Claim Missing Document
Check
Articles

Konstruksi Teori (Komunikasi) dalam Logika Hypothetico-Deductive Rahardjo, Turnomo
Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 8, No 2 (2011)
Publisher : Jurnal Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.297 KB)

Abstract

Abstract: A research is closely related to theory. Theory provides guidance and basic assumptions to lead a research. On the other hand, a research delivers ways to develop, formulate, reinforce, and revise a theory. Theoretical approach that is closely related to hypothetico-deductive model is called Nomothetic Theory. This approach focuses on seeking for universal laws and is applied to researches on both science and social sciences. Abstrak: Kegiatan penelitian dalam pelaksanaannya tidak bisa dilepaskan dari teori. Pada satu sisi, teori memandu penelitian dengan memberikan panduan dan asumsi-asumsi dasar. Pada sisi yang lain, penelitian memberikan suatu cara untuk menciptakan, memformulasikan, memperkuat dan merevisi sebuah teori. Pendekatan teoritik yang memiliki keterkaitan dengan model hypothetico-deductive adalah Nomothetic Theory. Pendekatan ini mengarahkan pemikirannya pada upaya mencari hukum-hukum universal dan merupakan pendekatan yang banyak digunakan dalam studi eksperimental ilmu-ilmu alam serta menjadi model penelitian dalam ilmu-ilmu sosial.
Konstruksi Teori (Komunikasi) dalam Logika Hypothetico-Deductive Rahardjo, Turnomo
Jurnal ILMU KOMUNIKASI Vol 8, No 2 (2011)
Publisher : FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.297 KB) | DOI: 10.24002/jik.v8i2.172

Abstract

Abstract: A research is closely related to theory. Theory provides guidance and basic assumptions to lead a research. On the other hand, a research delivers ways to develop, formulate, reinforce, and revise a theory. Theoretical approach that is closely related to hypothetico-deductive model is called Nomothetic Theory. This approach focuses on seeking for universal laws and is applied to researches on both science and social sciences. Abstrak: Kegiatan penelitian dalam pelaksanaannya tidak bisa dilepaskan dari teori. Pada satu sisi, teori memandu penelitian dengan memberikan panduan dan asumsi-asumsi dasar. Pada sisi yang lain, penelitian memberikan suatu cara untuk menciptakan, memformulasikan, memperkuat dan merevisi sebuah teori. Pendekatan teoritik yang memiliki keterkaitan dengan model hypothetico-deductive adalah Nomothetic Theory. Pendekatan ini mengarahkan pemikirannya pada upaya mencari hukum-hukum universal dan merupakan pendekatan yang banyak digunakan dalam studi eksperimental ilmu-ilmu alam serta menjadi model penelitian dalam ilmu-ilmu sosial.
Pemaknaan Audiens terhadap Film Dokumenter "Dhira Narayana of Lingkar Ganja Nusantara" Trinata Anggarwati, Bunga; Rahardjo, Turnomo
Interaksi Online Vol 6, No 1: Januari 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.35 KB)

Abstract

Film dokumenter sangat menarik untuk diteliti karena konten film bersinggungan dengan isu sosial masyarakat sekaligus sering mengangkat tema-tema kontroversial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemaknaan audiens terhadap film dokumenter “Dhira Narayana of Lingkar Ganja Nusantara”. Penelitian ini dibagi menjadi dua tahap, dimana peneliti harus mengetahui struktur makna film dokumenter yang dikaji menggunakan konsep teori Barthes yaitu tanda denotasi, tanda konotasi, dan mitos. Lalu penelitian berlanjut pada penjelasan proses penerimaan yang terjadi ketika khalayak melakukan pembacaan teks media, yaitu menggunakan pendekatan analisis resepsi. Dari hasil penelitian ini, tiga dari lima informan sependapat dengan makna dominant reading karena informan setuju dengan pelegalan ganja yang diusung oleh organisasi LGN, kedua informan yang lain menganggap bahwa konten dalam film tersebut tidak semuanya dapat diterima (negotiated reading). Dari proses wawancara yang dilakukan oleh informan terjadi pola pikir yang berbeda dari proses penerimaan makna film dokumenter tersebut. Film dokumenter ini secara keseluruhan dapat diterima oleh informan sekalipun terdapat berbagai hal yang tidak disetujui oleh informan terbukti dengan tidak adanya informan yang menolak keseluruhan konten dalam film (oppositional reading). Ketiga informan sepakat dengan wacana kontroversial mengenai ganja, mereka menilai bahwa ganja bisa digunakan untuk kepentingan medis maupun industri. Sedangkan dua informan lainnya melihat tanaman ganja memiliki dua sisi yang perlu dikaji ulang baik manfaat maupun kerugiannya. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa film dokumenter ini bisa memicu perdebatan dengan berbagai pandangan yang disampaikan oleh audiens (masyarakat) yang menontonnya. Pada kenyataanya, audiens yang mengonsumi isi media memiliki hak penuh untuk menafsirkan konten dan bernegosiasi dengan ideologi yang terdapat di dalamnya.
Memahami Adaptasi Budaya pada Pelajar Indonesia yang Sedang Belajar di Luar Negeri Mumpuni, Restu Ayu; Rahardjo, Turnomo; Suprihatini, Taufik; Ayun, Primada Qurrota
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.526 KB)

Abstract

Banyaknya masalah yang disebabkan oleh kegagalan adaptasi budaya serta kurangnyapersiapan terkait bahasa dan budaya setempat sebelum seseorang berangkat ke luar negerimenjadi latar belakang penelitian ini. Pelajar Indonesia adalah salah satu contoh yang akanmenjadi fokus bagaimana pengalaman adaptasi mereka untuk berinteraksi dengan orangorangdi lingkungan yang baru. Tujuan penelitian adalah untuk menggambarkan prosesadaptasi budaya yang dilakukan pelajar Indonesia di hostcountry.Penelitian ini menggunakan metoda deskriptif kualitatif, genre interpretif, sertapendekatan fenomenologi. Anxiety/Uncertainty Management Theory dan CommunicationAccommodation Theory digunakan dalam penelitian ini untuk membantu menjelaskansebagai basis awal. Subjek penelitian adalah tiga orang pelajar Indonesia yang sedang belajardi luar negeri. Pengumpulan data diperoleh melalui hasil wawancara dan studi pustaka.Hasil penelitian menunjukan bahwa saat Pelajar Indonesia datang ke luar negerimereka mengalami culture shock karena perubahan kultural dan kehilangan petunjukpetunjukyang telah mereka ketahui sebelumnya. Besarnya cultural shock tergantung padatingkat perbedaan kultural negara, bahasa, serta kesiapan pelajar. Persiapan sebelumkeberangkatan baik itu bahasa dan pengetahuan tentang budaya negara tujuan akanmembantu memahami surface culture serta menjadi bekal untuk mengatasi culture shock.Selain itu dukungan sosial adalah hal yang penting dalam proses adaptasi. Teman-teman dinegara tujuan akan berperan untuk membantu mengenalkan kebiasaan di lingkungan baru,teman-teman universitas untuk membantu menjalani proses belajar di universitas, serta temanuntuk mengikuti aktivitas sosial dan hiburan. Pelajar Indonesia melakukan beberapa strategiadaptasi seperti mencari sesuatu yang baik atas apa yang terjadi (positive reinterpretation),mengerjakan aktivitas lain untuk melepas beban pikiran (mental disangagement), merelakansesuatu yang diinginkan (behavioral disangagement), serta mencari teman atau dukungansosial (social support). Pelajar Indonesia juga melakukan strategi konvergensi denganmenyesuaikan perilaku komunikasi dengan host country.
Correlation between TV's ads, demographic factors and Children Materialism Utama, Wahyu Satria; Ulfa, Nurist Surayya; Herieningsih, Sri Widowati; Rahardjo, Turnomo
Interaksi Online Vol 4, No 1: Januari 2016
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.9 KB)

Abstract

This study concerns about children’s materialism. TV’s advertising is acknowledged to be an extensive carrier of materialism. Previous research said demographic factors like gender, age and SES are influencing children’s materialism. Based on survey to 96 children age 12-14 years old in Semarang, Indonesia, the findings indicate TV’s advertising and demographic factors influences materialism on children. This study showed exposure of TV’s advertising and demographic factors are significant to children’s materialism.
PERAN SESEPUH ADAT DAN MEDIA KOMUNITAS MASYARAKAT KASEPUHAN CIPTAGELAR DALAM MENJAGA IDENTITAS KEBUDAYAAN ASLI Dalil, Firas; Rahardjo, Turnomo
Interaksi Online Vol 7, No 3: Agustus 2019
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.221 KB)

