This Author published in this journals
All Journal JURNAL LENTERA
Drs. Syarkawi M.Ed
penulis

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

REVITALISASI ADAT ISTIADAT dan PEMBENTUKAN KARAKTER; (Analisis Terhadap Adat Istiadat Dan Pembentukan Karakter Syari’at Di Aceh) M.Ed, Drs. Syarkawi
JURNAL LENTERA Vol 11, No 2 (2011): Vol.11, No.2, Agustus 2011
Publisher : JURNAL LENTERA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Paper ini menjelaskan tentang bagaimana membentuk karakter yang bersyari‟at terhadap masyarakat Aceh dengan merevitalisasi adat istiadat yang berkembang di lingkungannya. Membentuk karakter yang baik memerlukan pembiasaan (ta‟wied) dari nilai-nilai budaya dan agama yang diyakini. Nir karakter yang dihadapi sebahagian masyarakat Indonesia disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya gagalnya lembaga pendidikan membentuk karakter peserta didik. Merevitalisasi adat istiadat merupakan salah satu model untuk membentuk karakter masyarakat (Sosial Character Building) yang bersyari‟at sebagaimana yang diterapkan di Aceh.Kata Kunci : Revitalisasi, Karakter, Adat Istiadat
PEPERANGAN ANTARA ROMAWI DAN PERSIA (Analisis Pendidikan ‘Aqidah pada Surat Ar – Rum, Ayat 1 – 7) M.Ed, Drs. Syarkawi
JURNAL LENTERA Vol.11 No.3 Nopember 2011
Publisher : JURNAL LENTERA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peperangan ibarat suatu pertandingan, ada yang menang dan ada yang kalah. Peperangan yang pernah terjadi antara dua bangsa yang besar antara Romawi dan Persia. Keudanya pernah menang dan pernah kalah. Peperangan ini sangat menjakjubkan dan berlangsung lumayan lama. Akan tetapi kemenangan masing-masing pihak terjadi dan bertahan dalam waktu yang relative singkat. Hal yang menakjubkan adalah kekalahan bangsa Romawi diabadikan oleh Allah SWT dalam Al Quran, Surat Ar – Rum, ayat 1 – 7. Peristiwa sejarah perang tersebut sangat menarik untuk dikaji, karena ternyata bukan kekuatan dan kecanggihan senjata dan kehebatan taktik perang serta besarnya kekuasaan yang membuat suatu bangsa akan menang. Atau sebaliknya, bukan karena lemah strategi perang dan bala tentara yang kurang menguasai siasat perang atau ketidakcanggihan senjata yang mereka gunakan. Akan tetapi semuanya tergantung pada pertolongan dan izin Allah SWT semata. Itulah kekuatan dan keperkasaan Allah, kedua bangsa besar itu bisa di kalahkan oleh Islam sebagai Dienul Haq yang didasari pada Aqidah dan keyakinan yang sebenarnya. Kekuatan Aqidah dan keimanan yang teguh dan mantap para mukmin dengan izin Allah terbukti bisa meraih kemenangan besar, abadi dan hakiki. Kata kunci: Peperangan, Bangsa Romawi, Bangsa Persia, ’Aqidah, Ahlul Kitab, Peradaban, Kemenangan, Kekalahan dan kegemilangan
IMPLEMENTASI MUSYAWARAH MENURUT NOMOKRASI ISLAM M.Ed, Drs. Syarkawi
JURNAL LENTERA Vol 12, No 1 (2012): Vol.12, No.1, Maret 2012
Publisher : JURNAL LENTERA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia mempunyai tanggung jawab bersama untuk menciptakan kehidupan yang haromonis, aman dan damai. Justru itu, setiap elemen masyarakat berkewajiban melaksanakan peran sosial dengan bidang dan kapasitas yang dimiliki. Kontribusi sosial yang ditekankan oleh Islam adalah kebaikan dan tidak melakukan kerusakan. Peran manusia yang terkandung dalam konsep Khalifah, memberikan kerangka yang oleh cendikiawan belakangan ini mengembangkan teori politik tertentu yang dapat dianggap “demokratis”. Di dalamnya tercakup kemampuan kedaulatan rakyat, penekanan pada kesamaan derajat manusia dan kewajiban kemampuan kedaulatan rakyat, penekanan pada kesamaan derajat manusia dan kewajiban rakyat sebagai pengemban pemerintah. Sementara demokrasi Islam dianggap konsep yang lama berakar umbi, yaitu persetujuan (Ijma’), penilaian interpretative (Ijtihad) dan musyawarah (Syura). Musyawarah dipandang sangat esensial karena ia merupakan konsekwensi politik kekhalifahan umat manusia (Diknas: 2003, hal : 85). Hal ini jelas ditegaskan dalam Al-Qur’an, Surat Ali Imran ayat 159 dan surat Al-Syura ayat 58 yang substansinya perintah (Amar) kepada para pemimpin dalam kedudukan apapun untuk mnyelesaikan berbagai urusan mereka yang dipimpinya dengan cara bermusyawarah, supaya tidak terjadi kesewenang-wenangan seorang pemimpin terhadap orang-orang yang dipimpinnya. Musyawarah menjadi suatu kaedah (norm) yang merupakan mekanisme pengendalian sosial (Mechanisme of Social Control) yang dilakukan untuk melaksanakan proses yang direncanakan atau tidak direncakan untuk mendidik, mengajak atau bahkan memaksa individu atau masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan kaedah-kaedah atau nilai-nilai kehidupan. Melihat eksistensi musyawarah itu sendiri, maka perlu direalisasikan dalam berbagai institusi/organisasi, maka norma/kaedah ini mutlak kita perlukan, selain untuk mengembalikan khazanah sunnah Rasulullah sekaligus menolak demokrasi alat barat yang belum tentu sesuai dengan kondisi Aceh saat ini. Kata Kunci: Musyawarah, Nomokrasi Islam, Demokrasi