Nur Aini Shofiya Asy'ari
Universitas Darussalam Gontor

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : ETTISAL Journal of Communication

The Convergence Continum of Radio Songgolangit Sulthan Helmizain Herdiaz pramana; Nur Aini Shofiya Asy'ari; Aditya Fahmi Nurwahid
ETTISAL : Journal of Communication Vol 6, No 2 (2021): ETTISAL : Journal of Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor collaboration with ISKI (Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/ejoc.v6i2.7077

Abstract

AbstrakTren menggunakan internet di Indonesia meningkat karena berbagai keunggulan yang dimilikinya. Oleh karena itu, Radio Songgolangit menggunakan media internet untuk menyebarkan informasinya. Dengan menggunakan berbagai platform seperti Facebook, Instagram, radio streaming dan website. Kegiatan menggabungkan antara media lama dan media baru ini dinamakan konvergensi media. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi konvergensi media Radio Songgolangit. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teori dari Dailey, Demo dan Spillman yaitu  teori tahapan konvergensi media model kontinum, yaitu pada teori ini tahapan konvergensi mempunyai lima tahapan, yang pertama Cross Promotion, kedua Cloning, ketiga Coopetition keempat Conten Sharing dan yang kelima Full Convergence. Dengan menggunakan metode kualitatif peneliti mengumpulkan data dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari lima tahapan konvergensi media model kontinum, Radio Songgolangit masih menjalankan tahapan Cross Promotion, dan Cloning. Pada tahapan cross promotion dilaksanakan dengan antar media saling memperkenalkan satu sama lain, seperti penyebutan, penyantuman nama, logo dan link. Pada tahapan cloning dilakukan dengan media siaran memperbanyak konten dari media sosial, dan media sosial memperbanyak konten dari portal berita lain. Sementara pada tahapan Coopetition, Content Sharing dan Full Convergence, belum sepenuhnya terlihat dilaksanakan oleh Radio Songgolangit, dikarenakan Radio Songgolangit masih mempunyai kekurangan dalam pelaksanaan konvergensi medianya, seperti kurangnya SDM dan pemberdayaannya sebagai roda penggerak konvergensi media Radio Songgolangit, dengan begitu Radio Songgolangit masih belum menjalankan lima tahapan konvergensi media model kontinum. AbstractThe trend of using the internet in Indonesia is increasing because of the various advantages it has. Therefore, Radio Songgolangit uses internet media to disseminate its information by using various platforms such as Facebook, Instagram, radio streaming and websites. This activity of combining old and new media is called media convergence. This study aims to determine how the implementation of the convergence of Radio Songgolangit media. In this study, the researcher uses the theory from Dailey, Demo and Spillman namely the the continuum model of media convergence theory. In this theory, the convergence has five stages, Cross Promotion, Cloning, Coopetition, Content Sharing, and the last is Full Convergence. By using qualitative methods researchers has collected data by observation, interviews and documentation. The results showed that the media convergence of the continuum model of Radio Songgolangit was still running the first and the second stages. At the Cross Promotion stage, it is carried out by introducing each other, such as mentioning, including names, logos and links. At the Cloning stage, broadcast media reproduces content from social media, and social media reproduces content from other news portals. Meanwhile, at the Coopetition, Content Sharing and Full Convergence stages, Radio Songgolangit has not been fully implemented, because Radio Songgolangit still has shortcomings in the implementation of its media convergence, such as the lack of human resources and empowerment as the driving wheel of Radio Songgolangit media convergence, thus Radio Songgolangit still has not implemented five stages of media convergence continuum model.                                                       
Manajemen Krisis Disbudparpora Ponorogo dalam Menangani Penurunan Kunjungan Wisata Religi Masjid Tegalsari selama Pandemi COVID-19 Putra Pratama Idris; Nur Aini Shofiya Asy'ari
ETTISAL : Journal of Communication Vol 7, No 2 (2022): ETTISAL : Journal of Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor collaboration with ISKI (Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/ejoc.v7i2.9080

