Pantai Tlangoh merupakan pantai yang baru di buka untuk umum pada tahun 2019 yang terletak di Desa Tlangoh diantara Dusun Temmana dan Pakerengan. Sebelum dikelola menjadi Kawasan wisata, Masyarakat sering kali membuang sampah rumah tangga dan seresah pada tepian pantai sehingga terbawa arus. Dampaknya adalah pencemaran laut dan berkurangnya nilai estetika lingkungan. Masyarakat juga memanfaatkan Pantai Tlangoh untuk penambangan pasir putih yang dampaknya dapat menyebabkan abrasi. Program CSR PHE-WMO melakukan pengelolaan lingkungan berbasis SDG’s dengan mengelola pantai. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kajian awal pengelolaan sampah pada Pantai Tlangoh setelah menjadi pariwisata. Metode yang digunakan eksperimen dengan mengetahui timbulan dan komposisi yang dapat di daur ulang. Dari hasil analisis proyeksi timbulan yang terjadi pada tahun 2019 mencapai 1488,32 m3/hari. Sehingga peran objek Wisata Pantai Tlangoh dapat mengurangi kebiasaan masyarakat yang terbiasa membuang sampah di tepi pantai dan melakukan penambangan pasir putih dan dapat mengurangi timbulan sampah yang ada. Komposisi sampah terbanyak yaitu pada saat sabtu dan minggu dengan komposisi terbanyak terdiri dari sampah plastik 30,7 %, sampah makanan 30,32%, dan sampah halaman/seresah 15,2%. Timbulan sampah yang dihasilkan dari masyarakat dan pengunjung 29,24 kg/hari. Dari potensi tersebut apabila pengolahan sampah secara 3R, dapat berpotensi mengolah 8,37 kg/hari. Potensi tersebut terdiri dari sampah makanan 2,89 kg/hari, sampah plastik 4,13 kg/ hari, sampah kertas 0,44 kg/hari, sampah logam 0,57 kg/hari, dan sampah kaca 0,57 kg/hari. Objek Wisata Pantai Tlangoh menambah pendapatan masyarakat di awal pandemik Covid-19 dan timbulan sampah yang berasal dari sebagian masyarakat sekitar.