Sri Budi Lestari
Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro

Published : 19 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search
Journal : Interaksi Online

REPRESENTASI PEMBISUAN WANITA DI DALAM RUBRIK OLAHRAGA “SPIRIT” PADA HARIAN UMUM SUARA MERDEKA Utomo, Dimas Herdy; Sunarto, Dr; Nugroho, Adi; Lestari, Sri Budi
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.616 KB)

Abstract

Surat kabar merupakan salah satu media massa yang mempunyai kemampuan untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat luas. Artikel berita yang terdapat dalam surat kabar dapat menghasilkan representasi mengenai realitas yang sengaja di konstruksi-kan sesuai dengan kode-kode dan ideology yang dianut surat kabar tersebut. Rubrik olahraga “Spirit” pada harian umum Suara Merdeka adalah sebuah rubrik yang menggambarkan posisi wanita dalam hubungannya dengan dunia olahraga yang cenderung maskulin.Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana pembisuan wanita ter representasikan dari hal-hal yang terungkap dan terdapat dalam teks berita yang ditampilkan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Muted group yang dirintis oleh Antropolog Edwin dan Shirley Ardener dan teori representasi dari Stuart Hall. Peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan analisis semiotika Rolland Barthes untuk meneliti kode-kode yang nampak dalam teks berita.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wanita dalam dunia olahraga hanya menarik khalayak dari segi fisiknya saja, wanita adalah Secondary Sex, dan budaya patriarki menjadi langgeng dengan stereotipe yang dikemukakan oleh media massa. Kesemua hasil penelitian yang ada dengan jelas telah merepresentasikan pembisuan yang ada dalam diri seorang wanita yang menjadi objek berita. Hal tersebut dapat dilihat dari ke-tujuh berita yang menjadi fokus penelitian. Saran dari penelitian yang dilakukan ini adalah arti penting dari jurnalisme media yang berprespektif gender.Keywords : Surat kabar, Representasi, Semiotika, Wanita
Hubungan antara Terpaan Publisitas dan Faktor Demografis dengan Dukungan Masyarakat pada Kegiatan City Branding Jepara Wildan, Arbi Azka; Naryoso, Agus; Lestari, Sri Budi; Rahmiaji, Lintang Ratri
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.016 KB)

Abstract

City branding merupakan upaya atau strategi dari suatu kota untuk membuat positioning yang kuat di regional maupun global. Jepara memerlukan kegiatan city branding untuk memperkuat positoningnya diantara kota-kota lain, turut serta melibatkan masyarakat dan media juga sangat diperlukan dalam kegiatan city branding. Lalu, adakah hubungan antara terpaan publisitas dan faktor demografis dengan dukungan masyarakat pada kegiatan city branding Jepara?Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji korelasi terpaan publisitas dan faktor demografis dengan dukungan masyarakat pada kegiatan city branding Jepara. Hipotesis dari penelitian ini adalah Terdapat hubungan antara terpaan publisitas dengan dukungan masyarakat pada kegiatan city branding Jepara dan Terdapat hubungan antara terpaan publisitas dan faktor demografis dengan dukungan masyarakat pada kegiatan city branding Jepara. Penelitian ini menggunakan uji analisis korelasi pearson dan Reinforcement Theory serta Teori Kategori Sosial digunakan untuk menjelaskan hubungan antara terpaan publisitas dan faktor demografis dengan dukungan masyarakat pada kegiatan city branding Jepara. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat Jepara yang diambil sebanyak 50 orang, secara purposive.Adapun hasil penelitian menunjukkan nilai koefiensi korelasi terpaan publisitas kegiatan city branding kota Jepara menunjukkan angka sebesar 0,219, artinya terpaan publisitas kegiatan city branding kota Jepara dan dukungan masyarakat pada kegiatan city branding memiliki korelasi rendah. Sedangkan koefisiensi korelasi faktor demografis menunjukkan angka 0,059, artinya faktor demografis dan dukungan masyarakat pada kegiatan city branding memiliki korelasi sangat rendah. Nilai koefisiensi korelasi keduanya menujukkan angka positif (+), maka dapat disimpulkan bahwa keduanya memiliki hubungan yang searah atau linier, artinya semakin tinggi terpaan publisitas dan faktor demografis maka semakin tinggi pula dukungan masyarakat pada kegiatan city branding kota Jepara. Pada penelitian ini hasil uji korelasi menunjukkan korelasi rendah, berarti bahwa publikasinya rendah sehingga dukungan masyarakat pada kegiatan city branding juga rendah.
KAJIAN SERTIFIKASI PADA PROFESI JURNALIS B.K., Dheayu Jihan; Lestari, Sri Budi; Suprihartini, Taufik; Lukmantoro, Triyono
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.098 KB)

Abstract

ABSTRAKSIPelanggaran yang dilakukan oleh insan jurnalis Indonesia masih saja banyak dilakukan, hal ini dapat dilihat dari tingginya angka pelaporan kasus yang berkaitan dengan pers dari tahun ke tahun di Dewan Pers. Angka ini meski cenderung menurun sedikit demi sedikit, namun tetap mengkhawatirkan. Sikap tunduk terhadap Kode Etik Jurnalistik (KEJ) yang kurang, dianggap menjadi salah satu faktor pers Indonesia yang masih belum sehat. Bermimpi mengembangkan pers di Indonesia, Dewan Pers mengupayakan sertifikasi bagi jurnalis melalui Uji Kompetensi Wartawan untuk menguji kecakapan jurnalistik, pengetahuan umum, hingga etika profesi.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman jurnalis terhadap etika dan Kode Etik Jurnalistik. Selain itu juga untuk mengetahui urgensi sertifikasi di mata para jurnalis. Teori-teori yang digunakan yakni teori-teori etika dan Kode Etik Jurnalistik. Subyek penelitian ialah jurnalis lintas media baik dari media elektronik Kompas TV Jateng dan Sindo Trijaya Fm, media cetak Suara Merdeka, hingga media siber detik.com. Selain itu juga perwakilan dari organisasi kewartawanan AJI Semarang dan PWI Jawa Tengah, serta dari Dewan Pers.Hasilnya sebagian jurnalis memahami etika dalam Kode Etik Jurnalistik tidak secara utuh, mereka hanya mengambil benang merahnya seperti independen dan menghargai narasumber. Sementara pemahaman soal urgensi sertifikasi sendiri bagi para jurnalis dianggap kurang bermanfaat karena tidak menghasilkan dampak yang positif seperti kesejahteraan atau jaminan ketaatan pada etika. Bahkan di beberapa situasi justru dianggap membahayakan bila status tersertifikasi disalahgunakan oleh jurnalis-jurnalis yang tidak bertanggungjawab.
MEMAHAMI PENGALAMAN KOMUNIKASI KELUARGA DALAM MEMBERIKAN DUKUNGAN TERHADAP ANGGOTA KELUARGANYA YANG DIDAKWA MELAKUKAN PELANGGARAN HUKUM Mahardika, Anisa Citra; Lestari, Sri Budi; Naryoso, Agus; Rakhmad, Wiwied Noor
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.623 KB)

Abstract

Menjadi orang yang didakwa melakukan pelanggaran hukum yang sedang menjalani proses peradilan merupakan sebuah beban yang berat bagi pelakunya. Rasa bersalah, rasa takut, sanksi sosial masyarakat dan sanksi hukum memicu tekanan yang berat bagi orang yang didakwa melakukan pelanggaran hukum. Intensitas komunikasi yang terbatas, mengharuskan keluarga meningkatkan kualitas komunikasinya. Dengan adanya komunikasi suportif dari keluarga serta pengungkapan diri orang yang didakwa melakukan pelanggaran hukum, mampu memberikan keyakinan pada orang yang didakwa melakukan pelanggaran hukum selama menjalani proses peradilan.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan mengkaji pengalaman komunikasi keluarga dalam memberikan dukungan terhadap anggota keluarganya yang didakwa melakukan pelanggaran hukum. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi.Analisis dan representasi data dilakukan dengan mengelompokan data dalam unit-unit makna dan membangun deskripsi tekstural dan struktural.Konsep komunikasi keluarga dan pengembangan hubungan interpersonal melalui sikap percaya, sikap suportif, dan sikap terbuka menjadi konsep bentuk pemberian dukungan oleh keluarga dan juga konsep self disclosureyang menjadi teori dasar terbentuknya komunikasi yang efektif dalam keluarga. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah wawancara mendalam kepada keluarga dan anggota keluarganya yang sedang menjalani proses peradilan.Hasil penelitian menunjukan pengembangan hubungan interpersonal dalam keluarga yang ditunjukkan dengan sikap percaya, sikap suportif, dan sikap terbuka mampu memberikan dampak positif bagi anggota keluarga yang didakwa melakukan pelanggaran hukum. Menerima kondisi yang menimpa keluarga, memberikan dukungan dalam bentuk verbal maupun non verbal, serta adanya keterbukaan informasi antar anggota keluarga menjadi salah satu bentuk dukungan yang diberikan keluarga. Komunikasi suportif tersebut mempengaruhi kesehatan fisik dan mental anggota keluarga yang didakwa melakukan pelanggaran hukum. Kata kunci : komunikasi keluarga, dukungan, proses peradilan
Memahami Penerimaan Pembaca Fashion Blog Hijabers (Pengguna Hijab Modern) Terhadap Pergeseran Makna Penggunaan Hijab (Analisis Resepsi Terhadap Blog Dian Pelangi) Aini, Qury; Rahardjo, Turnomo; Lestari, Sri Budi
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.633 KB)

