor selama  2  jam pada    temperatur  65 oC.  Reaksi  dekolorisasi  dengan  larutan  NaOCl  0,315%,  perbandingan  10:1 (v/b) dalam ekstraktor selama selama 1 jam pada suhu 40 oC. Reaksi deasetilasi kitin menjadi kitosan dilakukaan dengan NaOH 60%, perbandingan 20:1 (v/b) dan direaksikan dalam ekstraktor pada suhu 80 – 100 oC selama 1 jam. Kualitas kitin yang dihasilkan antara lain, kadar air  6,89%, kadar abu 7,8%, sedangkan kualitas kitosan yang dihasilkan, kadar air  9,28%, kadar abu 1,49%, kadar protein ≤ 0,5%,  larut sempurna  dengan asam asetat 2%, rendemen  63% dan derajat deastilasi : 83,25%. Kualitas kitosan yang dihasilkan sudah dapat memenuhi standar Protan Laboratory.
Review : Analisis Profil Protein Ikan Dengan Metode SDS-PAGE Marni Kaimudin
Majalah BIAM Vol 16, No 1 (2020): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29360/mb.v16i1.6077

Abstract

Ikan merupakan bahan makanan yang mengandung berbagai macam senyawa bioaktif dan memiliki absorpsi protein yang lebih tinggi dari hewan lainnya yang berfubgsi sebagai zat pembangun, pengatur dan pembakar bagi tubuh.  Struktur protein tidak stabil terhadap beberapa faktor antara lain; pH, radiasi, temperatur dan pelarut organik. Untuk melihat perubahan protein pada ikan, dilakukan review analisis profil protein ikan dengan metode SDS-PAGE berdasarkan data sekunder. Profil protein ikan yang diperoleh berdasarkan perlakuan penggaraman, pengendapat ammonium sulfat dan isopropyl. Sebagai pembanding, analisis profil protein dilakukan terhadap tumbuhan dengan perlakuan pengendapan ammonium sulfat. Profil protein ikan dengan metode SPS-PAGE diperoleh berat molekul sekitar 17-152 kDA dan pada tumbuhan (fitase Bacillus subtilis ) sebesar 36,6 kDa yang disebabkan oleh struktur molekul penyusunnya berbeda.
REKAYASA DAN UJI COBA ALAT MAT ELEKTRIK UNTUK PRODUK OBAT NYAMUK ELEKTRIK DARI BAHAN DASAR MIRISTISIN Marni Kaimudin
Majalah BIAM Vol 9, No 2 (2013): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (861.305 KB) | DOI: 10.29360/mb.v9i2.2009

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Baristand Industri Ambon pada tahun Anggaran 2012, dengan tujuan untuk merekayasa alat mat elektrik dan diharapkan bisa dimanfaatkan. Lingkup kegiatan meliputi studi literatur, studi banding, sampling, persiapan bahan dan alat,  pembuatan alat mat elektrik obat nyamuk, pengujian dan pelaporan. Metode yang digunakan untuk pembuatan alat mat elektrik obat nyamuk adalah sistem rekayasa dan uji coba penggunaannya. Hasil uji efektiftas alat mat elektrik obat nyamuk yang direkayasa dengan metode pengamatan suhu pada elemen selama 8 jam berturut – turut untuk 7 hari pengamatan. Hasilnya dibandingkan dengan alat mat elektrik pasaran adalah alat mat elektrik hasil rekayasa suhunya lebih rendah dibandingkan alat mat pasaran A dan C, dan lebih tinggi dari alat mat pasaran B dan D. Daya efektiftas dari alat mat elektrik hasil rekayasa sama dengan alat mat pasaran, yaitu semakin lama pemakaian, semakin turun.