Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Nilai Budaya Jawa Dalam Pengendalian Malaria Untuk Mencapai Eliminasi Malaria Di Kawasan Bukit Menoreh Tri Isnani; Bina Ikawati; Asnan Prastawa; Zumrotus Sholichah
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol 24 No 4 (2021): Buletin Penelitian Sistem Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Humaniora dan Manajemen Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/hsr.v24i4.3974

Abstract

Bukit Menoreh is a border area of three regencies and two provinces which have malaria problems. The target to achieve and maintain the predicate as being free or has eliminated malaria was carried out byvarious control methods, either as government programs or community participations. The area itself is a Javanese cultural area in which its values are stronglyheld. This affects existing malaria control efforts. The research was conducted with a qualitative approach, held in three districts in Bukit Menoreh, each with 2 villages. The data was obtained through observations, indepth interview, and focus group discussions (FGD) with 3 groups in each village. The results showed that from the various control efforts carried out there was a culture of ‘isin’ (shame), ‘pekewuh’ (feeling of reluctant), and the influence of community leaders, especially in ‘gotong royong’ or community service activities in environmental cleanliness, health educations, and migration surveillance. The conclusion of this study is that some of these values are supportive, and some are hindering the effort to control malaria. Therefore, a special approach is needed with attention to culture. Intervention to control malaria should pay local wisdom and culture so it can be accepted and implemented. Abstrak Bukit Menoreh adalah daerah perbatasan tiga kabupaten dari dua provinsi yang merupakan daerah dengan masalah malaria. Target mencapai dan mempertahankan predikat bebas atau eliminasi malaria dilakukan dengan berbagai cara pengendalian, baik program dari pemerintah maupun peran serta masyarakat. Wilayah ini merupakan wilayah budaya Jawa yang di dalamnya terdapat nilai-nilai budaya yang masih kuat dipegang. Hal ini berpengaruh terhadap usaha pengendalian malaria yang ada. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif, di tiga kabupaten di Bukit Menoreh masing-masing diambil dua desa. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan diskusi kelompok terarah (DKT) terhadap tiga kelompok di tiap desa. Hasil penelitian menunjukkan dari berbagai usaha pengendalian malaria terdapat budaya rasa isin (malu), rasa ewuh (sungkan), dan panut (patuh) terhadap pengaruh tokoh dalam masyarakat terutama dalam kegiatan kerja bakti atau gotong royong kebersihan lingkungan, sosialisasi, dan surveilans migrasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa nilai tersebut ada yang mendukung dan ada yang menghambat usaha pengendalian malaria sehingga diperlukan pendekatan khusus dengan memperhatikan budaya. Kebijakan pengendalian malaria sebaiknya memperhatikan budaya lokal sehingga bisa menggunakan budaya lokal dan bisa diterima dan diterapkan.
Spot Survei Reservoir Leptospira di Daerah Dataran Rendah dan Dataran Tinggi Zumrotus Sholichah; Tri Wijayanti; Jarohman Raharjo; Dyah Widiastuti; Dewi Puspita Ningsih; Dwi Priyanto; Agung Puja Kesuma
Jurnal Litbang: Media Informasi Penelitian, Pengembangan dan IPTEK Vol 16, No 2 (2020): Desember
Publisher : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Pati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33658/jl.v16i2.162

Abstract

ENGLISHThe presence of rats and direct contact with rat is a risk factor of Leptospirosis. Rats play an important role in the transmission of Leptospira to humans. Rats are able to adapt in all habitats from the coast to the highlands. The purpose of this paper is to describe rats as Leptospira reservoirs in the lowlands and highlands as a picture of rats confirmed by the source of Leptospira transmission for animals, humans and their environment and serovar circulating in the lowlands and highlands. This research uses deskriptif approach  with a cross-sectional design, carried out around the latest leptospirosis cases in Mojolawaran Village, Gabus District and Tajungsari Village, Tlogowungu District, Pati Regency. Data collection was carried out in April-May 2011. The Results of the research showed that the number of rats caught is higher in the lowlands with almost the same number of species between the lowlands and highlands with trap success 15,33%. Rats infected with Leptospira in the lowlands are Rattus tanezumi while in the highlands are Rattus tanezumi and Suncus murinus so that R. tanezumi and S. murinus act as reservoirs of Leptospira and sources of transmission at the survey sites with serovars infected are Hardjo, Autumnalis and Sejroe. INDONESIAKeberadaan tikus dan kontak dengan tikus merupakan salah satu faktor risiko terjadinya leptospirosis. Tikus berperan penting dalam menularkan Leptospira kepada manusia serta mampu beradaptasi di segala habitat dari daerah pantai hingga dataran tinggi. Tujuan penelitian  ini untuk mendeskripsikan tikus sebagai reservoir Leptospira di dataran rendah dan dataran tinggi sebagai gambaran jenis tikus yang terkonfirmasi sumber penularan Leptospira bagi hewan, manusia, dan lingkungannya serta serovar yang bersirkulasi di dataran rendah dan dataran tinggi. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan rancangan potong lintang. Penelitian dilakukan di sekitar kasus leptospirosis terbaru di Desa Mojolawaran Kecamatan Gabus dan Desa Tajungsari Kecamatan Tlogowungu Kabupaten Pati. Pengumpulan data dilakukan pada April-Mei 2011. Hasil penelitian menunjukkan jumlah tikus tertangkap lebih banyak di dataran rendah dengan jumlah spesies yang hampir sama antara dataran rendah dan tinggi dengan keberhasilan penangkapan 15,33%. Spesies tikus yang terinfeksi Leptospira di dataran rendah adalah Rattus tanezumi, sedangkan di dataran tinggi adalah Rattus tanezumi dan Suncus murinus. R. tanezumi dan S. murinus berperan sebagai reservoir Leptospira dan sumber penularan di lokasi survei dengan serovar yang menginfeksi adalah Hardjo, Autumnalis dan Sejroe.