Burhanuddin Yusuf
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

FALSAFAH TEOLOGI POLITIK ISLAM Burhanuddin Yusuf
Sulesana Vol 12 No 2 (2018)
Publisher : Sulesana: Jurnal Wawasan Keislaman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/sulesana.v12i2.7582

Abstract

Ternyata  pemikir politik menganggap politik sebagai amanah dari Sang Pencipta untuk menjadikan kehidupan umat manusia dan alam sekitarnya damai dan makmur. cita-citanya adalah kejayaan hidup di bawah naungan Rahmat dan Ampunan Sang Pencipta yang penyelenggaraannya diwarnai oleh istiqamah dalam memegang amanah dalam bingkai akhlak al karimah.
Multikulturalisme (Toleransi Dalam Pandangan Masyarakat Tionghoa Kota Makassar) Anggriani Alamsyah; Burhanuddin Yusuf
Palita: Journal of Social Religion Research Vol 5, No 1 (2020): Palita: Journal of Social Religion Research
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24256/pal.v5i1.1196

Abstract

Abstrak[English]: This paper focus on understanding the tolerance that exists in our Chinese ethnic relatives, especially those in Makassar City, which aims to find out the forms of tolerance of the Chinese Ethnic Makassar City. This paper uses a qualitative design approach, where data is obtained from interviews, observations and documents. The Ethnic Chinese view of tolerance is represented in terms of cognitive, affective, and conative. Abstrak[Indonesia]: Tulisan ini memfokuskan diri pada pemahaman toleransi yang ada pada saudara-saudara kita Etnis Tionghoa, khususnya yang ada di Kota Makassar, yang bertujuan untuk mengetahui bentuk toleransi Etnis Tionghoa Kota Makassar. Tulisan ini menggunakan desain pendekatan kualitatif, di mana datanya diperoleh dari wawancara, observasi dan dokumen. Pandangan Etnis Tionghoa mengenai toleransi tergambarkan dari sisi kognitif, afektif, dan konatif.
ALI ABDUL RAZIQ KAJIAN TEOLOGIS ATAS PEMIKIRANNYA Burhanuddin Yusuf
Aqidah-ta: Jurnal Ilmu Aqidah Vol 3 No 1 (2017)
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (649.646 KB) | DOI: 10.24252/aqidahta.v3i1.3274

Abstract

Ali Abdul Razik adalah pemikir muslim yang dinilai kontroversial karena pemikiran politiknya. Hal ini terjadi karena kajiannya berbeda arus dari pemikiran tokoh-tokoh muslim sezamannya, terutama dalam hal pemerintahan Islam. Pandangan  Ali Abdul Raziq sungguh pun lebih berat menggunakan pendekatan sejarah dan logika social, suatu pendekatan yang memang jarang digunakan oleh ulama pada umumnya, namun alasan-alasan teologis dibalik itu cukup kental kelihatan untuk memahami hal terebut, pengkaji perlu lebih kritis. Kerangka berfikir Ali Abdul Raziq oleh ulama sunni umumnya dianggap cendrung melahirkan Negara sekuler, yaitu Negara yang tidak bertanggungjawab pada persoalan-persoalan  agama. Inilah yang menjadi kunci penentangan mereka kepada pemikiran ali Abdul Raziq. Ali Abdul Raziq menegaskan bahwa dari kaca mata  Al-Qur‟an  maupun Sunnah, tidak ditemukan matan yang bersifat teologis tentang adanya bentuk pemerintahan tertentu yang wajib diikuti atau diterapkan oleh umat Islam. Implikasinya adalah, Rasulullah saw cukup bijak memberi ruang kepada umatnya untuk memilih bentuk pemerintahan yang sesuai untuknya. Oleh karena itu, maka bentuk pemerintahan umat Islam dari masa kemasa tidak bersifat passif, tidak kaku, selalu up to date.
MANUSIA DAN AMANAHNYA; KAJIAN TEOLOGIS BERWAWASAN LINGKUNGAN Burhanuddin Yusuf
Aqidah-ta: Jurnal Ilmu Aqidah Vol 2 No 2 (2016)
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.881 KB) | DOI: 10.24252/aqidahta.v2i2.3439

