Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Gambaran histopatologik lambung tikus wistar (Rattus norvegicus) yang diberi perasan umbi bengkuang (Pachyrhizus erosus (L) Urban) setelah induksi aspirin Mentang, Debora R.; Loho, Lily L.; Lintong, Poppy M.
e-Biomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i1.10869

Abstract

Abstract: Acute gastritis is an acute inflammation of the gastric mucosal and submucosal. This disease is caused by a variety of factors, one of which is the use of non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) such as aspirin. Aspirin is one of the salicylate group that is irritating to the stomach. Yam stimulate the growth of epithelial cells also repair the surface of cells in the gastric mucosal. This research aims to describe histopathologic Wistar rats were given gastric juice yam tubers after induction aspirin. This is an experimental laboratory study conducted in September 2014 until January 2015 with a sample of 20 Wistar rats were divided into 4 groups. A group given no treatment. Group B was given aspirin 150 mg for 10 days. Group C was given aspirin 150 mg for 10 then given yam tuber juice for 3 days. Group D was given aspirin 150 mg for 10 days and then given pellets for 3 days. Results showed that microscopic pictures of stomach of wistar rats in group C were presented with PMN inflammatory cells fewer than rats in group B and D. Conclusion: Aspirin showed signs of acute gastritis and giving yam tuber juice of showed inflammation-inflammatory less than without giving juice of yam tubers.Keywords: bengkoang, aspirin, acute gastritisAbstrak : Gastritis akut adalah inflamasi akut pada mukosa dan submukosa lambung. Penyakit ini biasanya disebabkan karena banyak faktor salah satunya yaitu penggunaan obat non steroid anti inflamasi (NSAID) seperti aspirin. Aspirin merupakan salah satu dari golongan salisilat yang bersifat iritatif terhadap lambung. Bengkuang merangsang pertumbuhan sel-sel epitel juga perbaikan permukaan sel pada mukosa lambung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran histopatologik lambung tikus wistar yang diberi perasan umbi bengkuang setelah induksi aspirin. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorik yang dilakukan pada bulan September 2014 sampai Januari 2015 dengan sampel 20 ekor tikus wistar yang dibagi dalam 4 kelompok perlakuan. Kelompok A tidak diberikan perlakuan. Kelompok B diberikan aspirin 150 mg selama 10 hari. Kelompok C diberikan aspirin 150 mg selama 10 kemudian diberikan perasan umbi bengkuang selama 3 hari. Kelompok D diberikan aspirin 150 mg selama 10 hari kemudian diberikan pelet selama 3 hari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gambaran mikroskopik lambung tikus wistar pada kelompok C terdapat sel-sel radang PMN yang lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok B dan D. Simpulan: Pemberian aspirin menunjukkan tanda-tanda gastritis akut dan pemberian perasan umbi bengkuang menunjukkan radang-radang lebih sedikit dibandingkan tanpa pemberian perasan umbi bengkuang.Kata kunci: bengkuang, aspirin , gastritis akut
Gambaran histopatologik lambung tikus Wistar (Rattus norvegicus) yang diberikan air perasan jeruk nipis (Citrus aurantifolia) Laomo, Suhaidir; Loho, Lily L.; Kairupan, Carla F.
e-Biomedik Vol 4, No 2 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i2.15016

