Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PERKUATAN LENTUR PELAT BENTANG 5 METER DENGAN PENAMBAHAN PLAT BAJA MENGGUNAKAN PEREKAT EPOXY Soelarso .
Jurnal Fondasi Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : JURUSAN TEKNIK SIPIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (525.224 KB) | DOI: 10.36055/jft.v2i1.1993

Abstract

Apabila struktur tidak mampu menahan beban tetapi struktur tetap ingin dipertahankan, maka salah satu penyelesiannya adalah dengan perkuatan pada struktur tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kapasitas lentur, kekakuan, daktilitas dan pola retak plat jembatan dengan penambahan plat bajamenggunakan perekat epoxy. Pada penelitian ini dibuat benda uji sebanyak 4 buah pelat yang terdiri dari 2 buah pelat kontrol, 1 buah pelat perkuatan 60% dan 1 buah pelat perkuatan 120%. Benda uji berupa pelat dengan dimensi 1800 mm x 1000 mm x 100 mm dengan tulangan tarik berdiameter 10 mm sebanyak 13 buah dan tulangan tekan berdiameter 10 mm sebanyak 7 buah. Benda uji ditempatkan pada loading frame dengan tumpuan sendi rol pada kedua ujungnya dan dibebani dengan beban roda terpusat ditengah bentang. Pembebanan dilakukanbertahap dengan hydraulic jack hingga mencapai runtuh. Analisis numerik menggunakan program analisis non-linier ATENA V2.1.9 dilakukan dalam penelitian ini untuk membandingkan hasil dari eksperimen. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kuat tekan silinder beton rata-rata (f’) = 43,290 MPa, tegangan leleh rata-rata (fy) tulangan D10 = 299,729 MPa, tegangan leleh rata-rata (fy) plat perkuatan = 500,482 MPa. Hasil pengujian kuat lentur benda uji PK1, PK2, PP60% dan PP120% berturut-turut adalah 97000 N, 94000 N, 159000 N dan 173000 N. Hal ini berarti pelat mengalami persentase peningkatan kuat lentur sebesar 66,492% dan 81,151% secara berturut-turut untuk PP60% dan PP120% terhadap PK. Kenaikan kekakuan lentur juga terjadi sebesar 37,055% untuk PP60% dan 81,480% untuk PP120% terhadap pelat kontrol (PK). Daktilitas pelat PP60% dan PP120% turun berturut-turut sebesar 8,591% dan 15,455% terhadap pelat kontrol
PEMANFAATAN LIMBAH BOTTOM ASH SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN PAVING BLOCK Zulmahdi Darwis; Soelarso .
Jurnal Fondasi Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : JURUSAN TEKNIK SIPIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (659.589 KB) | DOI: 10.36055/jft.v2i1.1994

Abstract

Konstruksi perkerasan dengan paving block merupakan konstruksi ramah lingkungan, karena memiliki kemampuan untuk ditembus air hujan, sehingga tidak banyak mengganggu konservasi air tanah. Pengembangan kawasan-kawasan hunian lebih lanjut akan memacu meningkatnya kebutuhan bahanbangunan. Limbah padat industri khususnya limbah padat hasil pembakaran batu bara pada boiler yang dihasilkan PT. Styrindo Mono Indonesia seperti bottom ash yang dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, perlu dimanfaatkan agar mengatasi pencemaran tersebut, dengan digunakan sebagai bahan baku pembuatan paving block. Bottom ash pada penelitian ini sebagai bahan baku paving block, menggunakan perbandingan 1:4 dengan kondisi bottom ash terlebih dahulu dicuci dan dikeringkan dalam oven selama ±24jam. Bottom ash dicuci dan dikeringkan oleh cahaya matahari, lalu bottom ash dalam kondisi alami. Dengan komposisi bottom ash sebagai pengganti pasir, abu batu, screening, dan pengganti semua agregat. Jumlah benda uji sebanyak 180 buah paving block untuk pengujian kuat tekan dan 15 buah untuk pengujianpenyerapan air dan pengujian densitas. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa bottom ash sebagai bahan baku dapat meningkatkan kuat tekan pada perbandingan 1:4, baik bottom ash dengan kondisi dicuci lalu dikeringkan dalam oven selama ± 24 jam, dicuci lalu dikeringkan oleh cahaya matahari maupun bottom ash alami tanpa dicuci dan dikeringkan, masuk dalam mutu B (SNI 03-0691-1996). Hasil kuat tekan paving block tertinggi didapat pada komposisi C2 yaitu 1BA:2AB:1SC dengan kondisi bottom ash alami,sebesar 28.75 Mpa pada umur 56 hari. Hasil pengujian penyerapaan air menunjukan bahwa penggunaan bottom ash pada komposisi A4 yaitu 1AH:2AB:1BA dan komposisi C2 yaitu 1BA:2AB:1SC, menghasilkanlebih baik dengan mutu B (SNI 03-0691-1996) yaitu sebesar 5.6 % untuk komposisi A4 dan 4.8 % untuk komposisi C2
POLA RETAK PADA STRUKTUR PELAT JEMBATAN BETON BERTULANG Soelarso .
Jurnal Fondasi Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : JURUSAN TEKNIK SIPIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.372 KB) | DOI: 10.36055/jft.v1i1.2007

