Pudjiastuti
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret /RSUD Dr. Moewardi, Surakarta

Published : 11 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Perkembangan diagnosis sepsis pada anak Anindita Wulandari; Sri Martuti; Pudjiastuti Kaswadi
Sari Pediatri Vol 19, No 4 (2017)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (879.858 KB) | DOI: 10.14238/sp19.4.2017.237-44

Abstract

Sepsis merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas bayi dan anak di seluruh dunia. Sepsis awalnya didefinisikan sebagai kecurigaan atau infeksi yang terbukti, disertai kondisi klinis SIRS (systemic inflammatory response syndrome), tetapi definisi tersebut kini ditinggalkan. Sesuai konsensus mengenai sepsis terbaru, sepsis didefinisikan sebagai keadaan disfungsi/gagal organ yang mengancam nyawa, disebabkan oleh respon pejamu yang tidak teregulasi terhadap infeksi. Penilaian disfungsi/gagal organ pada anak menggunakan beberapa sistem penilaian, antara lain, Pediatric Multiple Organ Dysfunction Score (P-MODS), Pediatric Logistic Organ Dysfunction (PELOD), Pediatric Logistic Organ Dysfunction–2 (PELOD-2), dan pada konsensus terbaru diperkenalkannya sistem Pediatric Sequential Organ Failure Assessment (pSOFA) yang diadaptasi dari sistem Sequential Organ Failure Assessment (SOFA) dengan hasil validasi menunjukkan bahwa pSOFA memberikan hasil yang sama baik dengan sistem penilaian yang lain. Di Indonesia saat ini, PELOD-2 merupakan sistem penilaian disfungsi organ yang direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam mendiagnosis sepsis pada anak.
Hubungan Kadar Interleukin-6 dengan Luaran Infeksi Pascabedah Albert Daniel Solang; Antonius Pudjiadi; Abdul Latief; Yusrina Istanti; Sri Martuti; Moh. Supriatna; Pudjiastuti Pudjiastuti
Sari Pediatri Vol 16, No 4 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.4.2014.236-40

Abstract

Latar belakang. Pembedahan merupakan stresor yang memicu respons metabolik sehingga berpengaruhterhadap luaran termasuk status nutrisi dan infeksi. Berbagai parameter respons fase akut, status nutrisi, usia,lama pembedahan, serta skor ASA merupakan faktor risiko terjadinya infeksi luka operasi yang merupakankomplikasi pembedahan.Tujuan. Mengetahui hubungan antara IL-6 sebagai parameter respons fase akut dengan luaran infeksipascabedah.Metode. Penelitian observasional analitik dilakukan di ICU anak tiga rumah sakit, yaitu RS Dr. CiptoMangunkusumo, RS Dr. Kariadi, dan RSUD Dr. Muwardi. Dilakukan pemeriksaan kadar IL-6, kortisol,dan CRP pada hari ke-5 pascabedah. Lama dan jenis pembedahan, skor ASA, dan usia dicatat dari rekammedis. Dilakukan uji korelasi Spearman untuk melihat hubungan antara kadar IL-6 dengan kadar kortisol,CRP dan RBP, serta Fisher’s exact test untuk melihat hubungan antara usia, lama pembedahan, skor ASA,dan IL-6 dengan luaran infeksi.Hasil. Selama kurun waktu 6 bulan, terdapat 30 subjek yang memenuhi kriteria inklusi. Didapatkan korelasiantara kadar IL-6 dengan CRP, kortisol, dan RBP [r=0,8 (p=0,00); r=0,4 (p=0,02); r=-0,5 (p=0,03)]. Tidakterdapat hubungan antara usia, lama pembedahan, dan skor ASA dengan luaran infeksi (p>0,05), tetapiterdapat hubungan yang bermakna antara kadar IL-6 dengan luaran infeksi (p=0,04).Kesimpulan. Terdapat korelasi antara kadar IL-6 pada hari ke-5 pascabedah dengan CRP, kortisol, dan RBP.Kadar IL-6 di atas 11 pg/mL pada hari ke-5 pascabedah merupakan prediktor luaran infeksi.
Perbedaan Kadar IL-6 dan C-Reactive Protein pada Anak Pascabedah Perut dengan Bedah Saraf Albert Daniel Solang; Antonius Pudjiadi; Abdul Latief; Sri Martuti; Yusrina Istanti; Magdalena E Sahetapy; Pudjiastuti Pudjiastuti; Moh. Supriatna
Sari Pediatri Vol 16, No 3 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.3.2014.157-60

