Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Household Water Supply Strategies in Urban Bandung, Indonesia: Findings and Implications for Future Water Access Reporting Muntalif, Barti Setiani; Nastiti, Anindrya; Roosmini, Dwina; Sudradjat, Arief; Meijerink, Sander V.; Smits, Antoine J.M.
Journal of Engineering and Technological Sciences Vol 49, No 6 (2017)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (928.052 KB) | DOI: 10.5614/j.eng.technol.sci.2017.49.6.8

Abstract

Through structured interviews and statistical analyses, this study investigated access to water and strategies of 1227 vulnerable households in Bandung, Indonesia. The use of mixed water sources, household water treatment, and home storage suggest low trust in improved sources, and compromised safety and reliability of water. While official statistics suggest a high level of access to improved water sources, full-time access to such sources is overestimated. Integration of user behavior into the new monitoring approach for the water supply sector in the post-2015 development framework is proposed.
Cryptosporidium sebagai Indikator Biologi dan Indeks Nsf-Wqi untuk Mengevaluasi Kualitas Air (Studi Kasus: Hulu Sungai Citarum, Kabupaten Bandung) Nufutomo, Tastaptyani Kurnia; Muntalif, Barti Setiani
Jurnal Presipitasi : Media Komunikasi dan Pengembangan Teknik Lingkungan Vol 14, No 2 (2017): September 2017
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.519 KB) | DOI: 10.14710/presipitasi.v14i2.45-53

Abstract

Kualitas air yang menurun di Hulu Sungai Citarum dapat disebabkan oleh banyak faktor. Faktor-faktor tersebut dapat diketahui dari parameter fisika, kimia dan biologi. Parameter biologi yang digunakan untuk mengevaluasi kualitas air adalah  mikroorganisme patogen yang menimbulkan penyakit di sistem pencernaan seperti diare akut, yaitu Coliform dan Cryptosporidium. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status kualitas air di Hulu Sungai Citarum dengan indeks kualitas air NSF-WQI, mengetahui hubungan dan pengaruh parameter fisik dan kimia air terhadap parameter biologi, menentukan faktor utama dari parameter air yang paling berpengaruh dan mengetahui hubungan serta pengaruh faktor utama tersebut terhadap Cryptosporidium. Metode yang digunakan adalah  mengambil sampel di tiap stasiun dengan composite, mengidentifikasi dan analisis Coliform dengan MPN dan identifikasi Crytosporidium dengan Ziehl Neelsen staining, kemudian menganalisis parameter kimia dan fisika dengan indeks NSF-WQI, lalu data tersebut diolah menggunakan metode statistik PCA. Hasil pengukuran kualitas air berdasarkan NSF-WQI adalah kualitas air di Hulu Sungai Citarum termasuk kategori buruk dan medium. Keberadaan Cryptosporidium di Hulu Sungai Citarum disebabkan oleh 2 (dua) faktor utama, yaitu faktor pertama terdiri dari DO, turbiditas, NO2, NH4 dan total Colifom, sedangkan faktor kedua terdiri dari TSS, COD dan PO4. Kedua faktor tersebut tidak signifikan dengan keberadaan Cryptosporidium di Hulu Sungai Citarum. Kata kunci: Cryptosporidium, Hulu Sungai Citarum, Indeks NSF-WQI, Kualitas Air
PROBABILITAS TERPERANGKAPNYA SAMPAH NON-ORGANIK DI KAWASAN MANGROVE STUDI KASUS: PANTAI KARANGANTU, KOTA SERANG Marsondang, Ance Tampuk Tampuk; Muntalif, Barti Setiani; Sudjono, Priana
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 22, No 1 (2016)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.tl.2016.22.1.2