Abstract

Nama : Qury AiniNIM : D2C009124Judul : Memahami Penerimaan Pembaca Fashion Blog Hijabers (Pengguna Hijab Modern) Terhadap Pergeseran Makna Penggunaan Hijab(Analisis Resepsi Terhadap Blog Dian Pelangi)ABSTRAKPerkembangan tren fashion busana muslim yang semakin melesat di Indonesia menjadi pusat perhatian masyarakat hingga ke mancanegara. Hal itulah yang akhirnya membuat banyak wanita muslimah berani menggunakan hijab dan banyak bermunculan komunitas hijabers (pengguna hijab modern), dengan menampilkan konstruksi wanita berhijab yang dulunya tradisional menjadi modern. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pergeseran makna penggunaan hijab yang dikonstruksikan melalui fashion blog Dian Pelangi, dan memahami penerimaan pembaca fashion blog Dian Pelangi terhadap pergeseran makna penggunaan hijab. Teori yang digunakan Fashion as Communication (Malcolm Barnard, 2002) serta Masyarakat Pascamodern dan Budaya Konsumsi (Jean Baudrillard dalam Yasraf Amir, 1998). Tipe penelitian ini analisis resepsi Stuart Hall. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan indepth interview kepada enam informan yang telah dipilih oleh peneliti, yakni pembaca blog wanita yang aktif atau pernah aktif membaca blog Dian Pelangi.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembaca fashion blog Dian Pelangi dapat melihat pergeseran makna penggunaan hijab yang dikonstruksikan Dian Pelangi melalui blognya tersebut. Pergeseran makna penggunaan hijab yang diuraikan yakni, busana muslim yang dikenakan menjadi sangat fashionable, atribut fashion berupa barang-barang branded yang dikenakan Dian Pelangi, serta model hijab dengan selera fashion yang high classdalam blognya menunjukkan bahwa kini wanita berhijab mencerminkan sebagai sekelompok orang dengan status sosial menengah ke atas. Banyaknya variasi model busana muslim yang membuat penampilan wanita muslimah tidak lagi membosankan juga membuat hijab diterima di semua ranah lingkungan. Pergeseran ini terjadi karena adanya perkembangan tren fashion yang selalu berputar sepanjang waktu. Kemudian penerimaan pembaca terhadap pergeseran makna penggunaan hijab sendiri dapat dilihat dari penampilan hijab yang mereka gunakan, dimana mereka harus mengikuti perkembangan zaman demi menunjang kepercayaan diri dalam pergaulan. Sehingga membuat mereka harus menggunakan hijab yang fashionable. Mereka sesekali juga mengakui jika pernah berpenampilan seperti Dian Pelangi. Penelitian ini menunjukkan bahwa pembaca menerima kegunaan hijab sebagai sebuah gaya hidup yang mencerminkan identitas dan status sosial kelas sebagai sekelompok orang sosialita sesuai dengan tren fashion yang sedang berkembang.Kata kunci : Penerimaan pembaca, hijabers, fashionableName : Qury AiniNIM : D2C009124Title : Understanding The Readers Acceptance of Hijabers (Modern Veil Users) Fashion Blogto Shift The Meaning of The Veil Use(Reception Analysis to Dian PelangiBlog)ABSTRACTThe growth of Moslem fashion trend are increasingly darted in Indonesia to be the center of attention tillforeign country. That is what ultimately makes a lot of Moslem women use the veil bravely and many communities called hijabers (modern veil users) are springing up, with construction the women features which used traditional veil became modern. The purpose of this research is to find out the shifting meanings of the veil use and understand the readers acceptance on it that are constructed on Dian Pelangi fashion blog. Theories used are Fashion as Communication (Malcolm Barnard, 2002) also Pascamodern Community and Consumption Cultural (Jean Baudrillard in Yasraf Amir, 1998). This type of research is Stuart Hall reception analysis. Data collection technique is done by using indepth interview with six informants who were selected by the researcher, they are active women readers or have actively read Dian Pelangi blog.The results of this study showed that Dian Pelangi fashion blog readers saw a shift meaning of the veil use which constructed in Dian Pelangi blog. Those are veil worn to be very fashionable, fashion attributes such as branded goods imposed DianPelangi, and the veil models with high class fashion sense in her blog shows that veil user now reflect the veil as a group of people with status middle to upper social. The great variation in Moslem fashion model who made her appearance is no longer boring, veil is also made welcome in all aspects of the environment. This shift is due to the development of the fashion trends are always spinning all the time. Then acceptance of the shifting meanings readers use their own veil can be seen from the appearance of veil that they use, where they must keep abreast of the times in order to support confidence in the association. Thus making them have to use a fashionable veil. Occasionally they also recognize if it ever look like Dian Pelangi. This study shows that the readers accept use of the veil as a lifestyle of the socialite class social status and identity in accordance with emerging fashion trends.Keywords : Readers acceptance, hijabers, fashionable.Memahami Penerimaan Pembaca Fashion Blog Hijabers (Pengguna Hijab Modern) Terhadap Pergeseran Makna Penggunaan Hijab(Analisis Resepsi Terhadap Blog Dian Pelangi)SkripsiPENDAHULUANBerbusana merupakan hal yang tidak akan pernah lepas dari perhatian setiap individu, karena hal ini bisa menjadi penilaian tersendiri dari orang lain terhadap karakter masing-masing individu tersebut. Biasanya orang akan memilih busana yang sedang populer pada jangka waktu tertentu, hal tersebut biasanya kita kenal dengan istilah fashion. Fashion membuat setiap individu dapat mengekspresikan apa yang sedang dirasakan melalui pilihan warna yang digunakan, corak ataupun model yang digunakan, karena fashion dipandang memiliki suatu fungsi komunikatif. Busana, pakaian, kostum, dan dandanan adalah bentuk komunikasi artifaktual (artifactual communication) yaitu komunikasi yang berlangsung melalui pakaian dan penataan berbagai artefak, misalnya pakaian, dandanan, barang perhiasan, kancing baju, atau furnitur di rumah anda serta penataannya, ataupun dekorasi ruang. Karena fashion, pakaian atau busana menyampaikan pesan-pesan non verbal, ia termasuk komunikasi non verbal (Idi Subandy, 2007 : vii).Berbicara tentang fashion, akhir-akhir ini sedang maraknya fashion di kalangan muslimah. Busana muslim yang dulunya dianggap sebagai busana yang islami, menggambarkan kesan tradisional, monoton, ketinggalan zaman, kuno, dan sebagainya, berbeda cerita dengan sekarang yang sudah menjadi tren di masyarakat. Hal tersebut nampaknya semakin dikonstruksikan melalui munculnya hijabers community yaitu komunitas yang terdiri dari sekelompok remaja maupun dewasa yang memakai hijab dengan gaya terkini. Komunitas tersebut awalnyatercetus dari seorang designer muda cantik yaitu Dian Pelangi yang merancang busana-busana trendy khususnya busana muslim dengan tujuan menginspirasi wanita muslimah untuk mengenakan busana muslim. Sejak kemunculan dirinya lah, eksistensi muslimah semakin meningkat. Sesuai dengan nama belakangnya “Pelangi” pilihan warna yang digunakan pada rancangan busananya memang menunjukkan image yang unik, colourful, ceria, energik, muda, dan stylish (baca:pandai memadupadankan gaya). Konsep yang dipakainya adalah tie dye, dan mix and match berbagai warna yang kontras layaknya warna pelangi.Melalui blognya yang diberi nama The Merchant Daughter dalam www.dianrainbow.blogspot.com, Dian Pelangi mengekspresikan segala sesuatu tentang gaya fashion-nya dengan konsistensi konsep dirinya yaitu rainbow. Gaya fashion yang ia terapkan tersebut mampu menarik perhatian masyarakat Indonesia serta mampu menginspirasi banyak orang dalam hal fashion, terutama bagi wanita muslimah. Hal itu terbukti dari beberapa wanita muslimah yang awalnya tidak menggunakan hijab menjadi menggunakan hijab setelah diterpa komunikasi Dian Pelangi melalui blognya. Selain foto-foto dirinya, Dian Pelangi juga meng-upload tutorial penggunaan hijab khas dirinya melalui Youtube yang di-link-an ke blognya itu dan beberapa media sosial lain miliknya seperti Twitter, Facebook, Instagram, dan lain-lain sehingga masyarakat dapat dengan mudah mempelajari bagaimana jika menjadi seperti seorang Dian Pelangi.Hadirnya Dian Pelangi di tengah dunia fashion seolah-olah melawan persepsi masyarakat tentang muslimah berjilbab yang selama ini dilihat sebagai sosok yang kuno, tidak energik, tertutup, dan sebagainya. Namun, kehadirannyatersebut juga mengubah gaya hidup wanita muslimah Indonesia yang dulu hanya beberapa orang saja menggunakan jilbab atau busana muslim, kini semakin banyak wanita yang berani memutuskan untuk menutupi auratnya entah itu hanya sebagai popularisme budaya atau memang sudah sesuai dengan syariat Islam.Fashion juga dapat mencerminkan status sosial dari si pemakai. Dian Pelangi dengan gaya fashion-nya hadir dengan menampilkan gaya terkini yang termasuk high fashioned (baca:fashion dengan selera yang tinggi) sehingga terlihat sebagai seseorang yang eksklusif dan dinilai memiliki status sosial yang bonafit atau „mahal‟ serta dinilai sebagai individu yang tidak ketinggalan zaman dalam lingkungan pergaulannya. Seperti yang dikatakan oleh Thomas Carlyle, pakaian menjadi “pelambang jiwa” (emblems of the soul). Pakaian dapat menunjukkan siapa pemakainya. Dalam kata-kata dari Eco, “I speak through my cloth” (Aku berbicara lewat pakaianku) (Barnard, 2002 : vi).Melalui blognya, Dian Pelangi mencoba menarik perhatian wanita muslimah untuk menutup aurat atau menggunakan hijab akan tetapi nampaknya juga tidak sedikit khalayak yang memiliki penilaian negatif terhadap cara komunikasi Dian Pelangi yang dicerminkan melalui gaya fashion-nya tersebut. Oleh karena itu, melalui penelitian ini peneliti akan melihat apa yang ditampilkan dalam fashion blog Dian Pelangi dan konstruksi wanita berhijab yang ditampilkan serta mengamati atribut fashion yang dipakai. Kemudian melihat penerimaan masyarakat terhadap adanya pergeseran makna dalam penggunaan hijab oleh muslimah saat ini.ISIMunculnya banyak hijabers di Indonesia saat ini menjadikan Indonesia sebagai trendsetter busana muslimah di dunia. Ditambah lagi hadirnya designer muda Indonesia dengan koleksi-koleksi rancangan mereka yang juga sudah mulai mendunia. Melalui koleksi fashion mereka yang semakin beragam itulah membuat banyak orang tertarik untuk menggunakan hijab. salah satu ikon hijabers yang paling banyak menyita perhatian adalah Dian Pelangi. Dirinya terus mempromosikan fashion busana muslim sehingga hijab bisa go international. Melalui blognya, Dian Pelangi terus mengembangkan kreativitasnya untuk menjadikan hijab sebagai sesuatu yang modern sehingga tidak ada lagi yang memandang wanita berhijab sebelah mata.Blog dan jejaring sosial merupakan media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia dan memiliki power yang luar biasa untuk meneruskan informasi dari pengguna satu ke pengguna lainnya. Untuk perihal kegiatan seputar fashion nampaknya blog menjadi media yang tepat untuk menumpahkan segala sesuatu entah dalam bentuk tertulis atau sekedar gambar-gambar yang menampilkan hal-hal yang disukai. Melalui blog itulah audiens dapat mengetahui semua item fashion yang biasa dikenakan para fashion blogger karena di setiap mereka mengunduh gambar, akan disertai dengan deskripsi dari masing-masing item fashion-nya dan semua item tersebut merupakan item yang bermerek sehingga mereka menjadi sorotan masyarakat terutama Dian Pelangi yang juga merupakan designer dari busana-busana muslimah yang ia kenakan sendiri.Dengan adanya konstruksi wanita muslimah yang digambarkan melalui blog Dian Pelangi memunculkan adanya pergeseran makna penggunaan hijab. Pergeseran makna tersebut bisa dilihat dari banyaknya masyarakat yang tertarik menggunakan hijab karena gaya fashion hijab yang beragam dan fashionable. Selain itu, hijab saat ini merupakan pakaian yang fleksibel karena model hijab yang beragam dan diterimanya hijab sebagai sebuah gaya hidup yang mengikuti tren perkembangan fashion. Gaya hidup merupaka refleksi identitas seseorang, dimana identitas tersebut untuk melihat separti apa orang tersebut serta bagaimana orang tersebut. Oleh karena itu, gaya hidup sering dihubungkan dengan kelas sosial ekonomi dan menunjukkan citra seseorang. Gaya hidup orang ditunjukkan dalam variasi keputusan cita rasanya: mobil yang dikendarainya, majalah yang dibacanya, tempat mereka tinggal, bentuk rumahnya, makanan yang disantapnya dan restoran yang sering dikunjunginya, tempat hiburannya, merek-merek baju, jam tangan, sepatu, dan lain-lain yang sering dipilihnya, dan