Abstract

Abstract: Lime squash is often used as a herbal remedy for gastritis, even though it is acidic. It contains citric acid and vitamin C which in certain doses can be irritant to the stomach. Nevertheless, lime squash also contains antioxidants such as limonene, flavonoids, and vitamin C, that play certain roles in improving the protection of the stomach and the ability of cell regeneration, and as anti-inflammatory agents. This study aimed to reveal the histopathological features of the gaster of Wistar rats (Rattus norvegicus) treated with lime squash. This was an experimental laboratory study using 15 adult Wistar rats divided into three groups (five rats in each group). Group A (negative control) was given no treatment; group B and C were treated with lime squash 0.5 and 1.56 ml/day, respectively. Lime squash was given in a single dose for seven consecutive days. Rats were terminated on day eight. The results revealed that the gaster of Wistar rats in group A were similar to that of the normal gaster, while group B and C showed no signs of inflammation and the gastric gland cells appeared enlarged and dense. Conclusion: Histopathological features of the gaster of Wistar rats, treated with either low or high dose (three-fold) lime squash, showed no signs of abnormalities such as inflammation, however, there were enlarged glandular cells which might be related to increased gastric mucosal defence.Keywords: lime, gastric histopathological features, inflammatory cells, gastric glands Abstrak: Air perasan jeruk nipis sering digunakan sebagai obat herbal terhadap gastritis, meskipun bersifat asam. Air perasan jeruk nipis mengandung asam sitrat yang pada dosis tertentu menjadi bahan iritan terhadap lambung. Namun demikian, kandungan antioksidan seperti limonene, flavonoid dan vitamin C berperan dalam meningkatkan proteksi lambung dan kemampuan regenerasi sel, serta sebagai anti inflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran histopatologik lambung tikus wistar yang diberikan air perasan jeruk nipis. Jenis penelitian ialah eksperimental menggunakan 15 ekor tikus Wistar yang dibagi dalam tiga kelompok (lima ekor tikus tiap kelompok). Kelompok A (kontrol negatif) tidak diberi perlakuan; kelompok B dan C masing-masing diberi air perasan jeruk nipis 0,5 ml/hari dan 1,56 ml/hari dosis tunggal selama tujuh hari, Semua tikus diterminasi pada hari ke-8. Hasil yang didapatkan pada gambaran histopatologik lambung tikus wistar yaitu: kelompok A sesuai dengan gambaran lambung normal; kelompok B dan C tidak menunjukkan tanda-tanda peradangan namun sel-sel kelenjar lambung tampak membesar dan padat. Simpulan: Gambaran histopatologik lambung tikus wistar yang diberi air perasan jeruk nipis, baik dosis rendah maupun tinggi (tiga kali lipat) tidak menunjukkan tanda-tanda kelainan seperti peradangan, melainkan tampak terjadi pembesaran sel-sel kelenjar lambung yang mungkin berhubungan dengan peningkatan pertahanan mukosa lambung. Kata kunci: jeruk nipis, gambaran histopatologik lambung, sel radang, kelenjar lambung
EFEK PEMBERIAN ANABOLIK ANDROGENIK STEROID INJEKSI DOSIS RENDAH DAN TINGGI TERHADAP GAMBARAN HISTOPATOLOGI HATI DAN OTOT RANGKA TIKUS WISTAR (Rattus Novergicus) Sari, Pamela K.; Lintong, Poppy M.; Loho, Lily L.
eBiomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.3.1.2015.7503