Abstract

Pelat merupakan struktur yang menahan beban lentur dan diteruskan ke balok, sehingga pelat merupakan struktur yang menerima beban awal sebelum ke balok. Struktur pelat yang tipis harus cukup kaku menerima beban sehingga tidak terjadi kegagalan seperti hal nya retak.Penelitian ini berisikan pola retak yang terjadi pada pelat beton bertulang dimana dibandingkan hasil dari eksperimen dan penyelesaian secara numerik. Hasil dari perbandingan tersebut menunjukan retak yang terjadi pada pelat merupakan retak lentur dengan lebar retak awal 0,05 mm dan terjadi pada beban 16 KN
PERENCANAAN BETON MUTU TINGGI DENGAN MENGGUNAKAN HR-WATER REDUCER LIGNO P 100 DAN PORTLAND COMPOSITE CEMENT (PCC) Zulmahdi Darwis; Soelarso .; Muhammad Isa Ismail
Jurnal Fondasi Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : JURUSAN TEKNIK SIPIL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.326 KB) | DOI: 10.36055/jft.v3i1.1719

Abstract

Perkembangkan berbagai jenis bahantambah atau admixtures dan additives untuk campuran beton, terutama water reducer atau plasticizer dan superplastisizer, telah terjadi kemajuan yang sangat pesat pada teknologi beton, dengan berhasil memproduksi beton mutu tinggi bahkan sangat tinggi, dan yang pada akhirnya juga telah memperbaiki dan meningkatkan hampir semua kinerja beton menjadi suatu material modern yang berkinerja tinggi.Penelitian ini merencanakan beton mutu tinggi dengan menggunakan admixture HR-WR Ligno P 100 dan Portland Composite Cement (PCC) dengan variasi dosis 0,8%, 1,2%, 1,6% dan 2%. Jumlah benda uji sebanyak 48 buah, dengan variasi umur beton 3 hari, 7 hari, 14 hari dan 28 hari.Hasil penelitian ini menyatakan penambahan zat aditif ini dapat mempengaruhi kemudahan pengerjaan beton dikarenakan memiliki sifat kecairan (fluidity) yang tinggi sehingga mampu mengalir dan mengisi ruang-ruang atau hanya sedikit sekali memerlukan getaran untuk memadatkannya dan dapat mengurangi waktu proses pemadatan. Nilai hasil rata-rata kuat tekan pada umur 28 hari untuk beton yang menggunakan dosis 0,8% sebesar 37,25 MPa, dosis 1,2% sebesar 36,52 MPa, dosis 1,6% sebesar 35,42 MPa, dan dosis 2% sebesar 40,31 MPa. Penggunaan HR-WRLingo P 100 dapat mengurangi penggunaan air pada dosis 0.8% sebesar 2.42%, pada penggunaan dosis 1.2% sebesar 3.64%, pada penggunaan dosis 1.6% sebesar 4.85% dan pada penggunaan dosis 2% sebesar 6.06%