Abstract

Abstrak: Aktivitas antropogenik memberikan dampak besar terhadap pencemaran di lingkungan perairan karena menghasilkan banyak sampah organik dan non-organik. Pada penelitian ini ditemukan banyak sampah non-organik di badan sungai dan di kawasan mangrove.  Akumulasi sampah non-organik tersebut menjadi suatu ancaman besar dalam kelangsungan hidup mangrove karena mengganggu proses regenerasi dari vegetasi mangrove. Lokasi penelitian terletak pada Pantai Karangantu, Banten. Pengumpulan data dilakukan selama 3 Bulan, dari Januari-Maret 2015. Metode pengumpulan data yaitu observasi langsung di lapangan. Data yang terkumpul sebanyak 32 data sampah dan 6 data kualitas air. Metode analisa yang digunakan untuk menghitung keterkaitan faktor lingkungan dengan jumlah sampah yang masuk ke kawasan mangrove menggunakan model statistik. Faktor lingkungan pasang surut memberikan pengaruh cukup kuat yaitu sebesar 66% pada bagian depan sebelah timur kawasan mangrove, jumlah kapal yang melintas juga memberikan pengaruh akan tetapi lemah yaitu sebesar 9,4% pada bagian depan sebelah timur kawasan mangrove dan kecepatan arus memberikan pengaruh akan tetapi lemah yaitu sebesar 3,2% pada bagian depan sebelah barat kawasan mangrove. Kondisi kualitas air Perairan Karangantu dinilai buruk, karena tingginya kekeruhan, kadar nitrat, ammonia dan fosfat. Aktivitas masyarakat yang menyebabkan penurunan kualitas air di Perairan Karangantu meliputi aktivitas pengisian bahan bakar dan penggantian oli mesin kapal, aktivitas pasar tradisional, adanya kegiatan pembuatan ikan asin dan aktivitas antropogenik lainnya. Kata kunci: mangrove, sampah non-organik, pasang surut, jumlah kapal yang melintas, kecepatan arus Abstract : Anthropogenic activities have a major impact on the pollution in aquatic environments because it produces a lot of organic and non-organic waste. This study found many non-organic waste in water bodies and in mangrove areas. Accumulated non-organic waste is becoming a major threat to the survival of mangroves for disturbing the regeneration of mangrove vegetation. Location of the study located in Karangantu Beach, Banten. Data collection is done for 3 months, from January to March 2015. Methodology of collection data is direct observation in the field. Data were collected as many as 32 data of waste and 6 data of water quality. Methodology of the analysis was used to calculate relevance of environmental factors with the number of waste that goes to the mangrove areas using statistical models. Environmental factors of tidal gives effect is strong enough that is equal to 66% at the front of the east area of mangrove, the number of ships that pass also gives effect but weak approximately 9,4% at the front of the east area of mangrove and current velocity gives impact but weak approximately 3,2% at the front of the west area of mangrove. Bodies of water quality conditions of Karangantu considered bad, because of the high turbidity, nitrate, ammonia and phosphate. Community activities that lead to degradation of water quality in Karangantu include activities refueling and engine oil replacement ship, the traditional market activity, the activity of making salted fish and another anthropogenic activities. 
DISTRIBUSI FITOPLANKTON BERDASARKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DAN STATUS TROFIK PERAIRAN WADUK CIRATA, JAWA BARAT Shofia, Shofia; Muntalif, Barti Setiani
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 20, No 2 (2014)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1785.198 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2014.20.2.10