sebagainya.Dian Pelangi melalui blognya, menggambarkan sebagai sosok individu dengan gaya hidup yang konsumtif terhadap fashion. Apa yang ia kenakan untuk mendukung penampilannya menciptakan makna tersendiri bagi pembacanya. Terdapat dua pokok penting yang ditekankan dalam gaya yang ditampilkan individu yaitu sebagai simbol perlawanan terhadap apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan sebagai cara agar diterima di kelompoknya. Individu berusaha mengidentifikasi diri mereka dan berkumpul bersama orang-orang yang memiliki kesamaan, sehingga identitasnya menjadi bagian dari identitas kelompok (Steele, 2005: 39). Dalam hal ini, Dian Pelangi menciptakan komunitas penggunahijab modern (hijabers) di Indonesia yang sampai saat ini terus berkembang hampir di seluruh wilayah Indonesia. Hal tersebut menunjukkan bahwa penggunaan hijab modern sudah diterima di masyarakat. Itulah yang membuat beberapa informan memilih untuk juga bergabung dengan komunitas hijabers, dimana komunitas tersebut berisi sekelompok muslimah pengguna hijab modern yang memiliki identitas sebagai kelompok pengguna hijab sosialita karena atribut fashion yang digunakan branded dan eksklusif. Bukan hanya pakaian atau hijab yang menunjukkan identitas mereka sebagai muslimah sosialita, melainkan juga aksesoris yang digunakan, gadget, ataupun kebiasaan mereka seperti mengadakan perkumpulan di mall, dan sebagainya.Dalam penelitian analisis resepsi penerimaan pembaca fashion blog hijabers terhadap pergeseran makna penggunaan hijab dalam blog Dian Pelangi ini, teori yang tepat digunakan adalah analisis resepsi Stuart Hall. Dimana analisis resepsi menyampaikan bahwa teks dan penerimanya adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan, khalayak memaknai dan menginterpretasi sebuah teks berdasarkan latar belakang sosial dan budaya serta pengalaman mereka masing-masing. Analisis resepsi memfokuskan pada perhatian individu dalam proses komunikasi massa (decoding), yaitu pada proses pemaknaan dan pemahaman yang mendalam atas teks media, dan bagaimana individu menginterpretasikan isi media. Hal tersebut bisa diartikan bahwa individu secara aktif menginterpretasikan teks media dengan cara memberikan makna atas pemahaman pengalamannya sesuai apa yang dilihatnya dalam kehidupan sehari-hari.Hall menjelaskan model encoding/decoding sebagai pendekatan yang melihat pembaca sebagai korban, dan pembaca sebagai pemilik hak. Ia mengungkapkan bahwa teks media memiliki arti yang spesifik yang dikodekan ulang namun penerimaan pembaca ditentukan dari bagaimana mereka membaca teks media tersebut. Pesan yang telah dikirimkan akan menimbulkan berbagai macam efek kepada audiens. Sebuah pesan dapat membuat pembaca merasa terpengaruh, terhibur, terbujuk, dengan konsekuensi persepsi, kognitif, emosi, ideologi, dan perilaku yang sangat kompleks. Hall mengidentifikasi tiga kategorisasi audiens yang telah mengalami proses encode/decode sebuah pesan, yaitu dominant reading, negotiated reading, dan oppositional reading (Hall dalam Baran, 2003: 15-16).Khalayak yang menjadi informan dalam penelitian ini merupakan khalayak yang aktif atau pernah aktif membaca fashion blog Dian Pelangi. Keenam informan memiliki tingkat pendidikan, lingkungan sosial, serta pengalaman yang berbeda. Dalam wawancara, informan menyampaikan interpretasi mereka masing-masing terkait dengan pemaknaan terhadap blog Dian Pelangi serta penerimaan terhadap adanya pergeseran makna penggunaan hijab yang dikonstruksikan melalui blog Dian Pelangi. Khlayak yang dalam hal ini penghasil makna, memaknai blog Dian Pelangi secara beragam karena teks yang berbeda dapat menghasilkan pemaknaan yang berbeda pula.Dari hasil penelitian dan wawancara dapat disimpulkan sebagai berikut :1. Berdasarkan pemaknaan keenam informan, pergeseran makna penggunaan hijab yang dikonstruksikan dalam fashion blog Dian Pelangi dapat dilihatpada setiap penampilan Dian Pelangi yang menjadikan hijab sebagai sebuah gaya hidup. Selain itu, atribut fashion berupa barang-barang branded yang dikenakan Dian Pelangi, serta model hijab dengan selera fashion yang high class dalam blognya menunjukkan bahwa kini wanita berhijab mencerminkan identitas dan status sosial sebagai sekelompok orang sosialita. Banyaknya variasi model hijab yang fashionable membuat penampilan wanita muslimah tidak lagi membosankan juga membuat hijab diterima di semua ranah lingkungan. Pergeseran ini terjadi karena adanya perkembangan tren fashion yang selalu berputar sepanjang waktu. Hal itulah yang membuat hijab tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang tradisional dan konvensional. Sehingga membuat semakin banyak orang menggunakan hijab.2. Hasil penelitian ini menunjukkan lima informan berada pada posisi dominan. Mereka menerima adanya pergeseran makna penggunaan hijab, yang dapat dilihat dari penampilan hijab yang mereka gunakan, dimana mereka harus mengikuti perkembangan zaman untuk menunjang kepercayaan diri dalam pergaulan. Sehingga membuat mereka harus menggunakan hijab yang sesuai tren fashion. Mereka sesekali juga mengakui jika pernah berpenampilan seperti Dian Pelangi, dan mendukung jika ada yang berpenampilan seperti yang dikonstruksikan Dian Pelangi.3. Sementara satu informan berada pada posisi oposisi. Dirinya tidak melihat adanya pergeseran makna penggunaan hijab, karena benar atau tidaknya penggunaan hijab tergantung pada tujuan awal masing-masing individu untuk menggunakan hijab tersebut, bukan berdasarkan pengaruh dari luar dirimereka seperti perkembangan fashion busana muslim atau munculnya Dian Pelangi yang mengkonstruksikan perubahan penggunaan hijab.PENUTUPBerbagai penelitian tentang makna penggunaan hijab, mayoritas menunjukkan bahwa hijab mengalami pergeseran. Dimana seseorang yang menggunakan hijab bukan lagi berpegang kepada nilai guna (use value) dari hijab tersebut, melainkan lebih kepada simbol/nilai tanda (sign value). Simbol tersebut yakni simbol gaya hidup yang menggambarkan identitas orang yang menggunakan hijab sebagai sekelompok orang yang mengikuti perkembangan tren fashion. Tren fashion hijab sendiri, saat ini tidak perlu diragukan. Beragam model hijab yang unik, kreatif, dan modern membuat banyak orang tidak takut lagi menggunakan hijab serta membuat orang yang sudah menggunakan hijab tidak takut lagi dikucilkan dalam pergaulan ataupun lingkungan sosialnya.Pergeseran makna penggunaan hijab sendiri tidak hanya dikarenakan pengaruh kemunculan media sosial khususnya blog hijabers yang mengkonstruksikan perubahan image wanita muslimah menjadi sekelompok orang dengan gaya hidup sosialita. Namun, makna penggunaan hijab juga bisa bergeser karena tuntutan mengikuti perkembangan tren fashion yang terus berputar setiap waktu.DAFTAR PUSTAKAA.Bell, M.Joyce and Rivers. (1999). Advanced Media Studies. Hodder & Stoughton.Allen, Pamela. (2004). Membaca, dan Membaca Lagi : [Re]interpretasi Fiksi Indonesia 1980-1995. Magelang : Indonesia Tera.Baran, Stanley J. (2003). Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Salemba Humanika. Barnard, Malcolm. (2002). Fashion as Communication (Second Edition). New York : Routledge Taylor & Francis Group. Barnard, Malcolm. (2006). Fashion Sebagai Komunikasi : Cara Mengkomunikasikan Identitas Sosial, Seksual, Kelas, Dan Gender. Yogyakarta : Jalasutra. Berger, Arthur Asa. (2010). The Objects of Affection: Semiotics and Consumer Culture. USA: Palgrave MacMillan. Blood, Rebecca. (2002). The Weblog Handbook, Basic Books, A Member Of The Perseus Books Group. Croteau, David and William, Hoynes. (2003). Media Society : Industry, Images, and Audience (3rd Ed.). California : Pine Forge Press. Danesi, Marcel. (2009). Pesan, Tanda, dan Makna. Yogyakarta : Jalasutera. Downing, John, Ali Mohammadi, and Annable Sreberny-Mohammadi. (1990). Questioning The Media : A Critical Introduction. California : SAGE Publication. Vina, Hamidah. (2008). Jilbab Gaul (Berjilbab Tapi Telanjang). Jakarta: Al-Ihsan Media Utama. Hoed, Benny H. (2011). Semiotik & Dinamika Sosial Budaya. Jakarta: Komunitas Bambu. Idi Subandy, Ibrahim. (2007). Budaya Populer Sebagai Komunikasi (Dinamika Popscape Dan Mediascape Di Indonesia Kontemporer). Yogyakarta : Jalasutra. Kawamura, Yuniya. (2005). Fashion-ology. An Introduction to Fashion Studies. New York: Berg Oxford. Littlejohn, Stephen W [ed]. (1999). Theories Of Human Communication. London : Wadsworth Publishing Company.Littlejohn, Stephen W., and Karen, A. Foss. (2009). Teori Komunikasi: Theories of Human Communication, Ninth Edition. Jakarta: Salemba Humanika. Littlejohn, Stephen W., and Karen, A. Foss [eds]. (2009). Ensyclopedia Of Communication Theory. California : SAGE Publications, Inc. Lurie, Alison. (1992). The Language Of Clothes. London : Cornell. Leah A. Lievrouw. (2006). The Handbook of New Media Updated Student Edition. London : SAGE Publications, Inc. Manovich, Lev. (2002). „What Is New Media?’ In The language Of New Media. Dalam Hassan, Robert Dan Julian Thomas [eds]. 2006. The New Media Theory Reader. England : Open University Press. McQuail, Denis. (2000). Media Performance; Mass Communication and The Public Interest. London: SAGE Publications. McQuail, Denis. (2011). Teori Komunikasi Massa (Ed.6). Jakarta: Salemba Humanika.Moleong, Lexi J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Morreale, Sherwyn, Barge, Wood, Spitzberg & Tracy. (2004). Introduction To Human Communication The Hugh Downs Of Human Communication. USA: Wardsworth. Yasraf Amir, Piliang. (1998). Sebuah Dunia Yang Dilipat: Realitas Kebudayaan Menjelang Millenium Ketiga Dan Matinya Posmodernisme. Bandung : Penerbit Mizan. Jalaludin, Rakhmat. (2007). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Rosdakarya. Ritzer, George. (2009). Teori Sosial Postmodern. Yogyakarta: Kreasi Wacana. Sassatelli, Roberta. (2007). Consumer Culture: History, Theory, and Politics. London : SAGE Publications. M.Quraish, Shihab. (2004). Jilbab Pakaian Wanita Muslimah. Jakarta: Lentera Hati. Steele, Valeriee. (2005). Encyclopedia of Clothing and Fashion Vol.1&2. USA: Thompson Gale. Strinati, Dominic. (2007). Popular Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer. Yogyakarta : Penerbit Jejak.JurnalRatna Dewi, Ayuningtyas. (2011). Menginterpretasikan Fashion Pria Metroseksual Dalam Fashion Blog. Skripsi. Universitas Diponegoro.Dwita, Fajardianie. (2012). Komodifikasi Penggunaan Jilbab Sebagai Gaya Hidup Dalam Majalah Muslimah (Analisis Semiotika Pada Rubrik Mode Majalah Noor). Skripsi. Universitas Indonesia.Hapsari, Sulistyani. (2006). Modul Pelatihan Metode Penelitian Kualitatif. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro.Hari, Sapto. (2009). Memahami Makna Jilbab Dalam Mengkomunikasikan Identitas Muslimah. Skripsi. Universitas Diponegoro.InternetStefanone, M.A., and Jang, C.Y. (2007). Writing For Friends And Family : The Interpersonal Nature Of Blogs. Journal Of Computer-Mediated Communication, 13 (1), article 7. Dalam http://jcmc.indiana.edu/vol13/issue1/stefanone.html. Diunduh pada tanggal 18 Maret 2013 pukul 10.00 WIBPengertian Fashion Menurut Poppy Dharsono. Dalam www.fashionupdatemodeon.blogspot.com/fashion/03.html. Diakses pada tanggal 3 Maret 2012 pukul 18.30 WIBIslam Akan Menjadi Agama Terbesar. (2012). Dalam http://www.dokumenpemudatqn.com/2012/11/islam-akan-menjadi-agama-terbesar-di.html#ixzz2Nxf08BSQ. Diunduh pada tanggal 19 Maret 2013 pukul 14.00 WIBProfil Dian Pelangihttp://tabloidnova.com/DianPelangiAnakBawangYangMenembusDunia.html. Diakses pada 25 Juni 2013 pukul 09.20 WIBMencari Sebuah Identitas Dalam Budaya Pop. Dalam http://parekita.wordpress.com/2013/12/04/55.html. Diakses pada tanggal 19 Agustus 2013 pukul 11.40 WIBKami Bukan Sosialita Berjilbab. Dalam www.hijaberscommunity.blogspot.com/gayahidup/hobi.html. Diakses padatanggal 3 Juli 2013 pukul 18.54 WIBwww.theoppositeofpink.blogspot.com. Diakses Kamis, 4 Juli 2013 pukul 13.30 WIBwww.ayuchairunisa.blogspot.com. Diakses Kamis, 4 Juli 2013 pukul 13.30 WIBwww.dallamudrikah.blogspot.com. Diakses Kamis, 4 Juli 2013 pukul 13.30 WIBhttp://twitter.com/FatinSL. Diakses Senin, 8 Juli 2013 pukul 06.30 WIBwww.amischaheera.blogspot.com. Diakses Senin, 8 Juli 2013 pukul 08.00 WIBwww.fashionesedaily.blogspot.com. Diakses Senin, 8 Juli 2013 pukul 08.51 WIB) Data pengunjung blog Dian Pelangi. Dalam www.dianrainbow.blogspot.com. Diakses pada tanggal 8 Juli 2012 pukul 08.30 WIBFoto-foto Dian Pelangi. Dalam www.dianrainbow.blogspot.com.
KEKERASAN SIMBOLIK TERHADAP PEREMPUAN DALAM TAYANGAN KOMEDI OPERA VAN JAVA Putri, Alfdian Wizqi; Sunarto, Dr.; Lestari, Sri Budi
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