Abstract

This study aims to explain how Kasepuhan Ciptagelar in Sukabumi, through customary elders and community media maintains the existence of customs that become their identity while spreading it to the outside community. Kasepuhan Ciptagelar is classified as a Co-culture group (Mark Orbe) among the dominant cultures. The Identity Negotiation Theory (Stella Ting-toomey) is used to explain how the community in the adat system interacts with the dominant cultural community and the Theory of Cultural Studies (Stuart Hall) is used to examine the use of community media to disseminate customary values to the wider community. This type of research is qualitative descriptive with a phenomenological approach. The informants of this study were indigenous elders and Kasepuhan Ciptagelar community media workers. The results of the study show that the values and systems of customary norms are identities which reflected by indigenous peoples wherever they are. Customary elders and the community applied the concept of MIA (mindfull identity attunement) through welcoming, mentoring and rewarding each migrant without limiting the curiosity of the immigrant community. Mindfullnes in interacting and communication competence of indigenous people increases along with the number of visitors who come. Regardless of how stereotypes are given from dominant cultural communities, indigenous people have pride in their cultural identity. Submission of cultural identity also occurs through community media managed by Kasepuhan Ciptagelar. Through community media, Kasepuhan Ciptagelar creates rival hegemony in order to minimize the influence of agreed dominant culture potentially damaging customary values
PRODUKSI PESAN MELALUI SITUS JEJARING SOSIAL FACEBOOK SEBAGAI MEDIA PENYAJIAN DIRI PUSPITANINGRUM, NOVI ADI; Rahardjo, Turnomo; Hasfi, Nurul
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.719 KB)

