Ghazali Munir
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Semarang

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

KRITIK AL-GHAZĀLĪ TERHADAP PARA FILOSOF Munir, Ghazali
TEOLOGIA Vol 25, No 1 (2014): FILSAFAT ISLAM
Publisher : TEOLOGIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: al-Ghazālī called Bahr al-Mughriq (an ocean away) because he mastered various sciences: Fiqh , Uṣūl , Mantiq and Theology. The number of contradictory religious beliefs, and the influence of Greek philosophy, arose doubt about what is right and what is wrong. Then he learned all the knowledge to get ‘Ilm Yaqin can clearly reveal the knowledge of the mutakallimun, Shiite Batinites ( Ismailism ), philosopher and sufism, so he left his carrier. He did not accept simply of religious truth, without knowing the reason. He divided the philosopher into three: al- Dahriyūn (materialists), al-Ṭabiiyūn (naturalists), Ilāhiyūn (Theists). In philosophy, there are 20 issues , 3 of those mark philosophers as unbelievers, and other is bidah. Three of those are: the world eternity, unknowable particulars of God, and no physical resurrection.Abstrak: al-Ghazālī, seorang ulama yang menguasai berbagai ilmu pengetahuan: Fiqh, Ushul, Mantiq (Logika) dan Ilmu Kalam, sehingga ia memperoleh sebutan Bahrul Mughriq (lautan yang menenggelamkan). Banyaknya aliran keagamaan yang sering bertentangan dan pengaruh filsafat Yunani ke dalam pemikiran umat Islam, sehingga menimbulkan syak (kebimbangan, keraguan) tentang mana yang benar dan mana yang salah. Kemudian ia mempelajari seluruh ilmu untuk mendapatkan ‘Ilmu Yaqin yang dapat mengungkap secara jelas yaitu ilmunya para mutakallimun, Syi’ah Batiniyah (Isma’iliyah), filosof dan sufi, sehingga ia meninggalkan jabatan dan kedudukannya. Ia tidak bertaklid tanpa mengetahui alasannya. Filosof ada tiga macam: al- Dahriyūn (materialis), al-Ṭabiiyūn (naturalis) dan Ilāhiyūn (theis). Dalam filsafat terdapat 20 persoalan, 3 diantaranya menjadikan filosof kafir, dan lainnya bid’ah. Tiga (3) itu adalah: Pendapat tentang keazalian alam, pendapat bahwa Tuhan tidak mengetahui juz’iyyat (rinci), dan kebangkitan jasmani tidak ada.Keywords: syak, ‘ilm al-yaqīn, al-Dahriyūn, al-Ṭabiiyūn, Ilāhiyūn
EPISTEMOLOGI AL-ASY’ARI Munir, Ghazali
Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 14, No 2 (2012): Wahana Akademika
Publisher : Kopertais Wilayah X Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wa.v14i2.548

Abstract

-
KRITIK AL-GHAZĀLĪ TERHADAP PARA FILOSOF Munir, Ghazali
Jurnal THEOLOGIA Vol 25, No 1 (2014): FILSAFAT ISLAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2014.25.1.341

Abstract

Abstract: al-Ghazālīcalled Bahrul Mughriq (an ocean away) because he mastered various sciences: Fiqh , Uṣūl , Mantiq and Theology. The number of contradictory religious beliefs, and the influence of Greek philosophy, arose doubt about what is right and what is wrong . Then he learned all the knowledge to get ‘Ilm Yaqin can clearly reveal the knowledge of the mutakallimun, Shiite Baatinites ( Isma'ilism ), philosopher and sufism, so he left his carrier. He did not accept simply of religious truth, without knowing the reason. He divided the philosopher into three: ad- Dahriyyun (materialists),ath-Thabi'iyyun (naturalists), Ilahiyyun (Theists). In philosophy, there are 20 issues , 3 of those mark philosophers as unbelievers, and other is bid’ah. Three of those are: the world eternity, unknowable particulars of God, and no physical resurrection. Abstrak: al-Ghazālī, seorang ulama yang menguasai berbagai ilmu pengetahuan: Fiqh, Ushul, Mantiq (Logika) dan Ilmu Kalam, sehingga ia memperoleh sebutan Bahrul Mughriq (lautan yang menenggelamkan). Banyaknya aliran keagamaan yang sering bertentangan dan pengaruh filsafat Yunani ke dalam pemikiran umat Islam, sehingga menimbulkan syak (kebimbangan, keraguan) tentang mana yang benar dan mana yang salah. Kemudian ia mempelajari seluruh ilmu untuk mendapatkan ‘Ilmu Yaqin yang dapat mengungkap secara jelas yaitu ilmunya para mutakallimun, Syi’ah Batiniyah (Isma’iliyah), filosof dan sufi, sehingga ia meninggalkan jabatan dan kedudukannya. Ia tidak bertaklid tanpa mengetahui alasannya. Filosof ada tiga macam: ad-Dahriyyun (materialis), ath-Thabi’iyyun (naturalis) dan Ilahiyyun (theis). Dalam filsafat terdapat 20 persoalan, 3 diantaranya menjadikan filosof kafir, dan lainnya bid’ah. Tiga (3) itu adalah: Pendapat tentang keazalian alam, pendapat bahwa Tuhan tidak mengetahui juz’iyyat (rinci), dan kebangkitan jasmani tidak ada. Keywords: syak, ‘ilm al-yaqīn, al-Dahriyūn, al-Ṭabi'iyūn, Ilāhiyūn
PEMIKIRAN PEMBARUAN TEOLOGI ISLAM SYAH WALI ALLAH AD-DAHLAWI Munir, Ghazali
Jurnal THEOLOGIA Vol 23, No 1 (2012): PEMIKIRAN ISLAM
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2012.23.1.1757

Abstract

Pemikiran pembaruan teologi Islam Syah Wali Allah ad-Dahlawi tidak hanya berfokus terhadap ajaran Islam tertentu belaka, tetapi bersifat komprehensif. Baik terhadap aspek politik, pemahaman terhadap ajaran Islam, dan lainnya. Serta menyeru untuk kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, dan mayoritas sahabat dan tabi’in. Aspek politik, ia mengajak kembali pada sistem khulafa’urrasyidin, mendamaikan perbedaan paham yang ada pada mazhab, membersihkan kepercayaan dari non Islam, ijtihad disesuaikan dengan tuntutan zaman
AKULTURASI PEMIKIRAN DAN SAINS YUNANI DALAM DUNIA ISLAM Munir, Ghazali
At-Taqaddum Volume 3, Nomor 1, Juli 2011
Publisher : Quality Assurance Institute (LPM) State Islamic University Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2006.573 KB) | DOI: 10.21580/at.v3i1.199

Abstract

Acculturation in the field of culture and ideas between one group with another group, can?t be avoided when there are contacts or interactions between them. Interaction, either peacefully or by occupation and even war. In this case, it occurred among the nations of the world, especially the Greeks and Arabs, and it seemed/looked the wealth of Greek philosophy and science and its role in the Arab calips (Muslim) in the development of philosophy and science.
EPISTEMOLOGI AL-ASY’ARI Munir, Ghazali
Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 14, No 2 (2012): Wahana Akademika
Publisher : Kopertais Wilayah X Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wa.v14i2.548

Abstract

-