KEKERASAN SIMBOLIK TERHADAP PEREMPUAN DALAM TAYANGAN KOMEDI OPERA VAN JAVAAlfdian Wizqi PutriABSTRACTMass media especially television is one of the medium that used to convey the message. The successful comedy show that being broadcast on Trans7, Opera van Java, give us the potrayal of symbolic violence towards women. How the manifestation of symbolic violence in comedy show will strengthen the dominant ideology that exist in the society.The purpose of this study is to see the manifestation of symbolic violence towards women in comedy show and the background ideology of the symbolic violence. Theories that used in this study are standpoint theory and sosialist feminist theory. Researcher tried to find the meanings that shown in this comedy show through semiotics analysis by Roland Barthes, include the lexias and five major codes.The results of this study indicate that symbolic violence towards women was manifested to stereotypes, domestication and sexual objectification towards women. Women stereotypes that represent through this show are in the domestic space, role as the wife and mother, responsible on houseworking, take care of the husband and children, weak, passive, dependent, don’t have ability to take decisions, as sexual object/symbol and as the object of sexual abuse. Domestication towards women separates women from public space, make the house as the proper place for women. Sexual objetification reducts women ability to be passive and gender object (passion, exploitation, abuse). Symbolic violence towards women was based on patriarchy and capitalism ideology. Therefore, we need to destruct both patriarchy and capitalism to release women from the oppression.Key words: television, comedy, women, symbolic violencePENDAHULUANSemakin banyaknya program yang disajikan oleh stasiun-stasiun televisi swasta diharapkan dapat menambah pilihan tontonan yang bermanfaat bagi para pemirsanya. Akan tetapi, televisi sekarang ini lebih banyak menyajikan konten hiburan, salah satunya yaitu tayangan komedi. Hal yang disayangkan adalah bahwa komedi televisi banyak sekali mengandung konten kekerasan simbolik terhadap perempuan.Kekerasan simbolik merupakan kekerasan yang bekerja pada sekelompok individu tidak secara fisik, melainkan secara simbolik. Dapat berupa pengingkaran diri, diperlakukan inferior atau dibatasi aspirasinya. Pada relasi gender, kekerasan simbolik cenderung terjadi dalam bentuk penyangkalan hak perempuan dan pemberian keuntungan atau keistimewaan bagi laki-laki (Bourdieu, 2002: xvi).Opera van Java merupakan salah satu tayangan komedi yang menyajikan kekerasan simbolik terhadap perempuan. Perempuan digambarkan secara subordinat dan inferior melalui penokohan, alur cerita, serta adegan-adegan yang ditayangkan. Perempuan yang sering menghiasi tayangan komedi OVJ memang seringkali dijadikan objek untuk membuat guyonan-guyonan yang mampu mengundang tawa pemirsanya. Berhubungan dengan hal tersebut, penelitian ini berusaha untuk mengkaji beberapa permasalahan, yaitu mengapa perempuan seringkali menjadi objek kekerasan simbolik dalam komedi? Bagaimana bentuk-bentuk kekerasan simbolik yang terjadi? Serta apakah ideologi dominan yang melandasi kekerasan yang terjadi?Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana bentuk kekerasan simbolik terhadap perempuan dalam tayangan komedi Opera van Java dan membongkar ideologi gender dominan yang melatarbelakanginya.METODA PENELITIANTipe penelitian ini adalah deskriptif dengan metode kualitatif. Analisis dilakukan dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes. Subyek penelitian adalah salah satu episode tayangan komedi Opera van Java berjudul “Banyak Anak Banyak Rezeki???” yang ditayangkan di Trans7.HASIL PENELITIANMelalui analisis sintagmatik yang meliputi aspek (1) kerja kamera, (2) setting dan kostum, (3) dialog, serta (4) karakter, maka dipilih 20 adegan penting yang dapat memberikan makna mengenai kekerasan simbolik terhadap perempuan dalam tayangan komedi Opera van Java, yaitu adegan nomor 2, 4, 5, 7, 8, 9, 11, 12, 14, 16, 18, 19, 20, 21, 25, 28, 29, 30, 39 dan 50. Selanjutnya, peneliti melakukan analisis paradigmatik dengan menggunakan lima kode pembacaan Roland Barthes yang meliputi kode hermeneutika, kode proarietik, kode simbolik, kode kultural dan kode semik untuk melakukan pemaknaan lebih mendalam di balik penyajian adegan-adegan tersebut.Hasil dari analisis kode hermeneutika dalam tayangan ini menggambarkan perempuan, sebagai istri dan ibu, adalah individu yang tempatnya di rumah, jauh dari sektor produksi. Masalah-masalah yang dihadapi perempuan adalah masalahrumah tangga, seperti mengurus anak, melayani suami dan masalah ekonomi yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Kemudian, perempuan digambarkan sebagai sosok yang bergantung dan tidak dapat menyelesaikan masalah.Hasil dari analisis proarietik menunjukkan bahwa kekerasan simbolik terhadap perempuan yang terjadi melalui domestikasi dan objektifikasi seksualitas perempuan. Selain itu, perempuan juga dimunculkan dengan stereotip tertentu, seperti berada di rumah, berperan sebagai istri dan ibu, mengurus rumah tangga, melayani suami dan mengasuh anak, lemah, pasif, patuh, bergantung pada laki-laki (suami), tidak mampu membuat keputusan sendiri, sebagai obyek seksual/simbol seks dan obyek pelecehan.Kekerasan simbolik terhadap perempuan berdampak pada kondisi psikis, ekonomi serta sosial perempuan. Dari segi psikologis, efek yang ditimbulkan adalah ketidaknyamanan bahkan kemarahan. Dari segi ekonomi, perempuan bergantung kepada laki-laki secara finansial. Kemudian dari segi sosial, posisi perempuan selalu inferior terhadap laki-laki. Kekerasan simbolik terhadap perempuan berdampak pada semakin langgengnya dominasi laki-laki dalam masyarakat.Hasil dari analisis kode simbolik menunjukkan bahwa simbol-simbol yang ditampilkan merujuk kepada suatu simbol dominan yaitu simbol dominasi laki-laki. Tayangan ini menampilkan laki-laki sebagai sosok yang dominan, baik darisegi ekonomi, posisinya sebagai kepala keluarga yang harus dihormati dan dilayani, maupun tindakan-tindakan kekerasan yang menunjukkan dominasi.Hasil dari analisis kode kultural merujuk pada satu budaya patriarki. Perempuan, baik dalam status sosial tinggi maupun rendah, sama-sama terdominasi oleh kuasa laki-laki. Dominasi laki-laki ini diperlihatkan melalui kepatuhan, pelayanan, serta kebergantungn seorang istri terhadap suami. Selain itu, dominasi laki-laki juga ditunjukkan dalam bentuk kekerasan seksual terhadap perempuan.Hasil dari analisis kode semik adalah kekerasan simbolik terhadap perempuan terjadi secara alami dan tanpa disadari. Kekerasan simbolik terjadi melalui mitos-mitos yang ada dalam masyarakat yang menentukan peran yang berbeda bagi laki-laki dan perempuan. Kekerasan simbolik yang terjadi terhadap perempuan merupakan bentuk dari dominasi ideologi kapitalisme dan patriarki.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekerasan simbolik terhadap perempuan dalam tayangan komedi Opera van Java terjadi dalam bentuk stereotype, domestikasi dan objektifikasi perempuan. Selain itu, peneliti juga menemukan bahwa kekerasan simbolik yang terjadi dilatarbelakangi oleh ideologi patriarki dan kapitalisme.PEMBAHASANPenelitian ini mengindikasikan adanya kekerasan simbolik terhadap perempuan dalam berbagai bentuk. Menurut penjelasan Bourdieu (2002: xvi),kekerasan simbolik merupakan kekerasan yang bekerja pada sekelompok individu tidak secara fisik, melainkan secara simbolik. Dapat berupa pengingkaran diri, diperlakukan inferior atau dibatasi aspirasinya. Pada relasi gender, kekerasan simbolik cenderung terjadi dalam bentuk penyangkalan hak perempuan dan pemberian keuntungan atau keistimewaan bagi laki-laki.Kekerasan simbolik terhadap perempuan dalam tayangan ini dapat ditemukan dalam bentuk stereotiping, domestikasi dan objektifikasi. Perempuan dalam tayangan ini digambarkan melalui sifat-sifat tertentu yang menegaskan stereotype gender perempuan dalam masyarakat, demikian halnya dengan laki-laki. Sosok perempuan ditampilkan berada di rumah, berperan sebagai istri dan ibu, mengurus rumah tangga, melayani suami dan mengasuh anak, lemah, pasif, patuh, bergantung pada laki-laki (suami), tidak mampu membuat keputusan sendiri, sebagai obyek seksual/simbol seks dan obyek pelecehan. Sedangkan laki-laki ditampilkan bekerja, sebagai pemimpin, dominan, kompetitif, mandiri, dilayani, dipatuhi dan sebagai tempat bergantung (istri dan anak-anak).Penggambaran tersebut mengarahkan pada adanya pembagian sifat-sifat maskulin dan feminin. Menurut Bem (dalam Sunarto, 2009: 155-156), stereotype yang dilekatkan kepada kaum perempuan adalah karakter afeksi, gembira, menyukai anak, penuh kasih sayang, tidak berbahasa kasar, mempunyai hasrat besar untuk menyejukkan perasaan yang terluka, feminin, dapat memuji, lemah lembut, mudah tertipu, cinta anak-anak, setia, sensitif terhadap kebutuhan orang lain, malu, bicara halus, simpatik, sabar, pengertian, hangat dan mengalah. Sedangkan kaum laki-laki adalah sebagai pemimpin, agresif, ambisius, atletik,asertif, atletik, kompetitif, mempertahankan keyakinan, dominan, kuat, mempunyai kemampuan kepemimpinan, bebas, individualistik, mudah membuat keputusan, maskulin, percaya diri, mandiri, kepribadian kuat, kemauan bertanggung jawab dan kemauan mengambil resiko.Meskipun demikian, ada juga sifat-sifat maskulin yang melekat pada tokoh perempuan, misalya ekspresi emosi dengan bentuk kemarahan dan kata-kata kasar. Namun, ekspresi ini merupakan efek dari ketidakpuasan perempuan. Selain itu, sikap kasar dan tidak patuh seorang istri terhadap suami dianggap sebagai sesuatu yang tidak seharusnya. Karakter ini dianggap sebagai penyimpangan dari peran istri dan ibu “ideal” yang seharusnya. Tayangan ini menekankan peran gender yang seharusnya bagi laki-laki dan perempuan, serta memberikan penilaian baik bagi peran gender yang seharusnya dan penilaian buruk bagi peran gender yang dianggap tidak sesuai.Selanjutnya, kekerasan simbolik dalam tayangan ini juga ditampilkan dalam bentuk domestikasi perempuan. menurut penjelasan Sunarto (2009: 140), domestikasi dipahami sebagai pembiasaan, pemisahan dan depolitisasi kaum perempuan. Paham ini menempatkan ranah rumah tangga sebagai tempat yang layak dan umum bagi kaum perempuan. Melalui analisis terhadap leksia-leksia yang dipilih dapat ditemukan kecenderungan untuk menempatkan perempuan dalam ranah domestik/rumah tangga. Tokoh-tokoh perempuan diceritakan berada di rumah dan dilekatan dengan kewajiban-kewajiban rumah tangga, seperti memasak, mengasuh anak dan melayani suami. Peran perempuan dalam rumah tangga ini merupakan konstruksi sosial yang dilegitimasi oleh negara. Sepertiyang dicantumkan dalam UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, tugas istri sebagai ibu rumah tangga adalah dengan mengatur urusan rumah tangg sebaik-baiknya, sedangkan laki-laki berkewajiban mencari nafkah dan melindungi keluarga.Domestikasi menegaskan inferioritas perempuan dalam masyarakat, membatasi kaum perempuan untuk mengembangkan potensinya, mengeksploitasi tenaga kerja perempuan dan menjadikan perempuan bergantung terhadap laki-laki (suami). Penelitian ini juga menunjukkan bahwa perempuan dari kelas sosial rendah mengalami depresi melalui peran domestiknya. Melalui tokoh Bu Joko, perempuan ditunjukkan lelah dengan pekerjaan domestik yang menyibukkannya. Selain itu, peran domestik yang dibebankan kepada perempuan menjadikannya tidak memiliki akses yang memadai ke tempat kerja sehingga perempuan tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk mensejahterakan hidupnya. Hal ini menjadikan perempuan bergantung kepada suami. Seperti yang diungkapkan Jaggar (dalam Tong, 2008: 171), pekerjaan domestik yang dilakukan oleh perempuan merupakan bentuk eksploitasi laki-laki terhadap tenaga kerja perempuan. Karena perempuan di dalam sistem kapitalis tidak mempunyai akses yang memadai terhadap tempat kerja, untuk menjaga kelangsungan hidupnya, perempuan harus menggantungkan diri secara finansial kepada laki-laki.Kekerasan simbolik terhadap perempuan juga ditampilkan dalam bentuk objektifikasi seksualitas perempuan. Menurut Sunarto (2009: 140), objektifikasi adalah pereduksian kaum perempuan menjadi pasif dan obyek gender (hasrat, eksploitasi, siksaan) daripada menampilkan perempuan sebagai subyek manusiasepenuhnya. Perempuan digambarkan sebagai obyek kesenangan laki-laki dan obyek pelecehan seksual. Penggambaran tersebut menampilkan bahwa perempuan hanya dilihat dari seksualitasnya.Kekerasan simbolik terhadap perempuan dalam tayangan ini kemudian mempertanyakan ideologi dominan yang melatarbelangi praktik kekerasan simbolik yang terjadi. Hal yang menarik didiskusikan dalam penelitian ini yang pertama adalah mengenai penggambaran keluarga sebagai suatu bentuk unit kapitalisme patriarkal. Ideologi kapitalisme patriarkal ini ditunjukkan melalui pembagaian kerja secara seksual. Tokoh perempuan dalam tayangan ini digambarkan sebagai ibu rumah tangga yang kegiatannya berada di rumah, mengurus suami dan merawat anak. Sedangkan laki-laki dewasa digambarkan sebagai kepala keluarga yang bertugas mencari nafkah di luar rumah.Pada zaman prakapitalis, menurut Young (dalam Tong, 2008: 181), perkawinan adalah suatu “rekanan”ekonomi antara laki-laki dan perempuan. Mereka bekerja berdampingan dalam bisnis yang berpusat di rumah. Kapitalisme kemudian muncul dan menciptakan suatu batasan antara tempat kerja dan rumah, mengirimkan laki-laki ke luar menuju tempat kerja sebagai tenaga kerja primer dan memenjarakan perempuan di rumah sebagai tenaga kerja sekunder. Peran istri ini kemudian juga dilihat sebagai fungsi pelaksana reproduksi istri dalam menyediakan tenaga kerja bagi kaum kapitalis. Para istri berperan untuk menjaga stamina tenaga kerja agar siap bekerja kembali keesokan harinya melalui perawatan dan pelayanan kepada suami-suami mereka. Dalam sistem patriarkisme dan kapitalisme, semua yang dilakukan perempuan sebagai pelaksana reproduksitenaga kerja dan calon tenaga kerja merupakan suatu kondisi yang normal dan wajar (Sunarto, 2009: 37-38). Posisi perempuan dalam keluarga dan sistem pembagian kerja secara seksual yang bekerja dalam keluarga menjadikan perempuan tersubordinasi, tidak dapat mengembangkan dirinya, serta menjadikannya lemah dan bergantung kepada laki-laki.Temuan yang menarik selanjutnya adalah bekerjanya ideologi patriarkal kapitalisme ini dalam bentuk perendahan derajat perempuan melalui objektifikasi terhadap seksualitas perempuan. Sosok perempuan yang ditampilkan cantik dan menarik sehingga menjadikannya obyek untuk dinikmati secara visual, digoda, dan bahkan dilecehkan oleh para laki-laki. Hal tersebut sejalan dengan penjelasan Tong (2008: 172) bahwa dalam kapitalisme, seksualitas perempuan menjadi komoditi. Tidak heran bila banyak konten televisi yang mempertontonkan seksualitas perempuan sebagai daya tarik.Penelitian ini menunjukkan dominasi ideologi patriarki yang juga merujuk kepada sistem kapitalis yang ada dalam masyarakat. Melalui pandangan tersebut, peneliti menemukan bahwa kekerasan simbolik terhadap perempuan dalam tayangan ini dilatarbelakangi oleh ideologi patriarki dan kapitalisme yang bekerja bersamaan untuk mengopresi perempuan. Hal ini sejalan dengan pemikiran feminis sosialis yang menyatakan bahwa sumber opresi perempuan terletak pada kaitan antara kedua ideologi ini dan pembebasan kaum perempuan dari ketertindasan hanya dapat terjadi apabila kedua ideologi ini hancur.PENUTUPSimpulanKekerasan simbolik dalam tayangan Opera van Java episode “Banyak Anak Banyak Rezeki???” ditampilkan dalam bentuk stereotype, domestikasi dan objektifikasi seksualitas perempuan. Bentuk kekerasan simbolik yang pertama adalah stereotype perempuan. Tokoh perempuan dalam tayangan ini digambarkan berada di rumah, berperan sebagai istri dan ibu, mengurus rumah tangga, melayani suami dan mengasuh anak, lemah, pasif, patuh, bergantung pada laki-laki (suami), tidak mampu membuat keputusan sendiri, sebagai obyek seksual/simbol seks dan obyek pelecehan.Bentuk kekerasan simbolik yang kedua adalah domestikasi perempuan. Tokoh perempuan dalam tayangan ini digambarkan dengan tugas-tugas rumah tangga, seperti melayani suami, merawat anak dan mengurus keperluan rumah tangga. Melalui domestikasi, perempuan terpinggirkan dari ranah publik sehingga tidak dapat mengembangkan potensinya.Selanjutnya, kekerasan simbolik dimunculkan dalm bentuk obyektifikasi seksualitas perempuan. Tokoh perempuan dalam tayangan ini sering menjadi obyek kesenangan para laki-laki, baik sebagai obyek tatapan, godaan, rayuan, bahkan pelecehan secara fisik melalui pelukan atau ciuman. Penggambaran tersebut menampilkan bahwa eksistensi perempuan hanya dilihat dari segi seksualitasnya saja, yaitu untuk kesenangan laki-laki.Penggambaran perempuan dalam tayangan ini merujuk pada suatu bentuk ketimpangan gender dalam masyarakat. Perempuan digambarkan subordinat terhadap laki-laki. Kekerasan simbolik yang ditampilkan dalam tayangan ini dilihat sebagai suatu bentuk penegasan dominasi patriarki dan kapitalisme yang ada dalam masyarakat. Dengan demikian, pembebasan perempuan dari opresi hanya dapat dilakukan melalui penghancuran kedua ideologi dominan ini.RekomendasiSecara teoritis, pernelitian ini berusaha memberikan kontribusi dan gagasan ilmiah, serta memperkaya pengetahuan mengenai kekerasan simbolik terhadap perempuan unruk menunjang kemajuan disiplin ilmu komunikasi, khusunya di bidang komunkasi gender. selain itu, penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi referensi untuk dilakukannya penelitian lebih lanjut terkait masalah yang dialami perempuan sebagai kelompok marginal.Secara praktis, penelitian ini diharapkan memberi pemahaman bagi para praktisi industri media massa, khususnya televisi mengenai ketimpangan relasi kekuasaan gender yang terjadi melalui penggambaran perempuan dalam media massa. Para praktisi diharapkan lebih memperhatikan kepentingan kaum permepuan agar dapat melakukan pemberitaan atau penggambaran yang layak dan berimbang mengenai perempuan. Dengan demikian, tidak memperkuat ideologi dominan yang menekan kepentingan kaum perempuan yang minoritas.Secara sosial, penelitian ini berusaha mengungkap kekerasan simbolik yang dialami perempuan dalam masyarakat sebagai dampak dari ideologidominan patriarki. Khalayak diharapkan dapat berpikir kritis dan terus mempertanyakan problematika yang dialami oleh perempuan, seperti berbagai bentuk diskriminasi yang dialami perempuan dalam masyarakat. Terwujudnya masyarakat yang memiliki kesadaran gender diharapkan menciptakan masyarakat dengan keseimbangan gender.DAFTAR PUSTAKASumber Buku:Ardianto, Elvinaro, Lukiati Komala dan Siti Karlinah. (2007). Komunikasi Massa: Suatu Pengantar Edisi Revisi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.Arivia, Gadis. (2006). Feminisme: Sebuah Kata Hati. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.Bourdieu, Pierre. (2010). Dominasi Maskulin. Yogyakarta: Jalasutra.Budiman, Arief. (1982). Pembagian Kerja Secara Seksual. Jakarta: Penerbit PT Gramedia.Burton, Graeme. (2007). Membincangkan Televisi. Yokgayakarta dan Bandung: Jalasutra.Byerly and Ross. (2006). Women and Media: A Critical Introduction. USA: Blackwell Publishing Ltd.Edwards. Tim. (2006). Cultures of Masculinity. New York: Toutledge Taylor & Francis Group.Feldman, Sylvia D. (1974). The Rights of Women. New Jersey: Hyden Book Company, INC.Fiske, John. (2011). Cultural and Communication Studies. Yogyakarta: Jalasutra.Griffin, Em. (2012). A First Look At Communication Theory Eight Edition. New York: The McGraw-Hill Companies, Inc.K. Denzin dan Yvonna S. Lincoln. (2009). Handbook of Qualitative Research. Thousand Oaks, California: SAGE PublicationsKurniawan, Heru. (2009). Sastra Anak: dalam Kajian Strukturalisme, Sosiologi, Semiotika, hingga Penulisan Kreatif. Yogyakarta: Graha Ilmu.Littlejohn, Stephen W dan Karen A. Foss. (2009). Teori Komunikasi Edisi 9. Jakarta; Penerbit Salemba Humanika.Mangunhardjana, Margija. (1976). Mengenal Film. Yogyakarta: Yayasan Kanisius.Maryati, Kun dan Juju Suryawati. (2007). Sosiologi. Jakarta: Penerbit Erlangga.Moleong, Lexy J. (2007). Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja RosdakaryaNaratama. (2004). Menjadi Sutrada Televisi. Jakarta: Grasindo.Ollenburger, Jane C and Helen A. Moore. (1996). Sosiologi Wanita. Jakarta: PT Rineka Cipta.Pratista, Himawan. (2008). Memahami Film. Yogyakarta: Homerian Pustaka.Rianto, Puji dkk. (2012). Dominasi TV Swasta (Nasional), Tergerusnya Keberagaman Isi dan Kepemilikan. Yogyakarta: PR2Media &Yayasan Tifa.Richardson, Diane dan Victoria Robinson. (1993). Introducing Women’s Studies: Feminist Theory and Practice. London: The Macmillan Press Ltd.Richmond-Abbott, Marie. (1992). Masculine and Feminine: Gender Roles over the Life Cycle. USA: McGraw-Hill, Inc.Siahaan, N.H.T. (2004). Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan. Jakarta: Penerbit Erlangga.Subroto, Darwanto Sastro. (1994). Produksi Acara TV. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.Sumarno, Marselli. (1996). Dasar-Dasar Apresiasi Film. Jakarta: Grasindo.Sunarto. (2000). Analisis Wacana: Ideologi Jender Media Anak-Anak. Semarang: Mimbar bekerjasama dengan Yayasan Adikarya Ikapi dan Ford Foundation.Sunarto. (2009). Televisi, Kekerasan, dan Perempuan. Jakarta: Kompas.Suryochondro. Sukanti. (1984). Potret Pergerakan Wanita di Indonesia. Jakarta: CV. Rajawali bekerja sama dengan Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial (YIIS).Thornham, Sue. (2007). Women, Feminism and Media. Edinburgh: Edinburgh University Press Ltd.Tong, Rosemarie Putnam. (2008). Feminist Thought : Pengantar Paling Komprehensif kepada Arus Utama Pemikiran Feminis. Yogyakarta: Jalasutra.Waluya, Bagja. (2007). Sosiologi: Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat. Bandung: PT Setia Purna Inves.Waluyo, Herman J. (1994). Pengkajian Cerita Fiksi. Surakarta: Sebelas Maret University Press.Webb, Jenn dkk. (2002). Understanding Bourdieu. New South Wales: Allen & Unwin.West dan Turner. (2007). Introducing Communication Theory: Analysis and Application. USA: McGraw-Hill, Inc.Widagdo, M. Bayu dan Winastawan Gora S. (2007).Bikin Film Indie Itu Mudah! Yogyakarta: Penerbit Andi.Sumber Lain:Diannita, Yustin. (2009). Sensualitas Perempuan dalam Iklan Axe Effect – Call Me di Televisi. Skripsi. Universitas Diponegoro.Widyastuti, Diahrani. (2002). Komodifikasi Tubuh Perempuan dalam Tayangan Iklan Televisi (Studi kualitatif pada Iklan Minuman Kesehatan). Skripsi. Universitas Diponegoro.Noristania, Harlin Dyah. (2012). Representasi Kekerasan Verbal Terhadap Perempuan Janda (Analisis Semiotika Film Ku Tunggu Jandamu). Skripsi. Universitas Diponegoro.Astuti, Indri. (2010). Menginterpretasikan Kekerasan Dalam Tayangan Komedi (Analisis Resepsi Terhadap Tayangan Opera van Java di Trans 7). Skripsi. Universitas Diponegoro.Sumber Internet:Trans 7. (2011). Opera van Java Episode “Banyak Anak Banyak Rezeki???”. Diakses pada tanggal 8 Oktober 2012 dari http://www.youtube.com/watch?v=QeltOaSbo5E&list=FLoFVJZ2-8cVm4M2RiRixjTg&index=16Trans 7. (2011). Opera van Java “Episode Kisah Cinta Nyi Ayu Rangrang”. Diakses pada tanggal 4 November 2012 dari http://www.youtube.com/watch?v=C_PsDk11OLYTrans 7. (2011). Opera van Java Episode “Madu Tiga”. Diakses pada tanggal 4 November 2012 dari http://www.youtube.com/watch?v=IvPLRHQ9a9kRayendra, Panditio. (2011). Rating Report: OVJ Sahur dan Primetime Dominasi Rating. Diakses pada tanggal 18 Desember 2012 dalam http://www.tabloidbintang.com/film-tv-musik/ulasan/14659-rating-report-ovj-sahur-dan-primetime-dominasi-rating.html
The Management of Interpersonal Communication in A Long Distance Relationship Amongst college Students in The Context of Romantical Relationship (Studies on Diponegoro University Students who Undergo Long Distance Relationship with Their Partner). Z, Zamratul Khairani; Lestari, Sri Budi; Purbaningrum, Dwi; Naryoso, Agus
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.459 KB)

