Komarudin Komarudin
Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Mengungkap Landasan Filosofis Keilmuan Bimbingan Konseling Islam K Komarudin
International Journal Ihya' 'Ulum al-Din Vol 17, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.294 KB) | DOI: 10.21580/ihya.16.2.1653

Abstract

This article examines the philosophical foundations of Islamic counseling guidance. Any scientific discipline produced by ijtihadi process must be historical. Therefore, the scientific status of a science is no longer placed parallel to the sacred doctrine, so it is taken for granted. Similarly, the existence of Islamic counseling guidance should not be placed higher above other counseling theories, or other scientific disciplines of counseling. Counseling process that is part of humanitarian activities, if used as one of the objects of scientific studies, should give birth to a scientific discipline that is historical. The right approach, therefore, appropriate for the study of it, would be more humanistic-transcendental rather than transcendental-theological. Based on the ontological studies, there is no significant ontological difference between Islamic counseling and other counseling disciplines. Both are only distinguished from the aspect of counselor status and spirit of morality that is used as paying counseling activities.---Artikel ini mengkaji tentang landasan filosofis keilmuan bimbingan konseling Islam. Setiap disiplin keilmuan dihasilkan berdasarkan proses ijtihadi pasti bersifat histories. Oleh karena itu, status keilmuan suatu ilmu tidak lagi harus ditempatkan sejajar dengan doktrin suci, sehingga bersifat taken for granted. Begitu pula dengan keberadaan bimbingan konseling Islam, sudah sepantasnya tidak ditempatkan lebih tinggi di atas teori-teori konseling yang lain, atau disiplin-disiplin keilmuan konseling lainnya. Proses konseling yang merupakan bagian dari aktifitas kemanusiaan, bila dijadikan sebagai salah satu obyek kajian keilmuan, seharusnya melahirkan suatu disiplin keilmuan yang bersifat histories. Oleh karena itu, pendekatan yang semestinya tepat untuk kajian mengenai hal itu lebih cocok bersifat humanistic-transendental, ketimbang teologis-transendental. Berdasarkan kajian ontologisnya, antara konseling Islam dengan disiplin konseling lainnya, tidak memiliki perbedaan landasan ontologis yang signifikan. Di antara keduanya hanya dibedakan dari aspek status konselornya dan spirit moralitas yang dijadikan sebagai paying aktifitas konseling.
PENGALAMAN BERSUA TUHAN: PERSPEKTIF WILLIAM JAMES DAN AL-GHAZALI Komarudin Komarudin
Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan Vol 20, No 2 (2012): Spiritualisme Islam
Publisher : LP2M - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ws.20.2.209

Abstract

Experience of meeting God constitutes an interresting phenomenon and become the focus of interrest of many disciplines. Psychology and tasawuf are two disciplines which focusedly study this phenomenon applying different approaches. Ghazali is the representative of the dicsipline of tasawwuf and William James is the representative of the dicsipline of psychology. The both experts applied the different approaches in studying the religious experiences. Epistemological base on which William James used , has the scientific accountability but less accurate in the source of knowledge. In other side, Ghazali has a deep source of knowledge but less of rationality. An effort to compromise the both approach in order to study about the experience of meeting God will result in a comprehensive, deep, and objective depiction.***Pengalaman bersua Tuhan merupakan fenomena yang menarik dan menjadi titik perhatian banyak disiplin ilmu. Psikologi dan tasawuf merupakan dua disiplin ilmu yang memfokuskan kajiannya pada fenomena ini dengan menerapkan pendekatan yang berbeda. Ghazali adalah representasi dari disiplin ilmu tasawuf dan William James adalah representasi disiplin ilmu psikologi. Kedua ahli tersebut menggunakan pendekatan yang berbeda dalam mengkaji pengalaman keagamaan. Basis epistimologi yang digunakan oleh James memiliki akuntabilitas ilmiah namun kurang akurat dalam sumber pengetahuannya. Di sisi lain Ghazali memiliki sumber pengetahuan yang dalam namun kurang dari sisi rasionalitas. Upaya untuk mengkompromikan kedua pendekatan dalam rangka untuk mengkaji pengalaman bersua Tuhan akan menghasilkan penggambaran yang dalam dan obyektif.
FALSIFIKASI KARL POPPER DAN KEMUNGKINAN PENERAPANNYA DALAM KEILMUAN ISLAM Komarudin Komarudin
At-Taqaddum Volume 6, Nomor 2, November 2014
Publisher : Quality Assurance Institute (LPM) State Islamic University Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/at.v6i2.720

