Christiany Juditha
Puslitbang Aplikasi Informatika dan Informasi Komunikasi Publik, Balitbang SDM, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

DAMPAK PENGGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI KOMUNIKASI TERHADAP POLA KOMUNIKASI MASYARAKAT DESA (Studi Di Desa Melabun, Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung) Christiany Juditha
Jurnal Penelitian Komunikasi dan Pembangunan Vol 21, No 2 (2020): Jurnal PIKOM (Penelitian Komunikasi dan Pembangunan)
Publisher : Institution: Ministry of Communication and Information Technology of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31346/jpikom.v21i2.2660

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang dampak penggunaan teknologi informasi dan komunikasi terhadap pola komunikasi masyarakat Desa Melabun, Bangka Tengah, Bangka Belitung. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian  menyimpulkan bahwa masyarakat Desa Melabun sebagian besar sudah menggunakan telepon selular, meski kebanyakan jenis 2G. Sebagian kecil belum menggunakan karena tidak terampil. Telepon selular sehari hari hanya digunakan untuk berkomunikasi, dan belum digunakan secara maksimal dengan terhubung internet karena keterbatasan jaringan internet di desa. Sedangkan laptop dan komputer sudah digunakan oleh aparat desa, guru, mahasiswa, serta pemuda karang taruna. Sementara masyarakat umum yang berprofesi sebagai petani dan peternak, belum banyak menggunakannya karena tidak memiliki dan tidak terampil. Penggunaan TIK masyarakat Desa Melabun tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pola berkomunikasi masyarakat setempat. Karena komunikasi yang paling dominan di desa tersebut adalah komunikasi langsung atau tatap muka. Namun komunikasi yang termediasi menjadi penunjang dalam aktifitas masyarakat sehari-hari seperti dalam kelompok-kelompok tani untuk memperoleh informasi seperti media tanam, harga pupuk, dan lain-lain. Komunitas tani di desa ini juga belum ada yang memanfaatkan e-commerce untuk memasarkan hasil produk mereka.
INTERAKSI SIMBOLIK DALAM KOMUNITAS VIRTUAL ANTI HOAKS UNTUK MENGURANGI PENYEBARAN HOAKS Christiany Juditha
Jurnal Penelitian Komunikasi dan Pembangunan Vol 19, No 1 (2018): Jurnal PIKOM (Penelitian Komunikasi dan Pembangunan)
Publisher : Institution: Ministry of Communication and Information Technology of Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (770.662 KB) | DOI: 10.31346/jpikom.v19i1.1401

Abstract

Peredaran berita/informasi hoaks (berita bohong) di media online belakangan ini marak terjadi. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah, swasta serta kelompok anti hoaks, namun penyebaran hoaks tidak pernah berhenti. Penggiat Anti Hoaks menyarankan agar masyarakat ikut terlibat dalam grup-grup diskusi anti hoaks di media sosial, sehingga tidak mudah terpengaruh. Di Facebook terdapat sejumlah fanpage dan grup diskusi anti hoaks, salah satunya adalah Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoaks (FAFHH). Komunitas virtual seperti FAFHH ini dapat berperan sebagai kelompok pengontrol sekaligus penekan peredaran hoaks. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang interaksi simbolik pada komunitas virtual anti hoaks dalam mengurangi penyebaran hoaks. Metode penelitian yang digunakan adalah netnografi. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa dalam grup FAFHH, siapa pun bisa berpartisipasi dengan bertanya dan melakukan klarifikasi terhadap informasi yang diterimanya. Kategori pesan yang saling dibagikan yaitu berita/informasi dengan topik apa saja. Banyak informasi yang tampaknya sudah benar dan bukan hoaks, namun setelah didiskusikan dan ditelusuri dengan berbagai referensi yang dapat dipercaya, ternyata termasuk kategori ‘disinformasi’, yang berarti bahwa penjelasan informasi tersebut kurang tepat. Anggota komunitas FAFHH cenderung memiliki interpretasi yang hampir sama terhadap sebuah pesan, terutama jika menyangkut hoaks, meskipun penelitian ini juga menemukan beberapa perbedaan penafsiran makna antar anggota.
Cybersex Behavior in Millenial Generation Christiany Juditha
Jurnal Pekommas Vol 5, No 1 (2020): April 2020
Publisher : BBPSDMP KOMINFO MAKASSAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30818/jpkm.2020.2050106

