Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Studi Ekstrak Metanol Biji Mahoni terhadap MDA Serum Tikus Putih Pasca Induksi MLD-STZ Putri Puspitasari; Agung Pramana Warih Mahendra; Aulanni'am Aulanni'am
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 6 (2013)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes mellitus (DM) merupakan suatu penyakit gangguan metabolik yang ditandai oleh peningkatan kadar glukosa darah melebihi batas normal atau hiperglikemia. Salah satu tumbuhan yang dimanfaatkan  masyarakat untuk pengobatan DM adalah  tanaman mahoni (Swietenia mahagoni). Bagian tumbuhan yang digunakan untuk pengobatan penyakit ini adalah bijinya. Namun potensi dari  ekstrak metanol biji mahoni belum banyak diketahui. Pada penelitian ini menggunakan tikus model DM dengan induksi MLD-STZ (Multiple Low Dose-Streptozotocin). Tikus dikelompokkan dalam 5 kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif, kontrol positif, dan  kelompok  terapi 100, 250 dan 400 mg/KgBB yang sebelumnya telah diinduksi MLD-STZ. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pembuatan tikus DM dengan injeksi MLD-STZ secara intraperitonial, pamberian terapi ekstrak metanol biji mahoni secara oral, uji kadar MDA serum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar MDA (Malonialdehide) serum yang didapatkan berdasarkan kelompok, yaitu 3,126; 10,245; 9,245; 7,203; 4,677 µg/ml. Dosis optimum untuk menurunkan kadar MDA adalah 400 mg/KgBB. Pemberian terapi ekstrak metanol biji mahoni mampu menurunkan kadar MDA serum tikus putih pasca induksi MLD-STZ. Kata Kunci: diabetes mellitus, MDA, MLD-STZ, pankreas
Histologi Organ Hepatopankreas Kepiting Bakau (Scylla serata) pada Konsentrasi Sublethal Fenol sebagai Peringatan Dini (Early warning) Toksisitas Fenol di Estuaria Hermawati, Alfi; Risjani, Yenny; Mahendra, Agung Pramana Warih
The Journal of Experimental Life Science Vol. 2 No. 1 (2012)
Publisher : Graduate School, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1000.833 KB) | DOI: 10.21776/ub.jels.2012.002.01.06

Abstract

Fenol dan senyawa fenolik merupakan salah satu xenobiotik yang menjadi salah satu faktor stres lingkungan pada biota yang terpapar dan telah menjadi masalah lingkungan akibat dampak antropogenik lingkungan. Konsentrasi fenol yang melebihi batas ambang ke dalam ekosistem perairan dapat menjadi stresor kimia bagi organisme akuatik, termasuk kepiting bakau (Scylla serata). Teknik histologi juga merupakan salah satu metode umum yang dapat digunakan untuk mengetahui efek sublethal polutan. Sebelum menetapkan konsentrasi sublethal, terlebih dahulu dilakukan penentuan konsentrasi LC50 (96 jam). Berdasarkan data mortalitas dari hasil uji toksisitas akut LC50 (96 jam) fenol terhadap kepiting bakau (Scylla serata) yang dianalisis dengan analisis probit, diperoleh konsentrasi LC50 (96 jam) sebesar 26 mg.L-1. Dari hasil tersebut kemudian ditentukan perlakuan konsentrasi sublethal fenol (96 jam) yang dilakukan, yakni perlakuan A (1,62 mg.L-1), B (6,5 mg.L-1), C (13 mg.L-1) serta kontrol. Hasil pengamatan pada akhir perlakuan diketahui terdapat perbedaan yang signifikan terhadap histologi organ insang dan hepatopankreas pada tiap perlakuan dimana pada konsentrasi yang semakin tinggi menunjukkan kerusakan jaringan yang semakin terlihat jelas pada hepatopankreas juga terlihat perubahan yang signifikan yang terlihat pada tubulus hepatopankreatik kepiting bakau (S. serata) yaitu vakuola lebih terbentuk, epitel tampak tidak teratur, hilangnya bentuk bintang pada lumen. Kata Kunci : fenol, hepatopankreas, kepiting bakau.
Efek Konsentrasi Sublethal Fenol Terhadap Total Haemocyte Count (THC) dan Histologi Insang Kepiting Bakau (Scylla serata) Sari, Alfi Hermawati Waskita; Risjani, Yenny; Mahendra, Agung Pramana Warih
The Journal of Experimental Life Science Vol. 2 No. 2 (2012)
Publisher : Graduate School, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (867.454 KB) | DOI: 10.21776/ub.jels.2012.002.02.04

Abstract

Hadirnya fenol yang melebihi batas ambang ke dalam ekosistem perairan dapat menjadi stresor kimia bagi organisme akuatik, termasuk juga bagi ekosistem muara oleh karena muara (estuaria) merupakan daerah pertemuan antara air tawar dari perairan sungai dan air laut sehingga berpotensi mengandung bahan kimia antropogenik. Kepiting bakau (Scylla spp.) memiliki siklus hidup yang sebagian besar berada pada ekosistem mangrove dan umum digunakan dalam studi ekotoksisitas. Total Haemocyte Count (THC) dan histologi organ insang dapat menginformasikan perubahan histologi akibat stressor oleh karena paparan toksik, terutama fenol. Perlakuan sublethal fenol dengan konsentrasi yang berbeda  terhadap kepiting bakau (Scylla serata) pada hari ke-1, hari ke-3, hari ke-5 dan hari ke-8 tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p> 0,05) (Lampiran) terhadap rata-rata Total Haemocyte Count (THC). Namun pada hari ke-7 menunjukkan penurunan jumlah THC pada tiap perlakuan bila dibandingkan dengan kontrol (tanpa perlakuan). Perubahan histologi yang terjadi meningkat sebanding dengan konsentrasi fenol yang diperlakukan terhadap kepiting bakau (S. serata). Perubahan histologi yang terjadi adalah kerusakan struktur dari lamela insang (l) dan bagian terluar sinus lamela atau outer lamellar sinuses (ols) yang meliputi infiltrasi hemosit, hiperplasia maupun nekrosis.Kata Kunci : fenol, hepatopankreas, kepiting bakau.