Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

A Study of the Toponyms of Natural Topography in Siak, Riau Province Imelda Yance
Kapata Arkeologi Vol. 17 No. 1 (2021)
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v17i1.43-54

Abstract

Toponimi bentangan alam wilayah Kabupaten Siak, Provinsi Riau sebagai bekas pusat kerajaan Melayu di Riau sangat menarik karena sangat konkret menggambarkan lanskap lingkungannya. Kekonkretan toponimi itu dapat dilihat dalam relasinya dengan manusia, sejarah, geografis, bahkan budaya. Penelitian ini difokuskan pada toponimi rupabumi alami, antara lain perbukitan, tasik, selat, tanjung, dan sungai di Kabupaten dengan tinjauan linguistik antropologis. Aspek yang diteliti mencakup bentuk dan aspek geografis toponimi, fungsinya, dan sistem kognisi orang Melayu Siak yang tecermin di dalamnya. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif. Dari analisis data, toponimi alami di Kabupaten Siak dinamai dengan bahasa Melayu Riau. Bentuk leksikonnya berupa kata kompleks atau frasa yang selalu diawali dengan nama generik. Pada umumnya, toponimi dilatarbelakangi oleh aspek fisikal. Tidak banyak toponimi yang dilatarbelakangi oleh aspek sosial, kultural, atau oleh aspek fisik-sosial. Toponimi tersebut berfungsi untuk menandai, menjadi identitas formal, mendeskripsikan, dan sebagai pengingat latar belakang sejarah dan/atau sosial budaya suatu bentang alam. Makna leksikonnya mengungkapkan keeratan hubungan masyarakat Melayu Siak dengan lingkungannya. Toponimi alami di Kabupaten Siak mencerminkan kognisi orang Melayu Siak terkait dengan lingkungannya, baik fisik, sosial, maupun kultural dalam hal proses memanfaatkan, menghubungkan, konsep asimilasi, konsep akomodasi, konsep empirik, dan kreativitas. The toponyms of the landscape in Siak Regency as a former center of the Malay Kingdom in Riau is very significant in illustrating the landscape of its environment. The significance of toponym can be seen in its relation to humans, history, geography, and even culture. This research focuses on the natural topographical toponyms, including hills, lakes, straits, capes, and rivers in Siak Regency, Riau Province with anthropological linguistic reviews. This research was conducted with a qualitative approach and descriptive method. From the data analysis, the natural toponyms in Siak Regency are named after Riau Malay language. The lexicon is a compound word or phrase that always starts with a generic name. In general, physical aspects have underlain the toponyms. There are not many toponyms underlain by social, cultural, or physical-social aspects. The toponyms serve to mark, become an identity (formal), describe, and as a reminder of the historical or socio-cultural background of a landscape. The meaning of the lexicon reveals the closeness of the relationship between Siak Malay community and its environment. The natural toponyms in Siak Regency reflect the cognition of Siak Malays related to their environment, both physical, social, and cultural environments, in terms of utilizing and connecting processes, assimilation concept, accommodation concept, empirical concept, and creativity.
PENGGUNAAN BAHASA DAN IDENTITAS SUKU BONAI (THE LANGUAGE USE AND THE IDENTITY OF BONAI TRIBE) Imelda Yance
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 16, No 2 (2018): Metalingua Edisi Desember 2018
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.73 KB) | DOI: 10.26499/metalingua.v16i2.141

Abstract

Ranah penggunaannya bahasa suku Bonai  (salah satu suku asli/ terasing di Provinsi Riau) sedang terancam (Yance dkk., 2017). Padahal, bahasa bagi kelompok linguistik minoritas seperti suku Bonai sangat melekat dengan identitas. Kajian ini difokuskan pada penggunaan bahasa dan identitas suku Bonai. Tujuannya adalah memetakan penggunaan bahasa dalam komunikasi intraetnis dan antaretnis; distribusinya berdasarkan ciri-ciri sosial; dan kaitannya dengan identitas. Kajian ini bersifat kuantitatif dan kualitatif. Bahasa suku Bonai digunakan dalam komunikasi intraetnis (88.3%) dan bahasa Indonesia dalam komunikasi antaretnis (77.28%). Responden perempuan, berumur >50 tahun, berstatus kawin, tinggal  di perdesaan, berpendidikan dasar, dan bekerja di sektor swasta paling dominan menggunakan bahasa Bonai untuk komunikasi intraetnis. Sementara itu, responden  perempuan, berusia 25—50 tahun, berstatus tidak kawin, tinggal di perkotaan, berpendidikan tinggi, dan bekerja sebagai PNS  paling dominan berbahasa Indonesia untuk komunikasi antaretnis. Penggunaan bahasa suku Bonai dalam komunikasi intraetnis, dalam ranah keagamaan, dan dalam ranah budaya merupakan pemertahanan identitas suku Bonai.  
SITUASI DIGLOSIA SUKU BONAI DI PROVINSI RIAU Imelda Yance
Madah: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 8 No. 2 (2017): Jurnal Madah
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31503/madah.v8i2.28

Abstract

Bonai ethnic/people (indigenous and minority people in Riau Province) is a bi/multilingual society. They have the potential to be a diglossic society because mastering and using more than one language in communication. To find out the potential, this study focused on the diglossia of the Bonai ethnic.The aims are to define and describe the status of the Bonai people diglossia in terms of function, prestige, cultural heritage, acquisition, standardization, stability, lexicon, andphonological systems. This study is quantitative and qualitative. Data were collected through surveys using questionnaires and literature studies. The sample numbered is 78 people, drawn by purposive random technique. Quantitative data is processed by Excel and SPSS program and qualitative data with discourse analysis. From the data analysis, the Bonai people can be categorized as both diglossia and bilingualism. The conclusions are based on the aspects of function, prestige, acquisition, standardization, lexicon, and phonological systems. Indonesian is H code (high) while the language of Bonai people is L code (low). Nevertheless, the situation of diglossia in the Bonai people has not been steady in terms of stability since it has not taken place in hundreds of years. In addition, there is also a leaked of diglossia, the infiltration of L code into the domain of H code or vice versa.