Abstract

Abstrak: Waduk Cirata memiliki peruntukkan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), perikanan, dan pariwisata. Saat ini kondisi waduk telah mengalami degradasi. Hal ini disebabkan karena banyaknya unsur hara yang berasal dari limbah domestik, limbah industri, dan keramba jaring apung (KJA) yang masuk ke perairan. Indikasi pencemaran organik ini dapat dideteksi dengan fitoplankton. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan status trofik Waduk Cirata dan mengetahui distribusi kelimpahan fitoplankton berdasarkan Sistem Informasi Geografis (SIG) serta menentukan jenis fitoplankton yang dapat digunakan sebagai bioindikator pencemaran waduk. Pada penelitian ini pengambilan sampel air dilakukan sebanyak tiga kali setiap dua minggu sekali di tujuh lokasi waduk dan pada kedalaman 0,2 m. Parameter utama yang diukur yaitu klorofil-a, kelimpahan individu fitoplankton, kecerahan, dan total fosfat. Selain itu, penentuan Trophic State Index (TSI) juga dilakukan. Distribusi dari tiap parameter dan TSI divisualisasikan dalam bentuk peta menggunakan interpolasi raster pada software ArcGIS 10.1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar area Waduk Cirata telah berada pada kondisi eutrofik dengan kecenderungan hipereutrofik pada area pusat KJA. Konsentrasi klorofil-a diketahui berkisar 2,57 ? 15,80 µg/l, kelimpahan fitoplankton berkisar 459 ? 132.085 individu/ml, kecerahan berkisar 0,78 ? 1,26 m, total fosfat berkisar2,41 ? 859,04 µg/l, dan nilai TSI berkisar 46,34 ? 74,74. Secara umum, spesies fitoplankton yang dominan dan dapat dijadikan sebagai bioindikator pencemaran Waduk Cirata adalah Synedra ulna dari Kelas Bacillariophyceae dan Microsystis sp. dari Kelas Cyanophyceae. Kata kunci: Waduk Cirata, fitoplankton, status trofik, SIG Abstract : Cirata Reservoir has many functions, such as generating hydroelectricity, fish farming, and tourism. Nowadays the condition in Cirata Reservoir has become severely degraded due to nutrients from domestic sewage, industrial sewage, and fish cages that enter to the reservoir. The indication of this organic pollution can be detected by phytoplankton. The aims of this research are to determine trophic state in Cirata Reservoir and to know the distribution of phytoplankton abundance based on Geographic Information System (GIS) and also to determine the species of phytoplankton that can be used as pollution bioindicator. In this research, water samples were taken three times every two weeks in seven locations and in 0.2 m water depth. Main parameters such as chlorophyll-a, phytoplankton abundance, clarity, and total phosphate were measured. Trophic State Index (TSI) was also accounted. The distribution from every parameter was visualized as a map using raster interpolation in ArcGIS 10.1. The results show that almost the entire area of Cirata Reservoir is already eutrophic and it is hypereutrophic in the centre of fish cages area. Chlorophyll-a concentration is about 2,57 ? 15,80 µg/l, phytoplankton abundance is about 459 ? 132,085 organisms/ml, clarity is about 0,78 ? 1,26 m, total phosphate concentration is about 2,41 ? 859,04 µg/l, and TSI value is about 46,34 ? 74,74. In general, Cirata Reservoir is dominated by Synedra ulna from Class Bacillariophyceae and Microsystis sp. from Class Cyanophyceae, hence it can be used as pollutant bioindicators. Key words: Cirata Reservoir, phytoplankton, trophic state, GIS
OPTIMASI EFISIENSI PENGOLAHAN LINDI DENGAN MENGGUNAKAN CONSTRUCTED WETLAND Sembiring, Elsa Try Julita; Muntalif, Barti Setiani
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 17, No 2 (2011)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (697.617 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2011.17.2.1

