Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analysis Students Perception of The Service Quality Pedestrian Bridge (Case Study: Pedestrian Bridge SMP 2 Jambi City Gatot Subroto Street, Pasar Jambi District, Jambi City): ANALISIS PERSEPSI PARA PELAJAR TERHADAP KUALITAS PELAYANAN JEMBATAN PENYEBERANGAN ORANG (Studi Kasus: Jembatan Penyeberangan Orang SMP 2 Kota Jambi Jalan Gatot Subroto, Kecamatan Pasar Jambi, Kota Jambi) Tata Wisnu Wardana1 , Ade Nurdin2 , Harmes3 1,2,3Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Ja Tata Wisnu Wardana; Ade Nurdin; Harmes
JURNAL TEKNIK Vol. 16 No. 1 (2022): Edisi April 2022
Publisher : JURNAL TEKNIK UNILAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/teknik.v16i1.9194

Abstract

Ketersediaan fasilitas jembatan penyeberangan orang (JPO) di SMP Negeri 2 Kota jambi tidak dijadikan pilihan utama bagi para siswa untuk menyeberang. Para siswa lebih memilih menyeberang secara langsung. Salah satunya disebabkan karena arus kendaraan dipagi hari tergolong masih sepi. Namun pada siang hari ketika jam pulang sekolah, arus kendaraan menjadi padat dikarenakan orang tua siswa yang menunggu didepan sekolah sehingga menimbulkan kemacetan sementara.Pengumpulan data dilakukan dengan penyebaran kuesioner kepada para siswa di SMP Negeri 2 Kota Jambi tersebut dengan jumlah responden sebanyak 90 orang. Adapun isi dari kuesioner tersebut merupakan poin-poin penting dalam kualitas pelayanan jembatan penyeberangan orang, seperti Keselamatan (Safety), Keamanan (Security), Kemudahan (Convience), Kelancaran (Continuity), Kenyamanan (Comfort), Keterpaduan Sistem (System Coherence), dan Daya Tarik (Attractiveness).Hasil analisa menunjukan bahwa persepsi para siswa menujukan persepsi para siswa terhadap kualitas pelayanan pada jembatan penyeberangan orang SMP Negeri 2 Kota jambi tersebut bernilai 4270, yang mana nilai tersebut pada tabel kriterium menunjukan hasil yang sudah hampir baik/cukup dalam memenuhi standar kualitas pelayanan, walaupun belum menunjukan hasil yang baik.
Efek Spasial Jaringan Jalan di Kota Jambi: Roads Spatial Effect in Jambi City Harmes Harmes; Mohammad Zuhdi; Muhammad Naswir
Jurnal Engineering Vol. 2 No. 2 (2020): Volume 2, Nomor 2, Agustus 2020
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.031 KB) | DOI: 10.22437/jurnalengineering.v2i2.10208

Abstract

Substansi pembangunan berbasis spasial di Indonesia diregulasikan melalui kebijakan penataan ruang, tujuannya adalah menata aspek struktur dan pola ruang wilayah. Struktur ruang fokus pada jaringan infrastruktur sedangkan pola ruang mengatur penggunaan lahan. Kebijakan ini diimplemetasikan secara massif sejak tahun 2007, namun efek spasial setiap aspeknya belum banyak diteliti. Hal ini menyebabkan Rencana Tata Ruang Wilayah propinsi dan kabupaten/kota diimplementasikan cenderung tidak dilengkapi dengan kedalaman analisis yang kuat untuk mendukung pengaturan struktur dan pola ruang wilayah. Kajian ini bertujuan menelaah aspek struktur ruang yakni jaringan jalan sebagai indikator aksessibilitas wilayah sebagai bentuk output pembangunan yang berdampak luas pada kemajuan wilayah. Fokus penelitian adalah efek spasial jaringan jalan yang diukur dari panjang jalan dan keterkaitannya dengan variabel dirinya secara kontinyu dan berketetanggaan dengan wilayah sekitarnya. Unit amatan meliputi seluruh kecamatan di Kota Jambi. Statistik yang digunakan adalah indeks moran, selanjutnya untuk penyelidikan lokalitas autokorelasi spasial diidentifikasi melalui statistik spasial local idenfitification of spatial autocorrelation (LISA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaringan jalan tidak memiliki autokorelasi spasial yang kuat atau termasuk kategori random dengan nilai indeks moran sebesar 0.149. Identifikasi lebih lanjut dengan LISA menunjukkan adanya autokorelasi spasial pada tingkat signifikan 0.05. Efek spasial lokal jaringan jalan terjadi pada kecamatan Kota Baru dan Jambi Selatan. Pola spasial yang acak pada aspek jaringan wilayah ini menunjukkan adanya heterogenitas antara satu kecamatan dengan lainnya, sehingga kebijakan pembangunan jalan tidak boleh disamakan secara menyeluruh, namun harus memperhatikan diferensiasi yang terjadi.