Budidaya cabai rawit di lahan rawa lebak mempunyai potensi yang signifikan dalam upaya peningkatan produksi cabai nasional. Permasalahan yang terjadi adalah kesenjangan produksi dan produktivitas (antara) cabai rawit di lahan rawa lebak dengan di lahan kering. Dalam upaya mengatasi kesenjangan ini diperlukan standar budidaya cabai rawit di lahan rawa lebak dan identifikasi kebutuhan standar. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengetahui komponen yang paling dibutuhkan dalam upaya standardisasi budidaya cabai rawit di lahan rawa lebak. Komponen yang paling dibutuhkan ini selanjutkan akan diusulkan pada komisi teknis 65-15 (Hortikultura). Selanjutnya, apabila telah disetujui dan terbentuk SNI maka standar ini akan menjadi pedoman dan memudahkan bagi pelaku usahatani dalam memproduksi cabai rawit di lahan rawa lebak. Metode kegiatan ini adalah metode kualitatif terdiri atas wawancara untuk pengisian kuisioner, Focus Group Discussion (FGD), pembuatan petak koreksi serta analisis menggunakan diagram fishbone dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis dan mengidentifikasi akar penyebab yang menjadi sebab. Metode sampling yang digunakan adalah “purposive sampling”. Pengisian kuisioner dilalukan terhdap seratus orang responden dengan kriteria yang ditetapkan, bertujuan untuk mengetahui kemampuan petani dalam melakukan budidaya cabai rawit di lahan rawa lebak dan permasalahan yang dialami. Focus Group Discussion (FGD) dilaksanakan untuk mempertajam dan mengerucutkan kebutuhan standar instrument cabai rawit di lahan rawa lebak. Pembuatan petak koreksi bertujuan memvalidasi data yang diperoleh. Analisis Urgency, Seriousness, Growth (Usg)Usg dilakukan untuk memperkuat kesimpulan yang akan diambil. Pada analisis ini, masing-masing pedoman dinilai berdasarkan tingkat risiko dan dampaknya. Hasil dari kegiatan ini adalah diketahuinya komponen yang paling diperlukan dalam proses standardisasi budidaya cabai rawit di lahan rawa lebak yaitu produksi benih.
Copyrights © 2025