Abstract

Abstrak: Lindi (leachate) dari landfill menjadi permasalahan bagi lingkungan khususnya untuk air permukaan dan air tanah. Teknologi pengolahan yang diterapkan landfill pada umumnya masih mengeluarkan effluen yang belum memenuhi baku mutu. Dengan demikian masih diperlukan pengolahan lanjutan yang mampu menurunkan kadar pencemar di dalam lindi. Sistem constructed wetland merupakan salah satu metode yang dapat diterapkan. Constructed wetland merupakan suatu alternatif sederhana dengan biaya rendah yang telah terbukti efektif dalam perbaikan kualitas air. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi optimum constructed wetland aliran bawah permukaan dengan variasi jenis vegetasi, beban COD initial, dan waktu detensi dalam menyisihkan COD, BOD, NTK, Total Fosfat (TP) dan total suspended solid (TSS) pada lindi. Pada penelitian ini digunakan lima buah reaktor constructed wetland yang terdiri dari dua jenis tanaman: Cyperus papyrus dan Canna sp. Salah satu reaktor digunakan sebagai kontrol yakni diberi perlakuan tanpa tanaman. Nilai beban COD initial yang digunakan terdiri dari dua variasi yaitu 1000 mg/l COD dan 1500 mg/l COD, dengan waktu detensi (Td) 2 hari dan 4 hari. Dari hasil penelitian diketahui bahwa penyisihan tertinggi COD, BOD, dan TSS terjadi pada reaktor Cyperus papyrus dengan efisiensi penyisihan sebesar 94,81 % dan 94,72% untuk BOD dan COD (beban 1000 mg/l COD, Td 2 hari) serta 97,47% untuk TSS (beban 1000 mg/l COD, Td 4 hari). Penyisihan NTK dan TP terjadi pada tanaman Cyperus papyrus dengan efisiensi sebesar 96,36% (beban 1000 mg/l COD, Td 2 hari) dan 92,15%  (beban 1500 mg/l COD, Td 4 hari) Kata kunci: constructed wetland, efisiensi penyisihan, lindi, vegetasi wetland, waktu detensi. Abstract : Leachate from landfills becomes problem for environment, particulary for surface water and groundwater.  Leachate treatment technology applied in landfill generally still discharges effluent that is not meet the quality standards given yet. Thus, following treatment is required to decrease pollutant concentration. The constructed wetland is a method that can be applied. It is a simple low cost technology that has been proven effective in amelioring. This experiment puposes to identify the optimum condition of subsurface flow (SSF) constructed wetland with the variation of vegetations, initial COD loading, and detention time in order to remove COD, BOD, TKN, Total Phosphate (TP) and total suspended solid (TSS) in leachate. In the experiment, there were five reactors consisted of two types vegetation: Cyperus papyrus and Cyperus papyrus. One of the reactor was used as a control that had no vegetation. The COD initial loadings were 1000 mg / l and 1500 mg / l and the detention times (Td) used were 2 days and 4 days. The experiment showed that highest efficiency of COD, BOD, and TSS conducted in Cyperus papyrus reactor with removal efficiency 94.81% and 94.72% for COD and BOD (organic loading 1000 mg / l COD, Td 2 days) and 97.47% for TSS. The highest removal of TKN and TP conducted in Cyperus papyrus with efficiency 96.36% (organic loading 1000 mg / l COD, Td 2 days) and 92.15% (organic loading 1500 mg / l COD, Td 4 days). Key words: constructed wetland,removal effeciency, leachate, wetland vegetation, detention time
SPREADING ANALYSIS OF PHENOL, OIL AND GREASE OFPRODUCED WATER FROM OIL AND GAS FIELD AND THEIR IMPACTS TO OFFSHORE ENVIRONMENT Ramos M, Yovita; Muntalif, Barti Setiani; Muin, Muslim
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 15, No 1 (2009)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (862.218 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2009.15.1.3

