Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

”Laknat Ziyarah Qubur Bagi Perempuan” (Studi Takhrij Hadis) Maryono, Muhammad; Riza Hadikusuma, Riza
Khuluqiyya: Jurnal Kajian Hukum dan Studi Islam Vol. 4 No. 2 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Hikmah 2

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (825.079 KB) | DOI: 10.56593/khuluqiyya.v4i2.89

Abstract

This article was written with the intention of knowing the quality of the hadith that curses women who make pilgrimages to the grave. The focus of his writing leads to the research of the hadith sanad which has several lines of narration, namely from the companions of Abu Hurairah, Ibn Abbas, and Hassan bin Sabit. The conclusion is that in terms of the sanad of the hadith, the quality is authentic. Meanwhile, from the point of view, it can be concluded that the prohibition should not make pilgrimages because the hadith of the prophet means for women who often carry out pilgrimages to the grave because the hadith uses sighot or the form of mubalaghoh (zawwarot).
IJTIHAD AL-SYAUKÂNÎ DALAM TAFSÎR FATHAL-QADÎR: TELAAH ATAS AYAT-AYAT POLIGAMI Maryono, Muhammad
al-'adalah Vol 8 No 2 (2011): Al-'Adalah
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/adalah.v10i2.250

Abstract

Ijtihad al-Syaukânî Dalam Tafsir FathAl-Qadîr: Telaah atas Ayat-ayat Poligami. AlSyaukânî lebih memilih larangan menikah lebih dari empat. Pendapatnya tersebut didasarkan pada sunnah bukan berdasarkan dalil Alquran. Alasan atas pendapatnya bahwa karena surat al-Nisa[4] ayat 3 itu secara tekstual masih diperdebatkan oleh para ulama, apakah penafsiran ayat tersebut untuk menyatakan jumlah bilangan dua istri, tiga istri, empat istri atau justeru penafsirannya dijumlahkan semua sehingga menjadi sembilan orang istri. Terlebih hal tersebut terjadi di masa jahiliyah dan kedatangan Islam dimana agama Islam secara periodik ingin membatasi kondisi tersebut. Al-Syaukânî membolehkan poligami dengan persyaratan tertentu. Misalnya adil dalam hubungan biologis, nafkah, dan cinta kasih.Kata Kunci: al-Syaukânî, ijtihâd, Tafsir Fathal-Qadîr, poligami