Abstract

Abstract: Androgenic-anabolic steroids (AAS) are synthetic derivatives of the male hormone endogenous testosterone that stimulates anabolic (protein synthesis) and androgenic effects (masculinization). Long-term usage of AAS can result in liver damage. However, physiological concentrations of testosterone can stimulate protein synthesis which lead to an increase in muscle size, body mass, and endurance. This study aimed to determine the histopathology of liver and skeletal muscles of wistar rats that were given low dose and high dose injection of AAS. Subjects were 21 wistar rats divided into 7 groups. Group A was given standard pellets for 56 days (negative control), terminated on days 29,43, and 57. Group B was treated with low-dose AAS injection and standard pellets for 28 days, terminated on day 29. Group C was treated with low-dose AAS injection and standard pellets for 42 days, terminated on day 43. Group D was treated with low-dose AAS injection and standard pellets for 56 days, terminated on day 57. Group E was treated with high-dose AAS injection and standard pellets for 28 days, terminated on day 29. Group F was treated with high-dose AAS injection and standard pellets for 42 days, terminated on day 43. Group G was treated with high-dose AAS injection and standard pellets for 56 days, terminated on day 57. The results showed that the histopathology of liver and muscles in group A was still normal. In group B, the architecture of liver was still normal with a few inflammatory cells around the Kiernan triangle while in muscle the ratio of myofibril diameter was 1.28:1. In group C and group D, there were widening of the hepatic artery, bile duct, and portal vein containing blood fibrin, and inflammatory cells around the Kiernan triangle. The ratio of myofibril diameter was 1.43:1 in group C and 2.14:1 in group D. In group E, F and G, there were micro-vesicular fatty cells in the peripheral part of the liver meanwhile the myofibril diameter ratio of the muscles in group E was 1.43:1, group F 2.1:1, and group G 2.28:1. Conclusion: Administration of AAS injection of low dose and high dose for less than 4 weeks could result in inflammation, dilation of the portal vein, hepatic artery and bile duct meanwhile administration of AAS for over 4 weeks could ressult in focal fatty liver (steatosis). The administration of AAS injection of low dose and high dose for 4,6 and 8 weeks reslutid in enlargement of skeletal muscle (muscle hypertrophy).Keywords: androgenic-anabolic steroids, liver, skeletal muscleAbstrak: Anabolik Androgenik Steroid (AAS) adalah derivat sintetis dari hormon sex testosteron endogen pria, yang merangsang efek anabolik (sintesis protein) dan androgenik (maskulinisasi). Penggunaan AAS jangka panjang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan hati namun secara fisiologi testosteron dapat menstimulasi sintesis protein sehinggaberdampak pada peningkatan ukuran otot, massa tubuh dan ketahanan tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran histopatologi hati dan otot rangka wistar yang diberikan AAS injeksi dosis rendah dan dosis tinggi. Subjek penelitian 21 ekor wistar yang dibagi menjadi 7 kelompok. Kelompok A diberi pelet standar selama 56 hari (kontrol negatif), terminasi pada hari ke-29, 43, dan 57. Kelompok B diberi perlakuan AAS injeksi dosis rendah dan pelet standar selama 28 hari, terminasi hari ke-29. Kelompok C diberi AAS injeksi dosis rendah dan pelet standar selama 42 hari, terminasi hari ke-43. Kelompok D diberi AAS injeksi dosis rendah dan pelet standar selama 56 hari, terminasi hari ke-57. Kelompok E diberi perlakuan AAS injeksi dosis tinggi dan diberi pelet standar selama 28 hari, terminasi hari ke-29. Kelompok F diberi perlakuan AAS injeksi dosis tinggi dan diberi pelet standar selama 42 hari, terminasi hari ke-43. Kelompok G diberi perlakuan AAS injeksi dosis tinggi dan diberi pelet standar selama 56 hari, terminasi hari ke-57. Hasil penelitian menunjukkan pada kelompok A didapatkan gambaran histopatologi hati normal sedangkan pada otot tidak terdapat perubahan. Pada kelompok B didapatkan arsitektur hati masih normal dengan sedikit sel radang disekitar segitiga Kiernan sedangkan pada otot terlihat diameter miofibril ratio 1,28:1. Pada kelompok C dan D terlihat pelebaran arteri hepatika, duktus biliaris, dan vena porta yang berisi fibrin darah, serta sel-sel radang di sekitar segitiga Kiernan. Pada kelompok C diameter miofibril ratio 1,43;1 dan pada kelompok D 2,14:1. Pada kelompok E, F dan G terdapat sel-sel perlemakan mikrovesikuler di perifer sedangkan pada otot diameter miofibril ratio kelompok E 1,43:1, kelompok F 2,1:1, dan kelompok G 2,28:1. Simpulan: Pada pemberian AAS injeksi dosis rendah dan dosis tinggi kurang dari 4 minggu terjadi peradangan hati, pelebaran vena porta, arteri hepatika dan duktus biliaris sedangkan lebih dari 4 minggu terdapat perlemakan (steatosis) fokal hati. Pemberian AAS injeksi dosis rendah dan tinggi dalam waktu 4,6 dan 8 minggu menunjukkan pembesaran otot rangka (hipertrofi otot).Kata kunci: AAS, hati, otot rangka
PENGARUH PEMBERIAN AIR PERASAN JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia) TERHADAP JUMLAH PIGMEN MELANIN KULIT MENCIT (Mus musculus) YANG DIPAPARKAN SINAR MATAHARI Layuck, Anggun R.P.; Lintong, Poppy M.; Loho, Lily L.
eBiomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.3.1.2015.6613

