Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Sudut Pandang Feminis Muslim tentang Menutup Aurat M. Nasir
Jurnal Al-Qadau: Peradilan dan Hukum Keluarga Islam Vol 6 No 1 (2019)
Publisher : Jurusan Hukum Acara Peradilan dan Kekeluargaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/al-qadau.v6i1.7529

Abstract

Fikih aurat dalam ranah beragam pendapat ulama dan cendekiawan kontemporer. Fikih aurat akan menghasilkan fikih hijab. Dimana hijab terdiri dari jilbab, khimar, burqah, dir sabigh, milhafat, dan sebagainya.  Melalui istidlal, para ulama fikih (baca: al-fuqaha) telah merumuskan batasan aurat bagi wanita dan pria, baik di luar atau di dalam rumah atau di dalam ibadah semisal shalat, ihram, dan sebagainya. Istidlal  ulama-ulama ini tidak dianggap mewakili ajaran islam. Maka hadirlah para cendekiawan kontemporer dengan metode istiqra< mengorek kembali dalil-dalil yang digunakan oleh para ulama dan menghadirkan pandangan bahwa jilbab itu tidak wajib. Dan dianggap inilah ajaran Islam yang membebaskan. Dalam penelitian ini, penulis akan mengurai 4 tokoh feminis muslim yang dirasa dapat mewakili latarbelakang para penggugat jilbab. Fikih aurat diverse opinions of scholars and contemporary scholars. Jurisprudence Fikih aurat willproduce hijab. Where hijab consists of jilbab, khimar, burqah, dir sabigh, milhafat, and so on. Through istidla<l, the jurists (read: al-fuqaha) has defined the limits within women and men, either outside or inside the home or in worship such as prayer, ihram, and so on. Istidla<l these clerics are not considered to represent the teachings of Islam. When the idea of contemporary scholars with methods istiqra pry back the arguments used by the scholars and presents the view that the veil was not obligatory. And this is the doctrine of Islam is considered liberating.  In this study, the authors will parse 4 Muslim feminist figures were deemed to represent the background of the plaintiffs jilbab.