Abstract

Long-distance romance relation carried by college students occur due to factors ofeducation or the demands of the profession that requires one of those pairs toproceed to move to other cities. The communication process they undergoheavily relying on the communication media they use. But the medium ofcommunication can also be a major cause of the resistance in a long distance romanceeither due to misunderstanding or network disruption in interpersonal communicationis ineffective against his partner can be a threat or an obstacle for couples whoundergo long distance romance.This study aims to find out how interpersonal communication is done by couplesand the decision-making process in resolving conflicts that arise in the relationshipsof romance/appear remote. The method used in this studyis descriptive qualitative data analysis and interpretation by using the method ofconstant comparison which generally includes process. This study usesa Tringular Theory of Love and Self Disclosure as the Foundation of research,and Attribution Theory on conflict management is used to describe the experience ofthe subjects. The data collection technique is conducted in-depth interviews with thestudents of the Diponegoro University who are living a long distancerelationship and their partner located outside the city of Semarang, Central Java.Communications management which is done by the students who undergo longdistance romance with their partner is to utilize the existing free time as good aspossible to establish communication. Each pair instill the importanceof communication and maximize the self disclosure. The existence of theflurry of respectively, making each pair also instilling mutual trust, in addition to astrong commitment which is owned will not lead to break up although conflict mayconduct often. In conflict management, avoidance behavior occurs at the beginningof the conflict, along with cooperative attitude which also carried the couple whenovercoming the problems.
Analisis Bingkai: Objektifikasi Perempuan dalam Buku Sarinah Nugraha, Yudha Setya; Lestari, Sri Budi; Nugroho, Adi; Sunarto, Dr
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.579 KB)

Abstract

Munculnya berbagai kasus – kasus seperti pemerkosaan diangkot, kekerasan dalam rumah tangga, hingga larangan menggunakan rok mini di DPR menuding perempuan sebagai penyebabnya. Dalam kasus tersebut, banyak dari pejabat publik memandang perempuan secara diskriminatif. Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Soekarno diawal kemerdekaan Indonesia. Pada tahun 1947, diterbitkan buku Sarinah yang ditulis oleh presiden pertama Indonesia yaitu Ir. Soekarno. Sebagai pejabat negara, tujuan Soekarno menulis dan menerbitkan buku Sarinah ini untuk memberikan dukungan terhadap perjuangan pergerakan perempuan Indonesia dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Namun terdapat temuan – temuan yang bersifat objektifikasi perempuan berupa penggunaan metafora dewi – tolol sebagai perumpamaan untuk perempuan yang dipundi  - pundikan layaknya seorang dewi, tetapi dianggap tidak penuh layaknya seorang tolol. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan objektifikasi isi penulisan terhadap perempuan oleh Soekarno dalam buku Sarinah beserta ideologi yang dominan di belakangnya.Penelitian ini menggunakan teori kelompok dibungkam sebagai salah satu penerapan dalam pendekatan teori objektifikasi dan feminisme radikal dalam paradigma kritis melalui metode analisis bingkai model William A. Gamson. Subjek penelitian ini adalah tulisan atau teks dalam buku Sarinah ini yang merupakan hasil dari pemikiran atau pandangan dari Soekarno sebagai penulisnya.Berdasarakan temuan penelitian, objektifikasi terkait isi penulisan buku Sarinah berupa dehumanisasi dan stereotipe terhadap perempuan. Dehumanisasi dalam buku Sarinah dimunculkan melalui metafora, leksikon, dan ilustrasi seperti menganggap perempuan sebagai blesteran dewi – tolol, sebagai benda yang harus dimiliki, barang yang harus ada dalam rumah, benda perhiasan rumah tangga, perempuan tidak lebih dari "benda zaliman suaminya", dan "seorang pengurus rumah yang tidak bergaji serta alat pelahirkan anak". Sedangkan stereotipe perempuan yang dimunculkan dalam buku Sarinah berupa penggambaran sosok perempuan sebagai kaum lemah, kaum bodoh, kaum nrimo, perempuan diperintah laki – laki, bunga rumah tangga, sebagai budak, dan "kodrat" perempuan hidup di bawah telapak laki-laki. Ideologi yang melatarbelakangi terjadinya objektifikasi perempuan ini dikarenakan adanya patriarkisme yang mengakar kuat di masyarakat. Terbukti dengan adanya dominasi kaum laki – laki terhadap perempuan berupa dehumanisasi dan stereotipe dalam isi penulisan buku Sarinah. Kata Kunci: Objektifikasi, Dehumanisasi, Stereotipe, Patriakisme
Memahami Komunikasi Antarpribadi dalam Pengelolaan Hubungan Asmara Jarak Jauh Mahasiswa Kedinasan Akademi Kepolisian Soemantri, Yolan Enggiashakeh; Lestari, Sri Budi; Naryoso, Agus
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.739 KB)

