Lukman Zain
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Sejarah Hadis Pada Masa Permulaan dan Penghimpunannya Lukman Zain
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 2, No 01 (2014): JUNI
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.526 KB) | DOI: 10.24235/diyaafkar.v2i01.564

Abstract

Tradisi menulis dan mencatat hadis telah terjadi pada masa Nabi. Para sahabat menerima hadis dari majlis Nabi dan mencatat dari apa yang dikatakan oleh Nabi. Selain itu pada masa Nabi, materi hadis yang mereka catat masih terbatas, hal ini disebabkan sedikit jumlah sahabat yang pandai menulis, di samping perhatian mereka masih banyak yang bertumpu pada pemeliharaan al-Qur’an, sehingga catatan-catatan hadis masih tersebar pada sahifah sahabat.Cara periwayat memperoleh dan menyampaikan hadis pada masa Nabi tidaklah sama dengan pada masa sahabat. Demikian pula periwayatan pada masa sahabat tidak sama dengan periwayatan pada masa sesudahnya. Cara periwayatan hadis pada mana Nabi lebih terbebas dari syarat-syarat tertentu bila dibandingkan dengan periwayatan pada masa sesudahnya. Hal ini disebabkan, karena pada masa Nabi selain tidak ada bukti yang pasti tentang telah terjadinya pemalsuan hadis, juga karena pada masa itu seseorang akan lebih mudah melakukan pemeriksaan sekiranya ada hadis yang diragukan kesahihannya. Makin jauh jarak waktu dari masa hidup Nabi, makin sulit pengujian kebenaran suatu hadis.  Kata Kunci : Hadis, Nabi SAW, Sahabat, Riwayat.
Hikmah Walimah Al-‘Ursy (Pesta Pernikahan) Dengan Kehormatan Perempuan Perspektif Hadits Lia Laquna Jamali; Lukman Zain; Ahmad Faqih Hasyim
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 4, No 02 (2016): DESEMBER
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.308 KB) | DOI: 10.24235/diyaafkar.v4i02.1161

Abstract

Walimah al-'ursy is one of a series of events in the process of marriage. Islam recommends to hold a feast al-'ursy after conducting the ceremony. It is very important and not to be underestimated, because walimah al-'ursy aligned with the honor of women. Based on that background to discuss hadith walimah al-'ursy. The assessment covered in this study include: the quantity and quality of the chain and honor traditions, the meaning and understanding of the traditions, and the relationship walimah al-'ursy with the honor of women. Data collection was referring to some source library (library research).The theory used in this research is the theory maani al-Hadith offered by Yusuf al-Qardawi. Based on the study of hadith walimah al-'ursy that: In terms of quantity included in the category of hadith ahad 'Aziz and in terms of quality category sahih li gairihi. Defining and understanding hadith walimah al-'ursy there are objective and important lessons in it as information to the public was the wedding and all the relatives and other relatives can come together to celebrate happiness and wish the best to live in harmony as a married couple.  The connection between the meaning of the hadith walimah nowadays very closely with women's honor, because honor is very important both in terms of any case. At every wedding organized to implement the feastal-'ursy after the holding of the ceremony. Especially with the feast of al-'ursy to avoid the issue of marriage sirri commonly called marriage under the hand without recorded by the Marriage Registrar Officer and can lead to several negative outlook. So that it can drop the dignity and honor of women in particular. Keywords: Walimah al-'ursy, honor women
Penafsiran Ayat-Ayat Pemicu Radikalisme Perspektif Ibnu Taimiyah Dan Quraish Shihab (Telaah QS. Al-Taubah [9]: 5 dan 29) Siti Khoirunnisa; Lukman Zain; Anisatun Muthi'ah
Diya Al-Afkar: Jurnal Studi al-Quran dan al-Hadis Vol 4, No 02 (2016): DESEMBER
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.991 KB) | DOI: 10.24235/diyaafkar.v4i02.1149

Abstract

Di Indonesia telah banyak kelompok yang melakukan tindakan intoleran atas nama agama terhadap non-muslim. Ayat-ayat al-Qur’an menjadi dasar dan nilai tertinggi perbuatan terorisme sekelompok orang tersebut. Oleh sebab itu, gagasan tentang pentingnya mengenal lebih dalam soal penafsiran al-Qur’an terkait ayat-ayat yang terkesan radikal menjadi sangat penting, agar seseorang tidak terdorong melakukan tindak kekerasan atas nama agama. Dalam hal ini, penulis akan mengkaji pemikiran Ibnu Taimiyah dan Quraish Shihab tentang ayat-ayat pemicu tindakan radikal tersebut, terkhusus QS. al-Taubah (9): 5 dan 29. Seperti Ibnu Taimiyah dan Quraish Shihab Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka dengan membahas buku, baik dari buku primer maupun sekunder yang terkait dengan tema yang dikaji. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah muqaran. Langkah-langkah dalam penelitian ini adalah menjelaskan pengertian radikalisasi dan deradikalisasi, mengumpulkan ayat al-Qur’an yang seringkali ditafsirkan secara radikal, memaparkan penafsiran masing-masing mufassir, menganalisis studi komparatif yakni perbandingan antara penafsiran Ibnu Taimiyah dan Quraish Shihab.Hasil penelitian ini menjawab bagaimana penafsiran Ibnu Taimiyah dan Quraish Shihab tentang QS. Al-Taubah ayat 5 dan 29 adalah sebagai berikut: dalam menafsirkan al-Qur’an keduanya tidak menafsirkan secara tekstual, melainkan dengan menjadikan asbab nuzul sebagai alat untuk memahami maksud ayat tersebut. Asbab al-Nuzul ayat tentang izin penyerangan terhadap kaum muslim adalah peristiwa penyerangan terlebih dulu yang dilakukan kaum Nashrani yang ada di Romawi. Dengan demikian, konteks pelaku penyerangan adalah kaum Nashrani dan Yahudi yang tidak beragama dengan benar, yang sikap dan perilakunya akan berakibat mengganggu ajaran Islam dan mengganggu kelangsungan hidup masyarakat Islam. Keduanya sama-sama menyimpulkan umat muslim tidak boleh menyerang kaum musyrikin kecuali ada penyerangan terlebih dulu yang dilakukan kaum musyrik.  Kata kunci: al-Qur’an, Radikalisasi, Intoleran.