Abdul Majid
Universitas Brawijaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penerapan Honorarium PPAT Sebagai Upaya Untuk Penyetaraan Pelayanan (Studi Kasus Di Kota Malang) Purwaning Rahayu Sisworini; Abdul Majid; Herman Suryokumoro
Jurnal IUS Kajian Hukum dan Keadilan Vol 8, No 3: December 2020 : Jurnal IUS Kajian Hukum dan Keadilan
Publisher : Fakultas Hukum Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/ius.v8i3.769

Abstract

PPAT adalahipejabat umum yangidiberi kewenanganiuntuk membuatiakta-akta otentik mengenaiiperbuatan hukumitertentu mengenai hak atas tanahiatau hak milikiatas satuan rumahisusun. Pada saat menjalankan jabatannya PPAT diperbolehkan menarik honorarium maksimal 1%i(satu persen)idari hargaitransaksi. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan Pasal 32 ayat (1) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 Tentang Peraturan Jabatan Pembuat Akta Tanah  terkait honorarium PPAT sebagai upaya untuk penyetaraan pelayanan dan faktor yang mempengaruhi pelaksanaan honorarium PPAT sebagai upaya untuk penyetaraan pelayanan. Artikel ini termasuk dalam jenis penelitian yuridis sosiologis/empiris/atau non doktrinal dengan pendekatan kualitatif dan lokus penelitian Kota Malang, teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui penelitian lapangan dan penelitian kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pelaksanaan Hukum terkait larangan penarikan uangijasa (honorarium) PPATatermasuk uang jasaa(honorarium) saksi tidak bolehimelebihi 1% (satu persen)idari harga transaksiisangat rendah. Adapun faktor yang mempengaruhi yaitu pengetahuan, pemahamaan, penaatan hukum, pengharapan hukum, budaya hukum dan peningkatan kesadaran hukum.
The Role Of The Legal System And Law Enforcement In Handling Crimes Of Corruption: A Comparative Analysis Of Indonesia, Malaysia, And Thailand Michael Yudhistira Lumban Gaol; Abdul Majid; Fachrizal Afandi
Pena Justisia: Media Komunikasi dan Kajian Hukum Vol. 23 No. 1 (2024): Pena Justisia
Publisher : Faculty of Law, Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/pj.v23i1.5012

Abstract

The  criminal  act  of  corruption  that  is  rampant  in  the  country  is  not  only  detrimental  to  state  finances  but  is  a  violaton  of  the  social  and  economic  rights  of  society  at  large,  corruption  is  no  longer  a  national  problem,  but  has  become  a  transnational  phenomenon  so  that  internatonal  cooperaton  is  essential  in  preventing  and  eradicating  it.  , in  fact,  for  what  has  been  caused  by  the  crimnal  act  of  corrupton,  extraordinary  efforts  are  needed  in  terms  of  prevention  and  eradication  of  crimnal  acts  of  corruption.  One  of  the  efforts  to  prevent  Indonesia  from  falling  due  to  corruption  is  to  confiscate  and  return  assets  resulting  from  corrupton  crimes  based  on  the  laws  and  regulations  in  force in  the  Indonesan  legal  system.  in  Indonesia,  there  is  no  uinfied  institution  that  has  the  right  to  deal  with  corruption.  The  eradication  of  corruption  in  Indonesia  is  carred  out  by  3  state  institutions,  namely  the  Attorney  General's  Office,  the  Police,  and  the  Corrupton  Eradication  Commission  (KPK).  The  eradication  of  corruption in  one  country  will  not  run  optimally  if  it  is  not  supported  by  the  government's  political  will  to  eradicate  corruption,  the  unity  of  state  institutions  that  eradicate  corrupton,  and  the  enforcement  of  existing  corrupton  eradication  regulations.