Panjisakti Basunanda
Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perubahan Morfologi dan Toleransi Tanaman Kentang Terhadap Suhu Tinggi Tri Handayani; Panjisakti Basunanda; Rudi Hari Murti; Eri Sofiari
Jurnal Hortikultura Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v23n4.2013.p318-328

Abstract

Cekaman suhu tinggi terjadi apabila suhu lingkungan melebihi suhu optimum yang diperlukan tanaman. Tanaman kentang mengalami berbagai perubahan morfologi tanaman dan umbi, serta penurunan produksi umbi, sebagai respons terhadap suhu tinggi. Penelitian bertujuan untuk mempelajari perubahan morfologi tanaman dan umbi kentang serta toleransi klon-klon kentang terhadap suhu tinggi, dilaksanakan pada Bulan Juli sampai Oktober 2012 di Lembang, 1.250 m dpl. (suhu rerata 20,4°C) dan Subang, 100 m dpl. (suhu rerata 30°C). Dua puluh klon kentang ditanam dalam rancangan acak kelompok lengkap, tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu tinggi menyebabkan tipe tumbuh tanaman lebih tegak, batang memanjang, ukuran daun mengecil, serta permukaan umbi tidak teratur. Toleransi terhadap cekaman suhu tinggi dapat dilihat dari perbedaan produksi umbi pada kondisi lingkungan normal dengan lingkungan tercekam suhu tinggi. Klon Atlantik M, CIP 395195.7, N.1, dan Ping 06 bersifat toleran terhadap cekaman suhu tinggi berdasarkan kecilnya perubahan produksi akibat suhu tinggi. Produksi umbi per tanaman keempat klon tersebut di Subang berturut-turut 188,28; 137,03; 122,58; dan 121,49 g. Klon-klon tersebut dapat dijadikan sebagai materi dalam perbaikan varietas toleran suhu tinggi maupun dalam perbaikan teknologi budidaya kentang di dataran medium.
Analisis Genetik Generasi F2 Hasil Persilangan Buncis (Phaseolus vulgaris L.) Tipe Merambat dengan Tipe Semak Samuel Nanda Lazuardi; Panjisakti Basunanda
Vegetalika Vol 11, No 2 (2022): In Publish
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.53446

Abstract

Buncis (Phaseolus vulgaris L.) adalah salah satu tanaman legum penting yang ditanam di semua benua dan bernilai ekonomi tinggi. Buncis Kenya adalah kultivar introduksi dari Kenya, Afrika, memiliki tipe tumbuh tegak (bush type), sedangkan buncis lokal diartikan sebagai buncis yang lazim ditanam di Indonesia, memiliki karakter tipe tumbuh merambat (climbing type). Persilangan antara buncis Kenya dan buncis lokal dapat memperluas latar belakang genetik buncis yang ditanam di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan buncis dengan tipe tumbuh tegak dan mengevaluasi keragaman genetik generasi F2 hasil persilangan tanaman buncis lokal Temanggung dan buncis Kenya. Penelitian dilaksanakan di greenhouse, rumah kasa, dan Laboratorium Pemuliaan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada pada bulan November 2018 hingga Juli 2019. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah satu jenis benih buncis lokal Temanggung dan satu jenis buncis Kenya hasil introduksi sebagai tetua, generasi F1 sebagai hasil persilangan kedua tetua, dan generasi F2. Generasi F1 memiliki sifat-sifat kombinasi kedua tetua. Karakter-karakter yang terekspresi pada generasi F1 dan F2 lebih banyak dipengaruhi oleh tetua lokal, sehingga karakter yang terdapat pada tetua Kenya, terutama pada karakter tinggi tanaman dan tipe pertumbuhan belum terlihat pada generasi F2. Nilai heritabilitas arti luas pada karakter kuantitatif tergolong sedang hingga tinggi, namun karakter-karakter tersebut belum dapat dijadikan sebagai acuan di dalam tahap seleksi. Pada karakter kualitatif tipe pertumbuhan, posisi polong, dan warna biji dapat diduga dikendalikan oleh beberapa gen pada dua lokus.