Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

TIRANI KEKUASAAN DALAM SIRKULASI TEKS (Menelaah Pemikiran Arkeologis Michel Foucault tentang Kekuasaan) Moh. Hefni, Moh. Hefni
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 9, No 1 (2006): Islam dan Wacana Radikalisme
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Nama Foucault tidak asing lagi dalam belantara pemikiran intelektual Indonesia. Ia dikenal melalui pemikirannya yang khas tentang kakuasaan. Karenanya, tulisan ini menyajikan dan menganalisis konsep kekuasaan model Foucault pada masa pemikiran arkeologisnya. Cara terbaik untuk memahami konsep ini adalah dengan memperkenalkan konsep enunciative function, yakni bahwa munculnya suatu statement bisa dikatakan ada karena munculnya statement lainnya.  Statement tersebut muncul dalam berbagai teks yang berbeda dan memiliki ruang kolateral dan ikatan kediskursifan yang sama, sehingga dapat disimpulkan bahwa pada titik sejarah tertentu tengah terjadi penyebaran formasi apriori pengetahuan yang menandakan adanya diskontinyuitas savoir antara suatu zaman dengan zaman sebelumnya. Dengan kata lain, teks yang menampilkan beragam statement yang berbeda tersebut selalu bersifat inter-referential, yakni selalu saling menunjuk satu sama lainnya. Pada titik inilah, Foucault berbicara tentang kekuasaan, karena di situ ia memberikan memberikan pengertian kepada kita akan adanya tirani dalam arti tertertu, yakni tirani kekuasaan dalam sirkulasi teks.   Kata Kunci statement, enunciative function, diskontinyuitas, referensial, eksklusi, commentary.
BHUPPA’-BHÂBHU’-GHURU-RATO (Studi Konstruktivisme-Strukturalis tentang Hierarkhi Kepatuhan dalam Budaya Masyarakat Madura) Moh. Hefni, Moh. Hefni
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 11, No 1 (2007): MADUROLOGI 1
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Moh. Hefni   (Dosen tetap pada Jurusan Syari’ah Prodi Ahwal Al-Syahsiyah STAIN Pamekasan dan sedang menempuh Program Doktor Prodi Ilmu-ilmu Sosial UNAIR Surabaya)       Abstrak : Hingga saat ini, dalam kehidupan sosial-budaya masyarakat Madura terdapat referential standart kepatuhan terhadap figur-figur utama secara hierarkhis, yakni  bhuppa’-bhabhu’-ghuru-rato. Konsep bhuppa’-bhabhu’-ghuru-rato merupakan konstruksi kehidupan kolektif masyarakat Madura yang berlangsung selama periode sejarah yang relatif panjang. Karenanya, tulisan ini difokuskan pada persoalan mengapa orang Madura secara hierarkhis mematuhi figur-figur tersebut, dan sebagai manusia kreatif, bagaimana mereka merekonstruksi konsepsi kepatuhan tersebut dalam kehidupan sosialnya. Hasil analisis atas fakta-fakta yang ada terungkap bahwa terdapat determinasi struktur yang mengendap di dalam kesadaran kognitif dan mental masyarakat Madura sehingga mereka harus mematuhi figur-figur utama tersebut secara hierarkhis. Namun demikian, dalam perkembangan selanjutnya masyarakat Madura secara kreatif melakukan strukturisasi atas struktur “yang memaksa” tersebut sehingga terdapat modifikasi dalam konsep kepatuhan tersebut. Kata Kunci : bhuppa’-bhabhu’-ghuru-rato, habitus, subyektivisme, obyektivisme, agen, dan struktur.
PENERAPAN TOTAL INSTITUTION DI PONDOK PESANTREN AL-AMIEN PRENDUAN SUMENEP Moh. Hefni, Moh. Hefni
JURNAL KARSA (Terakreditasi No. 80/DIKTI/Kep/2012) Vol 20, No 1 (2012): Islam, Budaya dan Pesantren
Publisher : STAIN PAMEKASAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Pesantren merupakan sebuah komunitas yang memiliki subkultural tersendiri. Dalam perspektif Goffman, pondok pesantren dipandang sebagai asylum, yakni tempat yang memisahkan penghuninya, terutama santri, dari dunia luar dengan ‘pintu terkunci dan tembok tinggi’. Salah satu pondok pesantren yang dikenal sangat menjunjung tinggi disiplin sehingga membatasi perilaku para santrinya adalah TMI Pondok Pesantren (PP) Al-Amien Prenduan Sumenep. Karenanya, dalam kajian ini dibahas: Pertama, bagaimanakah kehidupan para santri dalam mematuhi berbagai peraturan yang berlaku di lingkungan TMI Pondok Pesantren al-Amien? Kedua, bagaimanakah cara yang dilakukan oleh pengurus TMI Pondok Pesantren al-Amien agar santri mematuhi peraturan yang ada? Dan ketiga, bagaimanakah para santri menyiasati peraturan yang ada untuk dilanggar? Penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif berjenis kajian fenomenologis ini menghasilkan temuan bahwa program pendidikan di TMI PP Al-Amien berlangsung selama 24 jam di bawah kontrol dan pengawasan ketat dari petugas penegak disiplin. Abstract: Pesantren is a community with its own subculture. In Goffmans perspective, pesantren is seen as an asylum, a place that separates the residents, especially students, from the outside world with a high walls and locked doors. One of  well-known pesantren that upholds discipline and limits the behavior of the students is TMI Al-Amien Prenduan Sumenep. This study discusses: First, how is the life of the students in complying with various environmental regulations in TMI Amien? Second, what does the board of TMI Al-Amien officers do for students obey the rules? And third, how do the students get around the rules to be broken? The study applies a phenomenological approach. The finding is that the education program at TMI Al-Amien is carried out for 24 hours. under strict supervisors. Kata Kunci: Goffman, Total Institution, santri, TMI PP Al-Amien, disiplin
PENERAPAN TOTAL INSTITUTION DI PONDOK PESANTREN AL-AMIEN PRENDUAN SUMENEP Moh. Hefni, Moh. Hefni
KARSA: Journal of Social and Islamic Culture Islam, Budaya dan Pesantren
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v20i1.52

