Mohammad Yusuf Setyawan
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perbedaan Pola Bahasa Pria dan Wanita dalam Film Wadjda: Analisis Teori Perbedaan Mohammad Yusuf Setyawan
Nady Al-Adab : Jurnal Bahasa Arab Vol. 18 No. 1 (2021): Nady Al-Adab
Publisher : Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jna.v18i1.13710

Abstract

Pria dan wanita memiliki pola bahasa dan bicara yang berbeda. Teori perbedaan Deborah Tannen menyatakan bahwa perbedaan bahasa antara pria dan wanita disebabkan karena pemisahan antara pria dan wanita pada tahapan-tahapan penting dalam kehidupan mereka. Film Komedi “Wadjda” menceritakan kehidupan Wadjda, seorang anak perempuan berusia 11 tahun yang ingin naik sepeda. Lebih jauh dari itu sebenarnya film ini menggambarkan kondisi masyarakat di Arab Saudi sebelum tahun 2012 yang terkesan menomorduakan kaum wanita. Dalam menganalisis film “Wadjda”, penelitian ini memfokuskan pada lima kategori pembeda antara pria dan wanita dari Tannen. Kelima kategori ini adalah status vs. dukungan, informasi vs. perasaan, perintah vs. permintaan, konflik vs. kompromi, dan kebebasan vs. keintiman. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan yang bersifat kualitatif dan pengumpulan datanya diperoleh melalui teknik simak dan catat. Penelitian ini penting untuk mengetahui pola bahasa yang digunakan antara pria dan wanita di Arab Saudi. Teori perbedaan yang lahir di Barat akan mencoba diterapkan di masyarakat Arab Saudi. Dari kelima kategori perbedaan yang disarikan dari pendapat Tannen, empat diantaranya bisa dibuktikan secara jelas. Namun dari keempat kategori ini terdapat satu kategori yang tidak bisa dibuktikan secara penuh, yaitu kategori perintah vs. permintaan. Dalam film ini justru banyak adegan yang menunjukkan wanita sering memerintah dan melarang secara langsung. Selain itu ada satu kategori yang sulit untuk dibuktikan, yaitu status vs. dukungan. Ini disebabkan karena minimnya dialog yang terjadi antara pria dan wanita dalam satu ruang.
Ibn al-Mu’tazz dan Teori al-Badī’; Pemikiran Balagah dalam Kritik Sastra Arab Mohammad Yusuf Setyawan; Tatik Mariyatut Tasnimah
‘A Jamiy : Jurnal Bahasa dan Sastra Arab Vol 11, No 1: JUNI 2022
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31314/ajamiy.11.1.1-15.2022

Abstract

This article aims to describe the contribution of Ibn al-Mu'tazz in the development of Arabic literary criticism. Through his book entitled al-Badi>', Ibn al-Mu'tazz has succeeded in gathering the characteristics of the new school of thought promoted by Abu Tammam. Ibn al-Mu'tazz wanted to prove that the badi' arts that complied with Abu Tammam's poetry were previously known to the Arabs and are often found in the Qur'an, hadith, the sayings of companions, and in both classical and new poetry. According to Ibn al-Mu'tazz, badi' art includes 5 types, namely isti'a>rah, tajni>s, mutha>baqah, radd a'ja>z al-kala>m 'ala> ma> taqaddamaha>, and al-madzhab al-kala>mi>. In addition to discussing the five badi' arts, Ibn al-Mu'tazz also introduces what he calls muhasin al-kalam to provide greater benefits to the reader. Ibn al-Mu'tazz's contribution should be appreciated because for his services, the characteristics of the new school can be ascertained, making it easier for Arab critics in the next generation to make comparisons between the old school and the new school. As the founder of badi>' knowledge, Ibn al-Mu'tazz has made balagah as a medium in enriching literary criticism in his time.