Abstract

Abstract: Sea is one of natural resources, which has potential to provide human needs. However, due to resident growth and there are many industries have activities, the sea is started to be polluted and negative impact to people and environment is arisen. One of industry, which has potential to pollute Indonesian sea, is oil and gas production in Natuna Sea. Produced water, which is produced by oil and gas production process in PT. Star Energy, may contain few contaminant constituents including phenol, oil and grease. Distribution of phenol and oil and grease is done using MuQual3D software, which includes hydrodynamic model and qualitative water model. Simulation of phenol distribution and oil and grease from produced water is done for a year for each discharge location within two layers of sea water layer which are mean sea water layer and sea bottom layer.  Phenol concentration spreading at the depths of 7 m and 75 m such as 0.012 - 0.14 µg/L, where as oil and grease concentration such as range between 0.15-1.7 µg/L.  These spreading simulations show that produced water discharge have complied the sea water quality standard for aquatic biota.  From laboratory results of aquatic biota for phytoplankton and zooplankton, are indicated that there is occurrence of ecological pressure within the aquatic area, but still in moderate and stable condition, which means that it could be changed according to the surrounding environment. Where as, from Chanos chanos toxicological model simulation about 9.53-10.12% of study area has impacted.  For balancing the ecosystem of Natuna sea, produced water discharge management and other research for aquatic biota in study area are needed.Key words: Produced Water, Phenol, Oil and Grease, Impacts, MuQual3D, Natuna Sea Abstrak: Laut merupakan salah satu sumber daya alam yang berpotensi untuk memenuhi kebutuhan manusia.  Namun seiring dengan pertumbuhan penduduk dan banyaknya industri yang beroperasi, laut mulai tercemar sehingga timbul dampak negatif terhadap manusia dan lingkungan.  Salah satu industri yang berpotensi dalam mencemari laut Indonesia,khususnya Laut Natuna adalah industri minyak dan gas bumi. Air terproduksi yang dihasilkan oleh proses produksi minyak dan gas di PT. Star Energy, mengandung beberapa senyawa kontaminan termasuk fenol dan oil and grease.  Penyebaran fenol dan oil and grease dilakukan menggunakan software MuQual3D yang mencakup model hidrodinamika dan model kualitas air. Simulasi penyebaran fenol, oil and grease dari air terproduksi dilakukan selama 1 (tahun) untuk masing-masing lokasi pembuangan dalam 2 (lapisan air laut) yaitu lapisan permukaan dan lapisan dasar laut.  Penyebaran konsentrasi fenol pada kedalaman 7 m dan 75 m berkisar antara 0.012 - 0.14 µg/L sedangkan konsentrasi oil and grease berkisar antara 0.15-1.7 µg/L.  Hasil simulasi penyebaran tersebut menunjukkan air terproduksi yang dibuang masih berada di dalam baku mutu.  Dari hasil pengukuran plankton, baik fitoplankton maupun zooplankton diperoleh bahwa terdapat tekanan ekologis terhadap struktur komunitas laut, namun masih dalam kondisi yang moderat atau stabil, artinya dapat berubah sesuai dengan keadaan lingkungan sekitarnya.  Sedangkan dari hasil simulasi model toksikologi Chanos-Chanos didapat sekitar 9.53% sampai dengan 10.12% wilayah yang terkena dampak pembuangan air terproduksi.  Untuk menjaga kestabilan ekosistem Laut Natuna diperlukan pengelolaan pembuangan air terproduksi dan penelitian lebih lanjut untuk biota laut di wilayah studi.
AKUMULASI LOGAM TIMBAL (PB) PADA KANGKUNG DARAT (IPOMOEA REPTANS POIR) Rohaningsih, Denalis; Muntalif, Barti Setiani
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 21, No 2 (2015)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.508 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2015.21.2.6