Abstract

One of the phenomena in modern society now because of the increasing use of internet is cybersex. The negative effects of cybersex are prostitution, cyber crime, child abuse and pornography. As the most accessed generation of the internet allows millennials to get involved in cybersex activity. The purpose of this study, therefore, is to get an idea of the current millennial-generation cybersex behavior. The research used survey method with quantitative approach. The results concluded that most of the respondents performed offline sexual activity (masturbation, sex, and oral sex) during the last 6 months. It was also revealed that most respondents had sex offline with boyfriends, close friends, strangers without marriage bonds. As for cybersex activity, most respondents do it everyday as much as one to two times a week at home. The purpose of doing cybersex is mostly out of curiosity, as entertainment and recreation. Most respondents in doing cybersex activity by porn sites, the rest to have sex conversations (sex chatting), download pornography and access multimedia/software sex. Other findings say respondents also confessed to having sex conversations with boyfriends, spouses, close friends and new people and meeting face-to-face with someone who previously only met online for sexual purposes.
Online Prostitution: Trends of The Commercial Sex Service Industry in Social Media Christiany Juditha
Jurnal Pekommas Vol 6, No 1 (2021): April 2021
Publisher : BBPSDMP KOMINFO MAKASSAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30818/jpkm.2021.2060106

Abstract

The disclosure of various cases of online prostitution in recent years by the police shows that this industry is becoming a trend in online media. Whereas in Indonesia prostitution remains an illegal business and a crime regulated in the KUHP and the ITE Law. The purpose of this study is to obtain an overview of the trends in the commercial sex services industry on social media. The research method is literature study. The results show that the development of e-commerce in general dominates the world market is directly proportional to the development of the commercial sex service industry in online media. The system of selling sex services has changed from conventional systems to modern markets, namely in information, financial and service transactions. Online prostitution information transactions on social media are very open. It can be seen from the services offered, prices, payment methods, rules for using services to customer testimonials. Payment transactions are also more practical and profitable because the process uses a transfer system to the account of the service provider. Although there are still those that impose direct cash payments at the service execution location. Internet technology makes it possible to run a business, promote, increase the income of actors, and reach a wider market. Prospective users can also order services directly through social media/online booking sites without having to go to localization. This is what makes the online sex service industry never die.
Infodemik di Masa Pandemi: Analisis Peta Hoaks Covid-19 Tahun 2020 Christiany Juditha; Josep J Darmawan
Jurnal Pekommas Vol 6 (2021): Special Issue: The Role of Communication and Information Technology in the struggle ag
Publisher : BBPSDMP KOMINFO MAKASSAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30818/jpkm.2021.2060307

Abstract

Masalah Covid-19 tidak hanya berhubungan dengan penyebaran virus semata, tetapi juga diikuti dengan penyebaran informasi Covid-19 yang semakin masif baik yang akurat maupun tidak. Inilah yang disebut dengan ‘infodemik’. Infodemik memiliki dampak besar bagi masyarakat yang sehari-hari menggunakan media baru untuk mendapatkan informasi yang kredibel. Kini masyarakat menjadi bingung di tengah banjir informasi hoaks. Peta hoaks penting dilakukan, agar masyarakat paham dan semakin kritis membedakan konten, sumber dan saluran hoaks. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran tentang peta infodemik khususnya hoaks Covid-19 tahun 2020. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis isi kuantitatif. Hasil penelitian penyimpulkan bahwa tema kesehatan adalah tema hoaks terbanyak yang beredar dengan tipe konten menyesatkan serta melibatkan masyarakat lokal sebagai aktor utama konten. Bentuk hoaks umumnya gabungan dari teks, gambar/foto dan video. Dan kebanyakan teks hoaks juga dilengkapi lampiran gambar untuk meyakinkan publik. Sementara Facebook adalah media sosial yang paling banyak digunakan dalam distribusi hoaks. Hasil tindak lanjut adalah mayoritas konten sudah dibantah atau diklarifikasi oleh tim pemeriksa fakta dengan menyertakan bukti terpercaya. Hal ini memudahkan masyarakat membedakan konten hoaks atau bukan.
People Behavior Related To The Spread Of Covid-19’s Hoax Christiany Juditha
Jurnal Pekommas Vol 5, No 2 (2020): Oktober 2020
Publisher : BBPSDMP KOMINFO MAKASSAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30818/jpkm.2020.2050201

