Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

ASUPAN ZAT GIZI, INFEKSI DAN SANITASI DENGAN STUNTING ANAK USIA TIGA TAHUN DI WILAYAH PEDESAAN Sugeng Wiyono; Titus Priyo Harjatmo; Trina Astuti; Nanang Prayitno; Nils Aria Zulfianto; Tugiman A.S; Ratih Puspaningtyas P; Annas Burhani; Farha Fahira
JURNAL RISET GIZI Vol 8, No 2 (2020): November (2020)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v8i2.6270

Abstract

Background: The impact of stunting children is an enhancement in the incidence of morbidity and mortality, development cognitive, motoric, nonoptimal children verbal, enhancement of health costs, nonoptimal as an adult, enhancement risk of obesity, decreased health of reproduction, low capacity of learning, productivity and also work capacity which is not optimal.Purpose: The objective of this research is to find out overview of nutritional intake, infection and sanitation against stunting children under aged tree years.Method: The research design was cross section with the population of a household that have a children aged 6-35 months. A sample of 368 children aged 6-35 months were taken in a cluster.Results: There was no dependence on stunting with the length of birth (p0.05), and there was no dependance on stunting with the weight of birth (p 0.05). There is no relation between maternal education level with stunting (p 0.05). There is no relation between maternal energy intake with stunting (p 0.05).  There was a significant difference (p = 0.025) on stunting based on giving feed or ekslusif breastmilk.Conclusion: There is a significant relationship between the time of complementary feeding with exclusive breastfeeding and the incidence of stunting children under aged three years.Suggestion: Education is required for prospective mothers or mothers who have babies for giving breastmilk (ASI) until the baby is six months old or exclusively breastfed.
Risiko obesitas pada anak kelas 3, 4, 5 yang tidak sarapan di SDN Kelapa Dua Wetan 03 Pagi Ciracas Jakarta Timur Like Inggrid Samsudin; Titus Priyo Harjatmo; Sugeng Wiyono; Nils Aria Zulfianto
JURNAL NUTRISIA Vol 20 No 2 (2018): Vol 20 No 2 (2018): September 2018
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.113 KB) | DOI: 10.29238/jnutri.v20i2.11

Abstract

Latar Belakang: Jumlah anak sekolah yang melakukan sarapan pagi di Jakarta masih rendah padahal hal tersebut sangat penting untuk menjaga keseimbangan asupan gizi. Sebagai gantinya, anak sekolah membeli jajanan yang kurang sehat atau cenderung makan lebih banyak sehingga membuat risiko obesitas menjadi tinggi di kalangan anak sekolah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kebiasaan sarapan dengan status obesitas anak sekolah dasar pada siswa kelas 3,4,5 SDN Kelapa Dua Wetan 03 Pagi Ciracas Jakarta Timur. Metode: Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan penarikan subjek secara systematic random sampling. Subjek berjumlah 123 siswa dari 196 siswa kelas 3,4,5. Data yang dikumpulkan adalah karakteristik siswa, kebiasaan sarapan, dan status gizi. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa tidak sarapan (51.2%). Berdasarkan hasil uji statistik diketahui adanya hubungan antara kebiasaan sarapan dengan status gizi (p<0.05). Berdasarkan hasil analisis odd ratio dapat disimpulkan bahwa siswa yang tidak sarapan 6.2 kali (95% CI=2.6-14.7) berisiko terjadinya obesitas dibanding anak yang sarapan. Kesimpulan: mayoritas siswa sekolah dasar melewatkan sarapan sebelum berangkat sekolah dan hanya sebagian siswa yang sarapan secara rutin. Anak yang tidak sarapan mempunyai risiko untuk obesitas dibandingkan anak yang sarapan.
Stunting Balita Pada Keluarga Penerima Program Keluarga Harapan di Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah Titus Priyo Harjatmo; F. Widhi Untoro; Maria Poppy Herlianty; Antonius Sri Hartono
Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (619.595 KB) | DOI: 10.22146/bkm.35654