Abstract

Abstrak: Pesantren merupakan sebuah komunitas yang memiliki subkultural tersendiri. Dalam perspektif Goffman, pondok pesantren dipandang sebagai asylum, yakni tempat yang memisahkan penghuninya, terutama santri, dari dunia luar dengan ‘pintu terkunci dan tembok tinggi’. Salah satu pondok pesantren yang dikenal sangat menjunjung tinggi disiplin sehingga membatasi perilaku para santrinya adalah TMI Pondok Pesantren (PP) Al-Amien Prenduan Sumenep. Karenanya, dalam kajian ini dibahas: Pertama, bagaimanakah kehidupan para santri dalam mematuhi berbagai peraturan yang berlaku di lingkungan TMI Pondok Pesantren al-Amien? Kedua, bagaimanakah cara yang dilakukan oleh pengurus TMI Pondok Pesantren al-Amien agar santri mematuhi peraturan yang ada? Dan ketiga, bagaimanakah para santri menyiasati peraturan yang ada untuk dilanggar? Penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif berjenis kajian fenomenologis ini menghasilkan temuan bahwa program pendidikan di TMI PP Al-Amien berlangsung selama 24 jam di bawah kontrol dan pengawasan ketat dari petugas penegak disiplin. Abstract: Pesantren is a community with its own subculture. In Goffman's perspective, pesantren is seen as an asylum, a place that separates the residents, especially students, from the outside world with a 'high walls and locked doors'. One of  well-known pesantren that upholds discipline and limits the behavior of the students is TMI Al-Amien Prenduan Sumenep. This study discusses: First, how is the life of the students in complying with various environmental regulations in TMI Amien? Second, what does the board of TMI Al-Amien officers do for students obey the rules? And third, how do the students get around the rules to be broken? The study applies a phenomenological approach. The finding is that the education program at TMI Al-Amien is carried out for 24 hours. under strict supervisors. Kata Kunci: Goffman, Total Institution, santri, TMI PP Al-Amien, disiplin
PENERAPAN TOTAL INSTITUTION DI PONDOK PESANTREN AL-AMIEN PRENDUAN SUMENEP Moh. Hefni Moh. Hefni
Karsa: Journal of Social and Islamic Culture Islam, Budaya dan Pesantren
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v20i1.52

Abstract

Abstrak: Pesantren merupakan sebuah komunitas yang memiliki subkultural tersendiri. Dalam perspektif Goffman, pondok pesantren dipandang sebagai asylum, yakni tempat yang memisahkan penghuninya, terutama santri, dari dunia luar dengan ‘pintu terkunci dan tembok tinggi’. Salah satu pondok pesantren yang dikenal sangat menjunjung tinggi disiplin sehingga membatasi perilaku para santrinya adalah TMI Pondok Pesantren (PP) Al-Amien Prenduan Sumenep. Karenanya, dalam kajian ini dibahas: Pertama, bagaimanakah kehidupan para santri dalam mematuhi berbagai peraturan yang berlaku di lingkungan TMI Pondok Pesantren al-Amien? Kedua, bagaimanakah cara yang dilakukan oleh pengurus TMI Pondok Pesantren al-Amien agar santri mematuhi peraturan yang ada? Dan ketiga, bagaimanakah para santri menyiasati peraturan yang ada untuk dilanggar? Penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif berjenis kajian fenomenologis ini menghasilkan temuan bahwa program pendidikan di TMI PP Al-Amien berlangsung selama 24 jam di bawah kontrol dan pengawasan ketat dari petugas penegak disiplin. Abstract: Pesantren is a community with its own subculture. In Goffman's perspective, pesantren is seen as an asylum, a place that separates the residents, especially students, from the outside world with a 'high walls and locked doors'. One of  well-known pesantren that upholds discipline and limits the behavior of the students is TMI Al-Amien Prenduan Sumenep. This study discusses: First, how is the life of the students in complying with various environmental regulations in TMI Amien? Second, what does the board of TMI Al-Amien officers do for students obey the rules? And third, how do the students get around the rules to be broken? The study applies a phenomenological approach. The finding is that the education program at TMI Al-Amien is carried out for 24 hours. under strict supervisors. Kata Kunci: Goffman, Total Institution, santri, TMI PP Al-Amien, disiplin
BHUPPA’-BHÂBHU’-GHURU-RATO (Studi Konstruktivisme-Strukturalis tentang Hierarkhi Kepatuhan dalam Budaya Masyarakat Madura) Moh. Hefni Moh. Hefni
Karsa: Journal of Social and Islamic Culture MADUROLOGI 1
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/karsa.v11i1.144

