Udjianto Pawitro
Institut Teknologi Nasional

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kontekstualitas Gaya Art Deco Hotel Prama Grand Preanger dan Wisma HSBC Ditinjau dari Fasad Udjianto Pawitro; Anne Rosmeiliana Bunga; Anisa Ulfa Mirananda; Vina Idamatusilmy; Fatya Karimah
REKA KARSA Vol 5, No 3
Publisher : Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekakarsa.v5i3.3609

Abstract

ABSTRAK Art Deco merupakan salah satu gaya arsitektur yang paling berkembang di Kota Bandung. Salah satu bangunan dengan langgam Art Deco di kota Bandung adalah Hotel Prama Grand Preanger yang didisain ulang oleh C. P. Schoemaker. Hotel Preanger berada di kawasan Grote Postweg (Asia Afrika), seiring berkembangnya zaman terdapat bangunan baru pada kawasan tersebut yaitu Wisma HSBC. Kedua bangunan tersebut memiliki jarak yang berdekatan pada lokasi yang sama tetapimemiliki fasad berlainan jika dilihat dengan kasat mata karena dibangun pada zaman yang berbeda. Pengamatan dan analisis ini dibatasi pada ada tidaknya langgam art deco pada kedua fasad tersebut serta selaras atau tidaknya kedua fasad bangunan tersebut.. Memberi perbandingan mengenai kajian teori arsitektur yang telah ada di dalam literatur-literatur dengan pengaplikasian nyata pada desain arsitektur terutama fasad bangunan. Kata kunci: arsitektur Art Deco, kontekstualitas ABSTRACT Art Deco is one of the most developed architectural styles in Bandung. One of the buildings with Art Deco style in Bandung is Hotel Prama Grand Preanger designed by C. P. Schoemaker. Preanger Hotel is located in the Grote Postweg (Asia Afrika) region, as the era of new buildings in the region that is Wisma HSBC. Both buildings have adjacent distances at the same location but have different facades when viewed visually as they were built in different times. These observations and analyzes are limited to the presence or absence of art deco styles on both facades as well as whether or not the two facades of the building are comparable. Provide a comparison of the existing sciences in the literature with real application on the architectural design of the building facade. Keywords: Art Deco architecture, contextuality
PEMBENTUKAN ‘GREEN COMMUNITY’ DALAM PEMELIHARAAN PRASARANA DASAR PERMUKIMAN KOTA (Studi Kasus : RW-14 Babakan Surabaya Kota Bandung) Udjianto Pawitro
Prosiding Semnastek PROSIDING SEMNASTEK 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembentukan ‘green community’ dipandang sebagai upaya peningkatan kesadaran, kepekaan, kepedulian, dan peran serta aktif dari kelompok masyarakat yang berkaitan dengan atribut ‘kota hijau’.  Pembentukan ‘green community’ pada suatu kelompok masyarakat dapat diarahkan dalam upaya pemeliharaan prasarana dasar pendukung permukiman kota.  Prasarana dasar pendukung permukiman kota meliputi : (a) jalan lingkungan, (b) saluran drainase, (c) unit penyediaan air bersih, (d) MCK (=mandi, cuci, kakus), dan (e) unit pembuangan sampah. Dengan pembentukan ‘green community’ ini, diharapkan tingkat pemeliharaan dari prasarana pendukung kawasan kota dapat lebih meningkat. Dalam penelitian ini dibahas tiga sub-topik yaitu: (a) bahasan tentang pembentukan ‘green community’, (b) bahasan tentang pemeliharaan prasarana dasar permukiman kota, dan (c) bahasan tentang studi kasus penelitian.  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis secara topikal dan analisis studi kasus. Sedangkan studi kasus yang diangkat dalam penelitian ini adalah RW-14 Blok Babakan Hantap Selatan -kelurahan Babakan Surabaya kota Bandung. Temuan  penelitian ini adalah : (a) pembentukan ‘green community’ di lokasi dinilai masih baru, (b) adanya peningkatan kesadaran masyarakat akan prasarana dasar permukiman, dan (c)  terjadinya peningkatan pemeliharaan prasarana dasar permukiman kota di lokasi studi kasus.