Abstract

Manusia adalah salah satu dari makhluk Allah swt. di samping memiliki sejumlah kekurangan, manusia memiliki suatu kelebihan, berupa potensi berkembang, potensi membangun peradaban dan kebudayaannya, karena padanya ia dianugerahi “akal.” Manusia diciptakan oleh Allah swt. sebagai ‘abid’ dan sebagai khalifah-Nya di atas bumi. Sebagai ‘abid’, manusia diharuskan untuk tunduk dan patuh hanya kepada Allah swt., mengandung arti bahwa keseluruhan jiwa dan aktifitas manusia haruslah sejalan dengan izin dan perintah Allah swt. Sebagai khalifah Allah, manusia memiliki dua fungsi utama, yaitu fungsi kepemimpinan, yaitu Jabatan Formal dan Fungsi Kepribadian Muslim. Bagi yang mendapat amanah Jabatan Formal, ia harus menjalankan amanah Allah dalam wujud merealisasikan hukum-hukum Allah, menerapkan keadilan, kebenaran dan melindungi seluruh masyarakat dan wilayah yang dipimpinnya. Fungsi Kepribadian Muslim mewajibkan seluruh muslim tak terkecuali untuk menjaga melestarikan dan mengembangkan kemakmuran di bumi sebagai hajat hidup bagi semua. Kealpaan menjalankan fungsi-fungsi tersebut berarti kealpaan dalam menunaikan amanah Allah di atas bumi, yang sesungguhnya amanah tersebut adalah amanah terpokok yang seharusnya menjadi perhatian utama dalam hidup manusia.
PERAN MANUSIA DALAM PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP (Suatu Tinjauan Teologis) Burhanuddin Yusuf
Aqidah-ta: Jurnal Ilmu Aqidah Vol 2 No 1 (2016)
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/aqidahta.v2i1.3463

Abstract

Manusia bukanlah satu-satunya makhluk Allah Swt. Manusia berada ditengah-tengah seribu satu jenis makhluk Allah lainnya. Seluruh makhluk diciptakan saling berinteraksi, saling menopang, saling membutuhkan dan saling mendukung dalam satu kesatuan hidup global yang direncanakan secara apik oleh Sang Pencipta, Subhanallah. Ternyata, manusia diciptakan dengan suatu spesifikasi khusus yang memberinya nilai lebih di antara sejumlah makhluk Allah lainnya, terutama dalam hal merekayasa lingkungannya untuk kehidupan yang lebih baik. Sayang sekali, spesifikasi khusus tersebut bermata dua. Ia bisa membuat hidup dan lingkungannya menjadi lebih baik, scbaliknya justru bisa membuat hidup dan lingkungannya menjadi binasa. Kerakusan, lupa akan tanggung jawab moral yang diakibatkan oleh absennya zikir kepada Sang Khalik menciptakan malapetaka. Sebaliknya, dengan fikiran yang jernih, moralitas yang tinggi dan kesadaran ketuhanan, akan menjadikan manusia menjadi makhluk terbaik dtengah-tengah makhluk Allah lainnya.
LINGKUNGAN HIDUP DAN MANUSIA (Kajian Falsafah Kalam) Burhanuddin Yusuf
Aqidah-ta: Jurnal Ilmu Aqidah Vol 3 No 2 (2017)
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1067.294 KB) | DOI: 10.24252/aqidahta.v3i2.4529

