Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ANALISIS PENGARUH KONVERSI HUTAN TERHADAP LARIAN PERMUKAAN DAN DEBIT SUNGAI BULILI, KABUPATEN SIGI Lipu, Sance
MEDIA LITBANG SULTENG Vol 3, No 1 (2010)
Publisher : MEDIA LITBANG SULTENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.53 KB)

Abstract

Tidak dapat dipungkiri bahwa kebutuhan lahan untuk bidang pertanian dan perkebunan semakin mendesak seiring bertambahnya penduduk suatu wilayah dan juga akibat migrasi dari wilayah lain. Konsekuensinya adalah perambahan dan konversi hutan yang tidak dapat dielakkan, termasuk di daerah studi. Konversi hutan berakibat langsung dan tidak langsung pada perilaku hidrologis suatu kawasan atau Daerah Aliran Sungai (DAS) seperti menurunnya kemampuan air hujan terinfiltrasi ke dalam tanah akibat pemadatan tanah secara sistemik yang secara simultan meningkatkan larian permukaan (surface runoff) dan meningkatkan risiko banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mendapatkan besaran dan rasio limpasan langsung dan debit aliran sungai saat banjir dan saat air normal dengan membandingkan sub-DAS yang masih tertutup hutan asli dengan sub-DAS yang sudah beralih fungsi menjadi lahan terbuka dan pertanian/perkebunan. Dari hasil analisis dan simulasi data dapat disimpulkan bahwa konversi hutan berakibat pada meningkatnya volume larian permukaan dan debit aliran di Sungai Bulili sebesar 219.8 mm; dengan membandingkan total limpasan pada tahun 2002 dan 2004 pada bendung 2 (sub-DAS terkonversi) dan bendung 3 (sub-DAS hutan asli), walaupun curah hujan tercatat lebih kecil pada tahun 2002 dibandingkan dengan tahun 2004. Disamping itu, analisis terhadap beberapa kejadian banjir di daerah studi menunjukkan pola hidrograf dengan kenaikan debit yang tajam dan besar (koefisien kepencengan rerata 6.0) dengan waktu tiba banjir menjadi lebih pendek di sub-DAS terkonversi dengan waktu tiba banjir berkisar 25 – 30 menit pada bendung 1 dan berkisar 40 – 55 menit pada bendung 2. Rasio debit antara bendung 2 dan bendung 1 pada tahun 2002 adalah 2.33 meningkat menjadi 4.57 pada tahun 2004 dengan rasio banjir maksimum tercatat tahun 2002 sebesar 1.41 dam meningkat tahun 2004 sebesar 3.13.
KAJIAN LAJU ANGKUTAN SEDIMEN DASAR PADA SUNGAI PONDO – POBOYA Oktavia, Siti Rahmi; Lipu, Sance; Amaliah, Tuty; Mesi, Evan
STABILITA || Jurnal Ilmiah Teknik Sipil Vol 7, No 3 (2019): STABILITA || Jurnal Ilmiah Teknik Sipil
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSungai merupakan sarana yang sangat penting dalam proses pengangkutan sedimen dimana sungai berfungsi untuk mengalirkan material sedimen dari hasil erosi yang nantinya akan diteruskan ke laut. Sungai Pondo - Poboya merupakan salah satu sungai yang berada di Kota Palu yang memiliki panjang mencapai ± 20 km dengan dasar sungai berupa material granuler yang pasti akan mengalami transportasi sedimen secara individu yang disebabkan oleh kecepatan aliran di dalam sungai.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya laju angkutan sedimen dasar pada Sungai Pondo - Poboya. Laju angkutan sedimen dasar pada Sungai Pondo - Poboya dihitung dengan menggunakan Metode Meyer-Peter and Muller berdasarkan pada debit banjir rencana periode ulang 5 tahun, 10 tahun, 25 tahun, 50 tahun dan 100 tahun.Hasil analisis memperlihatkan bahwa nilai laju angkutan sedimen dasar terbesar terjadi pada saat debit banjir periode ulang 100 tahun pada Lokasi 2 yaitu sebesar 1,26544 m3/det dan laju angkutan sedimen dasar terkecil terjadi pada Lokasi 3 yaitu sebesar 0,37895 m3/det. Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa pada Lokasi 3 akan terjadi agradasi pada dasar sungai, hal ini dikarenakan jumlah angkutan sedimen yang masuk ke Lokasi 3 lebih besar dari pada jumlah angkutan sedimen yang keluar. Kata Kunci :   Angkutan sedimen dasar, Metode Meyer-Peter and Muller, Agradasi, Sungai Pondo - Poboya.ABSTRACTRiver is a very important means in the process of transporting sediment, where the river serves to drain the sediment material from the erosion that will be forwarded to the sea. Pondo - Poboya River is one of the rivers in Palu which has a length of ± 20 kilometers. Pondo - Poboya river has a basic granular material that will inevitably occur sediment transport caused by flow velocity in the river.The purpose of this study is to know the amount of bed-load sediment transport on Pondo - Poboya River. Bed-load sediment transport on Pondo - Poboya River was analyzed by using Meyer-Peter and Muller Method at the time of flood discharge period of 5 years, 10 years, 25 years, 50 years and 100 years.The result of the analysis shows that the largest bed-load sediment transport at the time of flood discharge period of 100 years occurred at location 2 of 1,26544 m3/s and the smallest bed-load sediment transport occurred at location 3 of 0,37895 m3/s. It is seen that at Location 3 there will be aggradation on the the river bed, this is because the amount of sediment transport coming into location 3 is greater than the amount of sediment transport out. Keywords  :    Bed-load Sediment Transport, Meyer-Peter and Muller Method,  Aggradation, Pondo - Poboya River.
Apakah Hutan Hujan Tropis Dapat Meredam Dampak Pemanasan Global? (Studi Kasus Keseimbangan Energi dan Air di Sekitar TNLL.) Sance Lipu
Biocelebes Vol. 3 No. 1 (2009)
Publisher : Biology Department, Mathematics and natural science, Tadulako University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Global warming is a hot issue recently. Specially in climate and meteorology researcher. There is no doubt that global warming was effects almost all life around the world. Global warming can defined as the increase in the average temperature of the Earth's near-surface air and oceans caused by greenhouse gases mainly CO2. Two main factors caused global warming are natural effect and anthropogenic factors. The changes in global climate indicated by widely fluctuation of wet season and dry season, and Ozon (O3) reduce in pole area. These effects will follow by ice melt in artic and antartic. Study in Lore Lindu National Park around 2002 until 2005 indicated that tropical rain forest is a an ecosystem that very good function for absorb solar radiation, greenhouse gases and keeping sustainability of soil function as reservoir mineral and water. Forest conversion and illegal logging will increased solar radiation effect, decreased of CO2 and methane absorbed, decreased capacity of evapo-transpiration, and decreased water infiltration through the ground. Key words: tropical rain forest, Global warming effect.