Ismanto Ismanto
Universitas Islam Indonesia

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Peran Pustakawan Dalam Literasi Informasi Bagi Pemustaka Ismanto Ismanto
Buletin Perpustakaan No. 58 (2017): Buletin Perpustakaan
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dengan derasnya arus informasi di berbagai pusat informasi menjadikan tantangan tersendiri bagai Perpustakaan maupun pustakawan dalam membantu, membimbing, mengarahkan pemustaka agar selalu memanfaatkan sumber-sumber informasi dan fasilitas yang ada di perpustakaan. Salah satu cara adalah literasi informasi, karena dengan cara ini sangat membantu pemustaka dalam menelusur berbagai sumber informasi di perpustakaan yang diperlukan. Hal ini telah dilaksanakan oleh Direktorat Perpustakaan Universitas Islam Indonesia kepada Mahasiswa baru. Setelah mengikuti literasi informasi, pemustaka lebih senang dalam menelusur sumber informasi tanpa bantuan pustakawan dibandingkan bagi pemustaka yang belum mengikuti literasi informasi. Disamping itu juga sangat membantu dan meringankan pustakawan dalam kinerjanya, karena pemustaka sudah familiar dalam mencari dan menelusur sumber informasi di perpustakaan tanpa bantuan pustakawan. Ini merupakan indikator bagi perpustakaan dan pustakawan dalam memberikan kontribusi nyata dan dapat dirasakan secara langsung oleh pemustaka. Peran pustakawan dalam memberikan literasi informasi sangat ditunjukkan oleh pustakawan sebagai tenaga yang professional. Literasi informasi ini dapat dilakukan dengan cara ceramah, konseling, penyebaran buku panduan, pamplet, brosur maupun cara promosi.
Penerapan Sistem Manajemen Mutu SNI ISO 9001: 2008 Di Perpustakaan Perguruan Tinggi Ismanto Ismanto
Buletin Perpustakaan No. 57 (2017): Buletin Perpustakaan
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penerapan Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO 9001:2008 penting bagi sebuah perpustakaan, karena pada era globalisasi dan informasi persaingan semakin meningkat dan ketat sehingga keberadaan organisasi atau lembaga termasuk di dalamnya perpustakaan perguruan tinggi dituntut untuk meningkatkan mutu agar dapat bersaing dengan unit lain dimana perpustakaan itu berada. Apabila pandangan perguruan tinggi sebagai lembaga induknya telah berubah, maka secara manajemen perpustakaan sebagai unsur penunjang juga ikut berbenah dan meningkat kinerjanya. Untuk meningkatkan mutu kinerja perpustakaan perguruan tinggi seluruh komponen yang ada perlu memahami bakuan mutu yang telah ditentukan, termasuk bakuan mutu yang ditentukan oleh SMM ISO 9001: 2008 yakni standar mutu yang memenuhi kualifikasi sertifikasi organisasi tersebut, termasuk di dalamnya perpustakaan. Tujuan diterapkan SMM di perpustakaan adalah untuk mendapatkan sertifikat, sehingga pengakuan publik yang selama ini dirasa kurang baik akan meningkat dan untuk perbaikan secara terus menerus dan berkelanjutan. Disamping itu manfaat penerapan SMM SNI ISO 9001: 2008 untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi kinerja perpustakaan dalam upuya memuaskan pemustaka.
Implementasi Tangung Jawab Moral Profesi Pustakawan Ismanto Ismanto
Buletin Perpustakaan Vol. 1 No. 2 (2018): Buletin Perpustakaan
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanggungjawab moral merupakan salah satu dari ciri  etis profesi seorang pustakawan. Tanggung jawab moral  adalah kemampuan seseorang dalam menjalankan tugasnya serta memberikan tanggapan dari pemustaka berdasarkan prinsip-prinsip  etis. Dari pengertian ini ada dua aspek tanggungjawab moral terhadap profesi pustakawan, yakni menunjukkan diri sebagai seorang yang professional yang bermutu dan berani menjawab persoalan-persoalan yang muncul di dalam menjalankan tugasnya. Aspek pertama yaitu meliputi pengakuan diri sebagai pribadi yang mandiri dan bebas, serta sadar dan tahu apa yang akan dilakukan serta cinta pada pekerjaannya. Aspek kedua, seorang professional berani menanggung resiko dari perbuatannya sebagai seorang profesi pustakawan. Ini berarti bahwa seorang pustakawan menyadari bahwa profesi pustakawan adalah mempunyai sifat mandiri dalam mejalankan tugasnya tidak dipengaruhi oleh jabatan struktural. Dan ia menyadari akan prosedur-prosedur dan memiliki pengetahuan yang memadai dalam menjalankan pekerjaannya. Selain itu seorang pustakawan berani menanggung resiko dari perbuatannya. Singkatnya tanggung jawab moral adalah ciri dari seorang yang professional sebagai yang mengemban profesi misalnya, profesi pustakawan dalam melaksanakan kompetesinya, baik kompetensi  teknis maupun kopentensi etis dalam menjalankan tugasnya.
KEMADIRIAN PROFESIONALISME PUSTAKAWAN Ismanto Ismanto
Buletin Perpustakaan Vol. 2 No. 1 (2019): Buletin Perpustakaan
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pustakawan sebagai profesi hendaklah  memiliki kompetensi sebagimana yang tercantum dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Di dalam undang-undang ini menyebutkan bahwa pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Keberadaan pustakawan  di Indonesia baru diakui secara nasional dengan UU RI No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan. Pustakawan sebagai profesi mempunyai kemandirian dalam melaksanakan tugasnya. Dengan kemandirian inilah pustakawan dapat melaksanakan tugas pengelolaan dan pelayanan kepada pemustaka di perpustakaan. Pelaksanakan tugas pustakawan diantaranya telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan,dan Kepmenpan Nomor 132/KEP/M.PAN/12/2002 tentang Jabatan Pustakawan dan Angka Kreditnya dan juga diatur dalam SKKNI bidang Perpustakaan tahun 2012. Makna kemandirian dalam pelaksanaan tugas memang masih menjadi masalah bagi pustakawan dimana pustakawan itu bernaung, pustakawan Indonesia pada umumnya. Ada tiga konsep tentang makna kemandirian. Pertama, mempunyai kewenangan  tanpa diintervensi pihak lain. Kedua, mengelola dirinya dan mau bekerjasama secara team work. Ketiga, melaksanakan tugas sesuai dengan jenjang jabatan fungsionalnya.
PENGEMBANGAN PROFESI PUSTAKAWAN MENUJU KINERJA PROFESIONAL Ismanto Ismanto
Buletin Perpustakaan Vol. 2 No. 2 (2019): Buletin Perpustakaan
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan teknologi informasi semakin hari semakin tidak terbendung dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan. Dunia perpustakaan sekarang sebagai pengelola informasi dihadapkan dengan problem yang tidak ringan, hal ini akan berpengaruh terhadap kinerja pustakawan. Untuk menghadapi hal ini salah satu cara mengatasinya adalah dengan adanya program pengembangan profesi pustakawan agar lebih meningkatkan kemampuan dan kompentensinya. Cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan profesi pustakawan  adalah dengan mengikuti pelatihan-pelatihan, workshop, seminar tentang kepustakawanan. Selain itu juga dapat  mengikuti pendidikan  formal maupun non formal. Hal ini penting dilaksanakan karena untuk menunjang kinerja  yang lebih berkualitas. Oleh karena itu lembaga atau organisasi dimana pustakawan bekerja untuk mendukung dan memberi peluang kepada pustakawanya agar lebih professional.