Abstract

Konsentrasi pemikiran manusia pada diri sejak masa renaissance yang menghsilkan watak kerakusan dalam mengeksplorasi alam menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan kehidupan di Bumi. Para ahli kalam modern terpanggil untuk mengambil bagian mengkaji persoalan Lingkungan Hidup ini dari kacamata kepercayaan agama Islam, dan ternyata ditemukan bahwa alam bukan sekedar diberikan begitu saja oleh Sang Pencipta kepada manusia, tapi juga amanah memakmurkannya yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya kelak.
KHILAFAH RASYIDAH KAJIAN ATAS MAKNA, FUNGSI DAN SISTEM SUKSESINYA Burhanuddin Yusuf
Jurnal Tafsere Vol 2 No 1 (2014)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.624 KB)

Abstract

Rasulullah Muhammad saw. tidak menetapkan satu bentuk atau sistem pemerintahan tertentu, termasuk di dalamnya model suksesi pemerintahan yang yang wajib diterapkan oleh umat Islam. Sistem pemerintahan Khulafa al-Rsyidin yang biasa dijadikan sebagai bentuk pemerintahan Islam terbaik, ternyata tidak memiliki sistem yang baku, karena masing-masing khalifah yang memerintah menerapkan sistem sendiri-sendiri, mengikuti irama situasi dan kondisi umat yang terjadi pada masanya masing-masingTidak terkecuali dari simpulan ketiga di atas adalah sistem suksesi dari empat khalifah dalam lingkaran khulafa al-rasyidin tersebut, ke empat-empatnya ternyata menerapkan dan mengalami sistem suksesi yang berbeda. Abu Bakar terpilih melalui suatu bentuk pemilihan umum dua tahap, Umar bin Khattab terpilih melalui penunjukan dan diterima oleh sahabat-sahabat besar, Ustman bin Affan terpilih melalui Dewan Formatur yang dibentuk oleh khalifah sebelumnya, sedang Ali bin Abi Thalib tampil sebagai khalifah keempat melalui desakan kaum pemberontak
KHILAFAH RASYIDAH: KAJIAN ATAS MAKNA, FUNGSI DAN SISTEM SUKSESINYA Burhanuddin Yusuf
Jurnal Tafsere Vol 3 No 1 (2015)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (977.002 KB)

Abstract

Rasulullah Muhammad saw. tidak menetapkan satu bentuk atau sistem pemerintahan tertentu, termasuk di dalamnya model suksesi pemerintahan yang yang wajib diterapkan oleh umat Islam. Sistem pemerintahan Khulafa al-Rsyidin yang biasa dijadikan sebagai bentuk pemerintahan Islam terbaik, ternyata tidak memiliki sistem yang baku, karena masing-masing khalifah yang memerintah menerapkan sistem sendiri-sendiri, mengikuti irama situasi dan kondisi umat yang terjadi pada masanya masing-masing. Tidak terkecuali dari simpulan ketiga di atas adalah sistem suksesi dari empat khalifah dalam lingkaran khulafa al-rasyidin tersebut, ke empat-empatnya ternyata menerapkan dan mengalami sistem suksesi yang berbeda. Abu Bakar terpilih melalui suatu bentuk pemilihan umum dua tahap, Umar bin Khattab terpilih melalui penunjukan dan diterima oleh sahabat-sahabat besar, Ustman bin Affan terpilih melalui Dewan Formatur yang dibentuk oleh khalifah sebelumnya, sedang Ali bin Abi Thalib tampil sebagai khalifah keempat melalui desakan kaum pemberontak. Dalam batas analisis terbatas pada khulafa al-rasyidin, ternyata tidak ditemukan satu sistem pemerintahan baku yang secara pasti dapat dipahami sebagai bentuk pemerintahan Islam. Pengecualian dari pernyataan nomor empat di atas adalah pada sistem nilai atau ruh dari praktek politik praktis yang dilakoni oleh ke empat khalifah tersebut, yang sungguh-sungguh memperlihatkan etika yang tinggi, loyalitas kepada Islam dan perjuangannya serta komitmen pada upaya persatuan dan kesatuan umat dalam rangka li i’la kalimatillah.