Abstract

PRODUKSI PESAN MELALUI SITUS JEJARING SOSIAL FACEBOOK SEBAGAI MEDIA PENYAJIAN DIRIABSTRAKJudul : Produksi Pesan Melalui Situs Jejaring Sosial Facebook sebagai media penyajian diriNama : Novi Adi PuspitaningrumNim : D2C006065Media jejaring Facebook saat ini telah menjadi media yang popular dalam mengkomunikasikan berbagai hal tentang diri pribadi dan keadaan sosial kepada orang lain. Facebook telah menjadi media penyajian diri bagi para pengguna akunnya melalui pesan-pesan yang mereka sampaikan pada kepada orang lain sesama pengguna Facebook. Para user seakan-akan berlomba-lomba untuk memproduksi pesan yang menarik agar status tersebut dilihat dan mendapat komentar dari individu (user) lain.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana penggunaan situs jejaring sosial facebook sebagai media dalam proses produksi pesan untuk penyajian diri serta untuk memahami alasan dan motif yang melatarbelakakangi individu dalam memproduksi pesan yang disampaikan dalam update status pada situs jejaring sosial Facebook. Penelitian yang menggunakan metode kualitatif dengan tipe penelitian fenomenologi dan pendekatan yang dipakai adalah deskriptif yang dikembangkan dari filsafat fenomenologi.Peneliti menggunakan Teori Perencanaan Charles Berger, dan didukung oleh Pendekatan Dramatugis oleh Erving Goffman. Responden pada penelitian ini adalah pria dan wanita berjumlah 5 orang yang berumur antara 18-25 tahun. Peneliti menggunakan narasumber dengan kriteria: aktif menggunakan media jejaring sosial Facebook dalam kehidupannya sehari-hari, dimana Facebook digunakan sebagai sarana untuk memproduksi pesan dalam rangka penyajian diriBerdasarkan hasil yang didapat dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa saat ini Facebook memang telah menjadi media ajang penyajian diri bagi para penggunannya. Pesan yang disampaikan oleh para pengguna Facebook pada umumnya berisi mengenai perasaan yang sedang mereka rasakan atau sedang mereka alami. Sebelum memproduksi pesan, para pengguna Facebook melalui tahapan seperti proses berpikir dan pemilihan diksi atau kata-kata. Hal ini bertujuan agar pesan yang mereka tidak menyinggung orang lain atau membuat citra mereka didepan para teman Facebooknya menjadi negatif.Kata Kunci : Facebook, Produksi Pesan, Perilaku Menyajikan DiRIABSTRACTTitle : Production Message Through Social Networking Sites Facebook as a Self Actualization MediaName : Novi Adi PuspitaningrumNim : D2C006065Facebook is social networking media that nowadays has become popular media to communicate various things about personal and social life to others. Facebook is self actualization media for its users through message sharing to another Facebook users. They seems to compete with another to produce a compelling message in order to receive comments from other users.This study aims to examine how Facebook users accomodate it as message production process for self actualization and gain deeply understanding in some reasons behind message production through status updates on Facebook website. This research is qualitative research using phenomenology methods that developed all approach based on phenomenology philosophy.Researcher used Charles Berger theory that is supported by Dramaturgy approach by Erving Goffman. Respondents in this reasearch are men and women consist of 5 people ages between 18-25 years old. The criteria are Facebook users that actively online on Facebook in their daily life where Facebook is used as means of message production for self actualization.Based on the result of this research, it may conclude that nowadays Facebook is indeed used as self actualization media for its users. The message generally contains their true feeling or they currently get through. Before producing a message, Facebook users get through some processes such as reflective process and diction selection process. Thus in regards to convey a message that won’t offend others or represent negative image towards their Facebook friends.Keywords: Facebook, Message Production, Self Actualization behaviorBAB IProduksi Pesan Melalui Situs Jejaring Sosial Facebook Sebagai Media Penyajian Diri1.1. LATAR BELAKANGFenomena penggunaan situs jejaring sosial Facebook, yang dapat diperoleh secara cuma-cuma telah menjadi media yang populer dalam mengkomunikasikan berbagai hal tentang diri pribadi dan keadaan sosial kepada orang lain. Membicarakan situs jejaring sosial, berarti membicarakan setiap pemilik akun (user) yang saling terhubung dan berkomunikasi satu sama lain, baik itu sebagai pengirim maupun penerima pesan dalam kehidupan sehari-hari. Facebook telah menjadi salah satu media yang memberi ruang seluas-luasnya bagi setiap individu untuk berkreasi dan berbagi seperti halnya memproduksi sebuah pesan. memproduksi sebuah pesan.Beberapa bentuk produksi pesan yang sering dilakukan, seperti; menuliskan kata-kata bijak di update status, menyampaikan kritik-kritik sosial, mengkomunikasi-kan kondisi pribadi (perasaan), menunjukkan lokasi saat ini dan aktivitas yang sedang dilakukan dan masih banyak lagi. Update status Facebook yang disampaikan dan dibaca oleh sesama pengguna merupakan sebuah kegiatan produksi pesan. Pengguna Facebook sebagai komunikator, ketika akan memproduksi sebuah pesan, sebenarnya sedang mengkomunikasikan sesuatu kepada pengguna (user) lain. Pesan tersebut pada dasarnya merupakan refleksi dari persepsi atau perilaku individu yang menyampaikannya. (Ritonga. 2005:20)Saat ini, akun Facebook seseorang telah menjadi semacam cerminan diri setiap pemiliknya. Facebook seolah-olah selalu menunjukkan “inilah wajahku”, silahkan lihat diriku yang menjadikan Fesbuker menjadi semakin terbuka. Bahkan lebih dari itu, ini juga memunculkan semakin terbukanya ruang privat. Pengguna Facebook dengan sukarela dan berkesadaran tinggi akan membuka dirinya untuk bersedia dikomentari, dilihat, dan dipelototi orang lain. Update status Facebook yangmerupakan sebuah pesan yang diproduksi dalam rangka penyajian diri, sama saja dengan memperlihatkan perasaan yang dirasakan kepada individu lain. Karena dengan update status sebagai tempat pesan itu ditampilkan, setiap individu dapat leluasa mengungkapkan apa saja. Hal itulah yang membuat Facebook melalui update statusnya menjadi tempat “ajang curhat” maupun media untuk menampilkan diri.1.2. PERUMUSAN MASALAHMemproduksi pesan melalui situs jejaring sosial facebook merupakan hal yang lazim dilihat oleh setiap orang. Banyaknya para user yang menggunakan facebook untuk memproduksi pesan mengenai perasaan mereka, membuat facebook menjadi suatu media yang terbuka bagi khalayak. Ketika proses produksi pesan melalui situs jejaring sosial Facebook, apa yang sedang terjadi dalam diri pengguna sangatlah berperan dalam sebuah pengambilan keputusan mengenai hal apa yang akan ia sampaikan sebelum ia membuat sebuah status Facebooknya. Baik itu perasaaan yang sifatnya emosional seperti senang, sedih, marah, kecewa, bahagia, dll, atau hal yang hal lain yang sifatnya dan orientasi nya mengarah ke sebuah usaha untuk dapat mencapai hasil sebuah pencitraaan diri kepada sesama user lain di facebook.Begitu banyaknya pengguna facebook yang menggunakan produksi pesan untuk penyajian diri, maka penulis ingin mengetahui: bagaimana individu memproduksi pesan melalui jejaring sosial facebook sebagai media penyajian diri?1.3. KERANGKA TEORI• Teori Perencanaan Charles Berger.Teori Perencanaan Charles Berger dimana di jelaskan bahwa rencana-rencana dari perilaku komunikasi adalah representative kognitif hierarki dari rangkaian tindakan mencapai tujuan. Dengan kata lain, rencana-rencana merupakan gambaran mental dari langkah-langkah yang akan diambil seseorang untuk memenuhi sebuah tujuan. Pada dasarnya Teori ini juga menjelaskan tentang proses-proses yang berlangsung dalam diri manusiadalam proses komunikasi yakni ketika proses membuat pesan dan proses memahami pesan. Manusia ketika dalam proses menghasilkan suatu pesan maka akan melibatkan proses yang berlangsung secara internal dalam diri manusia seperti proses berfikir, pembuatan keputusan, sampai dengan proses pembuatan symbol sebelum memproduksi pesan. (Littlejohn,2009: 184-185).Perkembangan peradaban manusia berpengaruh terhadap kompleksitas permasalahan yang dihadapi di dalam perencanaan, Sementara perkembangan teknologi berperan besar di dalam menetukan pola pendekatan perencanaan yang hendak diterapkan. Sejalan dengan perkembangan peradaban dan teknologi tersebut maka berkembang pula perencanaan dan praktek-praktek perencanaan yang terjadi pada kurun jaman tertentu. Seperti halnya dalam memproduksi pesan melalui facebook, dimana apa yang sedang terjadi dalam diri user sangatlah berperan didalam sebuah pengambilan keputusan individu sebelum memproduksi pesan di facebook nya. Baik itu perasaaan yang sifatnya emosional seperti senang, sedih, marah, kecewa, bahagia, dll, atau hal yang hal lain yang sifatnya dan orientasi nya mengarah ke sebuah usaha untuk dapat mencapai hasil sebuah pencitraaan diri kepada sesama user lainnya di facebook.