Abstract

Latar belakang. Kadar interleukin 6 (IL-6) dan C-reactive protein (CRP) meningkat pascabedah. Peningkatan kadar CRP diinduksi oleh IL-6. Peningkatan kadar keduanya berhubungan dengan lama pembedahan, tetapi penelitian lain mendapatkan luas trauma jaringan yang lebih berpengaruh. Jenis pembedahan bedah perut berhubungan dengan transient endotoksemia. Endotoksemia akan meningkatkan kadar IL-6 secara signifikanTujuan. Mengetahui apakah terdapat perbedaan respon fase akut berupa kadar IL-6 dan CRP pada pascabedah bedah saraf dan bedah perut.Metode. Penelitian analitik observasional dilakukan di tiga rumah sakit, yaitu RS Dr. Cipto Mangunkusumo, RSUP Dr. Kariadi, dan RSUD Dr. Moewardi pada Januari 2014-Juni 2014. Pemeriksaan darah CRP dan IL-6 dilakukan pada hari ke-1 dan ke-5 pascabedah di laboratorium. Dilakukan pencatatan usia, jenis kelamin, lama pembedahan, jumlah perdarahan, dan skor ASA serta penilaian status nutrisi prabedah. Analisis data menggunakan Program SPSS versi 17.0, analisis parametrik menggunakan uji t tidak berpasangan. Apabila syarat tidak terpenuhi digunakan metode uji Mann-Whitney.Hasil. Terdapat 30 subjek selama kurun waktu penelitian, sebagian besar jenis operasi adalah bedah saraf (56%) dan bedah perut (38%). Median kadar IL-6 pada hari ke-1 pascabedah perut 156 pg/mL dan bedah saraf 88 pg/mL (p>0,05), sedangkan median kadar IL-6 hari ke-5 pascabedah berturut-turut 22 pg/mL dan 14 pg/mL (p>0,05). Median kadar CRP hari ke-1 pascabedah didapatkan lebih tinggi pada jenis bedah perut 25 mg/L, sedangkan pada bedah saraf 10 mg/dL. Sementara itu, median kadar CRP pada hari ke-5 pascabedah masing-masing 17 mg/dL dan 9 mg/dL (p>0,05)Kesimpulan. Tidak terdapat perbedaan bermakna respon fase akut bedah saraf dan bedah perut baik berupa peningkatan kadar IL-6 maupun kadar CRP pada hari ke-1 dan ke-5 pascabedah.
Faktor Risiko Kegagalan Ventilasi non Invasif di Pediatric Intensive Care Unit (PICU) RSUD Dr. Moewardi Leksmana Hidayatullah; Sri Martuti; Pudjiastuti Pudjiastuti
Sari Pediatri Vol 21, No 3 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.734 KB) | DOI: 10.14238/sp21.3.2019.177-82

Abstract

Latar belakang. Ventilasi non invasif (non invasive ventilation = NIV) dapat menjadi alternatif ventilasi selain intubasi endotrakeal, belum banyak didapatkan penelitian mengenai NIV di negara berkembang. Karakteristik awal pasien mempunyai peranan sebagai faktor risiko kegagalan NIV, tetapi masih didapatkan hasil yang beragam.Tujuan. Menganalisis faktor risiko kegagalan terapi NIV berdasarkan karakteristik awal pasien di Pediatric Intensive Care Unit Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi.Metode. Penelitian analitik dengan desain cross sectional dengan besar sampel 25 anak, dilakukan pengambilan data melalui rekam medik dengan periode november 2016 sampai mei 2018.Hasil. Didapatkan hasil, sebanyak 10 dari 25 pasien (40%) gagal NIV, 22 pasien (88%) sebagai lini pertama sedangkan sebagai penyapihan ventilator sebanyak 3 pasien (12%). Analisis multivariat dengan menggunakan regresi logistik menunjukkan jalur nutrisi enteral (P value 0,028 ;OR 10,64 (1,29-87,56)CI 95%) dapat menjadi prediktor kegagalan penggunaan NIV.Kesimpulan. Pemberian Nutrisi secara enteral pada saat awal penggunaan NIV dapat dijadikan prediktor kegagalan.
Retinol Binding Protein dan Luaran Pascabedah Sri Martuti; Antonius Pudjiadi; Abdul Latief; Yusrina Istanti; Pudjiastuti Pudjiastuti; Moh. Supriatna
Sari Pediatri Vol 16, No 4 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.632 KB) | DOI: 10.14238/sp16.4.2014.271-7