Abstract

AbstrakAkhir tahun 2019, dunia telah dilanda pandemi COVID-19 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2. Wisata Religi Masjid Tegalsari merupakan salah satu sektor pariwisata dibawah pengelolaan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ponorogo (Disbudparpora) secara operasional yang terdampak akibat penyebaran COVID-19. Hal ini menyebabkan krisis penurunan kunjungan pada Wisata Religi Masjid Tegalsari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manajemen krisis Disbudparpora Ponorogo dalam menangani penurunan kunjungan Wisata Religi Masjid Tegalsari selama pandemi COVID-19. Dengan mengunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus melalui; teknik wawancara semi terstruktur, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan. Untuk validasi data digunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan manajemen krisis yang dilakukan oleh Disbudparpora Ponorogo dengan langkah, (1) Identifikasi krisis dengan mendapatkan data- data dari berita media internet terkait COVID-19 dan juga surat keputusan bupati terkait penetapan status tanggap darurat bencanan non alam pandemi wabah COVID-19; (2) Analisis krisis dengan melakukan rapat internal dan menghasilkan penugasan pegawai setiap hari untuk melakukan monitoring dan mengawasi pengunjung wisata terkait pemakaian masker dan pemberlakuan protokol kesehatan; (3) Isolasi krisis dengan memberlakukan penutupan wisata dan mengiformasikan kepada jamaah masjid selain masyarakat desa Tegalsari agar melaksanakan ibadah di masjid daerah masing-masing; (4) Pemilihan strategi untuk menanggulangi krisis pandemi COVID-19 dengan strategi adaptif yaitu mengubah kebijakan dan modifikasi operasional; (5) Program pengendalian dengan pemberlakuan sistem buka-tutup untuk mengontrol pengunjung Wisata Religi Masjid Tegalsari dan membuat SOP (Standart Operating Procedure) wisata religi di New Normal.AbstractAt the end of 2019, the world has been hit by the COVID-19 pandemic caused by the SARS-CoV-2 virus. Tegalsari Mosque Religious Tourism is one of the tourism sectors under the management of the Ponorogo Regency Youth and Sports Tourism Culture Office (Disbudparpora) operationally affected by the spread of COVID-19. This caused a crisis of decreasing visits to the Tegalsari Mosque Religious Tourism. This study aims to determine the crisis management of Disbudparpora Ponorogo in dealing with the decrease in Tegalsari Mosque Religious Tourism visits during the COVID-19 pandemic. By using a qualitative approach with a case study method through; interview, observation and documentation techniques. The data analysis techniques used are data reduction, data presentation, and drawing conclusions. For data validation used source triangulation and engineering triangulation. The results showed crisis management carried out by Disbudparpora Ponorogo with steps, (1) identification of crises by obtaining data from internet media news related to COVID-19 and regent's decrees related to non-natural disasters of the COVID-19 outbreak pandemic; (2) crisis analysis is carried out by conducting internal meetings; (3) Crisis isolation by imposing tourist closures and informing mosque worshippers other than the Tegalsari village community to carry out worship in their respective regional mosques; (4) selection of strategies to overcome the COVID-19 pandemic crisis with adaptive strategies, namely changing policies and operational modifications; (5) Control program with the implementation of an open-and-close system and make SOP (Standard Operating Procedures) for religious tourism in the New Normal.
Manajemen Krisis Disbudparpora Ponorogo dalam Menangani Penurunan Kunjungan Wisata Religi Masjid Tegalsari selama Pandemi COVID-19 Putra Pratama Idris; Nur Aini Shofiya Asy'ari
ETTISAL : Journal of Communication Vol 7, No 2 (2022): ETTISAL : Journal of Communication
Publisher : Universitas Darussalam Gontor collaboration with ISKI (Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/ejoc.v7i2.9080

Abstract

AbstrakAkhir tahun 2019, dunia telah dilanda pandemi COVID-19 yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2. Wisata Religi Masjid Tegalsari merupakan salah satu sektor pariwisata dibawah pengelolaan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ponorogo (Disbudparpora) secara operasional yang terdampak akibat penyebaran COVID-19. Hal ini menyebabkan krisis penurunan kunjungan pada Wisata Religi Masjid Tegalsari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manajemen krisis Disbudparpora Ponorogo dalam menangani penurunan kunjungan Wisata Religi Masjid Tegalsari selama pandemi COVID-19. Dengan mengunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus melalui; teknik wawancara semi terstruktur, observasi dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan. Untuk validasi data digunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan manajemen krisis yang dilakukan oleh Disbudparpora Ponorogo dengan langkah, (1) Identifikasi krisis dengan mendapatkan data- data dari berita media internet terkait COVID-19 dan juga surat keputusan bupati terkait penetapan status tanggap darurat bencanan non alam pandemi wabah COVID-19; (2) Analisis krisis dengan melakukan rapat internal dan menghasilkan penugasan pegawai setiap hari untuk melakukan monitoring dan mengawasi pengunjung wisata terkait pemakaian masker dan pemberlakuan protokol kesehatan; (3) Isolasi krisis dengan memberlakukan penutupan wisata dan mengiformasikan kepada jamaah masjid selain masyarakat desa Tegalsari agar melaksanakan ibadah di masjid daerah masing-masing; (4) Pemilihan strategi untuk menanggulangi krisis pandemi COVID-19 dengan strategi adaptif yaitu mengubah kebijakan dan modifikasi operasional; (5) Program pengendalian dengan pemberlakuan sistem buka-tutup untuk mengontrol pengunjung Wisata Religi Masjid Tegalsari dan membuat SOP (Standart Operating Procedure) wisata religi di New Normal.AbstractAt the end of 2019, the world has been hit by the COVID-19 pandemic caused by the SARS-CoV-2 virus. Tegalsari Mosque Religious Tourism is one of the tourism sectors under the management of the Ponorogo Regency Youth and Sports Tourism Culture Office (Disbudparpora) operationally affected by the spread of COVID-19. This caused a crisis of decreasing visits to the Tegalsari Mosque Religious Tourism. This study aims to determine the crisis management of Disbudparpora Ponorogo in dealing with the decrease in Tegalsari Mosque Religious Tourism visits during the COVID-19 pandemic. By using a qualitative approach with a case study method through; interview, observation and documentation techniques. The data analysis techniques used are data reduction, data presentation, and drawing conclusions. For data validation used source triangulation and engineering triangulation. The results showed crisis management carried out by Disbudparpora Ponorogo with steps, (1) identification of crises by obtaining data from internet media news related to COVID-19 and regent's decrees related to non-natural disasters of the COVID-19 outbreak pandemic; (2) crisis analysis is carried out by conducting internal meetings; (3) Crisis isolation by imposing tourist closures and informing mosque worshippers other than the Tegalsari village community to carry out worship in their respective regional mosques; (4) selection of strategies to overcome the COVID-19 pandemic crisis with adaptive strategies, namely changing policies and operational modifications; (5) Control program with the implementation of an open-and-close system and make SOP (Standard Operating Procedures) for religious tourism in the New Normal.