• Pendekatan Dramaturgi Erving Goffman.Berawal dari pemikiran bahwa manusia adalah aktor dalam panggung kehidupan ini, maka tentu apa yang ditampilkan di panggung akan berdasarkan penataan. Seriring dengan perkembangannya, setiap orang (menjadi pengguna) akan memasuki presentasi diri yang termediasi. Apalagi, jika kesempatan mempresentasikan diri ini dilakukan di Facebook. Dapat terlihat dengan adanya Facebook, dapat memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi setiap pengguna untuk berekspresi, khususnya dalam menampilkan perasaan dan diri mereka masing-masing.Dalam bukunya yang berjudul, The Presentation Of Self In Everyday Life, Erving Goffman (1959) menggunakan konsep dari gagasan-gagasan Burke, dimana pendekatan dramaturgis sebagai salah satu varian interaksionisme simbolis yang sering menggunakan konsep “peran sosial” dalam menganalisis interaksi sosial, yang dipinjam dari khasanah teater. Peran adalah ekspektasi yang didefinisikan secara sosial yang dimainkan seseorang dalam situasi untuk memberikan citra tertentu kepada khalayak yang hadir. Bagaimana sang aktor berperilaku bergantung kepada peran sosialnya dalam situasi tertentu.Goffman mengasumsikan bahwa ketika individu berinteraksi, mereka ingin menyajikan suatu gambaran diri yang akan diterima individu lain. Ia menyebut upaya itu sebagai “pengelolaan kesan” (impression management) yaitu teknik-teknik yang digunakan aktor untuk memupuk kesan-kesan tertentu dalam situasi tertentu untuk mencapai tujuan tertentu. (Mulyana, 2010:110-112) Oleh karena itu, ada sebuah proses produksi pesan yang melibatkan kondisi personal maupun sosial individu dalam menyajikan dirinya.KESIMPULAN1. Semakin berkembangnya era jejaring sosial saat ini, Facebook menjadi salah satu situs jejaring sosial yang memiliki banyak pengguna dari seluruh dunia. Bahkan fenomena yang berkembang saat ini adalah banyaknya pengguna Facebook yang menjadikan Facebook sebagai media bagi mereka untuk menyajikan diri mereka melalui pesan-pesan yang disampaikan melalui situs jejaring sosial tersebut kepada khalayak luas.2. Pengguna Facebook memproduksi pesan kepada khalayak luas melalui fitur update status. Melalui update status, para pengguna Facebook memproduksi pesan yang menyuarakan apa yang sedang mereka rasakan atau alami dengan bertujuan untuk memberitahukan hal tersebut kepadaorang lain. Faktor emosional dan perasaan pun turut mempengaruhi pesan-pesan yang mereka produksi melalui update status tersebut.3. Sebelum memproduksi sebuah pesan, para pengguna Facebook melalui sebuah tahapan-tahapan sebelum akhirnya pesan tersebut tersampaikan kepada khalayak luas. Tahapan-tahapan yang dilalui oleh para pengguna Facebook tersebut adalah proses berfikir, pemilihan diksi atau kata-kata serta upaya untuk mengantisipasi dampak yang mungkin akan ditimbulkan dari pesan-pesan yang mereka sampaikan tersebut terhadap khalayak luas yang menerima pesan tersebut.4. Pengguna Facebook melakukan penataan dalam account Facebook mereka dengan tujuan untuk membentuk sebuah citra diri yang baik. Mereka berharap, dengan melakukan penataan melalui Facebook khalayak luas dapat menilai citra diri mereka sebagai individu yang baik.Hasil (Outcome)Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa para informan sebagai seorang pengguna Facebook melalui beberapa proses dalam memproduksi sebuah pesan di akun facebooknya. Sebagai sebuah situs jejaring sosial yang diakses oleh banyak orang membuat para pengguna Facebook sadar bahwa pesan apapun yang mereka produksi di akun Facebook mereka akan membentuk sebuah penilaian terhadap pribadi mereka sendiri. Akun Facebook dinilai mampu merepsentasikan bagaimana karakter si empunya akun secara langsung. Oleh sebab itulah, para pengguna Facebook saat ini mulai berhati-hati dalam memproduksi pesan apapun dalam akun Facebooknya. Para pengguna Facebook melalui sebuah proses berpikir terlebih dahulu serta melakukan pemilihan diksi atau kata-kata sebagai tahapan dalam proses memproduksi pesan di akun Facebooknya. Hal ini bertujuan agar pesan apapun yang disampaikan melalui akun Facebook mereka tersebut akan membentuk sebuah citra yang baik dan positif. Dengan memproduksi pesan-pesan yang bersifat positif, para pengguna Facebook berharap dapat menyajikan diri mereka dengan baik dihadapan para teman Facebooknya.DAFTAR PUSTAKAArisandy, Desy.2009. Top Bak Artis Beken Dengan Facebook. Yogyakarta: Garailmu.Supratiknya .(1995). Komunikasi Antar Pribadi. Yogyakarta: Kanisius.Farid Hamid, Dr. M.Si. & Heri Budianto, S.Sos., M.Si. (2011). Ilmu Komunikasi: Sekarang Dan Tantangan Masa Depan. Jakarta: Kencana.Fahmi, Abu Bakar. (2011). Mencerna Situs Jejaring Sosial. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.Fidler, Roger. (2003). Mediamorfosis (Memahami Media Baru) Terjemahan. Yogyakarta: Bentang Budaya.Griffin, Em. (2000). A First Look At Communication Theory:Fourth Edition. USA: Megraw Hill Companies.Hartley, John. (2010). Communication, Cultural & Media Studies: Konsep Kunci. Yogyakarta: Jalasutra.Jalaludin, Rakhmat. (2005). Psikologi komunikasi. Bandung: Remaja Rosda Karya.Littlejohn, Stephen W. (1999). Theories Of Human Communication sixth edition. Belmont California. Wadsworth Publishing Company.Littlejohn, Stephen W.(2009). Teori Komunikasi Edisi 9. Jakarta: Salemba Humanika.McQuail, Denis. (2010). Teori Komunikasi Massa (Edisi 6). Jakarta: Salemba Humanika.Moustakas, Clark. E. (1994). Phenomenological Research Methods. London : Sage.Mulyana, Deddy. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Pilialang, Yasraf Amir. (1999). Sebuah Dunia Yang Dilipat. Bandung: Mizan.Reed H Black dan Edwin O Haroldson. (2009). Toksonomi Konsep Komuniasi. Surabaya: Papyrus.Ritonga, M J. (2005). Tipologi pesan persuasif. Jakarta: Indeks.Rogers, Everett M. (1986). Communication Technologi and The New Media In Societies. New York: The Free Press.Syamsudin, Abin M. (2005). Psikologi Kependidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya.Turkle, Sherry. (1995). Life On The Screen: Identity in the age of the internet. New York: Simon & Schuster.Tinarbuko, Sumbo. (2009). Mendengarkan Dinding Fesbuker. Yogyakarta. Multikom.Vardiansyah. (2004). Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.West, Richard & Turner, H. Lynn.( 2008). Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Humanika.Ebook:Griffin, Em. (2011). A First Look At Communication Theory: Eight Edition. USA: Megraw Hill Companies.InternetAgustus 2012, Pengguna Facebook Capai 1 Milyar orang. (2012). Dalam http://www.lihatcara.com/2012/01/agustus-2012-pengguna-facebook-capai-1.html. Diunduh pada 4 Juli 2012 pukul 18:30 WIBDalam http://id.wikipedia.org/wiki/Emosi. Diunduh tanggal 5 juli 2012 pukul 10:00 WIBFazriyati, Wardah. (2012). Tak Cukup “Sharing” di dunia maya. Dalam http://female.kompas.com/read/2012/02/16/17215958/Tak.Cukup.Sharing.di.Dunia.Maya. Diunduh tanggal 4 Juli 2012 pukul 19:00 WIBDalam http://id.wikipedia.org/wiki/Facebook. Diunduh tanggal 5 Juli 2012 pukul 10:15 WIBDalam http://inkvibe.com/2013/01/pertumbuhan-jumlah-pengguna-internet-dan-pengaruhnya-ke-marketing/. Diunduh tanggal 4 Maret 2013 pukul 20:00
KETERBUKAAN KOMUNIKASI DALAM RELASI ROMANTIK Hikmah, Nurul; Rahardjo, Turnomo
Interaksi Online Vol 6, No 4: Oktober 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (533.754 KB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi munculnya fenomena mengenai komunikasi dalam relasi romantik dengan menggunakan media Whatsapp. Dalam relasi romantik komunikasi dapat terjadi dengan lancar ketika melakukan komunikasi menggunakan media Whatsapp namun mengalami keterbatasan komunikasi ketika bertatap muka secara langsung. Tujuan dari penelitian ini untuk memahami pengalaman komunikasi pasangan dalam relasi romantik dengan menggunakan media Whatsapp dan ketika tidak menggunakan media Whatsapp. Paradigma yang digunakan adalah intepretatif dengan pendekatan fenomenologi. Penelitian ini menggunakan Teori Media Baru, Teori Ekologi Media dan Teori Keterbukaan Diri.Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa pada informan pasangan I dan III lebih nyaman melakukan keterbukaan diri terhadap pasangan menggunakan media Whatsapp. Perasaan segan dan sungkan seringkali muncul ketika terjadi tatap muka secara langsung sehingga tidak dapat melakukan komunikasi dengan leluasa. Sedangkan, informan pasangan II dan IV lebih nyaman melakukan keterbukaan diri terhadap pasangan secara langsung dengan tatap muka. Dengan tatap muka secara lansung akan mengurangi ketidaksesuaian makna dan bahasa tubuh memperjelas suatu ucapan. Ketika terjadi tatap muka secara langsung, pasangan I dan III lebih banyak melakukan aktivitas bersama. Komunikasi nonverbal berupa tindakan dan sikap terjadi ketika komunikasi tatap muka dan keinginan disampaikan melalui media Whatsapp. Sedangkan pada pasangan II dan IV lebih banyak melakukan obrolan bersama ketika terjadi tatap muka secara langsung. Pasangan II dan IV juga dapat melakukan pengungkapan diri ketika berkomunikasi tatap muka.Penelitian ini dapat digunakan sebagai penelitian selanjutnya dengan menggunakan pendekatan studi kasus karena relasi romantik merupakan tema yang menarik untuk dibahas dimana terdapat suatu pengalaman yang unik didalamnya. Teori Penetrasi Sosial dapat digunakan untuk melihat bagaimana caranya hubungan antarpibadi dapat dibangun dengan menggunakan media instant messaging atau media sosial teknologi berbasis internet.
Memahami Penerimaan Pembaca Fashion Blog Hijabers (Pengguna Hijab Modern) Terhadap Pergeseran Makna Penggunaan Hijab (Analisis Resepsi Terhadap Blog Dian Pelangi) Aini, Qury; Rahardjo, Turnomo; Lestari, Sri Budi
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.633 KB)