Abstract

Latar belakang. Malnutrisi sering ditemukan pada pascabedah dan berhubungan dengan luaran yang tidakbaik, seperti sepsis atau infeksi luka operasi. Retinol binding protein (RBP) merupakan parameter biokimiayang cukup reliabel untuk menilai malnutrisi.Tujuan. Mengetahui pengaruh malnutrisi berdasarkan penurunan RBP terhadap luaran pasienpascabedahMetode. Penelitian observasional analitik dilakukan di ICU Anak tiga rumah sakit yakni RS CiptoMangunkusumo, RSUP Dr. Kariadi, dan RSUD Dr. Moewardi. Dilakukan pengukuran RBP, kortisol,CRP pada hari pertama dan kelima pascabedah. Luaran infeksi dinilai berdasarkan skor ASEPSIS. Analisisbivariat dilakukan terhadap beberapa faktor risiko dengan kejadian infeksi luka operasi dan sepsis. Analisisdata menggunakan program SPSS versi 17.00.Hasil. Selama kurun waktu 6 bulan, 39 subjek memenuhi kriteria inklusi, tetapi 4 tidak melanjutkanpenelitian. Penurunan kadar RBP hari kelima pascabedah 34,3% kasus. Penurunan RBP, CRP, usia <1tahun, dan skor ASA 􀁴3 berisiko mendapatkan infeksi luka operasi berturut-turut 4,4; 3,3;1,2; dan 1,3 kalidengan nilai p>0,05 dan 95% IK masing-masing (0,35-54,4; 0,3 – 40,8;0,1-15,8; dan 0,97-1,6). Faktorlain-status nutrisi prabedah, lama pembedahan, kategori luka operasi dan kortisol-juga didapatkan hasilyang tidak signifikan. Penelitian ini tidak mendapatkan luaran sepsis.Kesimpulan. Terdapat risiko terjadi infeksi luka operasi 4,4 kali apabila kadar RBP menurun, 3,3 kaliapabila CRP meningkat, 1,2 kali apabila usia <1 tahun, dan 1,3 kali apabila skor ASA 􀁴3, tetapi secarastatistik tidak ada perbedaan bermakna.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Status Nutrisi Akut Pascabedah Yusrina Istanti; Antonius Pudjiadi; Abdul Latief; Sri Martuti; Moh. Supriatna; Pudjiastuti Pudjiastuti
Sari Pediatri Vol 16, No 3 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.573 KB) | DOI: 10.14238/sp16.3.2014.215-20

Abstract

Latar belakang. Malnutrisi sering ditemukan pada pasien pascabedah dan berhubungan dengan penurunan fungsi otot, respirasi, imun serta penyembuhan luka yang terganggu. Tindakan pembedahan merupakan stresor yang memicu respons metabolik sehingga berpengaruh terhadap luaran, termasuk status nutrisi.Tujuan. Mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi status nutrisi akut pascabedah.Metode. Penelitian observasional analitik dilakukan di ICU anak tiga rumah sakit, yaitu RS Cipto Mangunkusumo, RS Dr Kariadi, dan RSUD Dr Muwardi. Dilakukan pemeriksaan kadar retinol binding protein (RBP) hari ke-1 dan ke-5 pascabedah sebagai indikator status nutrisi, kortisol, dan C-reactive protein (CRP) sebagai marker respons inflamasi. Status nutrisi berdasarkan antropometri dinilai, jenis, dan lama pembedahan dicatat. Dilakukan uji korelasi untuk melihat hubungan antara kortisol, CRP, dan RBP dengan kadar RBP hari ke-5. Uji kai kuadrat untuk melihat hubungan status nutrisi, jenis dan lama pembedahan dengan kadar RBP hari ke-5.Hasil. Selama kurun waktu 6 bulan didapatkan 39 subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan 4 subjek dieksklusi. Penurunan kadar RBP hari ke-5 dijumpai pada 12 (34,4%) subjek. Didapatkan hubungan antara kadar kortisol, CRP, dan RBP hari ke-1 dengan kadar RBP hari ke-5 [r=-0,35 (p=0,04); r=-0,53 (p=0,001); r=0,42 (p=0,01)]. Tidak terdapat hubungan antara status nutrisi berdasarkan antropometri serta jenis dan lama pembedahan dengan kadar RBP hari ke-5 (p>0,05).Kesimpulan. Terdapat hubungan antara kadar RBP hari ke-1 dan ke-5 sebagai parameter status nutrisi akut pascabedah. Kadar RBP hari ke-5 tidak dipengaruhi oleh status nutrisi prabedah serta jenis dan lama pembedahan, tetapi oleh kadar kortisol dan CRP sebagai marker respons stres.
Peran delta neutrophil index sebagai prediktor sepsis pada anak Lucky Yogasatria Natasukma; Pudjiastuti Pudjiastuti; Sri Martuti
Sari Pediatri Vol 21, No 2 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.237 KB) | DOI: 10.14238/sp21.2.2019.115-20