Abstract

Moh. Hefni   (Dosen tetap pada Jurusan Syari’ah Prodi Ahwal Al-Syahsiyah STAIN Pamekasan dan sedang menempuh Program Doktor Prodi Ilmu-ilmu Sosial UNAIR Surabaya)       Abstrak : Hingga saat ini, dalam kehidupan sosial-budaya masyarakat Madura terdapat referential standart kepatuhan terhadap figur-figur utama secara hierarkhis, yakni  bhuppa’-bhabhu’-ghuru-rato. Konsep bhuppa’-bhabhu’-ghuru-rato merupakan konstruksi kehidupan kolektif masyarakat Madura yang berlangsung selama periode sejarah yang relatif panjang. Karenanya, tulisan ini difokuskan pada persoalan mengapa orang Madura secara hierarkhis mematuhi figur-figur tersebut, dan sebagai manusia kreatif, bagaimana mereka merekonstruksi konsepsi kepatuhan tersebut dalam kehidupan sosialnya. Hasil analisis atas fakta-fakta yang ada terungkap bahwa terdapat determinasi struktur yang mengendap di dalam kesadaran kognitif dan mental masyarakat Madura sehingga mereka harus mematuhi figur-figur utama tersebut secara hierarkhis. Namun demikian, dalam perkembangan selanjutnya masyarakat Madura secara kreatif melakukan strukturisasi atas struktur “yang memaksa” tersebut sehingga terdapat modifikasi dalam konsep kepatuhan tersebut. Kata Kunci : bhuppa’-bhabhu’-ghuru-rato, habitus, subyektivisme, obyektivisme, agen, dan struktur.
REKONSTRUKSI MAQÂSHID AL-SYARÎ’AH (Sebuah Gagasan Hasan Hanafi tentang Revitalisasi Turâts) Moh. Hefni Moh. Hefni
AL-IHKAM: Jurnal Hukum & Pranata Sosial Vol. 6 No. 2 (2011)
Publisher : Faculty of Sharia IAIN Madura collaboration with The Islamic Law Researcher Association (APHI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/al-lhkam.v6i2.307

Abstract

Abstrak: Dalam pergulatan wacana keagamaan kontemporer, isu maqâshid al-syarî'ah banyak dihembuskan oleh kalangan liberal sebagai sebuah simbol perlawanan atas kian teguhnya keberpihakan pada dominasi fiqih klasik yang dalam banyak hal telah gagal melampaui jamannya. Salah seorang pemikir kontemporer yang mengusung program rekonstruksi kebudayaan yang membebaskan adalah Hasan Hanafi. Ia ingin mereformasi pemikiran Islam dengan melakukan revitalisasi terhadap turâts (tradisi) klasik dan mere-konstruksinya sehingga tidak usang dan menjadi ramah terhadap kondisi kontemporer. Di bidang hukum Islam, Hanafi melakukan rekonstruksi atas maqâshid al-syarî'ah melalui reformasi linguistik. Hasilnya, hifzh al-nafs dimaknai sebagai menjaga kelestarian umat dari ancaman yang  datang baik dari dalam negeri ataupun luar negeri, hifzh al-’aql diaritikan menggalakkan rasioanalitas, pendidikan, dan memerangi kebodohan, hifzh al-dîn dimaknai sebagai memberi kebebasan beragama kepada pemeluk agama untuk meyakini dan melaksanan ajaran agamanya, hifzh al-’irdl berarti menjaga harga diri umat dan negara baik dari  penjajahan maupun tekanan pihak luar, dan kelima hifzh al-mâl adalah melindungi sumber daya alam negara dan memanfaatkannya demi kepentingan rakyat. Implementasi maqâshid al-syarî’ah tersebut menjadi kewajiban negara.   Kata Kunci: Hasan Hanafi, maqâshid al-syarî’ah, turâts, rekonstruksi, negara