Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Petuah-petuah Leluhur dalam Wérékkada: Salah Satu Pencerminan Kearifan Lokal Masyarakat Bugis nfn Mustafa
Kapata Arkeologi Vol. 13 No. 2, November 2017
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v13i2.404

Abstract

This paper aim to examine the local wisdom contained in wérékkada. Wérékkada is a classic Buginese literary form that is still lived by those with Buginese Language and culture backgrounds that serve as an adhesive tool for interpersonal relationships and sources of laws and regulations that can tap the heart, mind and command people to be honest, polite courteous, knowing customs, and manners in social life. This paper describes the local wisdom of Buginese culture that is still practiced in society. The approach used in this study uses two theories namely, pragmatic and sociology of literary approach. The methods and techniques used in this study are descriptive methods, which are described the data as it is. Data was collected using recording techniques, interviews, recording, and literature study. The results can be concluded that wérékkada contains local wisdom such as  honesty, an advice (wérékkada) which contains the basic foundation in establishing relationships between people, perseverance, which is an advice that gives an overview of the daily behavior of someone who has a price high self, firm, tough, faithful to faith, and obedient principle. Meanwhile, sirik ‘malu’ is one of the Buginese way of life, which aims to maintain personal dignity, others or groups.Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji kearifan-kearifan lokal yang terdapat dalam wérékkada. Wérékkada adalah salah satu bentuk sastra klasik Bugis yang hingga kini masih dihayati oleh masyarakat berlatar belakang bahasa dan budaya Bugis yang berfungsi sebagai alat perekat hubungan antar individu dan sumber hukum serta peraturan yang mampu mengetuk hati, pikiran dan memerintahkan orang untuk berlaku jujur, berperilaku sopan santun, tahu adat istiadat, dan tata krama dalam hidup bermasyarakat. Tulisan ini menggambarkan kearifan lokal budaya Bugis yang hingga kini masih berlaku di dalam masyarakat. Pendekatan yang digunakan dalam kajian ini menggunakan dua teori yaitu, pendekatan pragmatik dan sosiologi sastra. Metode dan teknik yang digunakan dalam kajian ini adalah metode deskriptif, yaitu memaparkan sebagaimana adanya. Pengumpulan data, digunakan teknik pencatatan, wawancara, perekaman, dan studi pustaka. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa wérékkada dapat mengandung kearifan lokal tentang kejujuran. Petuah-petuah atau wérékkada berisi landasan pokok dalam menjalin hubungan antar sesama, keteguhan, memberikan gambaran dari tingkah laku sehari-hari seseorang yang memiliki harga diri yang tinggi, tegas, tangguh, setia pada keyakinan, dan taat asas. Sementara itu, sirik ‘malu,’ adalah salah satu pandangan hidup orang Bugis yang bertujuan untuk mempertahankan harkat dan martabat pribadi, orang lain atau kelompok.
Cerita Rakyat “Saliwu, Pahlawan Suku Padoe” nfn Mustafa
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 9 No. 2 (2018): Jurnal Madah
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v9i2.68

Abstract

This study aims to research Luwu's oral literary work on the character of the story based on the Levi-Strauss analysis model. "Saliwu, Pahlawan Suku Padoe" is one of the literary works of the Luwu community which is full of values and concepts of life, delivered orally, and passed down from generation to generation to speakers. This story tells about a great king's who struggle with high self-esteem against the oppression of other ethnic group who wished to dominate and colonize their region. In addition, the story can be a source of advice and learning for posterity for the provision of the coming day so that it does not get lost. This story also intends to introduce a character who is described as a great hero and highly respected. He is willing to be held captive and die in exile rather than betraying his people who uphold custom. The theory used is Levi-Strauss with descriptive analysis method. The results found indicate that there is structured relationship between elements in the story and social conditions in the community.
Mite “Massudilalong Sola Lebonna” dalam Tradisi Lisan Toraja nfn mustafa
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 11 No. 2 (2020): Jurnal Madah
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v11i2.261