Abstract

Latar belakangStatus gizi bayi dan balita merupakan salah satu indikator gizi masyarakat, dan bahkan    telah  dikembangkan menjadi salah satu indikator kesehatan dan kesejahteraan  masyarakat.  Hal ini karena bayi dan balita merupakan kelompok yang sangat rentan terhadap berbagai faktor yang dapat menyebabkan balita kekurangan gizi. Dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan bahwa sebesar 18,0% balita menderita status gizi sangat pendek dan 19,2% pendek.   Sedangkan berdasarkan indeks BB/U, sebanyak 5,7% balita menderita status gizi sangat kurang dan 13,9% kurang   (Kementerian Kesehatan RI, 2013). Salah satu upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk mengurangi masalah gizi pada bayi dan balita adalah melalui program yang terintegrasi dengan bidang kesehatan yaitu Program Keluarga Harapan (PKH).Tujuan umum mengetahui besaran stunting balita pada keluarga  penerima program keluarga harapan di Kecamatan Baturetno Kabupaten Wonogiri. Sedangkan tujuan khusus adalah  1) Mengidentifikasi karakteristik keluarga penerima program keluarga harapan, 2) Menganalisis stunting balita pada keluarga penerima Program Keluarga Harapan di Kecamatan Baturetno Kabupaten Wonogiri.MetodePenelitian telah dilakukan di Kecamatan Baturetno Kabupaten Wonogiri dan telah dikumpulkan sebanyak 112 balita  dari keluarga peserta Program Keluarga Harapan. Pengambilan sampel balita dilakukan secara purposif.Hasil Hasil analisis menunjukkan bahwa kelompok umur balita peserta PKH menunjukkan bahwa sampel balita yang berusia 0-23 bulan sebanyak 37,5% dan yang berusia di atas 23 bulan sebesar 62,5%. Pekerjaan Orang tua, ditemukan sebanyak 65,2% ibu yang tidak mempunyai pekerjaan atau sebagai ibu rumah tangga sedangkan ayah sebagian besar mempunyaa pekerjaan sebagai sebagai petani. Proporsi balita yang stunting cukup tinggi sebesar 33,0% lebih tinggi dari hasil Pemantauan Status Gizi tahun 2016 sebesar 27,5%. Bila stunting dikaitkan dengan kelompok umur maka masalah stunting terjadi pada semua kelompok umur yaitu sebesar 31,3% pada usia di bawah 23 bulan dan sebesar 34,3%  pada usia 23 bulan ke atas. Dari 33,1% balita pendek, sebanyak 25,0% balita mempunyai berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) normal sehingga berpotensi mengalami kegemukan.  SimpulanHasil analisis menunjukkan bahwa persentase balita yang mempunyai potensi kegemukan cukup tinggi maka dalam pelaksanaan pamantauan berat badan sebaiknya dilakukan pemantauan tinggi badan pada balita peserta PKH.
ASUPAN ZAT GIZI, INFEKSI DAN SANITASI DENGAN STUNTING ANAK USIA TIGA TAHUN DI WILAYAH PEDESAAN Sugeng Wiyono; Titus Priyo Harjatmo; Trina Astuti; Nanang Prayitno; Nils Aria Zulfianto; Tugiman A.S; Ratih Puspaningtyas P; Annas Burhani; Farha Fahira
JURNAL RISET GIZI Vol 8, No 2 (2020): November (2020)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v8i2.6270

Abstract

Background: The impact of stunting children is an enhancement in the incidence of morbidity and mortality, development cognitive, motoric, nonoptimal children verbal, enhancement of health costs, nonoptimal as an adult, enhancement risk of obesity, decreased health of reproduction, low capacity of learning, productivity and also work capacity which is not optimal.Purpose: The objective of this research is to find out overview of nutritional intake, infection and sanitation against stunting children under aged tree years.Method: The research design was cross section with the population of a household that have a children aged 6-35 months. A sample of 368 children aged 6-35 months were taken in a cluster.Results: There was no dependence on stunting with the length of birth (p0.05), and there was no dependance on stunting with the weight of birth (p 0.05). There is no relation between maternal education level with stunting (p 0.05). There is no relation between maternal energy intake with stunting (p 0.05).  There was a significant difference (p = 0.025) on stunting based on giving feed or ekslusif breastmilk.Conclusion: There is a significant relationship between the time of complementary feeding with exclusive breastfeeding and the incidence of stunting children under aged three years.Suggestion: Education is required for prospective mothers or mothers who have babies for giving breastmilk (ASI) until the baby is six months old or exclusively breastfed.
tph Resto Balita Sebagai Lokasi Literasi Gizi Bagi Ibu Balita Dalam Mendukung Desa Sehat Di Kelurahan Karanganyar Kecamatan Neglasari Kota Tangerang Titus Priyo Harjatmo; Pritasari; Nuraini Susilo Rochani; Tugiman A; Rina Efiyanna; Alfiantani Nugroho
AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 06 (2022): AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : CV. Multi Kreasi Media

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stunting is the result of malnutrition in the long term that causes intellectual impairment and linear growth (Waterlow, 1972). In Indonesia, around 37% or nearly 9 million children under five are stunted (Riskesdas 2013) and this is the 5th largest prevalence of stunting in the world. The Nutrition Status Monitoring (PSG) conducted by the Ministry of Health in 2016 found that 27.5% of children under five years (toddlers) and 21.7% of children under two years were stunted. This causes them to get sick easily, have a shorter body posture than toddlers their age, do not have adequate cognitive abilities, so that it is not only detrimental to individuals but also detrimental to long-term socio-economic conditions for Indonesia. Cadres have a fairly important task in the implementation of Posyandu activities. The duties of cadres carried out before Posyandu Opening Day include: 1) Preparing for the implementation of Posyandu activities, 2) Disseminating information about Posyandu opening days through local community meetings or circulars, 3) Dividing tasks between cadres, including registration, weighing, recording, counseling , providing additional food, as well as services that can be carried out by cadres. Given the importance of cadre duties, skilled cadres are needed in carrying out cadre duties, especially in carrying out early detection of stunting children. Therefore, community service activities were carried out with the topic "Toddler Restaurant as a Location for Nutrition Literacy for Mothers of Toddlers in Supporting Healthy Villages in Karanganyar Village, Neglasari District, Tangerang City". Community service activities are carried out by educating children on the following topics: 1. Literacy on weight growth of toddlers to achieve Healthy Toddlers, 2. Literacy of feeding children under five to support Healthy Toddlers, 3. Literacy of balanced nutrition to achieve healthy toddlers. 4. Toddler Family Nutrition Awareness Literacy to support Healthy families, 5. Posyandu system management to support Nutrition services for Toddlers. Assistance activities for Posyandu cadres have been carried out in Karanganyar Village, Neglasari District. The number of cadres involved in the training was 15 cadres