Abstract

Memahami Komunikasi Antarpribadi dalam Pengelolaan HubunganAsmara Jarak Jauh Mahasiswa KedinasanAkademi KepolisianSkripsiDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan Strata 1Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Imu PolitikUniversitas DiponegoroPenyusunNama : Yolan Enggiashakeh S.NIM : D2C009026JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013Nama : Yolan Enggiashakeh SoemantriNIM : D2C009026Judul : Memahami Komunikasi Antarpribadi dalam Pengelolaan Hubungan AsmaraJarak Jauh Mahasiswa Kedinasan Akademi KepolisianABSTRAKKehadiran teknologi seyogyanya dapat menjadi solusi dalam permasalahan komunikasi jarakjauh. Namun hal tersebut tidak mampu dirasakan oleh mahasiswa kedinasan AkademiKepolisian yang tengah menjalin hubungan jarak jauh. Adanya peraturan akademi tetap sajamenjadi kendala bagi mereka untuk melakukan pengembangan hubungan denganpasangannya.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengelolaan komunikasi antarpribadiyang dilakukan mahasiswa kedinasan Akademi Kepolisian dengan pasangannya dalampengembangan hubungan asmara jarak jauh yang dijalani dan pengelolaan konflik dalamhubungan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif.Analisis dan interpretasi data dilakukan dengan mengelompokkan dan menyusun data dalamkategori kemudian mencari kaitan antar kategori tersebut.Triangular theory of love dan prinsip dialektika pada hubungan menjadi pijakan dalampenelitian ini. Sedangkan attribute theory dalam pengelolaan konflik digunakan untukanalisis pengalaman subjek penelitian. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalahwawancara mendalam kepada subjek penelitian yaitu mahasiswa kedinasan AkademiKepolisian dan pasangannya.Dalam mempertahankan hubungannya, setiap pasangan menanamkan pentingnya memahamisituasi komunikasi dan mengoptimalkan pengungkapan diri. Pengertian dan rasa salingpercaya juga ditanamkan dalam hubungan karena keterbatasan komunikasi sudah menjadibagian dalam hubungan asmara jarak jauh yang terkait peraturan kedinasan. Mahasiswakedinasan Akpol melakukan upaya pengelolaan komunikasi dengan melanggar peraturankedinasan dan mencuri kesempatan saat berada di dalam kampus atau asrama. Penggunaangambar sebagai bentuk ungkapan kepada pasangan merupakan komunikasi nonverbal yangdilakukan ketika melakukan interaksi melalui media. Komitmen yang kuat membuathubungan tersebut tidak mengarah pada pemutusan hubungan walaupun sering terjadikonflik. Sedangkan dalam pengelolaan konflik, perilaku avoidance terjadi pada awalmeningkatnya konflik serta sikap cooperative juga dilakukan oleh pasangan ketikamenghadapi permasalahan.Keyword : long distance relationship, pengembangan hubungan, pengelolaan konflik,instansi kedinasanName : Yolan Enggiashakeh SoemantriNIM : D2C009026Title : Understanding Interpersonal Communication in Long Distance RelationshipMaintenance of Police Academy’s StudentABSTRACTThe presence of technology should be a solution to problems of long-distancecommunication. But it is not able to be felt by the students of Police Academy that are in along distance relationship. Academy regulation remains an obstacle for them to undertake thedevelopment of a relationship with their partner.This study aims to determine how the management of interpersonal communicationconducted by students of the Police Academy in the development of long distancerelationship that endured and managing conflict in relationship. The method used in thisstudy is a qualitative descriptive with a phenomenological approach. Analysis andrepresentation of data is done by grouping into categories and looking for linkages betweenthem.The triangular theory of love and four dialectical principles of friendships became thefoundation of this research. While the attribute theory of conflict management is used for theanalysis of research subjects experience. Technique of data collection was in-depth interviewto study subjects which students of the Police Academy and their partners.In maintaining relationship, each partner instilling the importance of understanding thesituation of communication and optimizing self disclosure. Understanding and mutual trustalso invested in relationship because of the limitations of communication has become a partof the long distance relationship relevant official regulations. Police Academy official studentcommunications management efforts is break the rules and steal opportunities while oncampus or in the dormitory. The use of images as an expression of nonverbal communicationwhich is done when couples do interaction through the media. Strong commitment make therelationship does not lead to termination despite frequent conflicts. While in the managementof conflict, avoidance behavior occurred at the beginning of the conflict and cooperativebehaviour also performed by couples when dealing with problems.Keyword : long distance relationship, relationship development, conflict management,agency officialI. PendahuluanHubungan jarak jauh akan terasa lebih sulit dibandingkan dengan hubungan pacaranyang keduanya berada dalam satu lingkungan maupun satu wilayah yang berdekatan. Dimanadalam hubungan tersebut biasanya dapat terjadi intensitas pertemuan yang cukup tinggidibandingkan dengan mereka yang menjalani LDR. Terpisah jarak yang jauh membuatpasangan akan mengalami masalah yang lebih banyak. Masalah tersebut adalah masalahseperti perasaan depresi, stress, kesalahpahaman, kecurigaan, kecemburuan, kecemasan, danberbagai ketidakpastian.Akan tetapi dengan adanya perkembangan teknologi saat ini, telah diciptakanberbagai alat komunikasi yang juga semakin canggih. Alat komunikasi tersebut mampumenjadikan hubungan yang sebenarnya dipisahkan jarak ratusan bahkan hingga ribuankilometer menjadi lebih dekat. Kesulitan-kesulitan dalam berkomunikasi dengan seseorangyang berbeda tempat dengan kita akan lebih mudah dan semakin terasa dekat. Komunikasimerupakan hal yang paling krusial. Komunikasi yang memanfaatkan teknologi bisa menjadialternatif paling brilian yang akan menyelamatkan sebuah hubungan cinta yang terpisahkanoleh jarak yang jauh.Kunci utama keberhasilan sebuah hubungan adalah adanya komunikasi yang baikserta rasa kepercayaan dan keterbukaan antara satu sama lain. Intensitas, durasi, frekuensidalam berkomunikasi merupakan pokok dalam memelihara kualitas hubungan asmara. Akantetapi, ada permasalahan tersendiri bagi pasangan yang salah satunya terikat suatu peraturankedinasan, dimana peraturan tersebut sangat membatasi komunikasi dengan dunia luar.Peraturan demikianlah yang ditetapkan dalam Akademi Kepolisian untuk tarunanya,sehingga diangkat sebagai kasus dalam penelitian ini. Mahasiswa kedinasan AkademiKepolisian tidak boleh menggunakan, membawa, atau menyimpan handphone ataunetbook/laptop ketika sedang di dalam kampus Akpol. Adanya peraturan tersebut membuatkomunikasi taruna dengan pasangan mereka pun menjadi sangat terbatas.Kesulitan berkomunikasi menjadi suatu penghambat dalam penyelesaian masalahmasalahyang terjadi pada hubungan keduanya. Terlebih lagi apabila hubungan yang dijalanimereka adalah hubungan jarak jauh atau LDR yang intensitas pertemuan nyata hanya dapatdilakukan jika taruna mendapatkan cuti semester. Padahal dalam hubungan asmara,pertemuan nyata penting terjadi untuk meningkatkan keintiman diantara keduanya. Dalampertemuan nyata, komunikasi nonverbal dapat terjadi diantara pasangan dimana mereka dapatmelakukan kontak mata secara fokus. Selain komunikasi nonverbal berupa kontak mata,bersentuhan juga menjadi hal yang natural yang terjadi untuk menunjukkan ketertarikannyakepada pasangan dan menunjukkan kebersamaan mereka.Pasangan kekasih umumnya dilandasi saling pengertian terhadap satu sama lain.Tuntutan akan perhatian yang lebih, komunikasi yang intens, serta komitmen dalamberhubungan merupakan beberapa hal yang mampu membuat keduanya menjadi lebih dekatdan lebih mengenal satu sama lain. Namun dalam menciptakan kondisi seperti ini bukanlahsuatu hal yang mudah sehingga memungkinkan munculnya konflik yang pada akhirnya akanberdampak hingga adanya pemutusan hubungan.Penelitian ini akan mencoba mendeskripsikan komunikasi antarpribadi yangdilakukan dalam pengelolaan hubungan asmara jarak jauh mahasiswa kedinasan AkademiKepolisian serta mengetahui cara pengelolaan konflik dalam hubungan asmara yangdilakukan oleh mahasiswa kedinasan Akademi Kepolisian dengan pasangannya.II. Kerangka Teori dan Metode PenelitianHubungan yang terbentuk oleh dua individu yang saling jatuh cinta ini merupakanhubungan antarpribadi yang berkembang, dipelihara, dan terkadang juga bisa hancur melaluikomunikasi. Sementara Beebe (2005:278) menyatakan tentang the triangular theory of love(teori segitiga cinta), dimana terdapat tiga dimensi yang dapat digunakan untukmendeskripsikan beberapa variasi dalam hubungan percintaan yaitu intimacy (kedekatan),commitment (komitmen), dan passion (gairah).Pengaruh media komunikasi seperti internet pada keintiman pasangan mampuberperan baik. Computer-mediated communication (CMC) atau komunikasi melaluikomputer merupakan bentuk komunikasi diantara orang-orang melalui media komputer,termasuk e-mail, chat room, bulletin boards, dan grup berita (Beebe, 2005:359).Dalam long distance relationship, terdapat pertukaran informasi yang dilakukan olehpasangan untuk memelihara kualitas hubungan yang dijalaninya, baik itu dengan mencariinformasi mengenai pasangannya atau bagaimana individu mengungkapkan berbagaiinformasi tentang dirinya. Interaksi dalam self disclosure yang dilakukan oleh pasanganadalah dengan melihat keluasa serta kedalaman topik informasi. Hubungan asmara hampirsama halnya dengan hubungan persahabatan, dimana hubungan ini memiliki pertukaraninformasi yang stabil. William Rawlins menyatakan mengenai empat prinsip dalamdialektika persahabatan, untuk mengelola komunikasi diantara individu yang terlibat.(Littlejohn, 1999:272-273)Social exchange adalah sebuah teori yang menyatakan bahwa orang-orang membuatkeputusan dalam hubungan dengan memperkirakan serta membandingkan antara imbalan danbiaya. Pada Interpersonal Communication: Relating to Others dinyatakan bahwa dalam longdistance relationship, putusnya hubungan asmara dapat terjadi ketika biaya yang dikeluarkanlebih besar dibandingkan dengan imbalan yang didapatkan dari komunikasi yang hanyasebentar. Begitupun sebaliknya, hubungan dapat terus berlanjut dan konflik dapatdiminimalisisr. Sedangkan dalam pengelolaan konflik yang dilakukan adalah secara attribute,dimana individu menentukan bagaimana perilaku atau sikap saat konflik di dalam hubunganterjadi.Penelitian ini merupakan sebuah penelitian deskriptif kualitatif, yang akan memahamipengalaman individu dan pasangan ketika menjalani hubungan jarak jauh. Subjek penelitianadalah mahasiswa kedinasan Akpol dan pasangannya.III. Hasil PenelitianHasil temuan penelitian menunjukkan adanya upaya yang dilakukan oleh informandalam melakukan pengelolaan hubungan. Pengalaman dari individu yang didapatkan darihasil penelitian dikelompokkan dalam tematik sebagai berikut.1) Frekuensi komunikasi yang berlangsungJumlah komunikasi yang dilakukan oleh pasangan yang lebih senior tentunya lebihbanyak dibandingkan dengan pasangan yang junior. Terlebih lagi pada saat awal menjalaniLDR, pasangan taruna paling junior bahkan harus menunggu enam bulan sama sekali tidakberkomunikasi. Waktu pesiar yang tidak lama membuat mereka memerlukan mediakomunikasi yang dapat menyampaikan informasi yang diinginkan dan segera mendapatkanumpan balik secara langsung. Informan taruna senior mencoba setiap fasilitas yang mampudigunakannya untuk dapat berkomunikasi dengan pasangannya. Pasangan jarak jauh jugalebih memilih media komunikasi skype karena dapat sedikit menggantikan pertemuan nyatamereka. Dalam pengelolaan komunikasinya, taruna-taruna junior memiliki cara-cara agardapat menggunakan alat komunikasi. Cara tersebut bahkan membuat mereka beranimelakukan pelanggaran peraturan Akpol.2) Durasi komunikasiMinimnya frekuensi komunikasi yang dapat dilakukan pasangan tingkat 1 dan 2memiliki waktu yang singkat pula dalam berkomunikasi. Dalam waktu yang begitu singkat,bahkan informan hanya mengatakan kabar dan salam tanpa mendapat umpan balik. Seluruhinforman baik, menggunakan waktu pesiar untuk menelepon pasangannya masing-masing.Namun di tengah kesibukan pekerjaannya, pasangan juga masih memanfaatkan waktukomunikasi yang ada untuk saling menghubungi.Para informan sama-sama memiliki tema-tema yang lama dibicarakan. Selama waktupesiar, Seluruh informan menjadikan kegiatan sehari-hari mereka sebagai tema yang selalumengambil waktu paling banyak. Tema tersebut sebagai ganti dari komunikasi yang tidakmampu mengcover seluruh komunikasi mereka selama satu minggu sebelumnya.3) Intensitas pertemuanSetelah pertemuan pun mereka juga masih harus bersembunyi agar tidak bertemu dengansenior-senior. Adanya hierarki di dalam Akpol membuat informan taruna junior tidak maubertemu seniornya saat berada di luar kampus Akpol. Intensitas pertemuan yang sangatminim juga menjadi suatu hal yang menarik. Dalam waktu hampir setahun menjadi pasangan,informan taruna senior hanya mendapatkan kesempatan dua kali bertemu. Kesempatanbertemu itu juga tidaklah lama, membuatnya sungkan ketika bertemu dengan pasangannyapertama kali.4) Komunikasi