Septian Kurnia Sari
Institut Studi Islam Muhammadiyah Pacitan, INDONESIA

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ESENSI TRADISI MANTU KUCING DI KABUPATEN PACITAN (PERSPEKTIF NILAI-NILAI AL-ISLAM KEMUHAMMADIYAHAN) Efi Tri Astuti; Septian Kurnia Sari; Rahmad Alim Witari
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol. 6 No. 2 (2021): Fikri: Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25217/jf.v6i2.1888

Abstract

Budaya dan tradisi merupakan wujud keberagaman Indonesia yang dibingkai dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika. Upacara adat mantu Kucing merupakan upacara adat yang dilakukan dalam rangka memohon turunnya hujan di tengah kemarau panjang. Upacara tersebut dilakukan oleh warga di Dusun Njati,Desa Purworejo, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan sejak tahun 1960an. Terjadi pro dan kontra ditengah masyarakat ketika upacara ini dilakukan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan tentang sejarah dan rangkaian proses, bentuk dan makna ritual, dan menelaah esensi dari tradisi Mantu Kucing di Kabupaten Pacitan perspektif nilai-nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif – fenomenologi, dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seiring perkembangan IPTEKS dan terinternalisasinya nilai keagamaan dalam masyarkat menjadikan upacara tersebut mengalami pergeseran peran dari upacara sakral menjadi pameran budaya. Perubahan tersebut dilakukan untuk mengikis tindakan yang mengarah pada perbuatan syirik, tanpa mengubah tahapan prosesi maupun makna simbolisnya. Dalam perspektif nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, esensi dari upacara adat mantu kucing terdiri atas: (1) Nilai Ketauhidan; (2) Nilai Kepribadian; (3) Nilai Sosial Kemasyarakatan; (4) Nilai kecintaan terhadap lingkungan sekitar. Dalam hidup bermasyarakat, agama dan budaya dapat hidup berdampingan, diperlukan keluasan berpikir dan sikap saling menghargai.
ESENSI TRADISI MANTU KUCING DI KABUPATEN PACITAN (PERSPEKTIF NILAI-NILAI AL-ISLAM KEMUHAMMADIYAHAN) Efi Tri Astuti; Septian Kurnia Sari; Rahmad Alim Witari
Fikri : Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol. 6 No. 2 (2021): Fikri: Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya
Publisher : Institut Agama Islam Ma'arif NU (IAIMNU) Metro Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25217/jf.v6i2.1888

Abstract

Budaya dan tradisi merupakan wujud keberagaman Indonesia yang dibingkai dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika. Upacara adat mantu Kucing merupakan upacara adat yang dilakukan dalam rangka memohon turunnya hujan di tengah kemarau panjang. Upacara tersebut dilakukan oleh warga di Dusun Njati,Desa Purworejo, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan sejak tahun 1960an. Terjadi pro dan kontra ditengah masyarakat ketika upacara ini dilakukan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan tentang sejarah dan rangkaian proses, bentuk dan makna ritual, dan menelaah esensi dari tradisi Mantu Kucing di Kabupaten Pacitan perspektif nilai-nilai Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif – fenomenologi, dengan teknik pengambilan sampel purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seiring perkembangan IPTEKS dan terinternalisasinya nilai keagamaan dalam masyarkat menjadikan upacara tersebut mengalami pergeseran peran dari upacara sakral menjadi pameran budaya. Perubahan tersebut dilakukan untuk mengikis tindakan yang mengarah pada perbuatan syirik, tanpa mengubah tahapan prosesi maupun makna simbolisnya. Dalam perspektif nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, esensi dari upacara adat mantu kucing terdiri atas: (1) Nilai Ketauhidan; (2) Nilai Kepribadian; (3) Nilai Sosial Kemasyarakatan; (4) Nilai kecintaan terhadap lingkungan sekitar. Dalam hidup bermasyarakat, agama dan budaya dapat hidup berdampingan, diperlukan keluasan berpikir dan sikap saling menghargai.