This Author published in this journals
All Journal Medicina
Sudipta M
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

BILATERAL OTOMYIASIS IN A CHILD WITH CHRONIC SUPPURATIVE OTITIS MEDIA W, Suwandara; M, Sudipta; Setiawan, Eka Putra
Medicina Vol 43 No 2 (2012): Mei 2012
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.415 KB)

Abstract

Myiasis is a disease that is rarely found in humans. The most often areas are the skin, nose, trachea, mouth, eye, ear and paranasal sinuses. Auriclar myiasis also known as otomyiasis is the presence of larval infestation on the human ear. In general, otomyiasis  frequently in children, but can also be found in adult who have mental retardation or cerebral palsy. We reported a case of a boy who has otomyiasis with chronic suppurative otitis media in Sanglah Hospital, Denpasar and has done manage by  evacuation of maggots, ear toilet using NaCl 0.9% and concomitant suction, topical and oral antibiotic.
PAROTIDEKTOMI SUPERFISIAL PADA ADENOMA PLEOMORFIK PAROTIS N, Kertanadi; M, Sudipta; G, Ardika
Medicina Vol 45 No 1 (2014): Januari 2014
Publisher : Medicina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.14 KB)

Abstract

Adenoma pleomorfik parotis adalah tumor jinak pada kelenjar ludah parotis. Hampir semua asimtomatik sehingga terdeteksi secara kebetulan saat dilakukan pemeriksaan rutin atau setelahpenderita mengeluh benjolan di daerah parotis. Adenoma pleomorfik dapat berubah menjadi suatu keganasan bila tidak diobati. Standar pengobatan adenoma pleomorfik adalah eksisi komplit tumormelalui total atau superfisial parotidektomi dengan margin yang adekuat untuk menghindari kekambuhan. Komplikasi operasi dapat berupa kelumpuhan saraf fasialis dan Frey’s syndrome. Kamimelaporkan satu kasus perempuan usia 52 tahun dengan adenoma pleomorfik parotis yang datang dengan keluhan benjolan kecil pada bagian depan telinga kiri sejak 3 bulan sebelumnya. Penanganantelah dilakukan dengan parotidektomi superfisial. Diagnosis adenoma pleomorfik parotis dikonfirmasi dengan pemeriksaan histopatologis. Penderita tidak mengalami komplikasi kelumpuhan saraf fasialisataupun Frey’s syndrome, dan tidak ada kekambuhan setelah operasi. [MEDICINA 2014;45:43-46]