Abstract

Covid-19 became the biggest non-natural disaster in the world in 2020. It first broke out in Wuhan, China, and then spread to other countries including Indonesia. The public is in uncertainty and receives a lot of information about Covid-19 through various media. This condition is exacerbated by the spread of hoax related to Covid-19 which is difficult to contain. The purpose of this study was to analyses society's behavior related to the spread of the Covid-19 hoax. This research uses a survey method with a quantitative approach. The results of the study concluded that respondents' knowledge about Covid-19 and hoax was very adequate. However, most respondents are hesitant and are in a position that can sometimes distinguish hoax, sometimes not because of the large amount of information obtained every day. The public panic at Covid-19 caused hoax to continue to be spread in the hope that the information could be useful in preventing and treating. While the respondents did not spread Covid's-19 hoax, because they considered the information to be incorrect, not useful, and harmful to the health of others, and they wanted to break the chain of hoax distribution to themselves.
Comparison of SARA Issues Sentiment between Online News Portal and Social Media Towards the 2019 Election Christiany Juditha
Jurnal Pekommas Vol 4, No 1 (2019): April 2019
Publisher : BBPSDMP KOMINFO MAKASSAR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (716.678 KB) | DOI: 10.30818/jpkm.2019.2040107

Abstract

This study aims to analyze the comparison of SARA (racial/religional) issues sentiment between online news portal and social media. The sentiment analysis method has been applied in this study, by using IMM application during the period of 2018. The results concluded that either in online news portal or social media, SARA issues sentiment have been detected positively during January to August 2018. Generally, negative sentiment on social media tend to be higher compared to online news portal. This condition related to the nature of social media that allows its user to express their opinion freely. The highest percentage of negative sentiment on social media found in January 2018, while it happened a month later in the news portal. It shows that in certain conditions, social media could be more responsive regarding social issues compared to online news portal. Delay response in news portal mainly caused by editorial process and hierarchy system on responding an issue. The initial issue usually has brought up by social media, that followed by news portals in formal manner.
Dukungan Sosial Warganet di Twitter terhadap Gaya Komunikasi Pasangan Calon Presiden pada Debat Pemilu 2019 Christiany Juditha
Jurnal Studi Komunikasi dan Media Vol 23, No 1 (2019): Jurnal Studi Komunikasi dan Media
Publisher : BPSDMP Kominfo Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (439.707 KB) | DOI: 10.31445/jskm.2019.1982

Abstract

Salah satu indikator keberhasilan pesta demokrasi adalah partisipasi masyarakat dalam mendukung pasangan calon (paslon) presiden yang akan bertarung, juga dalam setiap tahapan Pemilu termasuk debat yang diadakan oleh Komisi Pemilihan Umum. Debat putaran pertama yang disiarkan langsung melalui televisi sifatnya hanya satu arah sehingga tanggapan/opini masyarakat tidak tersalurkan.  Mereka pun berpindah ke media sosial untuk mengkritisi gaya komunikasi paslon. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran  tentang  dukungan sosial warganet di Twitter terhadap gaya komunikasi paslon presiden pada debat Pemilu 2019 putaran pertama. Penelitian ini menggunakan metode analisis isi dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menyimpulkan Twitter memiliki agenda setting yang dibentuk oleh warganet berdasarkan hasil debat. Hal ini berdampak kuat dalam menetapkan agenda publik, terutama bagi agen politik. Kedua pendukung paslon juga sadar penggunaan slogan dan tagar dalam setiap postingan di linimasa memudahkan untuk penyampaian visi misi paslon menjadi trending topic yang dapat mendulang suara terhadap paslon tertentu. Ada warganet yang berusaha menggambarkan gaya komunikasi kedua paslon dengan netral, namun lebih banyak yang menggambarkan paslon yang tidak mereka dukung dengan kalimat-kalimat yang provokatif, dan juga humoris (menertawakan). Secara umum  dukungan sosial warganet melalui linimasa Twitter untuk masing-masing paslon relatif berimbang. Bahkan kedua kubu terkesan sangat militan dengan pilihan masing-masing dan terlibat secara emosional.
USE OF DIGITAL MEDIA AND POLITICAL PARTICIPATION MILENIAL GENERATION Christiany Juditha; Josep J. Darmawan
Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik Vol 22, No 2 (2018): JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI dan OPINI PUBLIK - Desember 2018
Publisher : BPSDMP Kominfo Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.568 KB) | DOI: 10.33299/jpkop.22.2.1628