Abstract

Abstrak: Timbal, salah satu logam berat yang berbahaya terhadap organisme dan lingkungan, ditemukan dalam limbah yang berasal dari kawasan industri textil Leuwigajah, Cimahi. Selain memiliki kelarutan yang baik dalam air dan dapat terakumulasi di dalam tanah, tanaman yang tumbuh di lahan tercemar dapat menyerap substansi yang berbahaya ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejauh mana logam timbal dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Pada penelitian ini hanya dikaji pengaruh akumulasi timbal pada tanaman kangkung darat (Ipomoea retans Poir). Selain konsentrasi timbal, pengaruh kehadiran kromium dalam tanah ikut dikaji pada penelitian ini. Penelitian diawali dengan (1) karakterisasi awal sampel tanah dari lokasi studi, (2) rancangan penanaman, (3) penanaman kangkung darat, (4) panen/pengampilan sampel, dan (5) analisis logam. Konsentrasi timbal mulai dianalisis pada kangkung darat berumur satu minggu. Analisis logam timbal dilakukan menggunakan metode spektrofotometri serapan atom. Dibuat empat variasi media tanam. Berdasarkan hasil pengukuran, logam timbal paling banyak terakumulasi di bagian akar kangkung darat kecuali kangkung darat variasi A dan variasi C yang mengakumulasi lebih banyak di bagian batang. Hingga hari ke-25, konsentrasi timbal dalam jaringan tanaman kangkung darat semua variasi belum melebihi baku mutu, yakni 0,5 mg kg-1. Kangkung darat variasi C memiliki kandungan timbal dengan jumlah tertinggi pada keseluruhan jaringan tanamannya (245,22 mg kg-1). Akumulasi timbal paling banyak terjadi pada bagian batang (89,18 mg kg-1). Adanya kromium di dalam media tanam variasi C dan variasi D menyebabkan akumulasi logam timbal menurun. Penambahan pupuk pada media tanam variasi B dan variasi D terbukti menurunkan akumulasi timbal dalam jaringan tanaman kangkung darat. Pengaruh logam pada pertumbuhan kangkung darat mulai terlihat pada hari ke-10. Terjadi klorosis pada beberapa daun kangkung darat variasi C. Semua variasi kangkung darat memiliki nilai faktor biokonsentrasi < 1 (variasi A = 0,32; variasi B = 0,33; variasi C = 0,34; variasi D = 0,36). Hanya kangkung darat variasi B yang memiliki nilai faktor translokasi < 1. Nilai ini dibuktikan dengan akumulasi timbal yang paling tinggi di bagian akar. Kata kunci: timbal, kromium, kangkung darat, Ipomoea reptans Poir, akumulasi Abstract : Lead, a heavy metal that harms different organisms, has been found in the waste of the garment industry in industrial area of Leuwigajah, Cimahi. As lead accumulated easily in water and soil via waste being discharged into the environment, plants in the contaminated area can absorb this hazardous substance. This situation calls into an assessment of ?to which extent the toxicity of lead can impact the growth of plants?. Within the research scope, only water spinach (Ipomoea reptans Poir) will be studied. Beside the dose of lead, the study also takes the presence of chromium into consideration. The sequences of research include: (1) An initial measurement of soil from sampling site, (2) planting design, (3) plantation of water spinach, (4) havest/sampling, and (5) analysis of metal. Lead concentration analysis begin with one-week-old water spinach. Analysis of lead performed by atomic absorption spectrophotometry method. Four variations of planting medium has been made. The result showed that lead mostly accumulated in root except variant A and variant C which accumulate more lead in stem. Until day 20th, lead concentration in water spinach plant tissues not yet exceed the regulation for maximum lead in vegetables (0.5 mg kg-1). Water spinach variant C has the highest amount of lead in its tissues (245.22 mg kg-1). Lead mostly accumulated in stem part (89.18 mg kg-1). The presence of chromium in planting medium variant C and variant D decreases the accumulation of lead. Addition of fertilizer in planting medium variant B and variant D proven decreases the accumulation of lead in plant tissues. Effect of metal presence on water spinach growth seen at day 10th. There is chlorosis in leaves of water spinach variant C. All of water spinach variations have bioconcentration value below 1 (variant A = 0.32; variant B = 0.33; variant C = 0.34; variant D = 0.36). Only water spinach variant B that has translocation value below 1. This value has proven by highest lead accumulation in its root. Key words: lead, chromium, water spinach, Ipomoea reptans Poir, accumulation
BIOASSESSMENT KUALITAS AIR SUNGAI CIKARO KABUPATEN BANDUNG MENGGUNAKAN STATUS EKOLOGI Handinata, Luppy; Muntalif, Barti Setiani
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 23, No 2 (2017)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.174 KB) | DOI: 10.5614/j.tl.2017.23.2.3

Abstract

Abstrak: Makrozoobenthos telah umum digunakan untuk bioassessement kualitas air sungai, Indeks Biotik secara luas digunakan untuk kegiatan monitoring kualitas air di seluruh dunia, termasuk negara berkembang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui status ekologi Sungai Cikaro dengan menggunakan makrozoobenthos, Hasil penelitian menunjukkan makrozoobenthos yang ditemukan Berdasarkan hasil penelitian ditemukan sebanyak  ditemukan sebanyak  4 Filum, 5 kelas, 17 Ordo, 33 famili dan  39 genus makrozoobenthos, Kepadatan makrozoobenthos bervariasi pada setiap lokasi sampling dan periode pengambilan sampel dengan kisaran 13-151 individu/m2. Indeks Shannon-Wienner berkisar antara 1,05 sampai dengan 2,50 termasuk katagori tercemar ringan sampai tercemar sedang,  Hal ini sejalan dengan penilaian status ekologis menggunakan Indeks terbaru dimana kisaran nilai berada pada 2,67 ? 4,78 dan berada dalam sedikit tercemar sampai tercemar sedang Kata kunci: Bioassessment, Kualitas Air, Makrozoobenthos, Status Ekologi Abstract : Macrozoobenthos are commonly used in river health biomonitoring. In monitoring program biotic indices are now widely established in water quality monitoring around the world, including in the tropical countries. The aim of this study was to reveal the ecological status of Cikaro River by using Macrozoobenthos The results of the study found 4 Phylum, 5 classes, 17 Ordo, 33 families and 39 genus makrozoobenthos. The density of macrozoobenthos varied at each sampling site, . The density ranged from 13-151 individuals / m2. Shannon Wienner Index (H ') Index range 1.05 - 2.50 and classified slightly polluted to quite polluted  The Result in line with The Assessment of Ecological Status using the scoring system, the ecological status in Cikaro River range 2,67? 4,78 and classified quite polluted  to moderately polluted Key words: . Bioassessment, Water Quality, Macrozoobenthos, Ecological Status 
VALUASI EKONOMI DAN UPAYA PENGELOLAAN HUTAN MANGROVE DI KECAMATAN MUARA GEMBONG KABUPATEN BEKASI Muntalif, Barti setiani; Hasian, Olva; Sembiring, Emenda
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 19, No 1 (2013)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (586.632 KB) | DOI: 10.5614/jtl.2013.19.1.9