Abstract

Latar belakang. Sepsis adalah disfungsi organ yang mengancam kehidupan yang disebabkan oleh disregulasi imun terhadap infeksi. Dalam keadaan stres atau infeksi, neutrofil imatur dilepas ke sirkulasi. Delta Neutrophil Index (DNI) dapat mencerminkan jumlah granulosit imatur di sirkulasi. Di Indonesia, belum ada penelitian manfaat DNI pada populasi anak.Tujuan. Untuk mengetahui peran DNI sebagai prediktor sepsis pada anak.Metode. Penelitian observasional analitik dengan menggunakan studi potong lintang. Subjek penelitian adalah anak usia 1 bulan-18 tahun yang dirawat di PICU dan HCU anak, RSUD Dr. Moewardi, Surakarta, dengan kecurigaan infeksi antara bulan Januari sampai November 2018. Setiap subjek diukur kadar DNI dan dikategorikan sepsis atau tidak sepsis. Kemampuan diagnosis DNI dinyatakan sebagai sensitivitas, spesifisitas, nilai duga positif, nilai duga negatif, rasio kemungkinan positif, rasio kemungkinan negatif, akurasi dan post-test probabilityHasil. Cut-off DNI ≥2,7% didapatkan peningkatan risiko 33 kali untuk seseorang terkena sepsis, dengan sensitivitas 84,6%, spesifitas 85,7%, nilai duga positif positif 78,6%, nilai duga negatif sebesar 90%, rasio kemungkinan positif 5,9, sedangkan rasio kemungkinan negatif 0,2 serta akurasi 82,3%, dengan post test probability meningkat 26,8%.Kesimpulan. Delta neutrofil indeks dapat digunakan sebagai prediktor sepsis pada anak.
Admission Serum Procalcitonin Thresholds and the PELOD-2 Score: A Prospective Analytical Study for Identifying Risk Ratios of Severe Organ Dysfunction in Pediatric Critical Care Raisa Amini; Pudjiastuti; Sri Lilijanti
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 10 No. 5 (2026): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine & Translational Research
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37275/bsm.v10i5.1574

Abstract

Background: Multiple organ dysfunction syndrome (MODS) remains a predominant cause of mortality in Pediatric Intensive Care Units (PICUs). While the Pediatric Logistic Organ Dysfunction-2 (PELOD-2) score is the established standard for assessing severity, it requires time-consuming serial calculations. There is an urgent need for a rapid, admission-based prognostic biomarker. This study evaluates the association between serum procalcitonin (PCT) and the severity of organ dysfunction in critically ill children. Methods: A prospective cross-sectional study was conducted at Dr. Moewardi Regional General Hospital, Indonesia, involving 25 children aged 1 month to 18 years with suspected infection. Organ dysfunction was quantified using the PELOD-2 score, and serum PCT was measured via Enzyme-Linked Fluorescent Assay (ELFA) within 24 hours of admission. Statistical analysis utilized Spearman’s rank correlation, multivariate linear regression, and Receiver Operating Characteristic (ROC) curve analysis. Results: The cohort had a median age of 12 months. The median PCT level was 0.88 ng/mL. A significant positive correlation was observed between serum PCT and PELOD-2 scores (r = 0.39, p = 0.051; multivariate beta = 0.42, p = 0.043). ROC analysis identified a PCT threshold of greater than 11 ng/mL as the optimal indicator for moderate-to-severe organ dysfunction (AUC 0.82). Patients exceeding this threshold had a significantly elevated risk (Risk Ratio = 2.20; 95 percent CI: 1.15–4.24; p = 0.035). Conclusion: Early serum procalcitonin measurement serves as a powerful independent factor associated with organ dysfunction severity. A cutoff value of greater than 11 ng/mL significantly stratifies risk, allowing clinicians to anticipate the progression of organ failure.
Admission Serum Procalcitonin Thresholds and the PELOD-2 Score: A Prospective Analytical Study for Identifying Risk Ratios of Severe Organ Dysfunction in Pediatric Critical Care Raisa Amini; Pudjiastuti; Sri Lilijanti
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 10 No. 5 (2026): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine & Translational Research
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37275/bsm.v10i5.1574