Abstract

Nama : Qury AiniNIM : D2C009124Judul : Memahami Penerimaan Pembaca Fashion Blog Hijabers (Pengguna Hijab Modern) Terhadap Pergeseran Makna Penggunaan Hijab(Analisis Resepsi Terhadap Blog Dian Pelangi)ABSTRAKPerkembangan tren fashion busana muslim yang semakin melesat di Indonesia menjadi pusat perhatian masyarakat hingga ke mancanegara. Hal itulah yang akhirnya membuat banyak wanita muslimah berani menggunakan hijab dan banyak bermunculan komunitas hijabers (pengguna hijab modern), dengan menampilkan konstruksi wanita berhijab yang dulunya tradisional menjadi modern. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pergeseran makna penggunaan hijab yang dikonstruksikan melalui fashion blog Dian Pelangi, dan memahami penerimaan pembaca fashion blog Dian Pelangi terhadap pergeseran makna penggunaan hijab. Teori yang digunakan Fashion as Communication (Malcolm Barnard, 2002) serta Masyarakat Pascamodern dan Budaya Konsumsi (Jean Baudrillard dalam Yasraf Amir, 1998). Tipe penelitian ini analisis resepsi Stuart Hall. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan indepth interview kepada enam informan yang telah dipilih oleh peneliti, yakni pembaca blog wanita yang aktif atau pernah aktif membaca blog Dian Pelangi.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembaca fashion blog Dian Pelangi dapat melihat pergeseran makna penggunaan hijab yang dikonstruksikan Dian Pelangi melalui blognya tersebut. Pergeseran makna penggunaan hijab yang diuraikan yakni, busana muslim yang dikenakan menjadi sangat fashionable, atribut fashion berupa barang-barang branded yang dikenakan Dian Pelangi, serta model hijab dengan selera fashion yang high classdalam blognya menunjukkan bahwa kini wanita berhijab mencerminkan sebagai sekelompok orang dengan status sosial menengah ke atas. Banyaknya variasi model busana muslim yang membuat penampilan wanita muslimah tidak lagi membosankan juga membuat hijab diterima di semua ranah lingkungan. Pergeseran ini terjadi karena adanya perkembangan tren fashion yang selalu berputar sepanjang waktu. Kemudian penerimaan pembaca terhadap pergeseran makna penggunaan hijab sendiri dapat dilihat dari penampilan hijab yang mereka gunakan, dimana mereka harus mengikuti perkembangan zaman demi menunjang kepercayaan diri dalam pergaulan. Sehingga membuat mereka harus menggunakan hijab yang fashionable. Mereka sesekali juga mengakui jika pernah berpenampilan seperti Dian Pelangi. Penelitian ini menunjukkan bahwa pembaca menerima kegunaan hijab sebagai sebuah gaya hidup yang mencerminkan identitas dan status sosial kelas sebagai sekelompok orang sosialita sesuai dengan tren fashion yang sedang berkembang.Kata kunci : Penerimaan pembaca, hijabers, fashionableName : Qury AiniNIM : D2C009124Title : Understanding The Readers Acceptance of Hijabers (Modern Veil Users) Fashion Blogto Shift The Meaning of The Veil Use(Reception Analysis to Dian PelangiBlog)ABSTRACTThe growth of Moslem fashion trend are increasingly darted in Indonesia to be the center of attention tillforeign country. That is what ultimately makes a lot of Moslem women use the veil bravely and many communities called hijabers (modern veil users) are springing up, with construction the women features which used traditional veil became modern. The purpose of this research is to find out the shifting meanings of the veil use and understand the readers acceptance on it that are constructed on Dian Pelangi fashion blog. Theories used are Fashion as Communication (Malcolm Barnard, 2002) also Pascamodern Community and Consumption Cultural (Jean Baudrillard in Yasraf Amir, 1998). This type of research is Stuart Hall reception analysis. Data collection technique is done by using indepth interview with six informants who were selected by the researcher, they are active women readers or have actively read Dian Pelangi blog.The results of this study showed that Dian Pelangi fashion blog readers saw a shift meaning of the veil use which constructed in Dian Pelangi blog. Those are veil worn to be very fashionable, fashion attributes such as branded goods imposed DianPelangi, and the veil models with high class fashion sense in her blog shows that veil user now reflect the veil as a group of people with status middle to upper social. The great variation in Moslem fashion model who made her appearance is no longer boring, veil is also made welcome in all aspects of the environment. This shift is due to the development of the fashion trends are always spinning all the time. Then acceptance of the shifting meanings readers use their own veil can be seen from the appearance of veil that they use, where they must keep abreast of the times in order to support confidence in the association. Thus making them have to use a fashionable veil. Occasionally they also recognize if it ever look like Dian Pelangi. This study shows that the readers accept use of the veil as a lifestyle of the socialite class social status and identity in accordance with emerging fashion trends.Keywords : Readers acceptance, hijabers, fashionable.Memahami Penerimaan Pembaca Fashion Blog Hijabers (Pengguna Hijab Modern) Terhadap Pergeseran Makna Penggunaan Hijab(Analisis Resepsi Terhadap Blog Dian Pelangi)SkripsiPENDAHULUANBerbusana merupakan hal yang tidak akan pernah lepas dari perhatian setiap individu, karena hal ini bisa menjadi penilaian tersendiri dari orang lain terhadap karakter masing-masing individu tersebut. Biasanya orang akan memilih busana yang sedang populer pada jangka waktu tertentu, hal tersebut biasanya kita kenal dengan istilah fashion. Fashion membuat setiap individu dapat mengekspresikan apa yang sedang dirasakan melalui pilihan warna yang digunakan, corak ataupun model yang digunakan, karena fashion dipandang memiliki suatu fungsi komunikatif. Busana, pakaian, kostum, dan dandanan adalah bentuk komunikasi artifaktual (artifactual communication) yaitu komunikasi yang berlangsung melalui pakaian dan penataan berbagai artefak, misalnya pakaian, dandanan, barang perhiasan, kancing baju, atau furnitur di rumah anda serta penataannya, ataupun dekorasi ruang. Karena fashion, pakaian atau busana menyampaikan pesan-pesan non verbal, ia termasuk komunikasi non verbal (Idi Subandy, 2007 : vii).Berbicara tentang fashion, akhir-akhir ini sedang maraknya fashion di kalangan muslimah. Busana muslim yang dulunya dianggap sebagai busana yang islami, menggambarkan kesan tradisional, monoton, ketinggalan zaman, kuno, dan sebagainya, berbeda cerita dengan sekarang yang sudah menjadi tren di masyarakat. Hal tersebut nampaknya semakin dikonstruksikan melalui munculnya hijabers community yaitu komunitas yang terdiri dari sekelompok remaja maupun dewasa yang memakai hijab dengan gaya terkini. Komunitas tersebut awalnyatercetus dari seorang designer muda cantik yaitu Dian Pelangi yang merancang busana-busana trendy khususnya busana muslim dengan tujuan menginspirasi wanita muslimah untuk mengenakan busana muslim. Sejak kemunculan dirinya lah, eksistensi muslimah semakin meningkat. Sesuai dengan nama belakangnya “Pelangi” pilihan warna yang digunakan pada rancangan busananya memang menunjukkan image yang unik, colourful, ceria, energik, muda, dan stylish (baca:pandai memadupadankan gaya). Konsep yang dipakainya adalah tie dye, dan mix and match berbagai warna yang kontras layaknya warna pelangi.Melalui blognya yang diberi nama The Merchant Daughter dalam www.dianrainbow.blogspot.com, Dian Pelangi mengekspresikan segala sesuatu tentang gaya fashion-nya dengan konsistensi konsep dirinya yaitu rainbow. Gaya fashion yang ia terapkan tersebut mampu menarik perhatian masyarakat Indonesia serta mampu menginspirasi banyak orang dalam hal fashion, terutama bagi wanita muslimah. Hal itu terbukti dari beberapa wanita muslimah yang awalnya tidak menggunakan hijab menjadi menggunakan hijab setelah diterpa komunikasi Dian Pelangi melalui blognya. Selain foto-foto dirinya, Dian Pelangi juga meng-upload tutorial penggunaan hijab khas dirinya melalui Youtube yang di-link-an ke blognya itu dan beberapa media sosial lain miliknya seperti Twitter, Facebook, Instagram, dan lain-lain sehingga masyarakat dapat dengan mudah mempelajari bagaimana jika menjadi seperti seorang Dian Pelangi.Hadirnya Dian Pelangi di tengah dunia fashion seolah-olah melawan persepsi masyarakat tentang muslimah berjilbab yang selama ini dilihat sebagai sosok yang kuno, tidak energik, tertutup, dan sebagainya. Namun, kehadirannyatersebut