Abstract

Abstrak: Kecamatan Muara Gembong merupakan salah satu daerah di Indonesia yang telah mengalami degradasi mangrove di wilayah pesisirnya akibat perubahan lahan. Perubahan lahan terbesar digunakan untuk membuka lahan tambak ikan untuk kegiatan budidaya. Dampak ekologi yang timbul akibat rusaknya ekosistem hutan mangrove  di wilayah Muara Gembong saat ini adalah abrasi. Melihat permasalahan yang terjadi, analisis terhadap aspek ekologis dan ekonomi yang saling berkaitan perlu dilakukan agar sumberdaya pesisir yang ada dapat digunakan secara lebih optimal dan efisien serta berkelanjutan. Analisis valuasi ekonomi dilakukan dengan perhitungan Total Economic Value (TEV) yang terdiri dari perhitungan nilai pemanfaatan (Use Value) dan nilai non-pemanfaatan (Non-Use Value). Dengan total luasan mangrove seluas 103,75 hektar, manfaat yang dapat diberikan baik secara langsung maupun tidak langsung adalah sebesar Rp. 23.690.709.886,-. Enam skenario pemanfaatan lahan hutan mangrove disiapkan. Untuk melihat skenario mana yang layak untuk dijadikan acuan dalam rencana pengembangan daerah, maka dilakukan perhitungan analisis kelayakan usaha. Dari analisa tersebut terlihat bahwa skenario 4 (80% hutan mangrove dan 20% tambak ikan) merupakan skenario paling layak, dimana nilai NPV yang didapatkan selama 10 tahun memiliki nilai tertinggi sebesar Rp. 4.100.769.095.248,-  dan benefit-cost rasio (BCR) yang dihasilkan adalah 4,84 yang berarti apabila nilai BCR > 1 maka usaha dinyatakan layak untuk diterapkan.
AKUMULASI KROMIUM PADA PISTIA STRATIOTES DALAM CONSTRUCTED WETLAND TIPE FREE WATER SURFACE UNTUK PENGOLAHAN LIMBAH TEKSTIL Brilian, Putri; Muntalif, Barti Setiani
Jurnal Teknik Lingkungan Vol 25, No 1 (2019)
Publisher : ITB Journal Publisher, LPPM ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Laju produksi yang tinggi dalam kegiatan perindustrian mengakibatkan peningkatan dalam jumlah limbah yang dihasilkan sehingga berpotensi untuk mengakibatkan pencemaran terhadap lingkungan dan berdampak pada kesehatan manusia. Limbah yang dihasilkan oleh kegiatan industri dapat mengandung bahan yang bersifat Berbahaya dan Beracun atau dikenal sebagai Bahan B3, seperti logam berat kromium. Kromium banyak digunakan dalam proses produksi oleh berbagai macam jenis industri, salah satunya adalah industri tekstil. Limbah cair industri tekstil mengandung kromium dengan konsentrasi tinggi. Kandungan kromium dalam bentuk heksavalen sangat berbahaya karena bersifat toksik. Teknologi pengolahan yang memiliki efisiensi dari segi biaya, hasil, dan ramah lingkungan untuk meremediasi limbah yang mengandung kromium adalah dengan Constructed Wetland (CW). Namun demikian masih diperlukan berbagai penelitian untuk meningkatkan efektifitas dari sistem CW, sehingga dapat memberikan masukan terhadap penentuan alternatif pengolahan limbah. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan kinerja sistem CW tipe Free Water Surface dan mengetahui efisiensi penyisihan bahan pencemar dalam limbah dengan berbagai variasi konsentrasi kromium dan beban organik, juga mengkaji faktor bioakumulasi pada tumbuhan yang digunakan dalam sistem, Pada penelitian ini, dilakukan pengujian terhadap dua sistem CW yang diberi perlakuan limbah, yaitu Sistem Free Water Surface (FWS) dengan Pistia stratiotes (FWS+Ps), dan Sistem Free Water Surface (FWS) tanpa Pistia stratiotes (FWS?Ps). Pistia stratiotes merupakan makrofita tipe free floating. