M. Akbar Alwi
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

CONDOM USE AMONG EXIT CLIENTS OF FEMALE SEXUAL WORKERS FOR PREVENTION HIV/AIDS IN MAKASSAR M. Akbar Alwi; Yusdalia Yusdalia
UNEJ e-Proceeding Proceeding of 1st International Conference on Medicine and Health Sciences (ICMHS)
Publisher : UPT Penerbitan Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AIDS remains a public health problem of majorsignificance in most parts of the world [1]. Accordingto United AIDS Nation program on HIV/AIDS(UNAIDS) global report published for the world AIDSday 2012, about 34 (31,4-35,9) million people areliving with HIV[2]. Based on the data fromDirectorate General CDC & Ministry of Health, in2014 the number of cases HIV and AIDS in Indonesiawas 7.335 and 176 respectively. The most mode oftransmission is heterosexual. There were 34.305cases with the mode[3]. Data from AIDS CommissionMakassar showed that in 2013, the number of HIVcases in Makassar was 3.845 and AIDS 1.673 cases.According to the data, Makassar ranked first in thenumber of cases of HIV/AIDS in South SulawesiprovinceClients of female sexual workers (FSWs) have risk tobe attacked by HIV. The clients (FSWs), also knownas the “bridge population”, act as a bridge betweenthe high risk group of FSWs and the generalpopulation [4] .The higher number of clients of FSWs,the higher spread of HIV/AIDS both in high risk groupand general population. Low condom use is triggerof HIV/AIDS transmission. In 2014, rapid surveyresult on FSWs in Makassar showed that condomuse has not reached yet 100%. Makassar AIDScommission has conducted regularly socializationHIV/AIDS to FSWs and approached to them, in orderto insist male clients to use condom. But, condomuse in male clients has not been maximal. Thissurvey was carried out to know characteristic exitclients and determinant factors of condom. Theresult of survey can be used as reference to crateplanning in controlling HIV/AIDS in Makassar.
EVALUASI PROGRAM PENCEGAHAN HIV/AIDS DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN (LAPAS) KELAS I MAKASSAR PROPINSI SULAWESI SELATAN M. AKBAR ALWI; SISWANTO AGUS WILOPO; BUDI WAHYUNI
Jurnal Mitrasehat Vol. 5 No. 1 (2015): Jurnal Mitrasehat
Publisher : LPPM STIK Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51171/jms.v5i1.152

Abstract

Latar Belakang: Angka infeksi HIV/AIDS pada populasi penjara cenderung lebih tinggidaripada populasi di luar penjara sebab adanya perilaku berisiko yang terjadi di penjara.Serosurvailans di Lapas Kelas I Makassar menunjukkan tahun 2004 dan 2005 terdapatmasing-masing 23 dan 35 kasus HIV pada narapidana. Program pencegahan HIV/AIDS diLapas tersebut telah dilaksanakan, namun jumlah kasus HIV pada narapidana cenderungmeningkat.Tujuan: Diketahuinya pelaksanaan program pencegahan HIV/AIDS di LembagaPemasyarakatan (Lapas) Kelas I Makassar.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian evaluasi atau studi evaluasi denganrancangan studi kasus, menggunakan pendekatan kuanitatif dan kualitatif. Subjekpenelitian adalah unsur LSM dan Lapas, KPA propinsi, Dinas Kesehatan dan DPRD. Datadikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan wawancara.Hasil penelitian: Program pencegahan HIV/AIDS di Lapas Kelas I Makassar yaituKomunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE), Konseling dan tes sukarela, distribusi kondomdan bleaching. Pelaksanaan program dilakukan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat(LSM) dengan bantuan dana dari donatur. Evaluasi kegiatan hanya dilakukan secara lisanoleh pihak Lapas dan Kantor wilayah (Kanwil) Hukum dan HAM. Kendala yang dihadapidalam pelaksanaan program yaitu proaktif pegawai Lapas masih kurang dan komitmenKepala Lapas masih rendah.Kesimpulan: Tenaga pelaksana program HIV/AIDS belum memadai sehingga masihtergantung pada LSM. Selain itu, dana pelaksanaan program masih tergantung padadonatur. Pelaksanaan program belum baik sebab program HIV/AIDS tidak dimasukkanpada salah satu divisi dalam struktur organisasi Lapas dan belum ada protap program.Kekurangan pelaksanaan program yaitu tidak melibatkan KPA untuk melakukan evaluasiterhadap program dan manajemen dokumentasi laporan tidak berjalan secara maksimal.