Abstract

Background: Multiple organ dysfunction syndrome (MODS) remains a predominant cause of mortality in Pediatric Intensive Care Units (PICUs). While the Pediatric Logistic Organ Dysfunction-2 (PELOD-2) score is the established standard for assessing severity, it requires time-consuming serial calculations. There is an urgent need for a rapid, admission-based prognostic biomarker. This study evaluates the association between serum procalcitonin (PCT) and the severity of organ dysfunction in critically ill children. Methods: A prospective cross-sectional study was conducted at Dr. Moewardi Regional General Hospital, Indonesia, involving 25 children aged 1 month to 18 years with suspected infection. Organ dysfunction was quantified using the PELOD-2 score, and serum PCT was measured via Enzyme-Linked Fluorescent Assay (ELFA) within 24 hours of admission. Statistical analysis utilized Spearman’s rank correlation, multivariate linear regression, and Receiver Operating Characteristic (ROC) curve analysis. Results: The cohort had a median age of 12 months. The median PCT level was 0.88 ng/mL. A significant positive correlation was observed between serum PCT and PELOD-2 scores (r = 0.39, p = 0.051; multivariate beta = 0.42, p = 0.043). ROC analysis identified a PCT threshold of greater than 11 ng/mL as the optimal indicator for moderate-to-severe organ dysfunction (AUC 0.82). Patients exceeding this threshold had a significantly elevated risk (Risk Ratio = 2.20; 95 percent CI: 1.15–4.24; p = 0.035). Conclusion: Early serum procalcitonin measurement serves as a powerful independent factor associated with organ dysfunction severity. A cutoff value of greater than 11 ng/mL significantly stratifies risk, allowing clinicians to anticipate the progression of organ failure.
Admission Serum Procalcitonin Thresholds and the PELOD-2 Score: A Prospective Analytical Study for Identifying Risk Ratios of Severe Organ Dysfunction in Pediatric Critical Care Raisa Amini; Pudjiastuti; Sri Lilijanti
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 10 No. 5 (2026): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine & Translational Research
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37275/bsm.v10i5.1574

Abstract

Background: Multiple organ dysfunction syndrome (MODS) remains a predominant cause of mortality in Pediatric Intensive Care Units (PICUs). While the Pediatric Logistic Organ Dysfunction-2 (PELOD-2) score is the established standard for assessing severity, it requires time-consuming serial calculations. There is an urgent need for a rapid, admission-based prognostic biomarker. This study evaluates the association between serum procalcitonin (PCT) and the severity of organ dysfunction in critically ill children. Methods: A prospective cross-sectional study was conducted at Dr. Moewardi Regional General Hospital, Indonesia, involving 25 children aged 1 month to 18 years with suspected infection. Organ dysfunction was quantified using the PELOD-2 score, and serum PCT was measured via Enzyme-Linked Fluorescent Assay (ELFA) within 24 hours of admission. Statistical analysis utilized Spearman’s rank correlation, multivariate linear regression, and Receiver Operating Characteristic (ROC) curve analysis. Results: The cohort had a median age of 12 months. The median PCT level was 0.88 ng/mL. A significant positive correlation was observed between serum PCT and PELOD-2 scores (r = 0.39, p = 0.051; multivariate beta = 0.42, p = 0.043). ROC analysis identified a PCT threshold of greater than 11 ng/mL as the optimal indicator for moderate-to-severe organ dysfunction (AUC 0.82). Patients exceeding this threshold had a significantly elevated risk (Risk Ratio = 2.20; 95 percent CI: 1.15–4.24; p = 0.035). Conclusion: Early serum procalcitonin measurement serves as a powerful independent factor associated with organ dysfunction severity. A cutoff value of greater than 11 ng/mL significantly stratifies risk, allowing clinicians to anticipate the progression of organ failure.