Abstract

Salah satu persoalan yang sama-sama dihadapi oleh keilmuan dalam tradisi Barat maupun Islam adalah masalah penentuan batasan kebenaran yang diusung oleh tradisi keilmuan yang dibangun. Metodologi seperti apakah yang digunakan oleh masing-masing tradisi dalam menentukan kebenaran ilmu atau pengetahuan yang dibangun. Persoalan ini dalam tradisi keilmuan Barat telah melahirkan berbagai diskursus sangat intens, sehingga telah memunculkan berbagai teori yang membicarakan batas-batas kebenaran ilmu pengetahuan, yang salah satunya adalah teori falsifikasi yang dikemukakan Karl Raymond Popper. Teori Popper ini menegaskan bahwa kebenaran proposisi suatu ilmu tidak ditentukan melalui uji verifikasi, tetapi upaya penyangkalan atas kebenarannya melalui berbagai percobaan yang sistematis. Semakin besar upaya untuk menyangkal suatu teori, dan jika teori itu ternyata terus mampu bertahan, maka semakin kokoh pula keberadaannya. Prinsip dalam teori falsifikasi Popper ini tampaknya sangat baik jika diterapkan dalam berbagai studi keilmuan di dalam Islam.
PENEMUAN MAKNA HIDUP MELALUI TAZKIYÂT AL-NAFS; SEBUAH AKTUALISASI NILAI-NILAI SUFISTIK DALAM KEHIDUPAN Komarudin Komarudin
At-Taqaddum Volume 3, Nomor 2, November 2011
Publisher : Quality Assurance Institute (LPM) State Islamic University Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/at.v3i2.492

Abstract

The limitation of human ability to make ethical assessments against each other only a behavioral manifestation of outer (not inner), while that could see farther, with a very high accuracy, the behavior of trajectories and the inner self is only Allah. Likewise, none able to ensure his good deeds are accepted by God, but that is just a hope. Therefore, it should be done every human being is always to implement muhasabah al-nafs, the introspection of himself every time. This paper tried to discuss efforts to the discovery of meaning in life through the process tazkiyat al-nafs, the inner actualization muhasabah against human behavior. In Sufi spiritual existence, which is often referred to as al-qalb, is a key determinant of good and bad behavior of human outer side. Therefore, the maintenance of probity and conduct careful management the key to success in living life the human world and the hereafter, to the pleasure of Allah swt. Nafs tazkiyatun process will produce really nice of the life achievements of happiness in this world and the happiness and salvation in the hereafter. This is not another ideals of every Muslim, who always want a happy life in the world and the hereafter, and survived the fire of hell, as prayer is often offered, ""rabbana atina fi al-dunya hasanah wa fi al-akhirah hasanah wa qina 'adzab al-nar".
BIMBINGAN PSIKO–RELIGIOUS BAGI PASIEN RAWAT INAP RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DI JAWA TENGAH (Formulasi Ideal Layanan Bimbingan dan Konseling Islam) Komarudin Komarudin
At-Taqaddum Volume 4, Nomor 1, Juli 2012
Publisher : Quality Assurance Institute (LPM) State Islamic University Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/at.v4i1.728

Abstract

Model guidance and counseling for patients in hospital is still limited to the provision of services doa, religious guidances, edvice to be patients and put their trus to Allah , as well as assistance for patients who have al-death–death bed/dying (sakaratul maut). In fact, on the other hand the condition of patients in need of guidance is very diverse, thus requiring the application of methods, approaches, and models of different services. There for the implementation of guidance and counseling services for patients in hospital need to be formulated in the form of appropriate service based on the needs and sircumstances specified by the patients themselves. There are patients who only need guidance, but there are patients who typically require intensive treatment through the provision of counseling services. That’s why, the model seems to services for patients in theory should be categorized into two models, namely models of counseling services, which cater to regular patients, and the model of counseling services with special needs.This paper aims to describe the implementation of models of Islamic guidance and counseling services for patients in general hospital in central Java, and show that the service ideal formulation should be applied in order to meet/cater/fulfill the patients needs and specification. The ideal formulation of services for patients should be categorized into three models, namely models of guidance services, counseling services model, and model a combination of both. In addition, each service must be accompanied by the good and right recording process and all records documenting the results of administrative services.
RELIGIUSITAS GAY DI PERKUMPULAN KELUARGA BERENCANA INDONESIA KOTA SEMARANG DAN UPAYA DAKWAHNYA DENGAN BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM Choirunnisa’ Choirunnisa’; Komarudin Komarudin
Jurnal Ilmu Dakwah Vol 38, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Dakwah and Communication, Walisongo State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/jid.v38.1.3973