Abstract

Fenomena generasi milenial merupakan topik yang banyak dibahas karena dianggap unik. Generasi ini tidak bisa lepas dari teknologi komunikasi dan informasi khususnya internet. Namun sering juga dianggap sebagai generasi yang paling tidak peduli dengan persoalan politik, diantaranya menjadi warga negara yang tidak ikut menggunakan hak pilih mereka dalam Pemilu. Padahal generasi milenial memiliki potensi karena jumlahnya besar serta sebagai penerus pemimpin bangsa sehingga partisipasi politik mereka sangat dibutuhkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan media digital dan partisipasi politik generasi melilenial. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan pendekatan kuantitatif dan kuesioner disebar secara online. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa seratus persen responden merupakan generasi milenial (18-37 tahun) adalah pengguna internet. Telepon selular adalah media yang paling banyak digunakan saat terhubung internet dengan durasi 5-10 jam/hari untuk berkomunikasi dan mencari informasi. Media sosial dan grup obrolan online adalah media digital yang juga paling dominan digunakan. Sementara untuk konten digital yang paling sering diakses adalah film, pesan teks dan video digital. Generasi milenial menganggap bahwa topik politik sebagai topik yang biasa saja. Meski demikian, responden mengakui tetap mengikuti berita-berita politik yang banyak diakses dari media online dan televisi. Partisipasi politik dari generasi milenial juga cenderung rendah. Terutama untuk menjadi anggota atau pendukung aktif partai politik, ikut melakukan unjuk rasa nyata mendukung/menolak kebijakan pemerintah, serta menghubungi pemerintah/politisi/pejabat untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat. Meski demikian mayoritas dari mereka tetap akan memberikan suara dalam Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden Indonesia tahun 2019.
Pornography Issues and Its Distribution in Twitter (Immoral Similar Artist Video Case) Christiany Juditha
Jurnal Penelitian Komunikasi dan Opini Publik Vol 25, No 1 (2021): JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAN OPINI PUBLIK - Juli 2021
Publisher : BPSDMP Kominfo Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33299/jpkop.25.1.3592

Abstract

For two decades, the spread of pornography on the internet has been difficult to contain. The Ministry of Communication and Information has blocked 1,062,558 pornographic content during January-September 2020 which is generally circulating on social media. The case of the spread of immoral videos who look like an artist that went viral has shown the fact that the spread of pornography is at an alarming stage. Therefore, the aim of this research is to get a picture of the spread of pornographic issues (immoral videos similar to artists) on Twitter. This research method uses the Social Media Analysis method with the Brand24 application. The results of the study concluded that this video was first uploaded on Twitter and began to be discussed on November 5, 2020. The highest peak of this issue was discussed the next day with the reach graph which increased sharply. The spread within days was massive and out of control. Even though this video was deleted by the first uploader, it has already been circulated, spread, saved and then shared again through other social media platforms. The spread is even more viral because it is accompanied by a special hashtag in every tweet. The results of data crawling concluded that the sites most active in spreading this issue were Twitter.com, Youtube.com and Tribunnews.com. This video also spreads to other media such as blogs, forums and instant messaging applications, Telegram. The characteristics of social media which are networks and sharing facilities allow the spread of this issue to be more viral and massive in various media.