Aflahal Misbah
Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Muhammad Shalih as-Samarani dalam Kacamata Masyarakat Muslim Milenial Aflahal Misbah
Millati: Journal of Islamic Studies and Humanities Vol 3, No 1 (2018): Millati
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (630.159 KB) | DOI: 10.18326/mlt.v3i1.29-50

Abstract

Muhammad Salih As-Samarani was one of the Nusantara's intellectual figures of the past which was associated with the term 'Islam Nusantara'. This figure, in some of 'Islam Nusantara' literatures, is considered as one of the representative figures to explore and discover the foundation of 'Islam Nusantara'. His actions and thoughts in the 19th century in Java, which were able to connect Mecca and Pesantren and Pesantren and society, were indeed not negligible in the effort to build 'Islam Nusantara' argument. Recognition of the As-Samarani figure, in fact, is not only a field of scientific study for scholars, but also for ordinary people who are also increasingly keen to introduce As-Samarani in public. In this paper, as a preliminary study, the author tries to focus on seeing how As-Samarani is represented in public by ordinary people through YouTube. Almost all of the videos on Youtube which try to re-display As-Samarani figure appeared after the 'Islam Nusantara' become the 33rd NU Congress in Jombang. As-Samarani's figure on Youtube shows that along with the affirmation of the term 'Islam Nusantara', the As-Samarani figure is even more interesting for ordinary people, especially in media of his magical power contexts (such as turning stones into gold, meeting Imam Ghazali, his goats are able to defeat tigers), not his actions and thoughts, or more specifically perhaps his writings.  
KESENANGAN DAN OTORITAS KEAGAMAAN: SOSIALISASI ANTI-MUSIK DI INSTAGRAM Aflahal Misbah
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 21 No. 2 (2019)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v21i2.819

Abstract

Perdebatan tentang kesenangan merupakan isu lama dalam masyarakat Muslim yang masih populer hingga sekarang. Perdebatan ini tentu saja tidak dapat dilepaskan dari kelompok-kelompok Muslim seperti Salafi yang menyebarkan   paham penentangan terhadap beragam bentuk dan praktik kesenangan. Berangkat dari pandangan Asef Bayat bahwa sosialisasi anti-kesenangan berkaitan erat dengan preservasi kuasa, tulisan ini memfokuskan perhatian pada reaksi masyarakat Muslim Indonesia terhadap sosialisasi anti-musik di media sosial Instagram oleh Salafi. Dari tagar #musikharam dan #hukummusik, perhatian kemudian diarahkan pada sosialisasi anti-musik yang dilakukan oleh tiga akun utama, yaitu, kajianislam, ikhwan_kendari, dan daeng_indonesia. Karakter dan pola sosialisasi khas yang ditunjukkan oleh masing-masing akun menghasilkan pemahaman yang beragam terhadap pola reaksi yang muncul. Permintaan argumen, musik islami, dan sejarah dakwah Walisongo, adalah tiga dari pola umum yang bisa dipahami dari semua respons yang ada. Dari ketiga pola reaksi tersebut, penulis berargumen bahwa sosialisasi anti-kesenangan bukan semata berkaitan erat dengan preservasi kuasa, melainkan juga berpotensi melemahkan otoritas yang mensosialisasikan itu sendiri, terutama bagi otoritas keagamaan dari figur-figur Salafi.