Abstract

Gay is sexual orientation of man and man (man feel love man), generally cann’t be accepted by indonesian people. In the religion, Gay is sinning and evil. They are part of people who have religion, obligation to carry out, to implement any obey his religion. But, the lack of synchronization between being a gay and being a religious make conflict in their self. This journal is trying to research about the religiousity level of a gay which must be handle as a counselor.  Based on The results of research, that first religiousity of gay in PKBI Kota Semarang is varied. There are five of dimension which used to this research, trust and belief dimesion are not good classified, worship and practice of religion dimension are bad classified, appreciation or experience dimension are quite good, and other dimension that intellectual and consequences dimension are good classified. Second, the effort of proselytizing (dakwah) on islamic guidance and counseling are expected to become a new service in PKBI Kota Semarang which change aspects of gay religousity. So, to be good religiousity, gay must leave this sexual orientation and repentance to Allah. In this case, it is same vision of PKBI Kota Semarang that is minimize counting of patients HIV/AIDS which come from gay a community****Gay merupakan orientasi seksual terhadap sesama jenis, yang masih belum dapat diterima oleh masyarakat Indonesia pada umumnya, dan di dalam agama, gay merupakan perbuatan dosa dan tercela sebagaimana pemahaman masyarakat umumnya. Gay juga merupakan sosok yang memiliki agama, dan mempunyai dorongan untuk menjalankan, melaksanakan, dan mentaati ajaran agama yang dianutnya. Namun, ketidaksingkronan antara dirinya sebagai seorang gay dan sebagai sosok beragama yang menimbulkan konflik di dalam dirinya. Jurnal ini mencoba meneliti tentang kondisi religiusitas seorang gay dan bagaimana tindakan yang harus dilakukan oleh seorang konselor dalam membimbing serta memberikan layanan konseling terhadap mereka. Subjek gay yang menjadi obyek penelitian ini yaitu komunitas gay yang ada di PKBI Kota Semarang. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa pertama, religiusitas gay di PKBI Kota Semarang sangat bervariatif. Dari lima dimensi religiusitas yang ada, ditunjukan bahwa dimensi keyakinan atau rasa percaya tergambar kurang baik, begitu juga dengan dimensi peribadatan atau praktik agama tergambar tidak baik, adapun dimensi penghayatan atau pengalaman tergambar cukup baik, begitu juga dimensi dimensi intelektual atau pengetahuan serta dimensi konsekuensi atau etika tergambar baik. Kedua, hasil penelitian juga menunjukan bahwa layanan bimbingan dan konseling Islam diperuntukkan untuk komunitas gay tersebut perlu diorientasikan kepada peningkatan aspek religiusitas gay, melalui religiusitas yang baik seorang gay dapat meminimalisir bahkan meninggalkan orientasi seksual dan kembali kepada fitrah yang diridhai Allah SWT, dengan layanan bimbingan dan konseling Islam tersebut diasumsikan dapat meminimalisir pasien HIV/AIDS dari komunitas gay.
Implementasi Model Konseling Komprehensif Berbasis Pesantren Maryatul Kibtiyah; Nailu Rokhmatika; Komarudin Komarudin; Ayu Faiza Algifahmy; Rosa Maulida Khasanah
Coution : journal of counseling and education Vol 5 No 1 (2024): Coution
Publisher : Universitas Islam Bunga Bangsa Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47453/coution.v5i1.1811

Abstract

Pesantren merupakan lembaga Pendidikan yang memberikan pembelajaran full 24 jam. Pesantren menjadi wadah pembentukan karakter bagi para santri dengan penanaman nilainilai agama yang luhur. Pembelajaran full 24 jam mengharuskan santri mampu membagi waktu dengan baik, namun tak jarang hal ini menjadi salah satu problematika bagi para santri, terutama santri baru dalam proses penyesuaian diri. Aktivitas dan kegiatan yang padat sering menjadikan santi mengalami beberapa problematika yang mengakibatkan santri memilih untuk meninggalkan pesantren. Penyesuaian diri menjadi problematika tertinggi dengan prosentase 43%. Data ini diperoleh melalui need assessment pada 300 santri yang digunakan sebagai sampel. Problematika penyesuaian diri menjadi penting dalam pengentasan masalah pada santri. Salah satunya melalui pemberian bantuan layanan konseling secara komprehensif yang sesuai dengan nilai-nilai dan budaya pesantren. Bantuan layanan konseling bertujuan sebagai penanganan problematika santri berkaitan dengan penyesuaian diri baik pada aspek akademik maupun social. Layanan konseling komprehensif memberikan bantuan secara menyeluruh dengan melibatkan seluruh elemen pondok pesantren seperti kyai, asatid dan astaidzah, orang tua dan teman-teman disekitar tempat tinggal santri dan menggunakan nilainilai budaya pesantren agar santri dapat mengadaptasi secara cepat dan tepat. Konseling secara komprehensif pada santri mengintegrasikan budaya pesantren yang mengamalkan nilai-nilai agama Islam yang diajarkan dipondok pesantren melalui integrasi ayat dan hadis yang disederhanakan dengan kehidupan sehari-hari secara sederhana. Pengintegrasian dilakukan untuk mengentaskan permasalahan yang sering dialami dalam pondok pesantren diantaranya; Bullying, penyesuaian diri, ekonomi dan akademik. Penggunaan layanan konseling komprehensif berbasis budaya pesantren memungkinkan konselor dapat memberikan pelayanan secara menyeluruh pada santri dengan melibatkan seluruh steakholder yang ada di lingkungan pondok pesantren, sehingga mampu membantu santri lebih berkembang secara akademik dan mampu menyelesaikan masalah yang dialami secara mandiri dengan integrasi nilai-nilai budaya pesantren yang adaptif.