verbal dan nonverbal yang berlangsungRasa sayang dan cinta yang diungkapkan oleh bukan hanya ungkapan dalam bentukverbal. Perasaan tersebut ditunjukkan dengan berusaha untuk memberikan kejutan atauhadiah kepada pasangannya. Selain itu, saat mendapat kesepmatan juga dimanfaatkan denganmenghabiskan waktu berdua. Interaksi fisik yang sering dilakukan adalah hal sewajarnyaseperti menggandeng tangan pasangannya karena sebagai kekasih juga memiliki tugas untukmenjaga wanitanya.Informan menyatakan bahwa selama pertemuan saat pesiar ia tidak dapat melakukan halhalseperti pasangan lain pada umumnya. Mereka tidak pernah jalan-jalan di Mall atau ketepat-tempat keramaian. Saat berdua pun mereka tidak bisa dengan bebas bermesraan sepertiorang pacaran pada umumnya. Kegiatan mereka seringkali dibatasi oleh aturan yangmengikat.5) Pengungkapan diriTerbatasnya waktu komunikasi membuat kesempatan yang ada untuk salingmenghubungi juga sangat kurang. Mereka merasa komunikasi yang ada masih sangat kurang.Jarangnya pertemuan juga mempengaruhi bagaimana mereka melakukan self disclosure satusama lain. Dalam hubungan jarak jauh yang dijalani, pasanga memiliki rasa percaya antarasatu sama lain. Akan tetapi, mereka merasa bahwa pasangannya mengetahui dengan pastikegiatan yang dilakukan karena mereka sering menceritakan apa-apa saja yang dilakukanselama satu minggu. Tidak semua masalah diungkapkan oleh taruna kepada pasangannya.Para informan taruna dari penelitian ini sepakat tidak pernah menceritakan mengenaikehidupan di Akpol. Banyak yang mereka tutupi tentang kehidupan di asrama. Sebagianbesar yang diceritakan kepada pasangan masing-masing adalah hal-hal umum yang dapatdiketahui pihak luar.6) Kecurigaan dan prasangka yang dialami selama LDRMinimnya komunikasi dan jarangnya pertemuan secara langsung, menimbulkan rasacuriga dan prasangka dari tiap-tiap pasangan. Pasangan selalu ingin tahu dan merasa harustahu tentang apa yang dialami oleh pasangannya. Biar bagaimanapun, pasangan yang beradadi dunia luar dan ia pula yang lebih sering bertemu dengan banyak orang. Akan tetapikecurigaan tersebut tidak sampai menumbuhkan sikap posesif.Konflik yang terjadi dalam hubungan mereka selalu memiliki alasan yang sama yaitukecurigaan satu sama lain. Rasa curiga dan prasangka tersebut muncul ketika waktu DwiKresna (Informan III) bisa menelepon pasangannya, pasangannya malah tidak menjawab.Waktu berkomunikasi hanya saat pesiar, namun pasangannya malah tidak ada, membuatkecurigaan tersebut muncul. Dwi Kresna (Informan III) menerka-nerka apa yang dilakukanpasangannya yang tidak menjawab telepon, terlebih lagi pada malam Minggu dimana anakmuda biasanya pergi keluar rumah.7) Rasa empati dan supportivenessSetiap pasangan pasti memiliki setiap masalahnya sendiri. Dalam pemecahan tersebut,seringkali seseorang melibatkan orang lain hanya untuk mencurahkan keluhan yangdirasakan atau perasaan yang mengganjal dirinya. Akan tetapi, saat orang terdekat tidak bisaselalu ada mendampingi, maka orang lain lah yang menjadi tujuan mencurahkan apa yangterjadi. Ketiga informan taruna dalam penelitian ini adalah pribadi yang cenderung tertutupmengenai masalah pribadi. Mereka tidak pernah menceritakan permasalahan kepada oranglain, terlebih jika menyangkut masalah hubungan asmara. Berbeda dengan pasangannya yangmemiliki orang lain untuk mencurahkan cerita atas masalah yang dihadapi, baik itu kepadateman dekat ataupun keluarga.8) Imbalan dan biayaMengenai biaya yang dikeluarkan selama dalam hubungan jarak jauh, pasangan samasamamemiliki pengeluaran yang cukup besar. Masalah biaya juga menjadi hal yangdipertimbangkan dalam hubungan mereka. Belum lagi kekecewaan yang harus dibayar jugakarena tidak jadi bertemu dengan pasangan. Selain biaya yang berupa material uang, bentukbiaya lain yang dikeluarkan oleh pasangan adalah bentuk biaya secara psikologis. Biayatersebut seperti upaya serta pengorbanan yang dilakukan. Memberikan prioritas kepadapasangan juga merupakan salah satu bentuk biaya dari hubungan asmara yang dijalani parainforman seperti menggunakan sebagian besar waktu cuti atau libur bersama pasangannyadibanding dengan keluarganya di rumah. Saat mendapatkan kesempatan untukberkomunikasi, informan juga lebih sering menghubungi pasangan daripada menghubungikedua orangtuanya.Ada biaya yang dikeluarkan, ada pula imbalan yang didapatkan. Imbalan tersebut tidakhanya berupa apa yang secara langsung diinginkan dari hubungan dan dari pasangan. Salahsatu yang merupakan imbalan adalah masa depan hubungan serta sikap pasangan agar selalumengerti keadaan dan keterbatasan pasangan mereka yang berstatus sebagai taruna Akpol.9) Jenis konflikPenyebab utama konflik pada pasangan seringkali karena kurangnya pengertian. Namun,sejauh ini, konflik-konflik tersebut bisa diatasi oleh keduanya dan mereka selalu bisa kembalimenjadi lebih baik setelah pertengkaran. Konflik-konflik kecil juga terjadi pada hubungandipicu oleh rasa curiga satu sama lain karena tidak ada kabar saat hari pesiar. Akan tetapi,walaupun mereka sering mengalami kecurigaan dan prasangka satu sama lain, intensitaskonflik dalam hubungan mereka tidak sering terjadi bahkan jarang. Selain konflik tersebut,konflik yang terjadi kemudian adalah konflik besar yang tidak pernah dicari solusinya.Sehingga konflik itu pula yang mengantarkan hubungannya ke arah pemutusan hubungan.10) Pengelolaan konflikPada konflik kecil yang pernah terjadi, menyelesaikan dengan pasangannya denganmengakui kesalahan masing-masing, dan berkompromi. Walaupun pada awalnya pasangancenderung menghindar. Kekecewaan atas kepercayaan dan kesetiaan yang telah diberikanjuga hilang karena hadirnya pihak ketiga sehingga tidak ada penyelesaian untuk masalahberat seperti itu. Tiap informan memiliki pandangan yang berbeda atas hadirnyapermasalahan dan konflik dalam hubungan mereka. Konflik bisa sebagai pengingat bagidirinya untuk melakukan evaluasi dalam hubungan. sedangkan pasangan lain memilikipandangan berbeda berdasarkan pengalamannya. Menurutnya, konflik yang pernah adadalam hubungannya membuat ia lebih berhati-hati dalam mempercayai seseorang dan lebihberpikir panjang ketika akan memutuskan untuk kembali berkomitmen. Kepercayaan diantarapasangan juga harus lebih ditingkatkan karena seperti itulah resiko hubungan jarak jauh.11) Komunikasi pasca konflikPasca konflik terjadi, introspeksi yang dilakukan adalah dengan meminta pendapat dariteman satu asramanya. Sedangkan bagi pasangan yang tidak pernah mengalami konflik,mereka tetap melakukan antisipasi dengan terus menjaga komunikasi tetap baik. Merekatidak ingin ada lagi orang-orang iseng yang ikut campur dan mengganggu ketenanganhubungan mereka.IV. PembahasanUpaya komunikasi dilakukan oleh pasangan untuk mengoptimalkan frekuensi, durasi,dan intensitas pertemuan selama berhubungan jarak jauh. Pada komunikasi yangmenggunakan computer-mediated, ada kelemahan yang dapat menimbulkan ketidakpuasandibandingkan dengan komunikasi secara tatap muka. Isyarat nonverbal yang tidak dapatterbaca secara lengkap, peran kata-kata tertulis yang memiliki dampak besar dalam pesan,serta waktu yang lama saat merespons pesan menjadi kelemahan dalam CMC. (Beebe,2005:360-361)Mengelola komunikasi adalah faktor paling penting dalam mendukung suatuhubungan yang kuat, bahkan yang melewati jarak jauh. Semakin seseorang terbuka dan jujurdalam menjaga komunikasi, maka akan semakin sama kualitasnya pada hubungan jarak jauhdibanding hubungan jarak dekat. (Beebe, 2005:319)Hal-hal yang terkait dengan adanya kepercayaan, kepedulian, kejujuran, sikap salingmendukung, pengertian, dan keterbukaan. Indikasi pada intimacy itulah yangdikomunikasikan oleh pasangan hubungan jarak jauh. Sedangkan commitment yang diambiladalah komitmen pasangan untuk saling setia dan berupaya menghadapi kendala-kendaladalam hubungan mereka. Selain itu, rasa rindu juga menjadi hal paling utama yang ada dalamhubungan jarak jauh karena minimnya waktu yang dapat dihabiskan bersama.Bentuk tulisan, gambar, serta foto yang saling ditukarkan oleh informan dapat masukke dalam istilah emoticons. Orang-orang mengekspresikan perasaan cinta, dan benci sertapengalaman hubungan jarak jauh baik dalam konteks tatap muka atau mediatedcommunication.Dalam mediated-communication berbasis teks, bentuk paralinguistik sepertihuruf kapital, huruf tebal, maupun miring digunakan untuk menggarisbawahi arti ataumemberikan tekanan pada kata dan emoticons juga digunakan secara luas. (Konijn, dkk,2008:108). Komunikasi nonverbal hanya nampak ketika terjadi pertemuan diantara pasanganyang menjalani LDR. Bentuk-bentuk interaksi nonverbal yang dapat dijelaskan dalamtemuan penelitian adalah bentuk komunikasi nonverbal seperti kinesics dan proximate.Pasangan tetap memiliki area public dan juga area private walaupun mereka beradapada tahap keintiman yang tinggi. Permasalahan tersebut tidak diceritakan karena lembagapendidikan mereka mendidik untuk tidak menceritakan semua yang terjadi di dalamkehidupan pendidikan kepolisian. Panjang atau lamanya waktu yang digunakan seseorangakan menentukan kemungkinan banyaknya informasi dan pengungkapan diri yang dilakukan.(Budyatna&Ganiem, 2011:48)Imbalan dan biaya yang diharapkan oleh para informan adalah mengenai perkiraan(forecast), yaitu bagaimana proyeksi dan prediksi atas hubungan yang sedang dijalani danbagaimana potensi hubungan tersebut di masa depan. Bentuk biaya adalah pengorbanan sertaperhatian dan kesetiaan yang dimiliki oleh pasangan. Sedangkan imbalan adalah harapanmereka atas pasangan dan hubungan mereka di masa depan.Ego yang muncul karena perbedaan antara harapan dan kenyataan yang terjadi padasuatu hubungan akan menyebabkan perselisihan yang berujung konflik. Dalam hubunganasmara jarak jauh yang dialami para informan, konflik yang terjadi umumnya adalahmengenai kesalahpahaman dalam berkomunikasi. Selain itu, kecurigaan dan prasangka jugamenjadi pemicu adanya konflik pada pasangan. Apabila pada suatu hubunganmemperlihatkan tanda-tanda memburuk tetapi masih ada komitmen kuat pada kedua pihakuntuk mempertahankannya, mereka akan mengatasi hambatan dan memperbaiki keadaan.(Devito, 1996:252)Ketika terjadi permasalahan dalam sebuah hubungan, Beebe dan Redmond(2005:335-336) menyatakan bahwa seseorang mempunyai tiga pilihan dalam menghadapipermasalahan tersebut; menunggu dan melihat apa yang terjadi; membuat keputusan untukmengakhiri hubungan; atau mencoba memperbaiki hubungan. Pasangan yang berkonflikpernah sampai pada relational de-escalation yaitu di tahapan turmoil atau stagnation.Tahapan tersebut menunjukkan bahwa konflik meningkat dan partner menemukan kesalahanyang lainnya. Namun demikian, setelah konflik tersebut pasangan mampu menyelesaikannyadengan kooperatif sehingga kembali pada tahapan intimacy. Komunikasi yang terjadi pascakonflik pun kembali pada keintiman yang tinggi.V. KesimpulanPengelolaan komunikasi yang dilakukan adalah dengan mengoptimalkan komunikasimelalui telepon hanya saat hari pesiar (Sabtu atau Minggu). Pengungkapan diri juga lebihdioptimalkan saat pertemuan yang terjadi. Jika mendapat kesempatan, mereka selalumenghabiskan waktu bersama untuk update kabar masing-masing tanpa ada persoalanpribadi yang ditutup-tutupi. Komunikasi yang sering dilakukan oleh dengan menggunakanhandphone dan media internet seperti facebook, e-mail, Line, ataupun Skype. Seringkaliperaturan dilanggar dengan mencuri kesempatan menggunakan alat komunikasi di dalamkampus Akpol. Hadiah dan gambar yang sering dikirimkan kepada pasangan merupakanbentuk komunikasi nonverbal yang dilakukan untuk mengungkapkan perasaan yang dapatmenguatkan hubungan. Tingginya supportiveness dan rasa saling percaya yang dimiliki olehpasangan ini membuat hubungannya dapat bertahan lama.Konflik yang sering terjadi dalam hubungan karena adanya kesalahpahamankomunikasi serta pihak ketiga yang datang ke dalam hubungan. biasanya, jika konflik sudahmulai naik, pasangannya cenderung menghindar. Ia tidak mau berkomunikasi denganinforman taruna tingkat 1. Penyelesaian masalah dalam konflik tersebut biasanya dilakukansecara kooperatif saat emosi keduanya mulai menurun. Sedangkan konflik kecil yang seringterjadi dalam hubungan informan taruna tingkat 2 disebabkan adanya kecurigaan. Kejujuran,rasa saling percaya, dan pengertian dapat menjadi kunci dalam hubungan jarak jauh yangmemiliki banyak kendala.Daftar PustakaBeebe, Steven A., Susan J. Beebe, and Mark V. Redmond. 2005. InterpersonalCommunication : Relating to Others. 4th ed. Boston: Allyn and Bacon.Budyatna, Muhammad dan Leila Mona Ganiem. 2011. Teori Komunikasi Antarpribadi.Kencana: Jakarta.Cupach, William R. And Daniel J. Canary. 1997. Competence in Interpersonal Conflict.USA: Waveland Press, Inc.Devito, Joseph A. 1996. Komunikasi Antar Manusia. Jakarta: Profesional Books.Konijn, Elly A. dkk. 2008. Mediated Interpersonal Communication. New York: Routledge.Littlejohn, Stephen W. 1999. Theories of Human Comunication. USA: WadsworthPublishing Company.West, Richard dan Lynn H. Turner. 2008. Pengantar Teori Komunikasi: Analisis danAplikasi (Buku 1). Jakarta: Salemba Humanika.
Faktor Psikodemografis dan Rasa Tanggung Jawab terhadap Kualitas Komunikasi Keluarga Rachmitasari, Irine; Lestari, Sri Budi; Purbaningrum, Dwi; Naryoso, Agus
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.699 KB)