Abstract

Abstract: Over exposure of light can increase skin pigmentation. The aim of this study is to know the effect of lime and light exposure to the amount of melanin in mice’s skin. This is an experimental research and used mices as the subject research, which was randomly divided into 5 mice of control group and 15 mices of treatment group. Group A (K-) were given pellets for 20 days, Group B (K+) were given pellets and light exposure for 1 hour in 20 days, Group C were given pellets, smeared by lime on the back, then exposed to the light for 1 hour in 20 days, Group D were given pellets and exposed to light for 1 hour in 20 days then smeared by lime the next 10 days. The results showed that light exposure increases melanin pigment in group B compared to group A. For group C and group D, the amount of melanin pigment is less than group B. Conclusions: Lime can reduce the amount of melanin pigment in mice’s skin that had been exposed to the light.Keywords: melanin pigment, sunlight, limeAbstrak: Paparan berlebihan terhadap sinar matahari dapat meningkatkan pigmentasi kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian jeruk nipis dan pemaparan sinar matahari terhadap jumlah pigmen melanin kulit mencit. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental dengan subjek penelitian menggunakan mencit yang dibagi atas 5 ekor kontrol dan 15 ekor perlakuan. Kelompok A (K-) diberikan pelet selama 20 hari, Kelompok B (K+) diberikan pelet dan sinar matahari selama 1 jam dalam waktu 20 hari, kelompok C diberikan pelet, diolesi jeruk nipis di bagian punggung, lalu dipaparkan sinar matahari selama 1 jam dalam waktu 20 hari, kelompok D diberikan pelet, dipaparkan sinar matahari selama 1 jam dalam waktu 20 hari lalu diolesi jeruk nipis 10 hari berikutnya. Hasilnya : paparan sinar matahari menunjukkan peningkatan pigmen melanin pada kelompok B (K+) dibandingkan dengan kelompok A (K-). Sedangkan pada kelompok C dan kelompok D menunjukkan jumlah pigmen melanin yang lebih berkurang dibandingkan kelompok B. Simpulan: Pemberian jeruk nipis menurunkan jumlah pigmen melanin kulit mencit yang dipaparkan sinar matahari.Kata kunci : pigmen melanin, sinar matahari, air perasan jeruk nipis
PENGARUH PEMBERIAN UMBI BENGKUANG (Pachyrrhizus erosus l urban) TERHADAP JUMLAH PIGMEN MELANIN KULIT MENCIT (Mus musculus) YANG DIPAPARKAN SINAR MATAHARI I H, Siti Fitrah; Lintong, Poppy M.; Loho, Lily L.
e-Biomedik Vol 3, No 1 (2015): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v3i1.6641

Abstract

Abstract: Exposure to sunlight causes melanocytes activity increased so as to increase the production of melanin pigment. Yam (Pachyrrhizus erosus l urban ) contains vitamin C and starch that are opaque can be used to protect the skin from sun exposure. This study aimed to determine the effect of yam tubers to the amount of melanin pigment of skin of mice exposed to sunlight. The method used in this study is an experimental laboratory to the subject of 20 mice were divided into 4 groups. A group is a negative control, B group mice were given exposure to the sun for 20 days. C group mice jicama juice smeared then exposed to sunlight for 20 days, group D mice exposed to sunlight and then stopped after 20 days followed by administration of yam 10 days. The results of group A has an average number of pigment 7, group B 89.5, group C 36, and group D 7,5. In conclusion exposure to sunlight increases the amount of melanin pigment and giving yam decreases the amount of melanin pigment.Keywords: sunlight, yam, melanin pigmentAbstrak: Paparan sinar matahari menyebabkan aktivitas melanosit meningkat sehingga dapat menambah produksi pigmen melanin. Bengkuang (Pachyrrhizus erosus l urban) mengandung vitamin C dan pati yang bersifat opaque dapat dimanfaatkan untuk melindungi kulit dari paparan sinar matahari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian umbi bengkuang terhadap jumlah pigmen melanin kulit mencit yang dipaparkan sinar matahari. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah experimental laboratorik dengan subjek 20 ekor mencit yang terbagi dalam 4 kelompok. Kelompok A merupakan kontrol negatif, kelompok B mencit diberi paparan sinar matahari selama 20 hari. Kelompok C mencit dioleskan jus bengkuang lalu dipaparkan sinar matahari selama 20 hari, kelompok D mencit dipaparkan sinar matahari lalu dihentikan setelah 20 hari dilanjutkan dengan pemberian bengkuang 10 hari. Hasilnya kelompok A memiliki jumlah pigmen rata-rata 7, kelompok B 89,5, kelompok C 36, dan kelompok D 7,5. Kesimpulannya paparan sinar matahari meningkatkan jumlah pigmen melanin dan pemberian bengkuang menurunkan jumlah pigmen melanin.Kata kunci: sinar matahari, bengkuang, pigmen melanin