Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Optimalisasi Pertumbuhan Bayi Prematur dan Pasca Prematur di Indonesia; Mengacu pada Pedoman Nutrisi Bayi Prematur di RSCM Rinawati Rohsiswatmo; Radhian Amandito
Sari Pediatri Vol 21, No 4 (2019)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp21.4.2019.262-70

Abstract

Bayi prematur memiliki risiko lebih tinggi untuk terjadinya gagal tumbuh dan gagal kembang dibandingkan bayi aterm. Intervensi yang diperlukan penting terutama selama 1000 hari pertama kelahiran. Risiko penyakit metabolik, obesitas, penyakit kardiovaskuler, gangguan tumbuh kembang, merupakan beberapa dari dampak negatif bila pemberian nutrisi yang ridak optimal di 1000 hari pertama. Indonesia merupakan salah satu negara dengan masalah stunting. Stunting bisa dicegah dengan pemberian nutrisi yang adekuat serta pemantauan rutin yang baik dengan grafik khusus bayi prematur. Selama perawatan, dokter anak harus sudah bisa memberikan nutrisi enteral dan parenteral yang agresif untuk mencegah extra-uterine growth restriction (EUGR). Sedangkan setelah pulang, pilihan susu yang tepat sangat penting untuk mencegah gagal tumbuh dan stunting. Di Indonesia tersedia berbagai jenis susu formula dan human milk fortifier untuk membantu bayi yang masih mendapatkan ASI dan berusia di bawah usia koreksi 40 minggu. Bila ASI dan human milk fortifier tidak sesuai, maka pemberian susu formula dapat dipilih dari susu formula standar (20kkal/30ml), formula prematur (24kkal/30 ml), dan formula 22kkal/30ml. Ketiga produk ini masih digunakan secara bergantian di Indonesia. Penentuan produk susu formula berhubungan dengan kondisi klinis dan kebutuhan kalori, serta perlu dipantaunya target kenaikan berat badan yang tampak dari kurva pertumbuhan yang tepat sesuai usia, jenis kelamin, dan usia gestasional. Data dari RSCM menunjukkan bahwa pada bayi dengan ASI eksklusif yang mengalami gagal tumbuh, pemberian susu 22kkal/30ml menyebabkan peningkatan persentil dan mencegah penurunan lebih lanjut. Saat ini, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo telah menyusun panduan untuk memudahkan dokter anak menentukan pemberian nutrisi dari hari pertama kelahiran di rumah sakit, selama perawatan, dan setelah pulang dari keperawatan.
Hiperbilirubinemia pada neonatus >35 minggu di Indonesia; pemeriksaan dan tatalaksana terkini Rinawati Rohsiswatmo; Radhian Amandito
Sari Pediatri Vol 20, No 2 (2018)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1101.867 KB) | DOI: 10.14238/sp20.2.2018.115-22

Abstract

Pada bayi baru lahir terjadi kenaikan fisiologis kadar bilirubin dan 60% bayi >35 minggu akan terlihat ikterik. Namun, 3%-5% dari kejadian ikterik tersebut tidaklah fisiologis dan berisiko untuk terjadinya kerusakan neurologis bahkan kematian. Sebagai pencegahan hiperbilirubinemia berat yang dapat menyebabkan kerusakan neurologis, pemeriksaan bilirubin telah menjadi rekomendasi universal bayi baru lahir yang terlihat kuning. Semakin tinggi perhatian klinisi untuk pencegahan kernikterus, semakin rendah insidensinya. Indonesia menghadapi masalah overtreatment di perkotaan, dan undertreatment di daerah terpencil. Masalah overtreatment ini dapat menyebabkan kecemasan ibu, waktu menyusui anak ke ibu berkurang, serta tidak memungkiri peningkatan biaya yang harus ditanggung. American Academy of Pediatrics (AAP) telah menyusun algoritma dan kurva untuk menyesuaikan tata laksana bayi baru lahir dengan hiperbilirubinemia. Kurva ini mengarahkan klinisi untuk melakukan pengukuran kadar bilirubin dengan cara yang memungkinkan untuk masing-masing fasilitas kesehatan. Pada kenyataannya, masih ada fasilitas kesehatan yang belum memiliki sarana yang memadai untuk pemeriksaan kadar bilirubin maupun terapi sinar. Saat ini ditemukan beberapa penemuan baru, seperti Bilistick, sebagai alat pemeriksaan bilirubin yang kurang invasif dan penggunaan filter atau film untuk menangani hiperbilirubinemia ringan dengan sinar matahari. Penemuan baru inilah yang diharapkan dapat membantu negara berkembang, seperti Indonesia dan lainnya, dalam tata laksana hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir.
Optimasi Perolehan DNA Mikrobioma yang Diekstraksi dari Mekonium dan Feses Neonatus Prematur untuk diaplikasikan pada Next-Gen Sequencing 16S rRNA Larashintya Rulita; Amarila Malik; Radhian Amandito; Rinawati Rohsiswatmo
JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 19 No 2 (2021): JIFI
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35814/jifi.v19i2.1112

Abstract

The composition of the intestinal microbiome of neonates can be identified from meconium and feces by Next-Generation Sequencing (NGS) technology. However, the yield of microbiome DNA of meconium and feces has its own challenges due to the consistency and the high content of PCR inhibitors in these samples. This study aims to optimize the yield of microbiome DNA from meconium sample and feces of pre-term neonates. The DNA yield was obtained by applying certain optimized parameters, i.e., considering the replication and condition of the sample, using a particular kit for DNA extraction, and modifying the DNA elution of the column purification. The genomic DNA obtained was quantified and confirmed using Polymerase Chain Reaction. Results showed that the best DNA yield was achieved by replicating the number of samples twice in the pre-extraction stage, working on fresh meconium and feces samples instead, and suspended the sample in ddH2O prior to extraction process as observed on agarose gel visualization with UV trans-illuminator, as well as in quantitative measurement by a nano spectrophotometer. The best extraction process was using MP Biomedical FastDNA Spin Kit for Soil, in addition to the use of an elution buffer in a smaller volume, resulting in a higher concentration and purity of DNA. In conclusion, we were able to obtain an optimized yet reliable DNA yields, especially from meconium, which fulfilled the quality and quantity requirement for further sequencing process of microbiome.
The Characteristics of Breast Cancer Patients in Dharmais Hospital National Cancer Center Jakarta Based on Occupational and Environmental Status Radhian Amandito; Cyntha Viryawan
Indonesian Journal of Cancer Vol 7, No 2 (2013): Apr - Jun 2013
Publisher : National Cancer Center - Dharmais Cancer Hospital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (399.615 KB) | DOI: 10.33371/ijoc.v7i2.290

Abstract

Hubungan jenis pekerjaan (okupasi) dengan kanker payudara bervariasi di tiap negara. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui faktor risiko kanker payudara di Indonesia berupa faktor pekerjaan dan lingkungan. Studi deskriptif ini mengambil 103 sampel pasien kanker payudara di RS Dharmais. Hasilnya adalah karakteristik mayoritas pasien kanker payudara adalah berumur 51-60 tahun (35%), memiliki riwayat keluarga (61,2%); melahirkan 3 hingga 4 kali (42,7%); dan konsumsi tinggi lemak(76,7%). Faktor pajanan yang berhubungan dengan kanker payudara adalah rokok (76%); estrogen (43%); bahan industry (41%); dan radiasi (21%). Faktor okupasi tidak berperan penting, tetapi factor lingkungan memiliki peran yang tinggi dalam terjadinya kanker payudara di Indonesia.Kata kunci: kanker payudara, okupasi, lingkungan