Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KERAGAAN TANAMAN BAWANG MERAH (ALLIUM ASCALONICUM L.) PADA BERBAGAI DOSIS PUPUK KCL DI LAHAN RAWA LEBAK Muhammad Yasin; Lelya Pramudyani; Aidi Noor; Retna Qomariah
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 22, No 3 (2019): November 2019
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v22n3.2019.p291-300

Abstract

       Performances of Shallot Plant (Allium Ascalonicum L.) In Various Dosage of KCl Fertilizer In Swampy Land. Swampy land utilization for vegetable crops is a strategic choice for developing agriculture because swampy land has great potential and prospect as a national food source to offset the shrinking of productive land on the island of Java which is converted to the development of non-agricultural sectors. However, the utilization of swampy land requires proper cultivation techniques such as site-specific fertilization including the application of potassium that is an essential nutrient for shallots. Adequate application of potassium fertilizer in plants known can improve crop resistance to pests, increase yields (seeds or tubers), and also improve tuber quality. The aims of this study was to get the dose of KCL fertilizer which provided the highest weight of shallot tubers. The study was conducted in June 2016 - November 2016 in Hulu Sungai Tengah District, South Kalimantan with the type of swampy land, using the Biru Lancor variety and Randomized Block Design with 8 replications. Parameters observed were the percentage of grew plants, wet weight per tuber, number of tubers, diameter of tubers and production. The results showed the use of KCL fertilizer at a dose of 300 kg ha-1 produced the highest yields and dry weight of shallots.    Pemanfaatan lahan rawa lebak untuk tanaman sayuran merupakan pilihan yang strategis karena lahan rawa lebak mempunyai potensi dan prospek besar sebagai sumber pangan nasional untuk mengimbangi penciutan lahan produktif di pulau Jawa yang dialihfungsikan untuk pembangunan sektor non pertanian. Namun pemanfaatan lahan rawa lebak memerlukan teknik budidaya yang tepat seperti pemupukan spesifik lokasi termasuk pemberian kalium yang merupakan hara penting bagi bawang merah. Pemberian pupuk kalium yang cukup pada tanaman telah diketahui dapat meningkatkan ketahanan tanaman terhadap hama penyakit, hasil panen (biji atau umbi), dan juga memperbaiki kualitas umbi.  Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis pupuk KCL yang memberikan bobot umbi bawang merah paling tinggi. Penelitian  dilaksanakan pada bulan Juni 2016 – Nopember 2016 di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan dengan tipe lahan rawa lebak, menggunakan varietas Biru Lancor  dan Rancangan Acak Kelompok dengan ulangan 8 kali. Parameter yang diamati meliputi persentase tanaman yang tumbuh, bobot basah per umbi, jumlah umbi, diameter umbi, dan produksi. Hasil menunjukkan penggunaan pupuk KCL dengan dosis 300 kg ha-1 di menghasilkan produksi dan bobot kering bawang merah paling tinggi. 
STANDARDISASI KOMODITAS CABAI RAWIT BERSARI BEBAS DI LAHAN RAWA LEBAK (STUDI KASUS DI KALIMANTAN SELATAN) Lelya Pramudyani; Ahmad Subhan; Sholih Nugroho Hadi; Aulia Dina Pramesti
JURNAL STANDARDISASI Vol 27 No 1 (2025): Volume 27, No.1, Tahun 2025
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.271.1052

Abstract

  Budidaya cabai rawit di lahan rawa lebak mempunyai potensi yang signifikan dalam upaya peningkatan produksi cabai nasional. Permasalahan yang terjadi adalah kesenjangan produksi dan produktivitas (antara) cabai rawit di lahan rawa lebak dengan di lahan kering. Dalam upaya mengatasi kesenjangan ini diperlukan standar budidaya cabai rawit di lahan rawa lebak dan identifikasi kebutuhan standar. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengetahui komponen yang paling dibutuhkan dalam upaya standardisasi budidaya cabai rawit di lahan rawa lebak. Komponen yang paling dibutuhkan ini selanjutkan akan diusulkan pada komisi teknis 65-15 (Hortikultura). Selanjutnya, apabila telah disetujui dan terbentuk SNI maka standar ini akan menjadi pedoman dan memudahkan bagi pelaku usahatani dalam memproduksi cabai rawit di lahan rawa lebak. Metode kegiatan ini adalah metode kualitatif terdiri atas wawancara untuk pengisian kuisioner, Focus Group Discussion (FGD), pembuatan petak koreksi serta analisis menggunakan diagram fishbone dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis dan mengidentifikasi akar penyebab yang menjadi sebab. Metode sampling yang digunakan adalah “purposive sampling”.   Pengisian kuisioner dilalukan terhdap seratus orang responden dengan kriteria yang ditetapkan, bertujuan untuk mengetahui kemampuan petani dalam melakukan budidaya cabai rawit di lahan rawa lebak dan permasalahan yang dialami. Focus Group Discussion (FGD) dilaksanakan untuk mempertajam dan mengerucutkan kebutuhan standar instrument cabai rawit di lahan rawa lebak. Pembuatan petak koreksi bertujuan memvalidasi data yang diperoleh. Analisis Urgency, Seriousness, Growth (Usg)Usg dilakukan untuk memperkuat kesimpulan yang akan diambil. Pada analisis ini, masing-masing pedoman dinilai berdasarkan tingkat risiko dan dampaknya. Hasil dari kegiatan ini adalah diketahuinya  komponen yang paling diperlukan dalam proses standardisasi budidaya cabai rawit di lahan rawa lebak yaitu produksi benih.