juga mengubah gaya hidup wanita muslimah Indonesia yang dulu hanya beberapa orang saja menggunakan jilbab atau busana muslim, kini semakin banyak wanita yang berani memutuskan untuk menutupi auratnya entah itu hanya sebagai popularisme budaya atau memang sudah sesuai dengan syariat Islam.Fashion juga dapat mencerminkan status sosial dari si pemakai. Dian Pelangi dengan gaya fashion-nya hadir dengan menampilkan gaya terkini yang termasuk high fashioned (baca:fashion dengan selera yang tinggi) sehingga terlihat sebagai seseorang yang eksklusif dan dinilai memiliki status sosial yang bonafit atau „mahal‟ serta dinilai sebagai individu yang tidak ketinggalan zaman dalam lingkungan pergaulannya. Seperti yang dikatakan oleh Thomas Carlyle, pakaian menjadi “pelambang jiwa” (emblems of the soul). Pakaian dapat menunjukkan siapa pemakainya. Dalam kata-kata dari Eco, “I speak through my cloth” (Aku berbicara lewat pakaianku) (Barnard, 2002 : vi).Melalui blognya, Dian Pelangi mencoba menarik perhatian wanita muslimah untuk menutup aurat atau menggunakan hijab akan tetapi nampaknya juga tidak sedikit khalayak yang memiliki penilaian negatif terhadap cara komunikasi Dian Pelangi yang dicerminkan melalui gaya fashion-nya tersebut. Oleh karena itu, melalui penelitian ini peneliti akan melihat apa yang ditampilkan dalam fashion blog Dian Pelangi dan konstruksi wanita berhijab yang ditampilkan serta mengamati atribut fashion yang dipakai. Kemudian melihat penerimaan masyarakat terhadap adanya pergeseran makna dalam penggunaan hijab oleh muslimah saat ini.ISIMunculnya banyak hijabers di Indonesia saat ini menjadikan Indonesia sebagai trendsetter busana muslimah di dunia. Ditambah lagi hadirnya designer muda Indonesia dengan koleksi-koleksi rancangan mereka yang juga sudah mulai mendunia. Melalui koleksi fashion mereka yang semakin beragam itulah membuat banyak orang tertarik untuk menggunakan hijab. salah satu ikon hijabers yang paling banyak menyita perhatian adalah Dian Pelangi. Dirinya terus mempromosikan fashion busana muslim sehingga hijab bisa go international. Melalui blognya, Dian Pelangi terus mengembangkan kreativitasnya untuk menjadikan hijab sebagai sesuatu yang modern sehingga tidak ada lagi yang memandang wanita berhijab sebelah mata.Blog dan jejaring sosial merupakan media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia dan memiliki power yang luar biasa untuk meneruskan informasi dari pengguna satu ke pengguna lainnya. Untuk perihal kegiatan seputar fashion nampaknya blog menjadi media yang tepat untuk menumpahkan segala sesuatu entah dalam bentuk tertulis atau sekedar gambar-gambar yang menampilkan hal-hal yang disukai. Melalui blog itulah audiens dapat mengetahui semua item fashion yang biasa dikenakan para fashion blogger karena di setiap mereka mengunduh gambar, akan disertai dengan deskripsi dari masing-masing item fashion-nya dan semua item tersebut merupakan item yang bermerek sehingga mereka menjadi sorotan masyarakat terutama Dian Pelangi yang juga merupakan designer dari busana-busana muslimah yang ia kenakan sendiri.Dengan adanya konstruksi wanita muslimah yang digambarkan melalui blog Dian Pelangi memunculkan adanya pergeseran makna penggunaan hijab. Pergeseran makna tersebut bisa dilihat dari banyaknya masyarakat yang tertarik menggunakan hijab karena gaya fashion hijab yang beragam dan fashionable. Selain itu, hijab saat ini merupakan pakaian yang fleksibel karena model hijab yang beragam dan diterimanya hijab sebagai sebuah gaya hidup yang mengikuti tren perkembangan fashion. Gaya hidup merupaka refleksi identitas seseorang, dimana identitas tersebut untuk melihat separti apa orang tersebut serta bagaimana orang tersebut. Oleh karena itu, gaya hidup sering dihubungkan dengan kelas sosial ekonomi dan menunjukkan citra seseorang. Gaya hidup orang ditunjukkan dalam variasi keputusan cita rasanya: mobil yang dikendarainya, majalah yang dibacanya, tempat mereka tinggal, bentuk rumahnya, makanan yang disantapnya dan restoran yang sering dikunjunginya, tempat hiburannya, merek-merek baju, jam tangan, sepatu, dan lain-lain yang sering dipilihnya, dan sebagainya.Dian Pelangi melalui blognya, menggambarkan sebagai sosok individu dengan gaya hidup yang konsumtif terhadap fashion. Apa yang ia kenakan untuk mendukung penampilannya menciptakan makna tersendiri bagi pembacanya. Terdapat dua pokok penting yang ditekankan dalam gaya yang ditampilkan individu yaitu sebagai simbol perlawanan terhadap apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan sebagai cara agar diterima di kelompoknya. Individu berusaha mengidentifikasi diri mereka dan berkumpul bersama orang-orang yang memiliki kesamaan, sehingga identitasnya menjadi bagian dari identitas kelompok (Steele, 2005: 39). Dalam hal ini, Dian Pelangi menciptakan komunitas penggunahijab modern (hijabers) di Indonesia yang sampai saat ini terus berkembang hampir di seluruh wilayah Indonesia. Hal tersebut menunjukkan bahwa penggunaan hijab modern sudah diterima di masyarakat. Itulah yang membuat beberapa informan memilih untuk juga bergabung dengan komunitas hijabers, dimana komunitas tersebut berisi sekelompok muslimah pengguna hijab modern yang memiliki identitas sebagai kelompok pengguna hijab sosialita karena atribut fashion yang digunakan branded dan eksklusif. Bukan hanya pakaian atau hijab yang menunjukkan identitas mereka sebagai muslimah sosialita, melainkan juga aksesoris yang digunakan, gadget, ataupun kebiasaan mereka seperti mengadakan perkumpulan di mall, dan sebagainya.Dalam penelitian analisis resepsi penerimaan pembaca fashion blog hijabers terhadap pergeseran makna penggunaan hijab dalam blog Dian Pelangi ini, teori yang tepat digunakan adalah analisis resepsi Stuart Hall. Dimana analisis resepsi menyampaikan bahwa teks dan penerimanya adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan, khalayak memaknai dan menginterpretasi sebuah teks berdasarkan latar belakang sosial dan budaya serta pengalaman mereka masing-masing. Analisis resepsi memfokuskan pada perhatian individu dalam proses komunikasi massa (decoding), yaitu pada proses pemaknaan dan pemahaman yang mendalam atas teks media, dan bagaimana individu menginterpretasikan isi media. Hal tersebut bisa diartikan bahwa individu secara aktif menginterpretasikan teks media dengan cara memberikan makna atas pemahaman pengalamannya sesuai apa yang dilihatnya dalam kehidupan sehari-hari.Hall menjelaskan model encoding/decoding sebagai pendekatan yang melihat pembaca sebagai korban, dan pembaca sebagai pemilik hak. Ia mengungkapkan bahwa teks media memiliki arti yang spesifik yang dikodekan ulang namun penerimaan pembaca ditentukan dari bagaimana mereka membaca teks media tersebut. Pesan yang telah dikirimkan akan menimbulkan berbagai macam efek kepada audiens. Sebuah pesan dapat membuat pembaca merasa terpengaruh, terhibur, terbujuk, dengan konsekuensi persepsi, kognitif, emosi, ideologi, dan perilaku yang sangat kompleks. Hall mengidentifikasi tiga kategorisasi audiens yang telah mengalami proses encode/decode sebuah pesan, yaitu dominant reading, negotiated reading, dan oppositional reading (Hall dalam Baran, 2003: 15-16).Khalayak yang menjadi informan dalam penelitian ini merupakan khalayak yang aktif atau pernah aktif membaca fashion blog Dian Pelangi. Keenam informan memiliki tingkat pendidikan, lingkungan sosial, serta pengalaman yang berbeda. Dalam wawancara, informan menyampaikan interpretasi mereka masing-masing terkait dengan pemaknaan terhadap blog Dian Pelangi serta penerimaan terhadap adanya pergeseran makna penggunaan hijab yang dikonstruksikan melalui blog Dian Pelangi. Khlayak yang dalam hal ini penghasil makna, memaknai blog Dian Pelangi secara beragam karena teks yang berbeda dapat menghasilkan pemaknaan yang berbeda pula.Dari hasil penelitian dan wawancara dapat disimpulkan sebagai berikut :1. Berdasarkan pemaknaan keenam informan, pergeseran makna penggunaan hijab yang dikonstruksikan dalam fashion blog Dian Pelangi dapat dilihatpada setiap penampilan Dian Pelangi yang menjadikan hijab sebagai sebuah gaya hidup. Selain itu, atribut fashion berupa barang-barang branded yang dikenakan Dian Pelangi, serta model hijab dengan selera fashion yang high class dalam blognya menunjukkan bahwa kini wanita berhijab mencerminkan identitas dan status sosial sebagai sekelompok orang sosialita. Banyaknya variasi model hijab yang fashionable membuat penampilan wanita