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan limbah artifisial dengan variasi konsentrasi COD 50, 100, dan 150 ppm, dan variasi konsentrasi kromium 1,2 dan 3 ppm selama 10 hari. Parameter yang dianalisis berupa DO, pH, kekeruhan, TSS, nitrat, posfat, COD, kromium, dan kualitas lingkungan. Hasil menunjukan bahwa efisiensi optimum penyisihan Kromium berturut-turut mencapai 60%, 66%, 76%, 73%, 78%,dan 77%, sedangkan efisiensi optimum penyisihan COD berturut-turut mencapai 79%, 72%, 75%, 66%, 88%, dan 94% pada variasi 1,2/50, 3/50, 1,2/100, 3/100, 1,2/150, dan 3/150. Nilai akumulasi kromium lebih besar pada bagian akar dibandingkan dengan taruk. Model yang dapat digunakan dalam menentukan hubungan antara penyisihan senyawa pencemar dan penurunan konsentrasi nutrisi yang direpresentasikan sebagai nitrat dan posfat dalam sistem Constructed Wetland tipe Free Water Surface menggunakan Pistia stratiotes adalah : COD = -0,066 x + 0,107 y + 61,419 dan Krom = -0,030 x + 0,099 y +47,255. Kata kunci : Constructed wetland, Free Water Surface, Kromium, Limbah Cair Tekstil, Pistia stratiotes.Abstract: High production of an industry activity causes rising waste that is produced. It potentially made the pollution on environment and impacted for human health. Waste is produced by industry activity which can be contained poison and risky pollution substance (B3), such as chromium metal. Many chromium is used in a process of variety industry kinds, one of them is a textile industry. Waste water of textile industry contains a chromium with high concenteration. Chromium on heksavalen is very risky because it contains a toxic. Technology processing has an efficiency of cost, result and friendly environment for chromium waste that is contained by Constructed Wetland (CW). However, some observation are still needed for increasing the effectivity CW system. It can be separated chromium substance of a waste, for example observing model of CW by seeing various type of water flow and plant-life. Also, bio-accumulation factor in the plants, it gives an input on deciding alternative waste processed. In this study, four systems of CW are observed by waste-treating. They are Free Water Surface Pistia stratiotes (FWS+Ps), and Free Water Surface without Pistia stratiotes (FWS-Ps). Pistia stratiotes is a macrophyte type of free floating. This study uses artificial waste with variety concentrate of COD 50, 100, and 150 ppm, also variety concentrate of chromium 1,2, and 3 during ten days. The parameters analyzed were DO, pH, turbidity, TSS, nitrate, phosphate, COD, chromium, and environmental quality. The results showed that the optimum efficiency of Chromium removal reached 60%, 66%, 76%, 73%, 78%, and 77%, while the optimumefficiency of COD allowance reached 79%, 72%, 75%, 66% respectively. , 88%, and 94% in variations 1,2 / 50, 3/50, 1,2 / 100, 3/100, 1,2 / 150, and 3/150. The accumulated value of chromium is greater in the root part compared to taruk. The model that can be used in determining the relationship between polluting compounds and decreasing the concentration of nutrients represented as nitrate and phosphate in the Constructed Wetland type of Free Water Surface using Pistia stratiotes are: COD = -0,066 x + 0,107 y + 61,419 and Chrome = -0,030 x + 0.099 y +47,255.Keywords: Constructed Wetland, Free Water Surface, Chromium, Textile Wastewater, Pistia stratiotes.