Abstract

AbstractThis paper aims to examine the relevance of  Massudilalong Sola Lebonna myth and the life of Torajan community. Massudilalong Sola Lebonna is one of Torajan oral literature forms which is still believed to this day by Torajan community. It serves as an adhesive tool for interpersonal relations and sources of laws and regulations that could open hearts and minds of the people and encourage them to be honest, polite and knowledgeable on manners and custom in their social life. In this study, a structural approach is used. The method and technique used in this study are descriptive namely to expose just what it is. Data were collected by means of note taking techniques, interviews, recording and literature study. The result of the research shows that the myth of Massudilalong Sola Lebonna is highly relevant to the life Torajan community. It is reflected from local wisdoms contained in the myth of Massudilalong Sola Lebonna that becomes basic foundation of interpersonal relationship in Torajan community. The local wisdoms are high self-esteem, firmness, resilience, strong belief and obedience to principles. AbstrakTulisan ini bertujuan untuk mengkaji relevansi mitos dalam Massudilalong Sola Lebonna dengan kehidupan masyarakat Toraja. Massudilalong Sola Lebonna ialah salah satu bentuk sastra lisan Toraja yang hingga kini sebagian besar masih dihayati dan dipercaya oleh masyarakat Toraja. Sastra lisan ini berfungsi sebagai alat perekat hubungan antarindividu dan sumber hukum dan peraturan yang mampu mengetuk hati dan pikiran, serta mengajarkan orang untuk berlaku jujur, berperilaku sopan santun, tahu adat istiadat, dan tata krama dalam hidup bermasyarakat. Pendekatan yang digunakan dalam kajian ini ialah pendekatan struktural. Metode dan teknik yang digunakan dalam kajian ini ialah metode deskriptif, yaitu memaparkan sebagaimana adanya. Pengumpulan data menggunakan teknik pencatatan, wawancara, perekaman, dan studi pustaka. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa mite Massudilalong Sola Lebonna mengandung relevansi yang kuat dengan kehidupan masyarakat Toraja. Hal itu terlihat dari kearifan lokal yang termuat dalam mite Massudilalong Sola Lebonna dijadikan sebagai landasan pokok dalam menjalin hubungan antarsesama masyarakat Toraja. Kearifan lokal tersebut ialah kejujuran, keteguhan, tegas, tangguh, setia pada keyakinan, kuat menjaga harga diri, dan taat asas.
SKEMA AKTAN DAN FUNGSIONAL CERITA SANGBIDANG (Actant and Functional Schemes of Sangbidang Folkore) NFN Mustafa
SAWERIGADING Vol 23, No 2 (2017): Sawerigading, Edisi Desember 2017
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v23i2.164

Abstract

This paper discusses actant and functional schemes of Torajan folkore of “Sangbidang” by using A.J.Greimas theory. This paper aims to describe the actant and functional schemes contained in “Sangbidang.” Datum is analyzed by using qualitative descriptive method with narrative analysis technique that includes two stages of structures, namely (1) literature structure, the level of the story is presented (storytelling), and (2) deep structure, the level of immanent including (a) the level of narrative syntactic analysis (actant and functional schemes) and (b) the level of discursive. Datum collected through literary study. The result shows that there is functional scheme which is devided into; (1) the first situation, (2) the transformation divided into (a) the proficiency test stage, (b) the main stage, and (c) the gloriousness stage; and (3) the final situation on it. AbstrakTulisan ini membahas skema aktan dan fungsional cerita rakyat Toraja “Sangbidang” dengan menggunakan teori A.J Greimas. Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan struktur aktan dan fungsional yang terkandung dalam cerita “Sangbidang”. Data dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis naratif yang meliputi dua tahapan struktur, yaitu (1) struktur lahir, yakni tataran perihal cerita dikemukakan (penceritaan), dan (2) struktur batin, yakni tataran imanen yang meliputi (a) tataran analisis sintaksis naratif (skema aktan dan skema fungsional) dan (b) tataran diskursif. Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka. Hasil kajian menunjukkan bahwa terdapat skema aktan pada cerita Sangbidang yang terdiri atas (1) pengirim, (2) objek, (3) penerima, dan (4) subjek. Terdapat pula skema fungsional yang dibedakan menjadi (1) situasi awal; (2) transformasi yang terbagi atas (a) tahap uji kecakapan, (b) tahap utama, dan (c) tahap kegemilangan; dan (3) situasi akhir yang terdapat di dalamnya.