Ihsan Nurmansyah
IAIN Pontianak

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PARALEL, TRANSFORMASI DAN HAPLOLOGI TAFSIR TUJUH SURAH KARYA MUHAMMAD BASIUNI IMRAN DENGAN KARYA TAFSIR MUHAMMAD RASYID RIDHA: KAJIAN INTERTEKSTUALITAS Ihsan Nurmansyah; Adib Sofia
Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Tafsir Vol 6, No 2 (2021): Al-Bayan : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Qur’anic and Tafsir studies Programme at Ushuluddin Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1908.437 KB) | DOI: 10.15575/al-bayan.v6i2.14685

Abstract

Dari penelusuran awal, penafsiran Muhammad Basiuni Imran dalam Tafsir Tujuh Surah cenderung berkutat pada ranah teks dan tidak menghubungkan dengan ranah konteks, sehingga penafsirannya lebih cenderung mirip dengan karya tafsir Muḥammad Rashīd Riḍā. Tujuan penelitian ini untuk membuktikan keterpengaruhan tersebut. Penelitian ini menggunakan teori intertekstualitas yang diperkenalkan oleh Julia Kristeva. Penelitian ini menemukan bahwa bentuk-bentuk intertekstualitas yang digunakan dalam Tafsir Tujuh Surah adalah 1) paralel, adanya kesamaan antara fenoteks dan genoteks mengenai alasan dan tujuh pilihan surah yang ditafsirkan beserta penafsirannya; 2) transformasi, genoteks mengalami alih bahasa di dalam fenoteks, yakni dari bahasa Arab ke bahasa Melayu-Jawi; 3) haplologi, genoteks mengalami pengurangan di dalam fenoteks dengan hanya mengambil penafsiran di bagian pendahuluan saja. Dari ketiga bentuk intertekstualitas ini membuktikan bahwa Tafsir Tujuh Surah karya Muhammad Basiuni Imran merupakan terjemahan dari Tafsir al-Fa>tih}ah wa Sittu Suwar min Khawatim al-Qur’an karya Muḥammad Rashīd Riḍā. Penemuan ini mematahkan penelitian Tesis dari Wendi Parwanto dan Ica Fauziah Husnaini yang menyebutkan sumber penafsiran Muhammad Basiuni Imran yang berasal dari penafsiran Muḥammad Rashīd Riḍā, adalah hanya Surah al-Fa>tih}ah dan al-‘As}r. Namun, penemuan ini membuktikan bahwa ketujuh surah yang ditafsirkan Muhammad Basiuni Imran seluruhnya bersumber dari penafsiran Muḥammad Rashīd Riḍā.
DAKWAH KREATIF MELALUI FILM PENDEK DI MEDIA SOSIAL INSTAGRAM (Kajian Living Hadis dalam Film Papi dan Kacung Episode 1-4) Ihsan Nurmansyah
Jurnal Al-Hikmah: Jurnal Dakwah Vol 15, No 1 (2021)
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/jhjd.v15i1.1925

Abstract

Tulisan ini membahas tentang kajian living hadis dalam film “Papi dan Kacung” (baca: PdK) episode 1-4 yang diunggah pada tahun 2018 oleh Qoryyan, pengguna akun Instagram asal Indonesia yang mempunyai 107.000 pengikut. Film “PdK” episode 1-4 adalah film pendek bernuansa Islami yang berdurasi sekitar 1 menit dan dalam setiap adegannya menunjukkan resepsi dari hadis Nabi. Oleh karena itu, untuk mengetahui pesan Nabi dan proses resepsi atas teks hadis dalam film “PdK” episode 1-4 adalah menggunakan teori resepsi fungsional, transmisi pengetahuan dan transformasi. Hasil dari penelitian ini adalah: 1) resepsi fungsional pada aspek informatif, yakni menutup mulut saat menguap, mengendalikan emosi saat marah, memanfaatkan waktu luang dan nikmat sehat, serta larangan mengutuk kedua orang tua. Sementara itu, resepsi fungsional pada aspek performatif, yakni Kacung selalu mengikuti nasihat Papinya dalam bentuk mengucapkan istighfar “Astaghfirullah al-‘Azhim”, kaget dan terbangun dari tidur, serta meminta ampun. 2) transmisi pengetahuan dalam film “PdK” episode 1-4 adalah berawal pada setiap episodenya selalu menampilkan caption “One Episode One Hadis” yang bertujuan sebagai pengingat diri terlebih dahulu sebelum ditujukan kepada orang lain. Selanjutnya, pemeran Papi sebagai agen kedua membacakan hadis di dalam Kitab Riyadhus Shalihin yang dijadikan sebagai agen utama. 3) transformasi film “PdK” episode 1-4, yaitu judul dan teks hadis yang dibacakan oleh pemeran Papi hanya diambil dari Kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Hal ini karena pembuat film sangat terinspirasi dan termotivasi dari 99 Pesan Nabi: Edisi Lengkap Komik Hadis Bukhari-Muslim, sehingga menjadikan media dakwah mengalami perkembangan, yang sebelumnya disampaikan melalui tulisan di dalam komik dan kini disampaikan melalui film pendek di Instagram.