Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

CHOOSING LIVES: Pandemic Emergency Triage from the Perspective of Maqāshid FUADY ABDULLAH
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 8 No. 2 (2021)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v8i2.5439

Abstract

The spike in Covid-19 cases in Indonesia in mid-2021 has led to scarcity of various resources and resulted in a functional crisis of hospitals in accommodating patients. This condition puts health workers and relevant policy makers in difficult situation and ethical dilemma in triaging patients. In this context, there are at least two competing ethical approaches. The utilitarian approach demands maximum benefit in saving lives, whereas the egalitarian approach emphasizes equal rights and opportunities for treatment. This brings up several problems related to giving priority. The problems also include withdrawal of treatment in favour of other patients. This article normatively tries to discuss the issue from the Maqāshid perspective. This article is qualitative. Literature review of several related recommendations was carried out to explore the basic problems and then putting them in light of the maqāshid theory. This article argues that Maqāshid can be an alternative ethical approach in determining priorities. All considerations need to be read in the light of Maqāshid and its principles with primary focus on scientific and medical considerations. ABSTRAK Lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia pada pertengahan tahun 2021 menyebabkan kelangkaan berbagai sumber daya dan krisis fungsional rumah sakit dalam menampung pasien. Kondisi ini menempatkan tenaga kesehatan & pengambil kebijakan berada dalam situasi sulit dan dilema etik untuk melakukan triase pasien. Dalam konteks ini, ada dua pendekatan etis yang bersaing yaitu utilitarian yang menuntut manfaat maksimal dalam menyelamatkan nyawa dan pendekatan egaliter menekankan persamaan hak dan kesempatan untuk mendapatkan perlakuan. Hal ini memunculkan beberapa permasalahan terkait pemberian prioritas. Artikel ini secara normatif mencoba membahas masalah tersebut dari perspektif Maqāshid. Artikel ini bersifat kualitatif. Tinjauan pustaka terhadap beberapa rekomendasi terkait dilakukan untuk menggali permasalahan mendasar dan kemudian meletakkannya dalam tinjauan teori maqāshid. Artikel ini melihat bahwa Maqāshid dapat menjadi alternatif pendekatan etis dalam menentukan prioritas triase. Seluruh pertimbangan yang ada perlu dibaca berdasar Maqāshid dan prinsip-prinsipnya dengan fokus utama pada pertimbangan ilmiah dan medis.
Independensi Dari Mazhab: Ijtihad dalam Perspektif Al-Shawkānī Fuady Abdullah
Al-Mashlahah: Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial Vol 9, No 02 (2021): Al-Mashlahah: Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/am.v9i02.1675

Abstract

Ijtihad dalam hukum Islam berfungsi menemukan norma hukum dari suatu perkara sebagaimana ditetapkan oleh Allah swt. Klasifikasi tertentu pastinya diperlukan seseorang untuk dapat melakukannya dan banyak dianggap sulit dicapai. Di sisi lain, mapannya doktrin hukum dalam mazhab-mazhab mendorong  taklid sehingga melontarkan wacana tertutupnya pintu ijtihad. Namun begitu, tidak sedikit ulama sepanjang sejarah berargumen kontra bahkan menyatakan diri sebagai seorang mujtahid. Salah satunya adalah al-Shawkānī. Hidup pada periode taklid  dan kejumudan hukum Islam, al-Shawkānī menyatakan dirinya sebagai seorang mujtahid independen (mustaqill). Tulisan ini berusaha menelusuri dan menelisik pendapat dan pemikiran al-Shawkānī terkait dengan konsep ijtihad dan probabilitasnya. Tulisan ini merupakan studi kualitatif dengan bentuk kajian pustaka terhadap karya-karya utama al-Shawkānī sebagai sumber primer.  Tulisan ini menunjukkan bahwa al-Shawkānī memiliki pandangan kritis dan unik terhadap wacana tertutupnya pintu ijtihad. Al-Shawkānī berargumen kelaziman ijtihad dan bahwa tingkatan mujtahid independen dapat dicapai setelah periode konsolidasi mazhab sebagaimana yang dia sematkan pada dirinya sendiri. Bahkan ijtihad dapat dicapai melalui jalan yang independen dari mazhab.