muslimah tidak lagi membosankan juga membuat hijab diterima di semua ranah lingkungan. Pergeseran ini terjadi karena adanya perkembangan tren fashion yang selalu berputar sepanjang waktu. Hal itulah yang membuat hijab tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang tradisional dan konvensional. Sehingga membuat semakin banyak orang menggunakan hijab.2. Hasil penelitian ini menunjukkan lima informan berada pada posisi dominan. Mereka menerima adanya pergeseran makna penggunaan hijab, yang dapat dilihat dari penampilan hijab yang mereka gunakan, dimana mereka harus mengikuti perkembangan zaman untuk menunjang kepercayaan diri dalam pergaulan. Sehingga membuat mereka harus menggunakan hijab yang sesuai tren fashion. Mereka sesekali juga mengakui jika pernah berpenampilan seperti Dian Pelangi, dan mendukung jika ada yang berpenampilan seperti yang dikonstruksikan Dian Pelangi.3. Sementara satu informan berada pada posisi oposisi. Dirinya tidak melihat adanya pergeseran makna penggunaan hijab, karena benar atau tidaknya penggunaan hijab tergantung pada tujuan awal masing-masing individu untuk menggunakan hijab tersebut, bukan berdasarkan pengaruh dari luar dirimereka seperti perkembangan fashion busana muslim atau munculnya Dian Pelangi yang mengkonstruksikan perubahan penggunaan hijab.PENUTUPBerbagai penelitian tentang makna penggunaan hijab, mayoritas menunjukkan bahwa hijab mengalami pergeseran. Dimana seseorang yang menggunakan hijab bukan lagi berpegang kepada nilai guna (use value) dari hijab tersebut, melainkan lebih kepada simbol/nilai tanda (sign value). Simbol tersebut yakni simbol gaya hidup yang menggambarkan identitas orang yang menggunakan hijab sebagai sekelompok orang yang mengikuti perkembangan tren fashion. Tren fashion hijab sendiri, saat ini tidak perlu diragukan. Beragam model hijab yang unik, kreatif, dan modern membuat banyak orang tidak takut lagi menggunakan hijab serta membuat orang yang sudah menggunakan hijab tidak takut lagi dikucilkan dalam pergaulan ataupun lingkungan sosialnya.Pergeseran makna penggunaan hijab sendiri tidak hanya dikarenakan pengaruh kemunculan media sosial khususnya blog hijabers yang mengkonstruksikan perubahan image wanita muslimah menjadi sekelompok orang dengan gaya hidup sosialita. Namun, makna penggunaan hijab juga bisa bergeser karena tuntutan mengikuti perkembangan tren fashion yang terus berputar setiap waktu.DAFTAR PUSTAKAA.Bell, M.Joyce and Rivers. (1999). Advanced Media Studies. Hodder & Stoughton.Allen, Pamela. (2004). Membaca, dan Membaca Lagi : [Re]interpretasi Fiksi Indonesia 1980-1995. Magelang : Indonesia Tera.Baran, Stanley J. (2003). Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Salemba Humanika. Barnard, Malcolm. (2002). Fashion as Communication (Second Edition). New York : Routledge Taylor & Francis Group. Barnard, Malcolm. (2006). Fashion Sebagai Komunikasi : Cara Mengkomunikasikan Identitas Sosial, Seksual, Kelas, Dan Gender. Yogyakarta : Jalasutra. Berger, Arthur Asa. (2010). The Objects of Affection: Semiotics and Consumer Culture. USA: Palgrave MacMillan. Blood, Rebecca. (2002). The Weblog Handbook, Basic Books, A Member Of The Perseus Books Group. Croteau, David and William, Hoynes. (2003). Media Society : Industry, Images, and Audience (3rd Ed.). California : Pine Forge Press. Danesi, Marcel. (2009). Pesan, Tanda, dan Makna. Yogyakarta : Jalasutera. Downing, John, Ali Mohammadi, and Annable Sreberny-Mohammadi. (1990). Questioning The Media : A Critical Introduction. California : SAGE Publication. Vina, Hamidah. (2008). Jilbab Gaul (Berjilbab Tapi Telanjang). Jakarta: Al-Ihsan Media Utama. Hoed, Benny H. (2011). Semiotik & Dinamika Sosial Budaya. Jakarta: Komunitas Bambu. Idi Subandy, Ibrahim. (2007). Budaya Populer Sebagai Komunikasi (Dinamika Popscape Dan Mediascape Di Indonesia Kontemporer). Yogyakarta : Jalasutra. Kawamura, Yuniya. (2005). Fashion-ology. An Introduction to Fashion Studies. New York: Berg Oxford. Littlejohn, Stephen W [ed]. (1999). Theories Of Human Communication. London : Wadsworth Publishing Company.Littlejohn, Stephen W., and Karen, A. Foss. (2009). Teori Komunikasi: Theories of Human Communication, Ninth Edition. Jakarta: Salemba Humanika. Littlejohn, Stephen W., and Karen, A. Foss [eds]. (2009). Ensyclopedia Of Communication Theory. California : SAGE Publications, Inc. Lurie, Alison. (1992). The Language Of Clothes. London : Cornell. Leah A. Lievrouw. (2006). The Handbook of New Media Updated Student Edition. London : SAGE Publications, Inc. Manovich, Lev. (2002). „What Is New Media?’ In The language Of New Media. Dalam Hassan, Robert Dan Julian Thomas [eds]. 2006. The New Media Theory Reader. England : Open University Press. McQuail, Denis. (2000). Media Performance; Mass Communication and The Public Interest. London: SAGE Publications. McQuail, Denis. (2011). Teori Komunikasi Massa (Ed.6). Jakarta: Salemba Humanika.Moleong, Lexi J. (2007). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Morreale, Sherwyn, Barge, Wood, Spitzberg & Tracy. (2004). Introduction To Human Communication The Hugh Downs Of Human Communication. USA: Wardsworth. Yasraf Amir, Piliang. (1998). Sebuah Dunia Yang Dilipat: Realitas Kebudayaan Menjelang Millenium Ketiga Dan Matinya Posmodernisme. Bandung : Penerbit Mizan. Jalaludin, Rakhmat. (2007). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Rosdakarya. Ritzer, George. (2009). Teori Sosial Postmodern. Yogyakarta: Kreasi Wacana. Sassatelli, Roberta. (2007). Consumer Culture: History, Theory, and Politics. London : SAGE Publications. M.Quraish, Shihab. (2004). Jilbab Pakaian Wanita Muslimah. Jakarta: Lentera Hati. Steele, Valeriee. (2005). Encyclopedia of Clothing and Fashion Vol.1&2. USA: Thompson Gale. Strinati, Dominic. (2007). Popular Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer. Yogyakarta : Penerbit Jejak.JurnalRatna Dewi, Ayuningtyas. (2011). Menginterpretasikan Fashion Pria Metroseksual Dalam Fashion Blog. Skripsi. Universitas Diponegoro.Dwita, Fajardianie. (2012). Komodifikasi Penggunaan Jilbab Sebagai Gaya Hidup Dalam Majalah Muslimah (Analisis Semiotika Pada Rubrik Mode Majalah Noor). Skripsi. Universitas Indonesia.Hapsari, Sulistyani. (2006). Modul Pelatihan Metode Penelitian Kualitatif. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro.Hari, Sapto. (2009). Memahami Makna Jilbab Dalam Mengkomunikasikan Identitas Muslimah. Skripsi. Universitas Diponegoro.InternetStefanone, M.A., and Jang, C.Y. (2007). Writing For Friends And Family : The Interpersonal Nature Of Blogs. Journal Of Computer-Mediated Communication, 13 (1), article 7. Dalam http://jcmc.indiana.edu/vol13/issue1/stefanone.html. Diunduh pada tanggal 18 Maret 2013 pukul 10.00 WIBPengertian Fashion Menurut Poppy Dharsono. Dalam www.fashionupdatemodeon.blogspot.com/fashion/03.html. Diakses pada tanggal 3 Maret 2012 pukul 18.30 WIBIslam Akan Menjadi Agama Terbesar. (2012). Dalam http://www.dokumenpemudatqn.com/2012/11/islam-akan-menjadi-agama-terbesar-di.html#ixzz2Nxf08BSQ. Diunduh pada tanggal 19 Maret 2013 pukul 14.00 WIBProfil Dian Pelangihttp://tabloidnova.com/DianPelangiAnakBawangYangMenembusDunia.html. Diakses pada 25 Juni 2013 pukul 09.20 WIBMencari Sebuah Identitas Dalam Budaya Pop. Dalam http://parekita.wordpress.com/2013/12/04/55.html. Diakses pada tanggal 19 Agustus 2013 pukul 11.40 WIBKami Bukan Sosialita Berjilbab. Dalam www.hijaberscommunity.blogspot.com/gayahidup/hobi.html. Diakses padatanggal 3 Juli 2013 pukul 18.54 WIBwww.theoppositeofpink.blogspot.com. Diakses Kamis, 4 Juli 2013 pukul 13.30 WIBwww.ayuchairunisa.blogspot.com. Diakses Kamis, 4 Juli 2013 pukul 13.30 WIBwww.dallamudrikah.blogspot.com. Diakses Kamis, 4 Juli 2013 pukul 13.30 WIBhttp://twitter.com/FatinSL. Diakses Senin, 8 Juli 2013 pukul 06.30 WIBwww.amischaheera.blogspot.com. Diakses Senin, 8 Juli 2013 pukul 08.00 WIBwww.fashionesedaily.blogspot.com. Diakses Senin, 8 Juli 2013 pukul 08.51 WIB) Data pengunjung blog Dian Pelangi. Dalam www.dianrainbow.blogspot.com. Diakses pada tanggal 8 Juli 2012 pukul 08.30 WIBFoto-foto Dian Pelangi. Dalam www.dianrainbow.blogspot.com.
Hubungan Antara Terpaan Informasi Garuda Indonesia di Media Sosial Twitter @Garuda_UK dan Terpaan Sponsorship Garuda Indonesia dalam Pertandingan Liverpool Footbal Club dengan Kesadaran Merek Garuda Indonesia Nurina, Shafira Inas; Rahardjo, Turnomo; Pradekso, Tandiyo; Lailiyah, Nuriyatul
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.315 KB)