Abstract

Komunikasi antar anggota keluarga sangat penting untuk menciptakan keharmonisanhubungan antar anggota keluarga. Agar tercipta komunikasi yang berkualitas banyak faktorfaktoryang mempengaruhinya antara lain faktor psikografis, faktor demografis, rasatanggung jawab seseorang dalam keluarga. Tujuan peneilitian ini adalah untuk mengetahuipengaruh faktor psikodemografis dan tanggung jawab terhadap kualitas komunikasi keluarga.Metode penelitian ini adalah metode kuantitatif. Teknik pengumpulan data yangdigunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan angket tertutup atau kuesioner. Teknikanalisis data yang digunakan dalam peneltiian ini adalah menggunakan uji chi-squaremenggunakan bantuan SPSS tipe 21.Hasil penelitian ini menunjukan bahwa faktor psikografis berpengaruh signifikanterhadap kualitas komunikasi keluarga. Faktor demografis berpengaruh signifikan terhadapkualitas komunikasi keluarga. Rasa tanggung jawab berpengaruh signifikan terhadap kualitaskomunikasi keluarga. Secara bersama-sama ketiga faktor tersebut berpengaruh signifikanterhadap kualitas komunikasi keluarga dengan nilai dari uji chi-square 34,352 dengansignifikan 0,000.