Abstract

Kerjasama co-branding Garuda Indonesia – Liverpool FC membuat Garuda Indonesia mendapat keuntungan untuk menjalankan kegiatan komunikasi pemasaran dengan tujuanmenciptakan kesadaran merek. Terkait dengan hal tersebut, Garuda Indonesia belum melakukan evaluasi yang berhubungan dengan tujuan diadakannya kerjasama Garuda Indonesia dengan Liverpool FC, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara terpaan informasi Garuda Indonesia di media sosial Twitter @Garuda_UK dan terpaan sponsorship Garuda Indonesia dalam pertandingan Liverpool FC dengan kesadaran merek Garuda Indonesia. Teori mengenai kesadaran merek yang didukung denganteori mengenai terpaan informasi di media sosial dan teori mengenai terpaan sponsorship menjadi dasar pemikiran dalam penelitian ini.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif tipe eksplanatif dengan metode penarikan sampel non random sampling dan teknik penarikan sampel adalahpurposive sampling. Jumlah sampel sebanyak 50 orang yang merupakan fans Liverpool FC yang berdomisili di Negara Inggris.Analisis data yang digunakan adalah uji Korelasi Pearson dengan hasil yang didapat adalah bahwa terdapat hubungan yang sigifikan antara terpaan informasi Garuda Indonesia di media sosial Twitter @Garuda_UK (X1) dengan kesadaran merek Garuda Indonesia (Y) karena menghasilkan angka signifikansi 0,014 dengan koefisien korelasi Pearson sebesar 0,345 serta terdapat hubungan yang signifikan antara terpaan sponsorship Garuda Indonesia dalam pertandingan Liverpool FC (X2) dengan kesadaran merek Garuda Indonesia (Y) menghasilkan angka signifikansi 0,002 dengan koefisien korelasi Pearson sebesar 0,418.Hasil temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi Garuda Indonesia agar dapat memanfaatkan media sosial dan sponsorship secara lebih efektif.
Co-Authors ., Muchibuddin Abdul Malik, Aminullah Adhi Wiryawan, Yudho Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Nugroho Adi Saputro, Topo Adinda, Sarah ADITYA FAHMI NURWAHID Adiyatma, Irfandhika Afri Setya, Rega Agus Naryoso Aisyah Monicaningsih Aisyah Nadhilah Arsyi Malik Aisyah Nur Iswahyudi, Farah Ajeng Gendari Sayang Aji Kurniawan Ade Purwanto Alif Hibatullah Alifati Hanifah Almanda Prinarenti, Aurelia Amelia Monica Amida Yusriana Andrio, Bimo Anindhita Puspasari Anjar Mukti Yuni Pamungkas, Anjar Mukti Annie Renata Siagian Annisa Widya Paramitha Annisa Zetta Afiatni Aprilla Agung Yunarto Arif Andhika, Wisnu Arlinda Nurul Nugraharini Asri Rachmah Mentari Asteria Agustin Asyhab Arno Wijaya Aurisa Hangesti Putri Avianto Aryo Wicaksono Ayu Lestari, Mega Ayu Permata Sari Ayudia Putri, Rakhma Azif, Zahra Bayu Hastinoto Prawirodigdo Bayu Widagdo, Muhammad Bening Shabilla Utami Bonaventura Paskaris Kusuma Aji Brillian Barro Vither Conny Brilliant Dwikananda, Kartika Dalil, Firas Dea Dwidinda Lutfi Desastri Ahda Ramadhan, Pimpi Destika Fajarsylva Anggraini Devi Pranasningtias Indriani DEWI IRAWATI Dhyah Shanti Nur Kartika Dimas Obwid Robertus Belarmino Malau Dinaharilala Olivia, Randrianarison Dini Tiara I Dipa Wirayatama Diva Sinar Rembulan Dizafia Zafira Mayyasya Djoko Setyabudi DONNA RADITA MERITSEBA DR Sunarto Dr. Sunarto Dra Taufik Spurihartini Dwi Amanda, Visca Dyah Woro Anggraeni Elbert Adinugraha Christianto, Anthony Elvina Ghozali Erva Maulita Eva Ratna Hari Putri Fariz Dewanto Fatia Maharani Fauzi, Aldi Febrian Aditya Putra Fitria Mahdiyyani, Anisah Fitria Purnama Sari Fransiska Indria Widiasari Gatikasari Mujiastuti Geta Ariesta Herdini Gilang Maher Pradana Gusti Purbo Darpitojati Handono Priambodo, Handono Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Sulistyani Hasibuan, Anra Muliasih Sah Bakti Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Himawan, Hilmi Ika Adelia Iswari Ilham Prasetyo Indra Bagus Kurniawan Irfan Zuldi Isabela Laras Anindyo Isti Murfia Jenny Putri Avianti Jonathan Dio Sadewo Joyo NS Gono Joyo Nur Suryanto Gono Kania Azzahra Wibowo Kania Salsabila Putri Rachmadi Karina Puspadiati Kevin Purba Khurrosidah, Sela Kusuma, Ivana Lintang Ratri Rahmiaji Lintang Ratri Rahmiaji Lucia Eka Pravitasari M Bayu Widagdo Maharani Easter Makarim, Nabil Marlia Rahma Diani Marshya Camillia Ariej Martha Caesarin Putri Yulinta Martina Aurelia Carissa Maulana Khalidin . Maulana Ocky Adhicondro Meidiza Firda Mapikawanti Miftakhul Noor Alfiana Mirtsa Zahara Hadi Monica Hayunindya Patria Paramesthi Much Yulianto Much. Yulianto MUCHAMAD MACHBUB LUTFI Muh. Medriansyah Putra Kartika Muhammad Bayu Widagdo Muhammad Reza Mardiansyah Muhammad Syamsul Hidayat Mujahidah Amirotun Nisa Nadhila Prisca Anjani M Nadif Rizqulloh, Muhammad Nadila Opi Prathita Sari Naga Mulia, Wim Naomi Uli Quanti Siahaan Narayani Aberdeen, Avi Nastiti Laksmita Adi Nikolas Prima Ginting NIKOLAUS AGENG PRATHAMA NOVI ADI PUSPITANINGRUM Nur Rahmi, Faurina Nur Suryanto Gono, Joyo Nurist Surayya Ulfa Nuriyatul Lailiyah Nurrist Surayya Ulfa Nurul Athira Yahya Nurul Hasfi Nurul Hikmah Octaviani, Averina Olina Hartani Muliani Gultom Osa Patra Rikastana Pandu Hidayat Paskah M Pakpahan Pratiwi, Silvi Primada Qurrota Ayun Puspita Dea Chantika Qonita Andini, Annisa Qury Aini R. Milwanda Nadika S. Restu Ayu Mumpuni, Restu Ayu Rezeki Amalia, Annisa Ricki Apriliono Rifki Nur Pratiwi Rindiana Kiswari Rizki Fajar Bagaskoro, Sektianto Rizki Kurnia Yuniasti ROBBIANTO ROBBIANTO Rosa Humaira, Almira Rossa Oktaviyani S Rouli Manalu Sabda Nugraha, Detrina Sahfitri, Dwina Salsabila Putri Wasesa, Meidyana Salshabila Putri Persada Sarah Indah Putri Sasaningtawang, Bening Saviera Maharani Doniyar Sefti Diona Sari Sessy Refi Sanina Shafa Amanda, Karina Shafira Inas Nurina Silas Hamenyimana Sony Kusuma Anugerah Sri Budi Lestari Sri Budi Lestari Sri Devi Valentina Simamora Devi Valentina Simamora Sri Nofidiyahwati Sri Widowati Herieningsih Sri Widowati Herieningsih Sunarto Sunarto Suryanto Gono, Joyo Nur Tandiyo Pradekso Tansha Nastiti, Talitha Taufik Suprihartini Taufik Suprihartini . Taufik Suprihatini Taufik Suprihatini Theresia Karo Karo Tiara Astra Parahita Tiara Ayu Raharjo Tri Yoga Adibtya Tama Trinata Anggarwati, Bunga Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro . Viviana Ardine Mutiara K F Wahyu Satria Utama, Wahyu Satria Widya Nur Hidayati Wiwid Noor Rakhmad Wuriani, Wuriani Yanuar Luqman Yenny Puspasari Yenny Puspitasari Yobelta Kristi Ayuningtyas Yoga Yuniadi Yolanda Audrey Yuanita Putri Melati Yuliana Harianja Yusriana, Amida